Takdir Kenan

Takdir Kenan
Saling Memaafkan


__ADS_3

"Itu karena kalian telah berani menyakiti calon menantuku!" sarkas suara Alex dingin dan tajam.


Tubuh mereka menegang, mematung di tempat. Beberapa saat saja memastikan bahwa suara itu ada di dalam ruangan yang sama.


"Kau mendengar sesuatu?" tanya ayah Yuki pada istrinya.


Gadis itu meringis, bertanya dalam hati apakah mereka tidak menyadari keberadaan orang-orang itu. Astaga!


"Yah, sepertinya suara seorang laki-laki tua," sahut ibu Yuki memperkeruh keadaan.


Yuki meringis hampir menangis. Kepala kedua orang tua itu berkeliling, menatap ke segala arah. Mata keduanya membeliak saat menemukan tiga orang lainnya duduk di sofa ruangan tersebut.


"Kalian siapa?" tanya ayah Yuki tak mengenali sosok Alex yang menggeram marah. Matanya beralih pada Kenan yang diam mematung sambil menatapnya.


"Hei, bukankah kau teman Yuki yang dijuluki sampah itu?" ucapnya lagi percaya diri.


Kenan tak bereaksi, gadis kecil di pangkuannya pun diam sama sepertinya. Kecuali, Yuki yang wajahnya memerah menahan tangis.


"Papah-"


"Benar, itu memang kau. Si sampah itu," lanjutnya memanasi Alex yang sudah terbakar emosi.


"Sampah? Anakku ... sampah? Beraninya kau-"


"Memangnya apa lagi? Dia memang terkenal sebagai sampah tak berguna, miskin tak punya apapun juga tak punya orang tua," sahut sang istri memercik api pada minyak.


"Miskin? Tak punya orang tua?" Alex masih bergumam, hatinya tidak terima Kenan diperlakukan seperti sampah.


"Papah, kau salah faham-"

__ADS_1


"Apanya? Dia memang orangnya, bukan? Tidak salah lagi. Kami sudah melarangmu untuk tidak berhubungan dengannya, tapi kenapa kalian berada di ruangan yang sama sekarang?" bentak ayah Yuki dengan mata melotot lebar.


Wanita itu pun mencibirkan bibir mengejek Kenan. Mereka tak menyadari tindakan mereka telah membangunkan singa yang tertidur. Alex berdiri, berjalan cepat seraya menyambar kerah kemeja ayah Yuki.


Bugh!


Satu pukulan ia layangkan di wajah ayah Yuki. Lagi, mencengkeram kerahnya.


"Ayah!" Kenan beranjak tertatih, dibantu Kiran ia mendekati Alex yang sedang menyudutkan ayah Yuki.


"Papah, Ayah! Hentikan! Ini semua hanyalah salah faham!" seru Yuki hampir menangis.


"Hei, apa-apaan kalian, lepaskan suami saya!" pinta ibu Yuki, tapi tidak berani mendekat.


"Katakan sekali lagi, bawah putraku sampah, tidak berguna, tidak memiliki orang tua! Akan aku patahkan rahangmu dan aku pastikan kau tak akan memiliki gigi juga tak akan mampu lagi berbicara!" ancam Alex.


Matanya merah, begitu juga kulit wajahnya yang menghitam. Cengkeraman tangannya menguat, membuat ayah Yuki meringis kesakitan.


Alex memang sudah tua, tapi meskipun begitu tenaganya lebih besar daripada ayah yuki. Alex menghempaskan tubuh itu dengan kuat hingga ia jatuh membentur lantai. Dia memejamkan mata menahan geram mendengar ucapan putranya sendiri.


Alex menoleh ke arah Kenan, menatap netra putranya dengan penuh amarah.


"Siapa saja yang mengatakan bahwa anak Alexander Lois adalah seorang sampah tak berguna? Siapa yang mengatakan bahwa anak-anakku tidak memiliki orang tua? Katakan, siapa orangnya? Akan aku hancurkan dia sampai tujuh keturunannya!" geram Alex yang menggetarkan hati mereka semua.


Kenan meneguk ludah melihat api kemarahan di mata ayahnya. Yuki membeku, dia tahu betul seperti apa perangai Alex jika sudah merasa tersakiti terlebih jika itu menyangkut soal anak-anaknya.


"Ayah! Sudahlah, bukankah kita bisa bicarakan baik-baik. Sekarang, tidak ada orang yang berani mengatai kami seperti itu setelah mereka tahu siapa orang tua kami. Tidak ada yang berani mengatai anak-anak Alexander karena mereka tahu konsekuensi apa yang akan mereka terima. Ini semua hanya salah faham, bisa jadi kedua orang tua itu tidak mengenal Ayah atau bahkan mereka tidak tahu jika kami ini adalah anak-anak Ayah," tutur Kiran sambil memeluk tubuh tegang Alex.


Kedua mata orang tua Yuki membelalak mendengar penuturan gadis kecil itu. Mereka telah salah bicara, mereka tahu siapa Alex, tapi tak sekalipun pernah bertemu dengannya secara langsung.

__ADS_1


Alex mengendurkan urat-urat sarafnya yang menegang, menarik napas panjang dan menghembuskannya. Matanya melirik Yuki yang terlihat ketakutan. Tak tega hati karena Yuki sudah ia anggap anak sendiri.


"Baiklah, Ayah akan mengalah kali ini demi calon menantu," ucap Alex meski masih terlihat geram.


Apa yang dikatakan Kiran benar adanya, mungkin saja kejadian itu terjadi jauh sebelum dirinya datang menemui mereka. Ia tidak bisa menyalahkan siapapun karena dirinya juga ikut andil untuk keadaan yang selama ini dijalani kedua anaknya.


Kedua orang tua Yuki beranjak perlahan, ketakutan mulai nampak di wajah mereka. Bibir mereka bergetar, tangan dan kaki gemetar hebat.


"Ja-jadi, Anda adalah ... Tu-tuan Alexander?" tanya ayah Yuki terbata-bata. Wanita di sampingnya menunduk takut tatkala Alex beralih pandangan pada mereka.


"Yah. Itu aku. Akulah yang sengaja membuat perusahaan kalian bangkrut semata-mata hanya untuk menyadarkan kalian bahwa semua itu akan hancur, tapi anak kalian akan tetap menyimpan kesakitan karena kalian tidak memperlakukannya dengan baik."


"Kalian yang selalu sibuk bekerja di luar kota meninggalkannya sampai berbulan-bulan tanpa bertanya kabar. Saya sebagai calon ayah mertuanya, merasa sakit dan tidak terima terhadap perlakuan kalian. Jika kalian sudah tidak menginginkannya berikan saja padaku, aku akan menjaganya seumur hidupku," ucap Alex dengan tenang.


Ayah dan ibu Yuki seketika menunduk, menyadari kesalahan fatal yang telah mereka lakukan. Yuki yang berdiri di dekat ranjang, menangis tersedu. Kenan dan Kiran menghampirinya, gadis itu memeluk Kenan mencari kekuatan untuk menghadapi masalah dengan orang tuanya.


"Kalau tahu? Dia sudah sembuh, tapi lebih memilih tinggal di rumah sakit karena di rumah dia sendirian. Tidak ada orang tua yang seharusnya merawat, memperhatikan, bahkan menyayanginya disaat sakit seperti kemarin. Aku akan menikahkan mereka secepatnya meskipun kalian tidak setuju, akan aku boyong dia ke rumahku dan tak akan aku izinkan untuk bertemu dengan kalian!" Alex menatap tegas pada kedua orang tua Yuki yang semakin dalam menundukkan kepala.


Dia berbalik menghadap Yuki, tersenyum pada gadis itu untuk bertanya.


"Apa aku harus mengusir mereka berdua dari sini, atau biarkan mereka di sini dan mengakui semua kesalahan?" Yuki mengangkat wajahnya, menatap Alex seraya menggelengkan kepala.


"Mereka bebas menentukan pilihan mereka sendiri. Mereka memiliki hak untuk mengambil keputusan, aku tidak akan memaksa," sahut Yuki menguatkan hatinya untuk mendengar apapun keputusan mereka.


"Tidak, Nak. Tolong jangan begitu, maafkan kami. Kami mengaku salah dan kami menyesali semuanya. Maafkan kami, Nak. Maafkan kami!" ucap ayah Yuki sambil menangis.


Tak mungkin mereka meninggalkan harta satu-satunya milik mereka itu. Semua telah hilang, mereka tak ingin kehilangan Yuki pula. Gadis itu beranjak, melangkah pelan mendekati kedua orang tuanya. Ia memeluk mereka melepas kerinduan, menangis haru dan bahagia pada akhirnya mereka kembali pulang.


"Terima kasih karena kalian masih mengingatku," lirih Yuki sambil terisak-isak.

__ADS_1


Alex memeluk Kenan, tersenyum bangga pada Yuki yang berbesar hati telah memaafkan dan menerima mereka kembali.


__ADS_2