Takdir Kenan

Takdir Kenan
Misi penyelamatan


__ADS_3

Seseorang keluar dari mobil yang baru saja terpakir di halaman rumah Kenan. Seorang laki-laki dewasa berperawakan tinggi besar, sekilas saja dapat terlihat ia-nya seorang bodyguard.


"Dia Mikael, dia yang akan pergi bersama Ayah menjemput adikmu," ucap Ayah Kenan menunjuk laki-laki berwajah sangar yang berhenti seraya membungkuk di hadapan mereka.


"Kau bisa tenang menjemput gadis itu, biar Ayah yang mengurus penculik adikmu," ujarnya lagi menegaskan sambil menepuk bahu Kenan dengan pelan.


Kenan bukannya meragu, tapi sesuatu mengganggu pikirannya.


"Tidak, Ayah. Aku akan ikut Ayah membebaskan Kiran karena dia pasti akan bingung saat yang datang bukan aku. Kiran sama sekali tidak tahu soal Ayah, dan dia tidak pernah menanyakan tentang Ayah. Sudah pasti dia akan ketakutan saat orang yang dia anggap asing datang menjemputnya. Jadi, biarkan aku ikut dan Regan bersama bodyguard Ayah yang akan pergi mencari gadis itu," ungkap Kenan secara langsung mengatakan keberatannya untuk tidak datang menjemput Kiran.


Ponsel Kenan berbunyi menjeda obrolan mereka. Pemuda itu membuka pesan yang dikirimkan seseorang padanya. Sebuah gambar yang menunjukkan Yuki diikat pada sebuah pohon dan dikelilingi orang-orang yang berbusana aneh.


"Mereka membawa Yuki ke hutan terlarang!" serunya panik. Regan ikut melihat gambar tersebut dan membelalakkan mata tak percaya.


"Datanglah ke hutan pinggir kota jika kau ingin menyelamatkan kekasihmu!" Regan membaca keras-keras pesan bergambar tersebut. Ia dan Kenan saling menatap ngeri satu sama lain.


"Hutan terlarang, di sana tempat tinggal suku kanibal. Mereka akan memakan manusia yang memasuki hutan tersebut. Kenapa mereka membawa gadis itu ke sana?" celetuk Ayah Kenan sambil berpikir keras dan sedikit menggeram.


"Argh!" Kenan menjerit frustasi, kenapa harus dalam satu waktu. Kiran diculik, Yuki dalam bahaya. Tak mungkin ia mengabaikan keduanya.


"Ayah, biarkan bodyguard Ayah yang bertubuh besar itu menemani Regan juga Leo. Biar aku dan Ayah saja yang menjemput Kiran. Karena tidak mungkin aku membiarkan Regan datang menyelidiki seorang diri."


"Kau yakin?" Kenan mengangguk pasti, "baiklah. Mikael, kau dan Leo temani pemuda itu ke hutan terlarang. Aku dan putraku akan pergi membebaskan Kiran! Lindungi dia sebagaimana kalian melindungiku," titahnya pada kedua bodyguard itu.


"Siap, Tuan!"

__ADS_1


Kenan menghampiri Regan dan memeluknya, "Jangan lakukan apapun sebelum aku datang. Hanya awasi saja mereka, jangan gegabah." Regan mengangguk patuh karena sejujurnya ia pun takut, tapi Yuki diculik karena kelalaiannya.


Kenan melepas pelukan, ia memandang Regan yang berjalan masuk ke dalam mobil Leo bersama Mikael. Menyusul, dia dan Ayahnya pun pergi bersama ke lain arah.


"Ayah tahu di mana tempat ini?" tanya Kenan sambil membaca ulang tulisan dalam secarik kertas yang ditinggalkan pelaku.


"Ayah sudah hafal betul seluk-beluk kota ini. Kau tak perlu cemas, jika Ayah tidak salah ingat tempat itu adalah bekas bangunan hotel berbintang yang terbengkalai karena bangkrut." Laki-laki berusia setengah abad yang masih terlihat segar itu mengingat-ingat kembali tentang kota yang pernah ia tinggali bersama sang istri.


"Kenapa Ayah pergi?" tanya Kenan tiba-tiba setelah hening bersama mereka beberapa saat lamanya. Ia perlu tahu alasan kepergiannya yang meninggalkan mereka.


Laki-laki di sampingnya menghela napas, berat dan panjang seolah-olah beban yang ia pikul di pundaknya teramat berat.


"Semua bukan ingin Ayah, saat itu Ibumu bertengkar dengan orang tuanya dan dia membela Ayah. Mereka menginginkan kami berpisah karena Ayah bukanlah siapa-siapa, tapi Ibumu menolak hingga mereka membuat rekayasa yang membuat Ayah harus dipenjara hampir seumur hidup. Beruntung seseorang yang baik membebaskan Ayah ditambah dengan kelakukan Ayah selama di penjara."


Ia menjeda, Kenan tak pernah tahu soal ini. Ibunya tak pernah bercerita, hanya sering berpesan jangan pernah menyalahkan Ayah dan jangan pernah membencinya. Ia yang memperhatikan garis wajah laki-laki hampir tua itu menunduk mengingat bagaimana kehidupannya yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah.


"Dia adik Ayah, tapi serakah. Dia menginginkan Ibumu dan memfitnah Ayah, mereka berdua menginginkan harta Ibumu. Ayah ingin membawa kalian pergi dan tinggal bersama Ayah, tapi kabar meninggalnya Ibumu membuat Ayah terpukul dan bertekad mencari kalian. Mereka memang jahat, jika tahu akan seperti ini sudah sejak lama seharusnya Ayah mencari kalian," sesalnya.


Ia memukul setir penuh emosi, bunyi gemelutuk gigi dapat terdengar dengan jelas di telinga Kenan.


"Bagaimana cara mereka memperlakukan kalian selama ini?" tanyanya setelah menurunkan emosi yang sempat meluap tak terkendali.


Kenan menggeleng masih dengan kepala yang tertunduk, ia menyapu air yang menggenang di pelupuk. Teringat akan kehidupannya saat Bibi dan Paman masih tinggal di rumah itu.


"Ayah bisa menanyakannya kepada Kiran nanti. Aku tak bisa menjawabnya," katanya bergetar.

__ADS_1


Laki-laki itu mengerti dan sudah dapat menyimpulkan jawaban dari kalimat singkat yang diucapkan Kenan barusan.


"Tidak apa-apa, setelah ini Ayah berjanji hanya bahagia yang akan kalian temui." Ia tersenyum sembari melirik sekilas putra sulungnya itu.


Hati Kenan menghangat, betapa ia rindu kasih sayang orang tua setelah kepergian ibunya. Berharap akan menemukan ganti sosok Ayah dan Ibu dari Paman dan Bibinya. Namun, pada kenyataannya, ia terlalu tinggi bermimpi.


"Terima kasih ... Ayah." Ia balas tersenyum.


Perjalanan terus berlanjut, menyusuri perkebunan pisang milik warga. Jalanan asing di mata Kenan karena baru pertama kalinya ia melewati jalan tersebut. Kenan mengernyit, kegelapan malam mengaburkan pandangan, hanya mengandalkan lampu yang menyorot dari mobil.


"Tenang saja, mereka bersama kita," ucap Ayah menenangkan dikala Kenan justru menegang melihat berbondong-bondong motor yang membuntuti dari belakang.


"Ayah, bukankah kedatangan mereka terlalu mencolok?" pikir Kenan karena mereka sangat menyita perhatian.


"Kau tenang saja, Nak. Mereka sudah terlatih." Pak tua itu tersenyum lebar. Sama sekali tak terlihat tegang apalagi panik. Tidak seperti Kenan yang sudah berkeringat dingin.


"Ayah, bisakah mereka terus bersembunyi sampai kita benar-benar membutuhkan bantuan?" pinta Kenan berharap ia sendiri yang akan menyelesaikan perkara Kiran.


"Jika itu yang kau mau, maka mereka pasti bisa melakukannya. Ada lagi?" katanya terus fokus ke depan pada jalanan yang semakin sunyi. Tak satu pun kendaraan yang melintas di jalanan tersebut.


"Aku ingin Ayah tetap di dalam mobil, biar aku sendiri yang menemui mereka. Jangan tunjukkan diri Ayah selama semuanya bisa terkendali," pinta Kenan lagi dengan yakin.


Lelaki tua di sampingnya melirik tajam, tak mengerti jalan pikiran Kenan, tapi baiklah. Dia akan menurutinya lagipula ia ingin melihat bagaimana cara putranya menyelesaikan masalah selama ini.


"Baiklah, tapi jangan menolak jika Ayah membantu saat situasi tak lagi kondusif." Kenan mengangguk setuju. Perjalanan terus dilanjutkan, motor di belakang mereka mulai sunyi dan semakin sepi disaat mendekati lokasi.

__ADS_1


Ke mana mereka?


__ADS_2