
Kenapa tiba-tiba hening? Ke mana motor-motor yang mengikuti?
Kenan bergumam dalam hati bingung, ia menatap sekitar dan berkali-kali menoleh ke belakang mencari keberadaan para pemotor yang tadi mengikuti.
"Tidak perlu bingung, mereka menyebar dan mengelilingi tempat yang akan kita datangi. Itu memang biasa mereka lakukan untuk mencegah kemungkinan buruk terjadi. Mereka ada dan mengawasi, akan muncul pada situasi genting dan dibutuhkan. Kau tenang saja, kita akan merebut Kiran kembali," ungkap Ayah menenangkan Kenan yang nampak gelisah.
Pemuda itu mengangguk, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Mengurai cemas dan gelisah yang merajai hatinya. Kenan kembali menatap ke depan, jalanan semakin sepi saat memasuki area asing dari sisi lain kota tersebut.
Banyak reruntuhan bangunan, juga gedung-gedung yang tak lagi berpenghuni. Tak ada satu pun penerangan dari bangunan tersebut. Semuanya gelap gulita bahkan lampu jalan hanya ada beberapa saja yang masih menyala meski remang.
"Apakah ini desa mati? Ke mana semua penduduk di sini?" tanya Kenan tanpa sadar. Di kanan dan kiri jalan banyak rumah-rumah yang tak dihuni selama puluhan tahun. Ilalang tumbuh subur mengelilingi rumah-rumah tersebut, belum lagi tanaman rambat yang sudah memenuhi sekelilingnya
"Dahulu di sini tempat yang padat dan subur, karena seringnya terjadi bencana longsor dan gempa bumi membuat seluruh penduduk memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman. Jadilah desa ini ditinggalkan dengan sejuta kenangan di dalamnya. Itu ... hotel itu yang Ayah maksud, kau lihat?"
Ayah menunjuk pada sebuah bangunan tertinggi hampir mencakar langit. Bangunan yang masih terlihat kokoh meski jendela dan pintu sudah tak ada di tempatnya. Keadaan semakin mencekam disaat mobil memasuki kawasan hotel tersebut.
Gelap. Tak satu pun penerangan yang menuntun mata saat berjalan. Kenan melilau mencari keberadaan Kiran dan penculiknya.
"Ayah, di mana mereka?" tanya Kenan dengan berbisik. Mereka sudah berada di parkiran hotel tersebut dan terus maju hingga memasuki halamannya. Bekas air mancur dan taman masih ada di sana meskipun telah usang dimakan waktu. Itu terlihat indah pada masanya, seandainya masih terpakai sudah pasti akan jadi hotel nomor satu di kota tersebut.
Blash!
Tiba-tiba sebuah lampu tembak dinyalakan, menyorot pada mobil Kenan yang berhenti di halaman hotel. Ayah Kenan gegas bersembunyi dan membiarkan pemuda itu sendirian.
Di ujung saja, Kiran meronta dalam cekalan seorang laki-laki bertubuh besar dan tinggi. Mulutnya disumpal sebuah kain yang melilit hingga ke belakang kepala. Tangannya pula diikat ke belakang, tidak berdaya. Air matanya bercucuran menjatuhi bumi, betapa menyedihkan.
"Kiran?" Kenan bergumam lirih, pandangannya menajam. Ia terpejam saat seluruh aliran darah dalam tubuhnya berdesir menghantarkan kekuatan membentuk otot-otot yang kekar hingga menonjol.
"Apakah dia adikmu?" tanya Ayah Kenan yang tak memperhatikan pemuda di sampingnya. Kenan gegas membuka pintu tanpa menyahut pertanyaan sang Ayah.
__ADS_1
Matanya memerah tajam, berkilat penuh amarah. Gadis kecil di ujung sana terus menggeliat meminta dilepaskan. Jeritannya tertahan karena sumpal di mulut.
"Berhenti di sana!" teriak salah seorang laki-laki paruh baya yang muncul di samping Kiran.
"Ke-kenan?" Ayah bergumam tak percaya melihat sang putra berubah seperti bukan dirinya beberapa saat lalu, "benarkah dia Kenan? Kenapa tidak terlihat seperti Kenan yang tadi?" Ia lanjut bergumam sambil menatap heran pada putra sulungnya itu.
Kenan tetap membawa kedua kakinya melangkah meskipun peringatan dilayangkan kepadanya.
"Berhenti di sana, Kenan! Kau ingin adikmu ini, bukan? Maka penuhi dulu syarat dari kami!" teriaknya lagi kalang kabut. Ia mengangkat senjata di tangan menodong Kenan yang tak menghentikan laju kakinya.
Kemeja di tubuh terlepas dan berkibar tertiup angin menampakkan kondisi tubuhnya yang berotot lagi seksi. Pemuda lainnya di seberang sana meneguk ludah gugup dan takut. Kenan bukan lagi dirinya, dia sudah berubah.
"I-ibu ... aku takut, apa ini akan berhasil membuat Kenan menyerahkan semuanya untuk kita?" bisik pemuda tadi pada telinga sang Ibu yang berdampingan dengannya. Tangannya mencengkeram berat lengan wanita itu membuatnya meringis kesakitan.
"Diamlah, Roni! Kita tidak boleh terlihat takut di mata Kenan. Kita harus buktikan bahwa kita pun bisa melakukan kekerasan seperti yang dia lakukan saat mengusir kita dari rumah." Ia balas berbisik dengan amarah tertahan.
"Dia terus bergerak maju, Ayah. Tidak takut sama sekali. Bagaimana ini, Ibu?" keluh Roni pada keduanya.
"Diamlah, Roni! Ibu bilang diam, DIAM!" sentak Bibi sambil mencubit kulit tangan Roni yang terus menempel pada kulitnya. Ia melepas paksa tangan itu dan membantingnya ke udaya.
Roni memekik, memegangi tangannya sendiri yang terasa berdenyut di persendiannya. Meringis sambil menatap takut pada sosok Kenan yang semakin tersulut emosi.
"Berhenti aku bilang!"
Dor!
Timah panas diluncurkan menghantam tubuh Kenan yang terus mendekat mengikis jarak antara mereka. Langkah Kenan terjeda dengan kepala tertunduk.
"Kenan!" Laki-laki paruh baya di dalam mobil, hendak keluar melihat keadaan Kenan. Namun, ia masih ingat bagaimana perjanjian antara dirinya bersama sang putra.
__ADS_1
Detik berikutnya ia tercengang melihat Kenan yang kembali berdiri tegak tanpa getar sedikit pun.
Fyuh!
Trang!
Biji peluru yang ditembakkan kepada Kenan terlontar ke jalanan. Berguling beberapa kali membuat mata ketiga orang itu membelalak lebar. Ia benar-benar tak menyangka Paman dan Bibinya tega menculik Kiran dan meminta tebusan.
"Kalian pikir senjata mainan itu bisa melukaiku?" Kenan tersenyum miring, "Paman, Bibi! Lepaskan kiran, aku akan memberikan separuh dari apa yang aku miliki!" ucap Kenan dengan tegas. Ia menatap tajam Roni yang gemetar ketakutan dengan perubahan diri Kenan.
"Tidak! Kecuali jika kau memberikan semua hartamu, maka kami akan melepaskan adikmu ini!" tolak Bibi dengan suara melengking tinggi memekakkan telinga.
"Serakah!" umpat Kenan seraya melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Mereka mundur takut-takut bahkan tangan Paman yang memegang senjata gemetaran terlihat. Ia mendorong laki-laki bertubuh besar yang mencengkeram Kiran untuk melawan Kenan.
Mereka berdua berhadapan, saling mengintimidasi satu sama lain. Melayangkan tatapan tajam yang mengancam.
Kenan tetap melangkah maju ke depan tanpa rasa takut tersirat di matanya. Ia berlari kencang sambil mengepalkan tangan bersiap melayangkan pukulan. Laki-laki besar itu menunggu dengan kuda-kuda terpasang kokoh, bersiap menerima serangan Kenan.
Bugh!
Pukulan yang Kenan lakukan telak mengenai ulu hati. Cairan bening menyembur dari mulutnya, ia termundur ke belakang hingga jatuh terjengkang.
Paman dan Bibi melotot lebar, Roni tak percaya dengan apa yang disaksikan matanya. Apakah dia Kenan? Ayah membentuk senyuman di bibir, bangga melihat putranya kuat seperti itu meskipun rasanya tak percaya, tapi itu nyata terjadi di hadapannya.
Kiran menginjak kaki Roni yang memegangi tubuhnya, pemuda itu memekik dan pegangannya terlepas. Gadis kecil itu berlari menghampiri Kenan dan memeluknya. Kenan menarik Kiran ke belakang tubuh usai melepas semua ikatan. Disaat itulah Ayah mereka keluar semakin membuat gentar ketiga orang yang sudah berani menculik putrinya itu.
"Di-dia!"
__ADS_1