
Di kampus, Regan tak tenang hati dalam belajar. Pikirannya melayang pada Yuki yang sedang menunggunya di taman kampus. Berkali-kali matanya melirik jam di pergelangan tangan, berharap waktu akan cepat bergulir.
"Kenapa lama sekali? Kuharap Yuki masih menungguku. Jangan pergi ke mana pun, Yuki. Kumohon," lirih Regan sambil mengusap wajahnya gusar.
"Regan, kau kenapa? Kau terlihat pucat, apa kau sakit?" tanya seorang teman padanya.
Regan membuka tangannya, tersenyum canggung sambil menggeleng. Jam berakhir tidak sesuai dengan waktu biasanya. Entah kenapa dosen tadi menambah waktu selama satu setengah jam.
Regan pergi tergesa-gesa meninggalkan kelas setelah jam berakhir. Tanpa menoleh lagi, Regan terus memacu kedua kaki menuruni anak tangga dari lantai tiga kampus tersebut.
Lelah, tapi ia harus cepat. Jika tidak, Yuki akan bertekad pergi seorang diri meninggalkan kampus. Regan tersenyum saat melihat seorang gadis berambut panjang duduk memunggungi.
"Yuki, ayo!" Regan terkesima saat gadis itu mendongak bukan wajah Yuki yang dia lihat. Buru-buru melepaskan tangannya dan menyalang ke sekitar.
"Yuki? Tak ada siapapun di sini selain aku. Sejak tadi aku duduk di sini sendirian. Tidak ada yang datang," ucap gadis itu dengan bingung.
"Tidak ada? Kau tidak melihat siapapun di sini?" ulang Regan tidak mempercayai telinganya sendiri.
"Yah, aku sendirian." Tak kalah tegas dan meyakinkan gadis itu menjawab.
"Kau yakin?" Regan kembali menekan khawatir ia salah mengingat.
"Sangat yakin. Aku bersumpah sejak tadi aku sendirian di sini," ucap gadis itu lagi sambil mengangkat dua jari tanda sumpah.
Regan mengusap wajah hingga rambutnya, digigitnya bibir dengan kesal. Tidak salah lagi Yuki pasti pergi seorang diri. Tanpa mengucapkan terima kasih, Regan berlari menuju parkiran. Bertanya pada satpam tentang Yuki, bahkan penjaga sekolah itu pun tidak tahu.
"Ah, sial! Ke mana gadis itu?" umpat Regan. Ia masuk ke dalam mobil dan segera menjalankannya. Keluar kampus dan terus saja membelah jalanan. Rumah Yuki tujuannya, berharap gadis itu ada di sana. Akan tetapi, rumah besar itu nampak sepi. Pintu rumah dan gerbang tertutup rapat seolah-olah tak ada penghuni.
Regan memukul kemudi kesal, menjambak rambutnya frustasi. Namun, bagaimanapun, ia harus menghadap Kenan untuk mengatakan yang sebenarnya. Kemudi diputarnya, berbelok mengambil jalan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Bagaimana caraku mengatakannya?" Regan menggaruk-garuk rambutnya kesal. Meringis marah, tapi pada siapa?
Ia menghela napas, tak ada pilihan. Bagaimanapun reaksi Kenan, ia harus bersiap menghadapinya.
Seiring berjalannya waktu sang senja hadir membawa keindahan, mega keemasan memayungi langit menghadirkan pesona indahnya sang lembayung. Di sana, di dekat jendela kaca, sepasang sejoli sedang menatap adiwarna yang terhampar di langit.
"Indah!" Suara lirih sang gadis mengusik telinga pemuda di depannya. Keadaannya belumlah lebih baik, tapi setidaknya tak ada lagi gundah dalam hati.
"Kau menyukainya?" tanya Kenan sambil mengusap tangan Yuki yang menempel di bahunya.
"Iya, aku selalu suka senja. Cantik dan membuatku tenang," sahut Yuki menatap senja tanpa berkedip.
Kenan tersenyum, mengusap-usap tangan kekasihnya itu dengan lembut. Kenan membawa tangan itu ke depannya, mengecup singkat dan meletakkannya di dada.
"Saat aku pulih nanti, kita akan mengunjungi tempat di mana senja bisa dilihat dengan sempurna," ucap Kenan menyandarkan tubuhnya pada perut gadis itu. Ia mendongak, tersenyum kala tatapan mereka beradu.
Yuki mengusap rambut kepalanya, mencubit pipi Kenan dengan gemas. Keduanya tergelak, menikmati waktu bersama tanpa gangguan apapun.
"Kenan! Yuki ...."
Regan membuka pintu dengan cepat setelah mengetuk. Napasnya tersengal karena berlari dari parkiran, peluh mengucur deras membasahi kemeja yang ia kenakan. Sialnya, gadis itu ada di sana.
Mata Regan membelalak tak percaya melihat sosok yang membuatnya frustrasi tengah menunduk dalam-dalam ketika menoleh.
"Regan?" Kesadarannya kembali saat mendengar suara Kenan. Ia melangkah masuk dan menutup pintu. Ada geram, kesal, kecewa, juga lega secara bersamaan ia rasakan. Ingin mencakar, menjambak, meninju, juga memeluk. Hatinya berkecamuk, perasaannya bergejolak hebat, ia melangkahkan kaki dengan mata menyalang pada gadis yang berdiri di belakang Kenan.
"Hei, ada apa? Kenapa kau melihatnya seperti itu?" tanya Kenan. Pemuda di kursi roda itu mengerutkan kening, tak mengerti dengan sikap sahabatnya.
Regan mempertajam netra sebelum menjatuhkannya pada Kenan.
__ADS_1
"Kau tahu, dia membuatku gila sepulang kuliah. Dia berjanji padaku akan menunggu di taman sampai kelasku selesai. Nyatanya saat aku mencari, dia tak di sana. Kudatangi rumahnya, sepi. Tak ada siapapun di sana, rupanya di sini. Asyik masyuk bersamamu, sedangkan aku hampir mati karena mencarinya," ucap Regan menggebu-gebu.
Napasnya memburu karena kesal dengan tingkah keras kepala dari kekasih sahabatnya itu. Tangannya menunjuk Yuki geram, jika tak ingat dia kekasih Kenan, ingin rasanya menampar pipi mulus itu.
Kenan mengernyit, ia menoleh pada Yuki menuntut jawaban.
"Yuki!"
"Yah, aku minta maaf. Aku minta maaf padamu, Regan. Kupikir semua akan aman jika aku pergi seorang diri. Kau berjanji tak akan mengulangi semua itu. Aku berjanji akan mendengarkanmu, Regan. Tolong, maafkan aku. Aku menyesal," ucap Yuki sesungguhnya.
Kenan berbalik menatap sahabatnya, tersenyum penuh pengertian mengapa Regan sampai marah seperti itu.
"Dia sudah minta maaf lagipula Yuki sudah mendapatkan hukuman. Hampir saja menjadi korban penculikan jika saja Mikael tak mengawasi kalian," ucap Kenan dengan pelan.
Regan membelalak, melempar tatapan pada Kenan. Tak percaya, tapi yang mengatakan adalah Kenan. Ia menggeram, rahangnya mengeras saat kembali melihat gadis itu.
"Kubilang padamu apa? Firasat Kenan selalu benar. Jika dia mengatakan ada bahaya, maka kau harus mendengarkannya. Kau mengerti tidak?" Regan berapi-api.
Yuki mulai terisak, Kenan menggelengkan kepala. Hal yang sangat wajar jika Regan sampai marah seperti itu. Ia tidak melarang sahabatnya itu untuk memarahi Yuki karena dia memang salah.
"Maaf, maafkan aku, Regan. Aku berjanji tak akan mengulangi," ucap Yuki bergetar. Wanita itu tak berani mengangkat wajah menatap matanya yang merah menyala.
Regan mengendurkan urat-uratnya yang tegang, menghela napas mengurai emosi. Tangannya mengibas di udara.
"Sudahlah, aku lelah." Ia berjalan mendekati sofa, membanting dirinya di sana. Regan merebahkan diri seraya memejamkan mata lelah. Lelah fisik dan hatinya karena gadis itu. Gadis keras kepala yang tak mendengarkan perkataannya.
Regan meletakkan tangan di dahinya, menutup mata dari cahaya lampu yang menyilaukan. Ia memiringkan tubuh menghadap sandaran sofa, enggan untuk melihat kekasih sahabatnya itu.
Kenan terkekeh-kekeh, kepalanya menggeleng sebelum ia melirik Yuki yang mulai meredakan tangisnya.
__ADS_1
"Orang tuamu belum kembali?" tanya Kenan menyelidik.
Yuki menggelengkan kepala. Hidup sendirian di rumah sudah menjadi hal biasa untuknya. Hanya ditemani asisten rumah tangga dan yang lainnya. Tanpa orang tua. Ibunya semakin sibuk hingga tak memiliki waktu untuk sekedar saling menyapa satu sama lain. Ayahnya selalu gila kerja, sangat jarang terlihat di rumah. Yuki memiliki orang tua, tapi seperti seorang yatim piatu.