
"Kakak!" Gadis kecil itu berlari dari atas panggung menghampiri Kenan yang berdiri di paling belakang bersama Shaka yang terhipnotis oleh suasana meriah di ruangan tersebut.
"Sayang." Kenan sigap mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongan. Di bawah tatapan kagum semua orang, mereka baru menyadari betapa harmonisnya hubungan kakak beradik itu.
Shaka menoleh sambil tersenyum tipis, ia sampai memiringkan kepala hanya agar bisa melihat wajah gadis kecil yang bersembunyi di pundak Kenan.
"Adik?" tegurnya tepat di hadapan wajah Kiran yang saat itu baru saja mendongak.
"Argh!" Kiran terlonjak hampir-hampir jatuh dari gendongan Kenan.
"Hei, hati-hati, sayang." Pelan-pelan Kenan menurunkan tubuh itu dari gendongan. Ia menilik sang adik yang nampak bingung sekaligus takut melihat Shaka, sedangkan laki-laki itu tetap tersenyum menampakkan deretan giginya.
"Kenapa? Kau takut?" Ia membungkuk di hadapan Kiran. Gadis kecil itu tak memalingkan wajah dari Shaka.
"Kakak, siapa dia?" tanya Kiran menunjuk pada Shaka, pandangannya terus terpatri pada sosok berkulit sawo matang yang terus tersenyum.
"Kakak. Kau Adik, Aku Kakak," ucap Shaka tak jelas hingga membuat kerutan di dahi kecil Kiran.
"Kakak?" beonya tidak mengerti.
"Iya, Kakak. Aku Kakak," sahut Shaka lagi tak tahu bagaimana menjelaskannya. Kenan menahan senyum melihat tingkah keduanya.
"Kau tidak mau memelukku juga? Aku membawa hadiah untukmu," ucap Shaka lagi menunjukkan boneka beruang besar berwarna merah muda kesukaannya.
"Untukku?" Kiran belum berbicara banyak kepadanya. Kebingungan masih terlihat jelas di wajahnya yang lugu.
"Iya, ini untukmu. Ayah bilang sebagai hadiah perkenalan. Ambillah!" Shaka menyerahkan boneka tersebut kepada Kiran. Gadis kecil itu senang, ingin memekik, tapi malu karena yang memberi tidaklah ia kenal.
__ADS_1
"Terima kasih," katanya tersenyum manis yang membuat hati Shaka berbunga-bunga. Boneka besar itu menutupi tubuh kecilnya bahkan jarinya tak dapat bertemu.
"Kalian sudah saling mengenal? Baguslah," tanya Alex datang bersama Leo. Ia tersenyum hangat pada ketiga anak yang kini sudah berkumpul bersama-sama.
"Ayah, memangnya siapa Kakak ini?" Kiran kembali bertanya karena Kenan sedari tadi terus bungkam tanpa kata.
"Oh, jadi kau belum tahu siapa dia?" Gadis kecil berkuncir dua itu mengangguk polos. Ia masih terlihat bingung dengan kehadiran Shaka.
"Dia Shaka. Sama seperti Kenan, dia juga Kakakmu. Mereka kembar, tapi tidak identik," katanya disambut senyum lebar Shaka yang nampak sumringah mendengar Alex memperkenalkan dirinya sebagai Kakak.
"Kakak? Maksud Ayah, aku punya dua Kakak?" Alex menjawab dengan suara deheman, "jika dia juga Kakakku, di mana selama ini dia tinggal?" lanjut Kiran bertanya. Sama seperti Ayahnya yang baru ia ketahui sekarang.
"Mmm ... maaf, Tuan Besar. Bisakah Anda ikut kami ke ruangan? Kami akan membahas soal akademi anak-anak kelas akhir ini," pinta seorang guru yang memangkas obrolan mereka karena Alex harus menghadiri rapat bersama dewan guru dan wali murid lainnya.
"Baik." Ia memandang Kiran lagi, "kau bisa tanyakan pada mereka. Ayah pergi dulu, bersenang-senanglah. Kalian boleh bermain ke mana saja yang kalian mau, tapi pulanglah tepat waktu!" ucap Alex sebelum memberikan kecupan di dahi putri bungsunya.
"Terima kasih, Ayah." Kiran memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri Alex sebelum laki-laki itu pergi menuju ruang rapat ditemani Leo.
"Baik, Tuan." Leo mengeluarkan ponsel mengubungi Mikael, ia memberi perintah lewat sebuah pesan singkat yang langsung ditanggapi oleh laki-laki bertubuh besar itu.
"Kakak, aku ingin bermain di taman hiburan. Bisakah kita pergi ke sana?" pinta Kiran dengan wajah cerianya.
"Baiklah. Kita pergi," katanya.
"Sebelum itu, bisakah aku memelukmu, Adik?" Shaka berucap lirih, tapi penuh pengharapan. Kiran memberikan bonekanya kepada Kenan, ia berbalik menghadap Shaka yang masih menunggu.
"Membungkuklah!" pintanya menatap tajam manik Shaka. Pemuda bertubuh lebih tinggi itu menurut, ia lantas membungkuk mendekatkan wajahnya pada Kiran.
__ADS_1
Kiran mengalungkan kedua tangannya di leher pemuda itu, ia berbisik lirih menggelitik telinga Shaka.
"Angkat aku, Kak. Gendong!" Ia tersenyum. Lantas berseru saat tangan kekar Shaka mengangkat tubuhnya.
"Wauw! Kakak Shaka lebih tinggi daripada Kakak Kenan. Aku merasa lebih tinggi, haha." Kenan tersenyum melihat wajah Kiran yang bertambah ceria.
Kebahagiaan tergambar jelas di sorot matanya. Ia berceloteh ini dan itu kepada Shaka. Orang-orang tak lagi berani merendahkannya, hanya sekali saja melihat tubuh besar Shaka sudah membuat nyali mereka menciut.
Gadis-gadis nakal yang selalu mengganggunya bahkan membelalak tak percaya saat Kiran tertawa dalam gendongan Shaka. Mereka iri, mereka juga menginginkan kasih sayang besar dari seorang Kakak sama seperti yang Kiran dapatkan.
Dia memang tidak memiliki Ibu, dan Ayah saja baru diketahuinya sekarang, tapi memiliki Kakak yang hebat yang menyayanginya tanpa batas. Tidak seperti mereka, memiliki orang tua, tapi seolah-oleh tidak memilikinya. Sering ditinggalkan sendirian di rumah, hanya bersama pengasuh saja.
"Kiran beruntung, dia punya Kakak seperti mereka yang sangat menyayanginya," celetuk salah satu anak nakal dengan perasaan iri yang tak dapat ia sembunyikan.
"Kau benar, ternyata selama ini kita hanya iri padanya. Kiran yang tak punya orang tua, tapi selalu ceria. Kita iri dia punya Kakak yang begitu perhatian kepadanya. Kita hanya cemburu pada kehidupannya." Yang lain menimpali dengan wajah sendu.
Ketiganya duduk menopang dagu memperhatikan Kiran yang terus bercerita pada pemuda tinggi yang menggendongnya. Sampai mereka hilang di antara barisan mobil, mereka masih saja menatap ke depan. Berangan-angan andaikan itu mereka, tapi semua orang punya jalan ceritanya masing-masing.
"Mmm ... Kakak, apa kak Yuki sudah selesai belajarnya? Aku ingin mengajak kak Yuki juga," tanya Kiran menoleh pada Kenan yang berjalan di sampingnya.
"Belum, sayang. Kak Yuki sore nanti baru selesai belajar. Biar dia menyusul bersama Regan nanti jika kau ingin bermain bersamanya," jawab Kenan sambil membalas senyum Kiran yang tersungging. Ketiganya masuk ke dalam mobil terus melaju meninggalkan sekolah Kiran.
Taman hiburan dibuka pukul dua siang, untuk menunggunya Kenan membawa mereka ke restoran. Sekedar mengisi perut karena waktu makan siang sudah tiba.
"Jangan lupa, pesankan aku makanan yang banyak. Aku sangat lapar sekarang ini," bisik Shaka pada Kenan sesaat setelah mereka duduk di restoran tempat Kenan bekerja.
"Kau bisa memesan makanan sepuasmu, Shaka. Aku bekerja di sini, lagipula ...." Kenan mendekatkan wajah pada mereka berdua.
__ADS_1
"Restoran ini milik Ayah kita," lanjutnya sambil berbisik tak ingin ada yang mendengar. Kiran dan Shaka membulatkan mulut membentuk huruf 'O'.
Kenan memesankan makanan untuk mereka bertiga, dia datang sebagai tamu hari itu. Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata menguntit mereka.