
Di dalam ruang yang dipenuhi berbagai macam buku pengetahuan itu, Kenan duduk bersandar pada rak yang dijejali buku-buku besar. Ia menengadah membiarkan wajahnya menghadap langit-langit ruangan dengan mata terpejam.
Helaan napas beberapa kali ia hembuskan dengan sangat dalam. Mengurai sesak yang tiba-tiba membelenggu rongga dada. Ia mengangkat kepala, menatap lurus ke depan.
Kejadian-kejadian yang baru-baru ini terjadi kembali melintasi ruang ingatannya. Asbak yang menjadi abu, mata merah milik Roni, juga kejadian di lapangan basket, tak lupa saat ia hampir saja mematahkan tangan preman sekolah yang ditakuti semua siswa.
Kenan menunduk menatap kedua tangannya.
"Apa yang telah terjadi padaku? Kenapa rasanya aku berbeda?" katanya masih menatap kedua tangan yang ia bolak-balikkan.
Kejadian saat hujan badai malam itu, di mana ia melakukan tindakan bodoh, paling bodoh sekali. Ia ingat saat tubuhnya melayang, dan sebelum menghantam tanah sebuah cahaya dari kilatan petir menghantam dadanya tepat di bagian jantung.
"Apa karena petir itu aku bisa seperti ini? Apa yang harus aku lakukan dengan semua kekuatan ini?" Ia bergumam lagi sambil kembali menjatuhkan kepalanya pada rak buku. Kedua kaki ia selonjorkan ke depan. Lelah dan bingung.
"Mungkin Tuhan ingin ... agar aku bisa melindungi diriku atau setidaknya membela diri saat semua orang membuli-ku," lanjutnya bergumam seorang diri. Di kanan dan kiri tubuhnya, terdapat tumpukan buku tentang mitologi dan sains.
"Tapi aku takut, Tuhan. Aku takut tidak dapat mengendalikan diriku sendiri dan menggunakan ini semua untuk kepentingan pribadi. Apa lagi untuk hal-hal yang tidak berguna. Bagaimana ini?" Ia tertunduk. Gelisah sendiri hatinya, gamang melanda jiwa.
Helaan napas ia hembuskan lagi. Semua ini membuat dadanya terasa sesak.
"Sayang! Jika kau takut, jika kau sedang putus asa, jika kau sedang terluka, maka panggil saja Ibu. Ibu akan datang dan menjadi kekuatan untukmu."
Kalimat Ibu yang terakhir kali diucapkannya sebelum ia menghembuskan napas terakhir, mengiang di telinga Kenan.
"Ibu!" Ia bergumam lirih. Kenan memejamkan mata, setetes air jatuh dari pelupuknya tatkala senyum Ibu melintas dalam bayang.
"Kau adalah orang terpilih. Aku sendiri tidak tahu kenapa dari sekian banyak orang hebat, justru sampah sepertimu yang dipilih-Nya. Seharusnya kau bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati hidupmu. Bukan malah menyesal dan meratapi hidupmu yang kedua ini!"
Sebuah suara merangsek masuk ke dalam rungu Kenan. Remaja itu mengangkat wajah, mengedarkan pandangan ke segala arah. Mencari pemilik suara yang baru saja mengejeknya.
"Siapa kau? Tunjukkan dirimu!" teriak Kenan tanpa sadar.
__ADS_1
Plak ... plak!
"Sssttt ...!"
Suara penggaris dan meja beradu kuat disambung desis bibir penjaga perpustakaan yang gemulai dan cucok, menegur Kenan yang masih menganga terkejut.
Ia tersenyum malu, segera memalingkan wajah dari penjaga perpustakaan tersebut dengan kepala tertunduk. Kenan beranjak dengan satu buku di tangan yang ia ambil secara sembarang.
Ia membawanya ke penjaga dan pergi setelah diizinkan.
"Hei, kalau sedang ada masalah ... tenangkan hati dan pikiranmu, jangan terlarut di dalamnya. Aku hanya mengingatkan saja," nasihat penjaga perpustakaan sebelum Kenan melangkahi pintu ruangan tersebut.
Siswa kurus itu pun menoleh, melihat secara saksama si penjaga yang kembali fokus pada pekerjaannya.
"Terima kasih," katanya seraya membawa langkahnya keluar dan menutup pintu secara perlahan.
Pikiran Kenan benar-benar berkecamuk. Ia bingung harus apa setelah ini. Bingung dengan apa yang dia miliki sekarang ini, untuk apa semua kekuatan yang dia miliki?
Kenan kembali, dengan langkah gemetar dan kepala tertunduk ia menghampiri Yuki yang menunggunya di bawah pohon akasia.
"A-ada a-apa? Bu-bukannya i-ini ma-masih jam be-belajar? Ke-kenapa kau a-ada di lu-luar?" tanya Kenan dengan suara yang bergetar hebat. Ia menyeka keringat yang hampir menetes ke bawah.
"Hmm!" Yuki melipat tangan di perut, menatap Kenan dengan cemberut, "kenapa kau selalu gagap jika berbicara denganku? Memangnya aku ini hantu hingga kau selalu tergagap karena ketakutan melihatku?" sungut Yuki terheran dengan tingkah Kenan yang seperti dibuat-buat.
Kenan meliriknya sebentar, ia langsung tertunduk begitu netranya bertabrakan dengan netra kebiruan milik Yuki.
"A-aku ti-tidak ta-tahu." Kenan gelisah, ingin berlama-lama, tapi ia tak sanggup. Bukan tak ingin, tapi tidak sanggup.
"Belajarku sudah selesai, aku mau kau mengantarku," katanya memberitahu.
"Ke-ke mana?" tanya Kenan yang kali ini memberanikan diri mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Mamah memintaku datang ke cafe, aku tidak tahu. Antar aku ke sana. Kau tenang saja, hanya mengantar karena aku akan pulang bersama Mamah," jawab Yuki yang hanya diangguki oleh Kenan.
Keduanya berjalan menuju parkiran. Yuki tak segan melingkarkan tangan pada lengan Kenan dan terus mengajaknya berbicara, sedangkan laki-laki itu mencoba sekuat tenaga untuk tidak gemetar. Sepertinya, mulai hari ini ia harus terbiasa dengan sikap-sikap tak tentu dari Yuki.
"Aku mau duduk di depan!" seru Yuki saat Kenan hendak membukakan pintu belakang untuknya. Tanpa menyahut dan dengan tangan yang gemetaran, Kenan menutup pintu itu lagi dan membukakan pintu bagian depan.
"Terima kasih," tutur Yuki sambil tersenyum dan masuk ke dalam. Ia duduk dengan tenang menunggu Kenan masuk.
"Kenan! Kau berkeringat!" pekik Yuki saat beberapa butir keringat menetes dari dahinya. Ia sigap mengambil tissue dan membersihkan keringat Kenan.
"Bi-biar a-aku sa-saja," cegah Kenan seraya mencekal pergelangan tangan Yuki. Pandang keduanya beradu, beberapa saat mereka saling memaku tatap sebelum Kenan membuang muka ke depan.
Yuki menunduk malu, ia menyeka keringatnya sendiri menggunakan tissue yang sama. Kenan pun melakukan hal yang sama. Ia benar-benar gugup. Seperti phobia pada gadis cantik.
Mobil melaju dengan tenang, Yuki memandang jendela. Ia pun sama malunya saat mengingat kejadian tadi.
"C-cafe ma-mana?" tanya Kenan memecah kebisuan. Yuki berpaling ke depan, ia melihat luar mobil mencari cafe tempatnya membuat janji dengan Mamah.
"Di sana! Cafe Aurora!" tunjuk Yuki saat menemukan tempat itu. Kenan memutar setir mobil menuju cafe tersebut.
"Kau bisa langsung pulang, maaf aku tidak bisa meminjamkan mobil ini sekarang karena Mamah tidak membawa mobil," sesal Yuki setelah mobil tersebut terpakir di halaman cafe.
"Ti-tidak a-apa. A-aku a-akan m-menaiki ojek saja," sahut Kenan dengan wajah yang berpaling ke arah luar. Ia memberikan kunci mobil pada Yuki sebelum keluar.
"Kenan!" Tangan yang sudah membuka pintu mobil itu seketika terhenti dan kepala Kenan menoleh ke arahnya.
"Terima kasih. Ini untuk ongkos ojekmu. Aku tidak menerima penolakan!" tega Yuki mengepalkan lembaran uang pada tangan Kenan.
"Te-terima ka-kasih!" katanya, menolak pun tak bisa karena Yuki sudah memberi ultimatumnya. Kenan keluar dan tanpa menoleh lagi ia terus melangkah mencari tukang ojek.
Sementara Yuki, masih duduk menatap punggung ringkih Kenan yang kian menjauh.
__ADS_1
"Jambret!"