Takdir Kenan

Takdir Kenan
Kembali


__ADS_3

"Shaka?"


"Kakak, kau datang?"


Shaka berbalik saat sebuah suara memanggilnya. Bibirnya tersenyum hangat, ia melangkah sambil membentang tangan merengkuh tubuh Kenan yang bergeming di tempatnya berdiri.


"Sudah lama aku menunggumu, Kak. Kenapa baru datang hari ini?" tanya Shaka lagi seraya melepaskan pelukan.


Kenan masih nampak bingung dengan situasi saat ini, mengapa ia dan Shaka memakai pakaian serba putih. Suasana yang ada terlihat seperti sebuah taman dengan rumput hijau yang menghampar sebagai lantai. Di tengah taman tersebut terdapat sebuah air mancur dengan kolam melingkar di bawahnya. Di sekelilingnya tumbuh berbagai tanaman bunga yang sebagian telah bermekaran.


"Shaka, di mana kita?" tanya Kenan dengan bingung. Pandangannya mengedar, tempat ini belum pernah ia kunjungi sebelumnya.


"Kau ada di tempat kami, Nak. Di sinilah tempat kami untuk saat ini dan selamanya." Suara seorang wanita menyambar, ia muncul dari balik air mancur dengan pakaian yang putih bersinar.


Kenan tertegun, matanya mengembun, bibirnya berkedut. Langkah kaki mulai meniti mendatangai sosok wanita yang masih nampak cantik itu. Air mata tak lagi dapat ditahannya, jatuh menetes menjatuhi rumput hijau yang dipijaknya.


"Ibu!"


Kenan berhambur ke dalam pelukan wanita yang memberinya beban hidup itu. Menangis menumpahkan segala beban yang ia tanggung di pundak ringkihnya. Punggung Kenan berguncang, isak tangis tak dapat ditahannya. Tersedu sedan dengan pilu.


"Terima kasih, anakku. Kau sudah menjalani hidup dengan baik selama ini," ucap wanita itu dengan lembut.


Ia melepas pelukan, mengecup dahi Kenan dengan lembut. Air mata pemuda itu masih jatuh berderai, ia menunduk. Di hadapan wanita itulah ia bisa menjadi dirinya yang lemah. Tak perlu berpura-pura tegar dan kuat. Jika ingin menangis, ia akan menangis seperti yang ia lakukan saat ini.


"Aku lelah, Bu. Aku ingin ikut bersamamu," lirih Kenan sambil terus menangis.


"Tidak, Kak. Tempatmu bukan di sini, kau masih harus kembali ke sana untuk menjaga bidadari kecil kita," sahut Shaka yang menyaksikan keharuan dari pertemuan anak dan Ibu itu.


Kenan membalikkan tubuh, menatap bingung pada Shaka yang mulai meniti langkah mendekat.


"Apa maksudmu?" tanya Kenan dengan kerutan di dahinya.


"Aku memintamu datang hanya untuk mengucapkan selamat tinggal, Kak. Aku sudah tiada, dan kita tidak sempat bertemu maksudku kau tidak sempat melihatku bahkan untuk yang terakhir kalinya. Maafkan aku, Kak." Shaka berhenti di hadapan Kenan, wajahnya terlihat damai tak ada kesedihan apalagi penderitaan.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti," ucap Kenan. Otaknya sulit mencerna untuk saat ini. Semua yang ia lihat, yang ia dengar, semuanya hanya ilusi.


"Shaka telah meninggalkan dunia, Nak. Sama seperti Ibu. Untuk itu, Ibu mengucapkan banyak terima kasih kepadamu karena kau telah berhasil menemukan kembali saudaramu yang hilang itu," ungkap Ibu mereka mengalun lembut.


"Kakak, bangun! Lihat, aku sudah tersenyum. Aku ingin bermain bersama Kakak lagi. Cepatlah, bangun!"


"Kiran?"


Kenan menatap langit, samar ia melihat bayangan gadis kecilnya yang menangis di sisi ranjang rumah sakit.


"Lihat, dia sudah kehilangan Ibu. Lalu, kehilangan satu Kakaknya, dan kini dia tidak ingin kehilangan Kakak yang pernah menjadi Ibunya sejak ia masih bayi. Kau harus kembali, sayang. Demi adikmu, kembalikan senyum bidadari kita. Kau sudah berjanji pada Ibu akan menjaga senyumannya," ucap Ibu Kenan sembari mengusap lembut pipi putra sulungnya itu.


"Kembalilah, Kak. Terima kasih karena Kakak memiliki perasaan yang peka terhadapku. Jaga Adik jangan biarkan orang lain menyakitinya," pinta Shaka sedikit meremas bahu Kenan yang ia pegang.


"Tapi ...."


Kenan menilik dirinya sendiri, menggeleng tak percaya. Sedikit demi sedikit seluruh bagian tubuhnya menghilang. Ia mendongak, air matanya jatuh saat melihat Ibu dan Shaka tersenyum sambil melambaikan tangan.


Baiklah, mungkin inilah takdirku.


"Kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik, anak muda. Sekarang kau hanyalah manusia biasa yang tak memiliki kekuatan. Kembali pada asalmu yang sesungguhnya."


Sebuah suara tanpa wujud menggema di telinga Kenan. Ia meneguk saliva tanpa membuka mata.


Terima kasih.


Tubuh Kenan kian menipis, kemudian hilang.


"Argh!"


Kenan meringis saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia tak mampu menggerakkan satu anggota tubuh pun, walau hanya kelopak mata.


"Kakak!" pekik Kiran senang, "Ayah! Ayah! Kakak bangun, cepatlah kemari!" teriaknya memanggil Alex yang berada di luar ruangan bersama dokter.

__ADS_1


Gadis kecil itu mengusap matanya yang berair, ia tak ingin Kenan melihatnya menangis saat membuka mata nanti. Pintu ruangan terbuka cukup keras, Alex dan dokter berhambur masuk untuk mengecek kondisi Kenan.


"Ayah?" Alex mengangkat tubuh Kiran dalam gendongan, mengusap rambutnya sambil memperhatikan dokter memeriksa Kenan.


Napasnya keduanya tersengal karena perasaan bahagia yang tiba-tiba membuncah. Alex menciumi pipi Kiran sambil berharap Kenan akan baik-baik saja dan akan segera pulih.


Yuki yang mendengar Kenan terbangun, membawa kakinya berlari. Di tangannya menenteng kantong plastik berisi makanan untuk Alex dan Kiran. Regan menyusul di belakang, tak ingin tertinggal momen Kenan membuka mata.


"Kenan?" Yuki dan Regan mendekat, laki-laki itu sudah membuka matanya. Ia tersenyum saat melihat Yuki dan Regan. Di sisinya Alex dan Kiran duduk menunggu. Dokter telah selesai memeriksa dan mengatakan kondisi Kenan sudah stabil.


Ia melambaikan tangan meminta Yuki mendekat. Isak tangis gadis itu pecah, siang malam ia menunggu mata itu terbuka. Akhirnya, dapat melihat kembali biji manik coklat keemasan yang selama dua Minggu ini tertutup.


"Kenan!" Yuki menjatuhkan kantong plastik di tangannya seraya memeluk tubuh Kenan. Tangis kerinduan ia tumpahkan pada laki-laki yang telah membuatnya tak enak tidur dan tak enak makan itu.


"Te-ri-ma ka-ka-sih." Lidah Kenan kelu, terasa kaku untuk digerakkan. Suaranya terdengar lirih dan parau.


Yuki menggelengkan kepala, menolak kata itu. Lisannya belum berucap satu kata pun selain menyebut nama kekasihnya itu.


"Kenan? Terima kasih, Tuhan. Kau telah mengembalikan sahabatku!" Regan berucap penuh syukur.


Yuki menjauh dan membiarkan Regan melepas rindu. Lagi-lagi Kenan mengucapkan terima kasih kepada Regan karena ia yakin sahabatnya itu telah membantu Alex menjaga Kiran.


"Wah, sepertinya calon menantu membawakan makanan. Sayang, kau harus makan sudah beberapa hari ini kau tidak makan dengan baik. Sekarang, Kakakmu sudah bangun maka kau harus makan," ucap Alex mengambil kantong plastik yang dibawa Yuki tadi.


Kiran mengangguk, keduanya beranjak menuju sofa dan membiarkan Yuki bersama Regan yang menemani Kenan.


"K-kau ti-tidak ma-kan?" tanya Kenan kepada Yuki. Gadis itu menggelengkan kepala, melihat Kenan membuka mata sudah membuatnya merasa kenyang.


Kenan mengeratkan genggaman jemari mereka, terasa sekali jika kekasihnya itu lebih kurus dari sebelumnya.


"K-kau ha-harus ma-kan. K-kau ku-kurus se-ka-li," ucapnya menatap sedih Yuki.


"Siang malam dia menjagamu, Kenan. Makan tak teratur, tidur tak tentu. Kenan benar, Yuki. Kau harus makan, lihat tubuhmu terlihat lebih kurus," timpal Regan menunjuk tubuh Yuki yang sudah kehilangan lemaknya.

__ADS_1


"Ini, Kakak juga harus makan." Kiran membawakan makanan untuknya, hati Yuki terenyuh. Selain Kenan, mereka semua peduli padanya. Pada akhirnya, ia makan sambil sesekali menyuapi Kenan.


__ADS_2