
Putaran kedua permainan berlanjut biasa saja, tapi Regan menjadi waspada mengingat ucapan Kenan. Penonton mungkin tidak tahu, tapi saat berada di lapangan Regan mengerti maksud Kenan.
Teddi dan kelompoknya selalu menempel padanya, menjadi penghalang langkah Regan, menghambat pergerakannya. Namun, Regan tidak membiarkan itu terjadi, ia merubah posisi dan terus berpindah-pindah tempat setiap kali Teddi dan temannya mendekat.
Permainan berjalan alot karena Regan dan Teddi sama-sama kuat. Kenan tersenyum puas melihat perkembangan sahabatnya itu. Peluit panjang berakhir dengan angka akhir yang sama. Mereka seri, tak apa. Itu sudah hal luar biasa yang dicapai Regan sepanjang pertandingan melawan Teddi.
Kenan turun bersama Yuki, mendatangi Regan dan memberinya selamat.
"Kau semakin hebat, aku bangga menjadi sahabatmu," ucap Kenan sambil merangkul bahu Regan dan berjalan bersama-sama.
"Semua karena kau, Kenan. Jika kau saja bisa berubah, kenapa aku tidak?" katanya sambil tertawa geli.
Ketiganya terus berjalan menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang keroncongan. Yuki di sana, tak bisa jauh dari Kenan. Ia terus saja menempel pada laki-laki itu.
"Bagaimana? Aku salut padamu karena kau bisa mematahkan rencana Teddi tadi. Apa kau bisa membaca rencana yang dia buat?" ujar Kenan melirik Regan yang tertawa di sampingnya.
"Entahlah. Aku hanya menebak mereka mengincarku untuk menguasai permainan. Mereka menghambat pergerakanku ... seperti itu yang aku lihat," sahut Regan sembari menghendikan bahu.
"Lebih dari itu. Mereka berniat membuatmu celaka dalam permainan itu. Entahlah, apa tujuan mereka, aku pun tidak tahu," ungkap Kenan membuat Regan tercenung. Begitu pula dengan Yuki, yang tidak menemukan kejanggalan sama sekali dalam pertandingan tadi.
"Kulihat pertandingan tadi biasa saja, tidak ada hal yang janggal," celetuk Yuki dengan kerutan di dahi berpikir.
"Kau hanya tidak bisa melihatnya saja, sayang. Lain kali kau harus belajar membaca situasi," sambar Kenan sambil menggamit hidung gadis itu.
Bersemu kedua pipi Yuki mendengar panggilan baru Kenan untuknya. Regan memicing curiga, memperhatikan kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu.
"Kalian ... sudah sedekat itu?" Yuki mengangguk polos. Sementara Kenan tak acuh sambil terus berlalu.
Regan menggelengkan kepala seraya menyusul langkah keduanya. Namun, langkah mereka terhenti dikala Teddi dan kelompoknya tiba-tiba datang menghadang.
"Apa yang kalian inginkan? Tak cukupkah kalian menyakiti Kenan? Sekarang dia bukan lagi siswa di kampus ini. Jadi jangan harap kalian bisa menindasnya," ketus Regan tanpa rasa takut sama sekali.
Mulai detik itu, Regan bersumpah tak akan membiarkan dirinya dihina dan harga dirinya diinjak-injak.
__ADS_1
Teddi tersenyum miring, ia melipat kedua tangan di dada menatap remeh pada mereka. Yuki dilanda ketakutan, bayangan saat Teddi yang hampir melecehkannya kembali melintas dalam pikiran.
Genggaman tangannya di lengan Kenan kian menguat, lembab terasa saat menyentuh kulit laki-laki itu. Kenan tahu Yuki trauma dengan kejadian tempo lalu.
Kenan menepuk jemari Yuki, memberinya ketenangan agar tidak terpengaruh oleh kehadiran Teddi.
"Ah, kau terlalu berburuk sangka padaku, Regan. Setelah sekian lama kukira kau sudah memaafkan aku. Aku hanya ingin mengucapkan selamat kepadamu, syukur-syukur kita bisa berteman seperti yang lainnya," ungkap Teddi tersenyum kian lebar menunjukkan deretan giginya yang putih.
Kenan dan Regan berjengit, Yuki memicing. Rasa tak percaya jelas tercetak di wajah mereka, pasalnya Teddi mengatakan kalimat itu dengan sikapnya yang tetap angkuh.
"Terima kasih." Regan berlalu tak peduli. Ia tak lagi menoleh terus meninggalkan Kenan dan Yuki yang masih berdiam diri.
Kenan tersenyum saat pandang mereka beradu, ia pun mengunci mulutnya rapat tak sepatah kata pun keluar dari kedua belah bibirnya. Ia berjalan sambil menggandeng Yuki, menepuk bahu Teddi saat melintas di sampingnya.
Laki-laki itu menggeram, membuka mulutnya dengan kesal. Benar-benar menyebalkan, harinya memang sial. Teddi melayangkan tinjunya ke udara, mengumpat dalam hati dan mengancam mereka. Kemudian berlalu berlawanan arah.
*****
Yuki mengangguk manja, tangannya masih menggenggam lengan Kenan dengan erat.
"Aku senang kau datang, kawan. Terima kasih karena sudah memenuhi undanganku," ucap Regan memberikan tinjunya pada Kenan disambut dengan senang hati.
"Berhati-hatilah, kurasa Teddi mengincarmu," ingat Kenan sebelum berlalu mendekati mobilnya dibuntuti Yuki yang enggan berpisah.
"Aku pergi." Kenan mengusap rambut gadis itu dan memberikan kecupan singkat di dahinya. Yuki mengangguk patuh, berdiri di sana bersama Regan.
"Aku titip dia, Regan. Jangan sampai Teddi mengganggunya," pintanya.
"Kau tenang saja, kawan."
Kenan masuk ke dalam mobil dan berlalu dari kampus. Yuki dan Regan kembali ke kelas mereka setelah mobil yang dikendarai Kenan menghilang di pengkolan.
"Kenapa rasanya aku gelisah? Semoga tidak terjadi apapun pada mereka," gumam Kenan melanjutkan perjalanan ke restoran. Semakin jauh, semakin hatinya gelisah. Entah apa sebabnya, yang pasti rasa gelisah itu tak kunjung pergi meskipun ia telah menyibukkan diri dengan pekerjaan.
__ADS_1
"Yuki, apa kau baik-baik saja? Katakan padaku bila terjadi sesuatu." Kenan mengirimkan pesan singkat demi mengobati kegelisahannya. Ia pun mengirimkan pesan yang sama kepada Regan.
"Aku baik, Kenan. Aku sedang ada kelas." Pesan balasan dari Yuki sedikit membuat hatinya lega.
"Kau jangan terlalu mencemaskan aku, kawan. Aku bisa melindungi diriku sendiri." Balasan kedua membuat Kenan bertambah lega.
Ia melakukan panggilan ke rumah, bertanya tentang keadaan adiknya yang ia tinggal sendiri.
"Kakak, apa Kakak sudah pulang?" Suara Kiran nyaring terdengar. Kenan tersenyum lega.
"Kakak masih di restoran, sayang. Kau baik-baik saja? Sedang apa?"
"Aku sedang menonton televisi, baru saja selesai makan. Aku baik-baik saja, Kak."
Kenan kembali tersenyum mendengar sahutan dari seberang telepon. Ia mengakhiri panggilan setelah memastikan keadaan Kiran. Mendesah lega setelah mengetahui semua orang dalam keadaan baik-baik saja. Kenan bisa tenang melanjutkan pekerjaannya.
"Sayang, Kakak hari ini harus lembur. Jika kau mengantuk, tak usah menunggu Kakak. Kakak membawa kunci cadangan."
Pesan yang dikirimkan Kenan untuk Kiran. Ia harus lembur malam ini karena malam akhir pekan pengunjung datang tak terkendali.
Di kampus, Yuki berencana mendatangi restoran Kenan untuk menunggunya. Ia menunggu supir menjemput, sedangkan Regan masih berada di dalam kelas.
"Kenapa lama sekali?" gumamnya yang sudah berkali-kali melirik jam di pergelangan tangan. Sedikit kesal juga menyesal karena tak membawa mobil sendiri saja tadi.
Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapan Yuki, dua orang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah turun dan gegas mencekal gadis itu.
"Kalian siapa? Kalian mau apa? Lepaskan aku!" Yuki memberontak, terus menggeliat berharap bisa lepas dari cekalan dua orang itu.
Namun, sebuah tangan membekap mulutnya, membuat Yuki jatuh tak sadarkan diri. Mereka membawanya masuk ke dalam mobil dan berlalu dengan cepat. Regan yang sempat melihat, sungguh terlambat.
"Yuki!"
"Ah, sial!"
__ADS_1