Takdir Kenan

Takdir Kenan
Mencari Yuki


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti dengan cepat di halaman rumah besar Yuki. Orang tua itu turun dari sana dan berjalan cepat memasuki rumah. Membuka pintu dengan kasar bahkan membantingnya tanpa perasaan.


Wajahnya menghitam karena gejolak amarah yang memuncak. Urat-urat di leher dan kepala menonjol cukup jelas. Matanya yang merah mengedar ke segala penjuru rumah. Mencari sosok yang dianggapnya paling bersalah atas semua masalah yang terjadi.


"YUKI!"


"Pah, jangan berteriak. Malu pada tetangga. Lagipula tidak ada gunanya Papah marah-marah seperti ini pada anak kita. Dia tidak bersalah, Pah!" sergah sang istri menyusul langkah cepat suaminya memasuki rumah.


Laki-laki itu tak peduli, ia terus membawa langkahnya menaiki tangga menuju kamar Yuki. Suaranya berteriak keras memanggil nama anaknya itu. Namun, sekencang apapun, tetap saja tak ada sahutan dari sang pemilik nama.


"Yuki!"


Brak!


Pintu kamar Yuki dibukanya kasar, berdebam menghantam dinding hingga beberapa serpihan tembok berjatuhan ke bawah.


"Di mana anak nakal itu?" geramnya seraya memasuki kamar Yuki memeriksanya. Tiba di kamar mandi, ia sedikit mengernyit melihat pintu tersebut rusak karena dibuka paksa.


"Apa yang terjadi?" Sedikit terkejut, juga ada was-was di hatinya. Ketakutan mulai merambat menguasai segala rasa. Gegas ia membawa dirinya kembali keluar dari kamar Yuki, berlari menuruni anak tangga dengan cepat.


"Pah?" Sang istri mengernyit melihat raut cemas di wajah suaminya. "Apa apa?" kejarnya kembali turun mengekor sang suami.


"Di mana mereka?" Menggeram sambil terus mencari pekerja di rumahnya.


"Siapa? Di mana Yuki?" Tangan wanita itu sigap membalik tubuh suaminya hingga berhadapan.


"Yuki tidak di rumah, ada yang tidak beres. Pintu kamar mandi anak kita didobrak seseorang. Aku sedang mencari pembantu itu. Di mana dia?" katanya kembali berbalik mencari pembantu di rumahnya.


"Tuan, Nyonya." Wanita paruh baya itu datang dari luar rumah menenteng belanjaan. Ia baru saja pulang dari pasar, dan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Tukang kebun pun tak datang hari itu.

__ADS_1


"Kau!" tuding sang Tuan dengan rahang mengetat. Ia berjalan cepat menghampiri pembantunya yang mematung tak jauh dari pintu utama.


Ayah Yuki mencengkeram lengannya dengan kuat hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Sakit, Tuan," desisnya merintih.


"Pah! Apa-apaan, sih? Lepas! Tanyakan baik-baik jangan seperti ini!" sergah sang istri sambil menarik tangan suaminya dari lengan sang pembantu.


Wanita paruh baya itu menangis sambil memegangi pergelangan tangannya yang terasa perih. Ayah Yuki mendengus, berpaling muka dengan kesal, kedua tangan bertolak di pinggang.


"Di mana Yuki?" tanyanya menggeram.


"Nona ... Nona ...,"


"Di mana?" bentaknya tepat di depan wajah. Ia memejamkan mata karena terkejut sekaligus takut. Berselang, sang supir masuk karena mendengar suara gaduh..


"Anda mencari Nona, Tuan? Untuk apa Anda mencarinya? Bukankah bisnis Anda lebih penting daripada Nona Yuki?" sarkas sang supir dengan berani. Ia telah bersiap kehilangan pekerjaan jikapun akan dipecat saat itu juga.


"Anda pasti mengerti dengan maksud saya, Tuan. Selama ini Anda selalu sibuk dengan pekerjaan Anda sehingga lupa pada gadis kecil yang sekarang sudah tumbuh dewasa. Gadis kecil yang hanya tahu mainan, sekarang sudah memiliki perasaan. Anda lupa bahwa putri Anda itu sudah menjelma menjadi gadis yang sangat cantik yang diinginkan banyak laki-laki, bukan?"


Mata tua itu bahkan berani menatap padanya. Menantang dengan tajam, merobek harga dirinya. Sang supir melepas tangan majikannya, melirik pada Nyonya yang menangis tertunduk.


"Apa kalian pernah bertanya bagaimana harimu, Nak? Siapa yang sedang dekat denganmu? Bisa kau ceritakan kepada kami?"


Ia menatapi mereka berdua dengan sedih.


"Tidak! Sama sekali tidak! Apa kalian tahu akhir-akhir ini bahkan banyak kejadian yang hampir merenggut nyawa anak kalian itu? Nona diculik oleh teman laki-lakinya, diberikan kepada suku kanibal sebagai korban persembahan, tak berhenti sampai disitu. Penculikan itu terjadi tidak hanya sekali. Apa kalian tahu?"


Wajah ibu Yuki terangkat, menyesal pun tiada guna, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Matanya berkedut menjatuhkan air lebih banyak lagi. Juga ayah Yuki, ia menggeleng ingin menolak apa yang diceritakan supir anaknya itu.

__ADS_1


"Nona beruntung karena memiliki calon suami yang baik dan bertanggungjawab. Rela menukar nyatanya demi mnyelamatkan Nona, sedangkan kalian? Apa kalian yakin sudah melakukan yang terbaik untuknya? Nona tidak hanya membutuhkan materi, tapi juga kalian sebagai orang tua. Kalian yang lebih dibutuhkan oleh-nya, bukan yang lain. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan jika bertemu dengannya?" pungkas sang supir mengakhiri pidatonya.


...Ibu Yuki menangis histeris, menyadari kesalahannya juga menyesali semuanya. Ia meraung memanggil-manggil nama Yuki, memintanya untuk kembali. ...


Ayah Yuki mulai terisak, ia mengusap matanya yang terus berair. Turut menyadari kesilapan dirinya. Ia berbalik menatap sang supir dengan matanya yang basah lagi merah.


"Pertemukan kami dengannya. Kami ingin bertemu dengannya. Pertemukan kami dengan anak kami!" pinta laki-laki itu putus asa.


"Di mana Yuki? Apa kalian tahu di mana dia?" Ibu Yuki turut bertanya. Dengan sejuta penyesalan yang berkecamuk dalam hatinya.


"Nona di rumah sakit, beliau mengalami demam saat Anda berdua pergi kemarin pagi," jawab sang pembantu bergetar.


Kedua orang tua Yuki menoleh dengan tak percaya.


"Kenapa sepertinya Anda berdua terkejut sekali? Bukankah selama ini kalian selalu tak acuh saat mendengar Nona sakit? Jangan manja, itu hanya sakit biasa ... seperti itu, bukan?" sarkas sang supir menohok hati keduanya.


Mereka terus menangis histeris, teringat saat melihat tubuh Yuki yang lemas dan wajahnya yang pucat, tapi mereka tak acuh. Jangankan menyuapinya makan dan minum obat, membawanya ke rumah sakit saja tidak pernah.


"Nona menunggu kalian, datanglah sebelum semuanya terlambat dan kalian akan benar-benar menyesal," tandas sang supir itu lagi sambil mengulum senyum melihat penyesalan di manik kedua orang tua Yuki.


"Pak, antar kami ke sana!" pinta sang Ayah yang diangguki supirnya.


"Silahkan, Tuan, Nyonya. Saya antar menemui Nona," ucapnya sembari menjulurkan tangan mempersilahkan keduanya untuk segera pergi.


Supir itu mengangguk pada pembantu untuk ikut serta ke rumah sakit. Hari itu mereka akan menyaksikan Nona yang mereka jaga selama ini, mendapatkan kebahagiaannya. Keduanya antusias ikut bersama sang majikan.


Tak henti bersyukur dalam hati dan berharap akan seterusnya bahagia. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, melintasi jalanan kota Yesus menembus keramaian. Kedua orang tua Yuki tak sabar ingin bertemu dengan anak mereka. Tak sabar ingin memeluknya. Menciumi wajannya.


Yuki, maafkan Mamah, sayang.

__ADS_1


Yuki, sayang, maafkan Papah.


__ADS_2