
"Kenan! Bernapas! Wajahmu pucat," bisik Yuki di telinga Kenan. Gadis itu mengguncang tubuh Kenan agar ia tersadar dari rasa terkejutnya.
"Ah ...." Kenan menarik udara dengan rakus, ia sungguh tak menyangka bahwa restoran itu adalah milik Ayah karena tak sekalipun melihatnya datang.
Alex tertawa bersama Kiran di pangkuannya. Yuki sigap memberikan segelas air pada pemuda itu, ditenggaknya hingga tandas.
"Mmm ... Nona-"
"Yuki, Tuan. Nama saya Yuki, senang bisa berkenalan dengan Anda. Saya tidak tahu jika Kenan masih memiliki Ayah karena yang saya tahu Kenan selama ini tinggal bersama Paman dan Bibinya. Maaf karena tidak menyapa dengan sopan," ungkap Yuki sambil berdiri dari duduk dan sedikit membungkuk memberi hormat pada Ayah Kenan.
Senyum di bibir laki-laki yang dipenuhi janggut itu mengembang melihat sikap sopan Yuki terhadapnya. Ia melirik Kenan yang masih menetralkan degup jantungnya. Takut-takut balas melirik, dan segera membuangnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Kami memang baru bertemu, dan selama ini juga saya tidak tinggal di sini. Apa kau tinggal di sini?" Alex mengernyit sambil menatap Yuki yang kembali beranjak duduk.
Gadis itu melirik Kenan, baru saja dibicarakan, sudah ada yang menyinggungnya.
"Tidak, Tuan. Saya hanya menumpang menginap di sini karena di rumah saya sepi. Kedua orang tua saya pergi menjalankan bisnis, saya tidak memiliki saudara karena anak tunggal. Jadi, selama mereka pergi saya menginap di sini menemani Kiran. Ah, jika Tuan keberatan, maka saya akan pergi dari rumah ini," ungkap Yuki dengan rasa gugup yang tak dapat ditutupinya.
Kenan memicingkan mata, tapi ia tak membuka mulut sama sekali. Alex melirik, tersenyum penuh pengertian.
"Tidak apa-apa, saya hanya bertanya saja. Yang terpenting kalian harus bisa menjaga diri sampai takdir menyatukan kalian dalam ikatan pernikahan. Kau tenang saja, saya tidak tinggal di sini." Alex tersenyum meski tertutup janggut, tapi masih dapat terlihat.
"Ayah, kenapa kita tidak tinggal sama-sama saja? Ayah sudah datang ke rumah, apa Ayah akan pergi lagi meninggalkan Kiran dan Kakak?" Gadis kecil itu nampak sedih. Tangannya yang mungil mengusap pipi Alex dengan hangat.
__ADS_1
Pandangannya mengembun, bibirnya gemetar menahan tangis. Genangan air telah menyembul dari balik kelopak dan siap turun kapan saja. Kenan terenyuh, ia memandang sendu sang Adik yang berharap akan tinggal bersama Ayahnya.
Alex terkejut mendengarnya, ia tak menyangka gadis kecilnya menginginkan dia di sini.
"Bolehkah?" tanyanya dengan haru.
"Siapa yang akan melarang Ayah? Di sini rumah kami, tentu saja rumah Ayah juga. Tinggallah di sini, Ayah. Kiran tidak mau teman-teman di sekolah terus mengejek Kiran karena tidak memiliki orang tua." Keluhan Kiran yang selama ini dipendam sendiri akhirnya ia tumpahkan pada Alex.
Bibir laki-laki itu gemetar, terharu sekaligus marah mendengar penuturan Kiran tentang sekolahnya. Kenan tanpa sadar mengepalkan tangan, ia menunduk, bahunya terguncang, menangis karena merasa bersalah pada Kiran. Merasa tidak berguna tak dapat melindunginya dari hujatan manusia di luar rumah.
Yuki mengusap punggungnya dengan lembut, menyalurkan ketenangan pada hati Kenan yang bergolak.
"Sabar!" bisiknya di telinga Kenan sambil berharap laki-laki itu dapat meredakan emosinya, "tarik napas, hembuskan! Tenangkan hatimu, Kenan," lanjut Yuki memberi arahan pada Kenan yang emosional.
Kenan melakukan apa yang dikatakan Yuki, perlahan ia pun menjadi tenang meski belum ingin mengangkat wajahnya.
"Iya, sayang. Apapun yang kau inginkan Ayah akan mengabulkannya. Jika kau ingin Ayah tinggal di sini, maka Ayah akan tetap di sini menemanimu. Ayah akan mengantar dan menjemputmu ke sekolah setiap hari agar kau tidak lagi dihina mereka. Ayah akan datang ke pertemuan siswa saat ada undangan, apapun yang membuatmu senang, Ayah akan lakukan."
Kiran merangkul leher Alex dengan erat, ia tersenyum mendengarnya. Tidak ada Ibu, setidaknya ia memiliki Ayah. Di sekolah juga banyak yang hanya memiliki satu orang tua saja. Dia tak akan lagi dihina karena tidak memiliki orang tua.
"Terima kasih, Ayah." Kenan dan Kiran sama-sama mengucapkannya. Alex mengangkat wajah, memandang si sulung sambil tersenyum.
Maafkan Ayah, Kenan, Kiran. Ayah telah melewatkan waktu yang berharga untuk bersama kalian. Mulai detik ini, Ayah akan selalu menjaga senyum di bibir kalian berdua.
__ADS_1
Oh, sayang! Anak kita sudah dewasa. Tenanglah kau di alam sana. Mereka akan kujaga dengan nyawaku.
Alex mengurai pelukan, mengusap kedua pipi Kiran yang basah oleh air mata. Bibir mungilnya tersenyum ceria, Kenan ikut tersenyum melihat gadis kecilnya bahagia.
"Kau tidak pergi sekolah hari ini?" tanya Alex sambil memandang Kiran dengan lekat.
Gadis kecilnya menggelengkan kepala, "Kakak memintaku untuk beristirahat hari ini di rumah. Aku akan di rumah bersama Kak Yuki," katanya dengan manja.
"Baiklah. Lagi pula, Ayah dan Kakakmu ada urusan sebentar. Akan lebih baik jika kalian tetap di rumah," sahut Alex mengerti.
"Jangan lupa untuk mengunci semua pintu, jangan bukakan pintu untuk orang asing yang tidak kalian kenal," timpal Kenan memberi peringatan pada keduanya.
Alex mengernyit, dari ucapan Kenan ia mengerti ada banyak bahaya yang mengintai mereka meskipun berada dalam lingkungan rumah. Ia berpikir akan menempatkan beberapa orangnya untuk berjaga-jaga di sekitar rumah Kenan. Merasa perlu dilakukan untuk melindungi kedua anaknya juga gadis yang ada di dalam rumah itu.
"Baik, Kak."
Yuki mengangguk tanda mengerti. Beruntung, ada Yuki yang akan menemani Kiran di rumah. Kenan juga meminta gadis itu untuk tidak masuk kuliah. Ia perlu beristirahat setelah kejadian penculikan semalam.
"Ayah, apa kita akan pergi sekarang juga?" tanya Kenan menatap tak sadar pada Alex yang masih bersenda gurau bersama adiknya.
"Baiklah. Lagipula Ayah ada jadwal kunjungan hari ini, selepas melihat mereka Ayah akan langsung pergi. Kau tak apa pergi sendiri, bukan?" Alex menatap Kenan yang mengangguk pasti.
Seragam resmi melekat di tubuh keduanya. Kenan akan langsung ke restoran setelah mengunjungi para tahahan yang disekap Ayahnya.
__ADS_1
Mereka semua beranjak, pergi ke teras rumah untuk melakukan kegiatan yang telah dijadwalkan. Yuki dan Kiran mengantar, berdiri memandangi dua mobil yang perlahan maju meninggalkan kediaman. Gegas Yuki mengunci pintu gerbang, dan membawa masuk Kiran ke dalam rumah.
Mengunci semua pintu dan jendela, memastikan tak ada yang terbuka. Setelahnya, ia mengajak Kiran bermain apa saja yang disukai gadis kecil itu.