Takdir Kenan

Takdir Kenan
Berusaha Untuk Pulih


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, selama itu pula Yuki memutuskan untuk tidak datang ke rumah sakit. Hanya memantau keadaan Kenan lewat kabar yang ia terima dari Regan. Gadis itu bertekad memperbaiki penampilannya sebelum kembali bertemu dengan Kenan.


Sementara di rumah sakit, pemuda itu gelisah karena Yuki tak menepati janji untuk datang. Dia sendirian, duduk di kursi roda menghadap jendela. Kiran harus pergi ke sekolah, dan Alex melakukan meeting yang selama dua pekan tertunda.


Regan, ia sedang menghadapi ujian semester di kampus. Tatapan mata pemuda itu kosong ke depan, seluruh tubuhnya masih terasa nyeri, tapi ia memaksakan diri untuk bergerak meski terbatas. Dibantu perawat ia akhirnya dapat duduk di kursi roda.


Mengapa kau tak datang, Yuki? Kau mengingkari janjimu. Apa kau juga akan meninggalkan aku sama seperti mereka? Begitukah takdir seorang Kenan? Yang harus ditinggalkan oleh orang-orang yang aku sayangi.


Gelombang kesedihan beriak di wajahnya, sendu itu muncul di manik berwarna coklat itu. Entah apa yang akan ia lakukan setelah ini? Mungkin akan sendiri karena sudah tak lagi percaya pada kata cinta. Ketulusan dan kesetiaan yang ia miliki tak pernah terbalaskan.


"Permisi, Tuan Muda. Sudah waktunya sarapan dan minum obat," ucap seorang suster yang datang bersama nampan makanan di tangan. Ia duduk di samping Kenan dekat jendela, menyuapi pemuda kursi roda itu karena ia belum mampu menggerakkan tangan kecuali sebentar.


Kenan tak menyahut, ia hanya membuka mulut saat makanan disodorkan ke dekatnya. Pandangannya lurus ke depan, menatap lalu-lalang manusia di taman rumah sakit itu.


"Obatnya, Tuan Muda!" Kenan membuka mulut lagi dan menelan segera obat pahit tersebut. Dibantu suster tersebut untuk meminum air. Selesai sudah ritual pagi itu.


"Anda ingin ditemani?" tawar suster baik hati.


Kenan menggelengkan kepala, menolak ditemani. Suster itu pun mengundurkan diri keluar dari ruangan Kenan.


Sepeninggalnya, Kenan melirik pada kedua tangan. Pancaran tekad nampak jelas dan maniknya yang coklat keemasan. Keinginan dan harapan menggebu menarik rasa semangat Kenan yang hilang.


Ia mencoba untuk menggerakkan jemarinya, perlahan dan hati-hati. Satu per satu jari-jari di tangan terangkat meski terlihat gemetar. Kenan mengulas senyum tipis, ia terus berusaha untuk dapat menggerakkan anggota tubuhnya.


Bibirnya berkedut ingin menarik garis lebih jauh, tapi hanya sebatas itu yang ia mampu.


Ayolah, aku bisa. Aku harus bisa!


Kenan menyemangati diri sendiri, ia terus mencoba menggerakkan satu tangannya walau hanya sedetik saja. Ia sudah berusaha, peluh merembes dari pori-pori kulit menetes hingga pakaian yang ia kenakan, tapi semua itu tak menghasilkan. Ia masih tak mampu mengangkat tangannya lebih dari lima detik saja.


"Argh!" Kenan melirih, air matanya jatuh karena kesal atas ketidakberdayaannya saat ini.


Kenapa aku tidak bisa bergerak sama sekali?

__ADS_1


Mengeluh pun tiada guna karena itu sama sekali tidak dapat membantu pemulihannya. Ia sadar itu, tapi kehilangan penyemangat menjadikannya lemah. Ketiadaan Yuki beberapa hari di rumah sakit, mencipta rasa putus asa dalam dirinya.


Mungkin kau sudah tidak menginginkan laki-laki cacat sepertiku ini. Baiklah, tak apa. Aku terima ini semua sebagai takdir. Semoga kau menemukan kebahagiaanmu dan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari pada aku.


Kenan memejamkan mata, air itu masih berjatuhan dari pelupuk. Dadanya bergemuruh nyeri, sesak merebak merobek rasa dalam hati.


Tok-tok-tok!


Tok-tok-tok!


Suara ketukan menggema dari hadapan, Kenan membuka mata dan melihat sebuah buket bunga di jendela kaca tersebut. Dahinya mengernyit, tapi ia tak lagi menangis. Menatap bingung siapa yang berada dibalik jendela itu.


Bunga itu mendekat dan menempel di kaca jendela, tangan yang menggenggamnya berbalut sapu tangan hitam, sedangkan sosok dibaliknya masih tak nampak.


Orang misterius itu berjalan melintasi jendela, menghilang dan pergi. Penasaran, tapi Kenan tak dapat beranjak. Kepalanya berputar mencoba mencari tahu. Ia terhenyak saat bunga itu tiba-tiba datang lagi dan langsung berada tepat di depan wajahnya meski terhalang jendela.


Kenan tersenyum samar merasa konyol dengan tingkah orang misterius di luar sana. Bunga itu kembali menghilang, wajahnya berubah sendu karena setelah beberapa saat ia menunggu, tak lagi muncul. Ia sudah merasa kecil hati karena merasa sendiri.


Kenan mengedipkan mata terkejut, jantungnya berdetak tak karuan. Aroma khas tubuh seseorang menguar mengusik indera pembaunya. Ia tahu siapa yang datang, senyumnya terbit samar.


"Bagaimana kabarmu? Apa kau merindukan aku?" tanya suara lembut itu dari balik tubuhnya.


Kenan membalikkan wajah, maniknya berbinar melihat sosok yang ia rindukan. Pikiran buruk yang sempat datang menyapa, kini pergi dengan sendirinya.


Yuki berjalan ke sisi Kenan, dan duduk di kursi tempat suster tadi menyuapinya. Ia meletakkan bunga di pangkuan Kenan, menggenggam tangan kekasihnya itu. Senyumnya manis menambah semangat Kenan untuk sembuh.


"Kau tersenyum? Manis sekali," goda Yuki. Pipi Kenan menghangat, mengikuti hatinya yang juga ikut menghangat.


"Yu-yuki?"


"Mmm?"


Yuki tak mengalihkan pandangan dari wajah Kenan yang bersemu. Alisnya terangkat menunggu dengan antuasias apa yang akan dikatakan Kenan.

__ADS_1


"K-kau ca-cantik sekali," ucapnya mulai mampu menggerakkan lidah.


Yuki terkekeh kecil, pujian sederhana dan diucapkan secara tidak lancar itu membentuk rona merah di pipinya. Ia beranjak, berdiri di belakang kursi roda Kenan dan mendorongnya pelan.


"Kau butuh udara segar, kita jalan-jalan ke taman. Maafkan aku karena baru sempat datang, aku harus mempercantik diri agar calon suamiku bisa secepatnya pulih," ucap Yuki asal.


Ingin rasanya tangan itu terangkat dan menyentuh jemari Yuki, menggenggamnya dengan lembut, mengecup kulitnya yang sehalus sutra. Tangannya menjadi kaku setelah beberapa saat ia terbangun dari tidur panjangnya.


Udara segar dari tanaman yang tumbuh di taman menyegarkan paru-paru Kenan. Benar, ia memang butuh udara segar seperti ini.


"Kau suka?" Kenan mengangguk pelan, Yuki terus mendorong kursi roda tersebut dan berhenti di bawah pohon besar yang rindang. Ia duduk di bangku taman bersama Kenan di hadapannya.


"Kau mau buah?" Laki-laki pesakitan itu kembali mengangguk.


Yuki mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tas, ia membeli beberapa buah tadi di jalan. Gadis itu mengupas sebuah jeruk, tak sadar jika laki-laki di hadapannya terus menatap tanpa berkedip.


"Aaaa ...." Kenan membuka mulut mengunyah pelan jeruk yang diberikan Yuki.


"Ma-nis," katanya menilai. Yuki mengangguk lanjut menyuapi Kenan hingga tak tersisa.


"Yu-ki, ta-ngan-ku ...." Kenan melirik pada tangannya yang tak dapat digerakkan.


Gadis itu mengerti, dengan pelan ia menggenggam tangan Kenan dan mengangkatnya sedikit.


"Sakit?"


"Se-di-kit."


"Tahan, ya. Aku gerakkan beberapa kali." Kenan mengangguk patuh.


Ia melipat bibir menahan ngilu saat tangan itu digerakkan Yuki naik dan turun. Namun, semua rasa sakitnya seolah hilang hanya dengan melihat wajah cantik di depannya itu.


Sepasang mata mengintip dari balik sebuah jendela.

__ADS_1


__ADS_2