Takdir Kenan

Takdir Kenan
Sikap Tegas Kenan


__ADS_3

"Ampun! Bibi, ampun!" Suara rengekan Kiran samar terdengar oleh Kenan yang masih mengayuh sepeda mendekati rumah.


"Kakak! Tolong! Ampun, Bi!" Kiran memohon lagi masih terisak-isak.


"Kiran?" Kayuhan kaki Kenan semakin cepat disaat suara sang adik terus mengiang di telinga.


"Apa yang terjadi?" Ia kembali bergumam dengan hati yang was-was.


Kenan melompat dari sepeda dan membiarkan benda itu terguling di atas tanah. Tangannya dengan kasar mendobrak pintu hingga menimbulkan bunyi keras yang membuat semua orang terkejut.


"Kakak!" panggil Kiran dengan wajah yang basah oleh air mata. Darah di seluruh tubuh Kenan mendidih melihat tangan Bibi menjambak rambut Kiran.


Ia tak peduli lagi Pamannya, kali ini wanita itu sudah melampaui batasnya. Melihat air mata Kiran yang terus berjatuhan, Kenan tak dapat mengontrol dirinya.


"Mau apa kau? Dia sudah berani mengendap ke dapur dan memakan makananku. Lancang! Dia memang pantas dihukum," ketus Bibi dengan suara meninggi melebihi gelegar petir.


Di sana ada Paman yang tak melakukan apapun, ia hanya menonton dengan ekspresi sedih yang menyebalkan. Jika ia sayang, tak akan ia membiarkan istrinya itu menyakiti Kiran.


Dengan mengambil langkah lebar, pemuda itu mendatangi tempat Bibi menyakiti sang adik. Tangannya mencekal kuat lengan lancang Bibi yang menjambak rambut gadis kecil itu.


Bibi memekik kesakitan, tapi Kenan tak peduli. Wajahnya meringis merasakan nyeri pada tulang dan sendi.


"Le-pas-kan! K-kau menyakitiku!" mohon Bibi terbata.


"Kenan! Lepaskan tangan Bibimu, dia kesakitan," teriak Paman mencemaskan istrinya.


Kenan memutar tangan itu tanpa ampun. Jeritan menggema di seluruh rumah, membuat siapa saja yang mendengar akan ikut merasakan sakitnya.

__ADS_1


"Sekarang kau berteriak meminta aku untuk melepaskan tangan jahanam ini, Paman! Ke mana suaramu saat tadi tangan ini menjambak rambut adikku? Lihat! Lihat wajah kecilnya yang tanpa dosa itu! Dia hanya lapar dan ingin memakan sesuatu!" bentak Kenan tak lagi hormat pada laki-laki itu.


Gelagapan si Paman tak dapat menjawab pertanyaan Kenan. Ia membuka mulutnya, lalu menutup kembali tanpa kata.


"Dia men-cu-ri ma-kanan-ku!" ucap Bibi kepayahan.


"Makananmu!" Kenan tertawa sumbang. Ia beralih pada rambut wanita itu, menariknya dengan kuat hingga membuatnya meringis sembari memegangi tangan pemuda itu.


"Itu makanan kami, bukan makananmu!" Kenan mendorong tubuh itu dengan kuat hingga terpelanting dan membentur tembok. Menimbulkan bunyi berdebam yang hebat.


"Istriku!"


"Ibu!"


Kepala hingga punggung wanita itu membentur dinding rumah dengan kuat. Ia meringis tanpa suara, menangis pun tanpa air mata. Matanya terpejam rapat saat rasa pusing yang hebat menyerang. Tubuh tambun itu terkulai, bahkan untuk berbicara saja ia tak mampu.


Paman dan Roni mendatanginya dengan panik. Wajah laki-laki itu memucat melihat sang istri menggeliat kesakitan.


"Dan dia keponakanmu, Paman! Aku dan Kiran tanggung jawab kalian, tapi kalian memperlakukan kami seperti binatang yang seenaknya saja kalian beri makan. Kalian peras tenagaku, kalian nikmati uangku ... pergi! Ini rumahku, bukan rumah kalian," hardik Kenan menunjukkan jalan keluar untuk mereka. Dadanya kembang-kempis karena emosi membuat sesak.


Wajah-wajah terkejut mereka perlihatkan, pupil kedua laki-laki itu melebar. Mulut mereka yang terbuka memungkinan ribuan lebah memasukinya. Sungguh tak dinyana, Kenan akan mengusir mereka.


"Kau mengusir kami?" Paman Kenan beranjak. Mensejajarkan diri dengan Kenan yang tengah dikuasai amarah. Dalam pelukan pemuda itu Kiran masih sesenggukan.


"Kau tuli, Paman? Apa perlu aku ulangi? Angkat kaki dari rumahku sekarang juga! Aku tidak sudi membiarkan parasit seperti kalian tinggal di rumah ini. Kalian ambil semuanya dariku, kalian ingin menguasai seluruh peninggalan Ayah Ibuku. Aku muak melihat benalu seperti kalian mengotori rumahku!" tegas Kenan sekali lagi.


Ketiga orang itu mengernyit tak senang. Bibi beranjak perlahan menahan sakit di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Kau tidak bisa mengusir kami dari sini. Pemerintah sudah menyerahkan hak wali kalian kepada kami," katanya meski lemah terdengar.


Kenan menarik salah satu sudut bibirnya. Mencibir wanita angkuh yang kini tak berdaya itu.


"Itu dulu, Bibi. Disaat Ibu baru saja meninggal dan usiaku saat itu masih sangat muda, tapi sekarang aku sudah dewasa. Kami bisa mengurus diri kami sendiri tanpa perlu merepotkan Bibi dan Paman. Lagi pula, selama ini pun kami tidak kalian urus, bukan? Untuk dapat makan, aku harus mencari uang. Apa bedanya ada dan tidak adanya kalian di sini? Bagiku, sama saja. Pergilah sebelum aku menendang kalian satu per satu ke balik bukit hutan terlarang!" Mata Kenan menyala tajam.


Tak ada belas kasih yang ia tunjukkan pada mereka. Terlalu muak hidup dibawah kekangan dan aturan yang memberatkan dirinya.


"Aku tak ingin mendengar bantahan atau ratapan memohon. Tinggalkan kunci mobil dan kunci ruko milik Ibu. Itu bukan hak kalian, itu hak kami sebagai anak keturunan Ibu," ucap Kenan mendahului mulut Paman yang terbuka hendak melayangkan protes.


"Baik, tapi setidaknya biarkan kami mengambil pakaian kami," pinta Paman pasrah dan mengalah. Mau bagaimana lagi? Semua yang mereka nikmati saat ini, adalah milik Kenan dan Kiran.


"Pakaian? Pakaian yang mana? Untuk itu saja kalian tidak berhak. Kalian membelinya menggunakan uang Ibuku, jadi apa yang kalian maksud pakaian kalian?" Kenan mendengus.


"Kalian datang ke rumah ini dengan selembar pakaian yang kalian kenakan, dan pakaian itu pun sudah kalian buang ... tapi tak apa, aku akan ikhlaskan apa yang saat ini melekat di tubuh kalian. Cepat pergi! Atau ... apa aku kurung saja kalian di gudang belakang?" Kenan memberikan seringainya.


Mereka menatap ngeri sosok pemuda dingin di hadapan. Bulu-bulu dalam tubuh mereka meremang, bergidik kengerian.


"Ayo, Ayah, Ibu, kita pergi! Kenan sudah berubah. Dia bukan Kenan yang dulu lagi," ucap Roni yang sudah menyaksikan sendiri bagaimana asbak keramik itu berubah menjadi abu.


Kiran melepas pelukan, ia memandang Kenan yang perlahan menurunkan urat-urat tegang di wajahnya. Merasakan sentuhan Kiran, pemuda itu berbalik. Berjongkok di hadapan sang adik sambil memegangi kedua tangannya.


"Kakak harus melakukannya, Kiran. Jika mereka tetap di sini hidup kita tak akan pernah menjadi baik. Apa kau tidak apa-apa?" ungkap Kenan memberi pengertian pada adiknya itu.


Kiran tersenyum, melepas tangan Kenan dan merangkul leher sang Kakak.


"Tidak apa-apa, Kiran bisa mengerti. Ke depannya hidup kita akan lebih damai tanpa mereka. Kiran tidak akan takut lagi Kakak tinggal sendirian di rumah, Kakak bisa bekerja dengan tenang. Kiran akan tetap di rumah menunggu Kakak," jawab sang adik sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Kenan mengulas senyum, ia mengangkat tubuh kecil Kiran dalam gendongan dan membawanya duduk di meja makan.


"Kita makan, Kakak juga lapar," katanya. Kiran mengangguk senang. Malam itu, mereka bebas duduk di meja makan. Bebas menonton TV bahkan sampai tertidur di sana. Tak ada yang melarang, tak ada yang memarahi.


__ADS_2