Takdir Kenan

Takdir Kenan
Kejutan


__ADS_3

Seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah berjalan keluar dari dalam mobil. Ia membenarkan jas yang melekat di tubuhnya sambil tersenyum miring. Senyum yang mengancam tiga orang di ujung sana.


Paman dan Bibi juga Roni membuka mulut mereka tak percaya. Laki-laki itu telah pergi selama sepuluh tahun lebih dari kehidupan mereka, dan sekarang dia kembali dalam keadaan baik-baik saja bahkan lebih baik dari sebelumnya.


"A-ayah, I-ibu, bu-bukankah i-itu Paman Alex?" bisik Roni lirih dan bergetar sambil meneguk saliva. Keringat sebesar-besar biji jagung menyembul dari dalam pori-pori kulitnya. Ia seka dengan cepat, tapi terus merembes seolah-olah menguras habis cairan tubuhnya.


Ibu dan Ayahnya pun tak kalah pucat pasih melihat kemunculan Ayah Kenan, Alexander Lois. Orang yang paling mereka takuti semenjak meninggalnya Ibu Kenan.


Melihat keadaan wajah mereka bertiga yang pucat nyaris tanpa darah, Kenan mengernyit. Keadaan itu terlalu mendadak untuknya. Baru saja mereka bersikap angkuh dan seolah-olah merekalah yang menguasai keadaan, tapi kini wajah ketiganya membuktikan bahwa ada hal yang mereka takuti. Dan itu, laki-laki yang kini berdiri di sampingnya.


"Ayah?" Kenan melirik, ia melihat sebuah senyum yang ditujukan pada gadis kecil di sampingnya yang lain. Pandangan laki-laki itu terlihat sendu, ada kerinduan yang dalam di maniknya yang berwarna cokelat. Betapa ia ingin memeluk, mencium gadis kecil itu.


"Kakak, siapa dia? Kenapa Kakak memanggilnya Ayah?" tanya Kiran mendongak ke arah Kenan dengan raut bingung yang kentara. Ayah terharu, terenyuh saat menderas suara si bungsu. Merdu dan mengingatkannya pada sang kekasih hati yang ia cintai.


Kenan berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Kiran. Ia mengusap rambut gadis kecil itu sambil mengulas senyum. Laki-laki itu memperhatikan, sinar di matanya memancar penuh cinta.


"Dia memang Ayah kita-"


"Ah, Kenan! Sebaiknya kau bawa adikmu pergi dari sini. Jemput temanmu, biarkan masalah di sini Ayah yang menangani," pungkas Ayah mendahului kalimat Kenan yang belum selesai terucap.


"Kau pikir bisa lari dari sini, Kenan? Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini sebelum kau menyerahkan semua yang kau miliki!" sergah Bibi dengan berani. Sekuat hati menahan rasa takut yang merajai, demi mendapatkan apa yang dia inginkan.


Ayah Kenan berbalik, Kenan sendiri beranjak sambil menggendong Kiran. Gadis kecil itu kembali bergetar, memeluk leher sang Kakak dengan erat.


"Tenang, sayang. Jangan menangis, selama ada Kakak di sini mereka tak akan pernah bisa menyentuhmu," bisik Kenan saat isak tangis Kiran kembali terdengar.

__ADS_1


Alex melirik, terharu dengan ikatan persaudaraan kedua anaknya meskipun tumbuh tanpa kedua orang tua.


"Memangnya apa yang akan kalian lakukan untuk mencegah anakku pergi?" tantang Alex sambil melayangkan tatapan tajam mengancam pada manik sang adik ipar yang menyalang.


Bibir tebal di hadapannya membentuk senyuman, senyum meremehkan mereka bertiga. Tak lama suara gemerasak terdengar, secara tiba-tiba beberapa orang mengepung mereka.


"Kakak, aku takut." Kiran semakin mengeratkan pelukannya. Kenan mengusap punggung sang adik dengan lembut sambil menenangkan. Ia melirik sang Ayah yang bergeming, sama sekali tidak merasa takut meski orang-orang bersenjata mengepung mereka.


"Sayang, bisakah kau bersama Ayah? Kakak harus menyelesaikan ini," pinta Kenan pada Kiran yang masih membenamkan wajah di pundaknya.


"Kau yakin bisa mengatasi ini sendirian?" tanya Alex dengan kerutan di dahi. Meski sudah melihat' bagaimana kekuatan Kenan saat menghajar laki-laki tadi, tetap saja membuatnya ragu. Pasalnya, kali ini bukanlah satu orang melainkan belasan orang bersenjata tajam.


"Aku bisa mengahadapi mereka, Ayah. Ayah bisa menjaga Kiran?" sahut Kenan memandang manik coklat di hadapannya.


"Tentu saja. Kemari, sayang. Tidak apa-apa, jangan takut! Setidaknya kita tidak menjadi beban untuk Kakakmu, dan berdoa semoga Kakak mendapat kekuatan yang luar biasa," pinta Alex setelah melihat tekad kuat di manik Kenan yang keemasan.


Gadis kecil itu menoleh, seraya meraih kedua tangan renta itu terus turun dari gendongan Kenan. Pemuda itu maju ke hadapan, menjadikan dirinya tameng untuk kedua orang itu.


"Paman, Bibi, kenapa kalian melakukan ini? Bukankah kita bisa hidup bersama dengan akur tanpa harus saling memperebutkan harta. Kita bisa menikmati bersama-sama sebagai keluarga yang bahagia," ungkap Kenan mencoba berbicara dari hati ke hati.


Namun, apa yang dia dapat? wanita paruh baya itu tertawa. Menertawakan Kenan yang terlihat naif.


"Sayangnya, aku tidak sudi berbagi apalagi harus hidup berdampingan dengan kalian. Ringkus dia!" Ia memerintah, tapi tak ada apapun yang terjadi. Mereka yang mengepung Kenan tetap diam di tempat tanpa melakukan pergerakan.


Bibi dan Paman murka, menatap tajam pada deretan orang yang berbaris mengelilingi.

__ADS_1


"Apa yang kalian tunggu? Cepat laksanakan perintah istriku!" Paman ikut berteriak karena geram. Mereka sudah membayar mahal meskipun haru bberhutang karena mereka yakin Kenan akan menyerahkan apa yang mereka pinta. Nyatanya, mereka seolah-olah tuli dan hanya diam tak bergerak.


Alex tertawa, pegangannya di tangan Kiran mengerat. Gadis kecil itu menoleh, lantas mendongak usai melirik tangan mereka yang bertaut.


"Ada apa? Apa remote kontrol yang kau pegang telah rusak hingga membuat mereka tak dapat mematuhi perintahmu?" ejek Alex yang menggelengkan kepala saat mereka menoleh ke arahnya.


Paman dan Bibi semakin panik dibuat, mereka meradang, sedangkan Roni sudah meringkuk memeluk lututnya sendiri. Laki-laki pengecut! Bisanya hanya mengadu dan menangis saja.


"Aku perintahkan kalian untuk meringkus mereka! Kenapa kalian hanya diam saja?!" bentak Bibi histeris, tapi tetap saja tak membuat mereka beranjak sejengkal pun.


Alex tertawa lagi kali ini lebih keras dari sebelumnya. Hal itu membuat keduanya sadar sesuatu terjadi dan orang-orang bayaran mereka entah pergi ke mana.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Tiba-tiba, benda-benda sebesar tubuh manusia berjatuhan dari langit tepat di hadapan kedua suami dan istri itu. Mereka membelalak saat mengenali siapa dan bagaimana semua orang bayarannya terkapar tak sadarkan diri.


"Bukankah mereka orang-orangmu, Adik ipar?" ucap Alex sambil tersenyum puas melihat wajah pucat itu lagi. Sudah seharusnya mereka memang takut sejak awal, tapi rasa sombong sudah membutakan hati dan pikiran mereka.


Alex menjentikkan jari, kompak sepasang suami istri itu melangkah mundur disaat semua orang yang mengelilingi bergerak bersamaan. Semakin ciut nyali mereka di hadapan


"Kalian terkepung, ke mana kalian akan pergi? Tak ada celah dariku walau sedikit saja," ucap Alex dengan tegas.

__ADS_1


"Kenan, bawa pergi adikmu jauh dari sini, Ayah ingin menuntaskan semua masalah dengan mereka. Jemput temanmu sebelum terlambat!" Mendengar itu, Kenan mengangguk tegas seraya mengambil Kiran dalam gendongan.


__ADS_2