
Kenan masih mengawasi disaat seseorang mengetuk kaca mobil. Ia terhenyak begitu mendapati laki-laki bernama Steve itu berdiri di luar mobilnya. Ia menyeringai, menampakkan deretan giginya yang besar-besar seperti kapak.
Steve menggerakkan jari telunjuknya meminta Kenan untuk keluar. Pemuda itu gugup, ia menimbang apa yang harus dilakukan sebelum mengikuti perintah laki-laki tersebut.
Brak!
Satu hantaman tinju mendarat cukup keras di jendela kaca tersebut. Kenan bergeming, ia memilih untuk tetap di dalam mobil sambil menunggu Alex datang. Steve mengarahkan moncong pistol di jendela, membidik kepala Kenan yang berdiam di dalam mobil.
Kenan mengangkat ponsel, menunjukkan pada Steve jika ia sedang melakukan panggilan dengan Alex. Melihat nama dan gambar laki-laki berjanggut di layar ponsel Kenan, Steve menurunkan pistol. Ia meminta sekelompok orang berjaga di sekitar mobil Kenan.
Sementara dia dan yang lain, gegas memasuki hutan sesuai petunjuk dari seorang ahli yang menuntun mereka agar tidak terkena jebakan.
Melihat situasi di sekitar, Kenan berniat keluar dari mobil. Menghadapi segelintir orang bukanlah masalah. Sekitar sepuluh orang yang ditugaskan Steve berjaga di sekitar Kenan.
"Aku tidak bisa berdiam diri di sini," gumamnya seraya beranjak keluar dari mobil.
Sigap orang-orang suruhan Steve mengarahkan senjata kepadanya, Kenan mengangkat tangan dengan tenang.
"Tenang, aku tidak akan melalukan apa pun," katanya sambil berjalan pelan keluar dari mobil. Ia menyenggol pintu mobil hingga tertutup.
Dua orang suruhan Steve gegas memojokkan Kenan ke badan mobil. Memeriksa seluruh tubuhnya dari senjata yang ia sembunyikan. Namun, nihil yang ada, Kenan benar-benar tidak memiliki senjata dan itulah keteledoran Alex.
"Aku tidak memiliki senjata, aku hanya warga sipil biasa yang tak sengaja melintas di jalanan ini," ucap Kenan berbohong.
"Sekalipun kau warga biasa kami tidak bisa melepaskanmu tanpa izin dari Tuan," tegas salah satu dari mereka sambil meletakkan moncong senjata di tengkuk Kenan.
"Oh, ayolah. Apa perlu seperti ini kepada orang yang tidak membawa senjata sama sekali? Aku tidak mungkin melawan kalian yang bersenjata," sahut Kenan masih dengan nada tenang tak gentar sama sekali.
Orang tersebut berpikir apa yang dikatakan Kenan ada benarnya juga. Ia menurunkan senjatanya, tapi tidak membebaskan Kenan dari pengawasan.
"Aku ingin buang air, bisa aku pergi? Benar-benar darurat." Kenan meringis sembari memegangi bagian bawah tubuhnya.
Beberapa saat terdiam, akhirnya mereka mengizinkannya pergi dengan pengawasan dua orang bersenjata. Kenan melangkah mendekati semak, semakin dalam semak di tempat tersebut semakin tinggi.
Dua orang yang mengikuti Kenan tidak menaruh curiga sama sekali.
"Berbalik! Kalian ingin melihat milikku?" hardik Kenan pada keduanya. Mereka berbalik dengan malas, yang satu bersandar pada sebuah pohon dengan santai.
"Aku pun ingin buang air, kau bisa menjaganya sendiri, bukan?" Orang yang bersandar di pohon mengangkat jempolnya tanda menyanggupi. Gegas ia masuk ke dalam semak bagian lain dan hanya menyisakannya seorang.
Tak berapa lama setelah kepergian temannya, sebuah tali menjerat lehernya dengan kuat. Membuatnya kesulitan bernapas dan tak mampu berucap. Kenan menarik tali itu dengan kuat, membenturkan kepala si penjahat pada pohon tempatnya bersandar.
Ia meronta, menggelepar sembari mencoba melepaskan tali tersebut. Namun, sayangnya, kekuatan Kenan bukan tandingannya. Kenan tak melepaskan tali tersebut hingga ia melemas, dan semakin lemas. Lalu, tak bergerak sama sekali.
Ia mengendap usai memeriksa keadaannya, menghampiri rekan yang sedang membuang hajat di dalam semak. Kenan sudah menyiapkan kepalan tangan menyambut kedatangannya, ia bersembunyi dibalik sebuah pohon. Menunggu tanpa suara bahkan bernapas saja ia lakukan dengan pelan.
Bugh!
"Argh!"
Tinju Kenan menghantam wajahnya, ia jatuh tersungkur. Kenan tak membiarkannya berdiri. Gegas ia menduduki tubuh itu, memberinya pukulan bertubi-tubi hingga tak bergerak lagi. Ia beranjak dengan napas sedikit tersengal, mengambil senjata salah satu dari mereka dan keluar hutan dengan perlahan. Berniat menghabisi mereka semua.
"Ada delapan orang terpisah, mereka waspada sekali! Aku harus melakukannya dengan tenang," gumamnya sambil memperhatikan musuh yang sedang waspada mengawasi.
Mereka berjaga secara berkelompok, dua orang tepatnya. Kenan mengendap, menyelinap ke balik mobil yang berjejer di pinggir hutan. Menunggu mereka lengah. Kenan mendekati salah satunya disaat yang lain lengah. Menggunakan metode jerat leher karena cara itu paling efektif untuk tidak membuat kegaduhan.
Ia menyeretnya ke pinggiran hutan, membiarkannya di sana setelah tak lagi bergerak. Menunggu yang lain lengah, posisi mereka yang berjauhan memudahkan Kenan melakukan aksinya.
__ADS_1
Ia menggunakan siku tangannya menghantam satu rekan penjahat yang tadi. Membuatnya langsung tak sadarkan diri, Kenan sigap menopang tubuh itu sebelum jatuh berdebam di tanah. Menyatukannya dengan yang lain di dalam hutan.
Ia kembali mengendap, mendekati dua orang lainnya yang berada dalam jarak yang dekat.
"Ke mana Ayah dan orang-orangnya? Kenapa lama sekali?" gerutunya. Beberapa kali matanya menatap ke dalam hutan, tengah terjadi keributan di dalam sana. Perang senjata tak terelakan, letupan-letupan timah panas menggema di dalam hutan.
"Ini kesempatan," katanya sambil memasang senjata membidik. Ia tidaklah pandai menggunakan senjata karena sekalipun belum pernah berlatih benda itu bahkan memegang saat baru kali ini ia lakukan.
Disaat letusan terdengar, Kenan menembak satu per satu dari mereka. Ia menyembunyikan dirinya di balik sebuah mobil, sambil terus membidik dan menembak hingga tak lagi tersisa. Kenan berlari ke arah lain hutan, mengingat kembali ucapan Alex tentang ranjau yang tertanam juga jebakan yang dibuat ketat di dalam hutan tersebut.
Kenan berjalan penuh waspada, ia menaiki sebuah pohon tertinggi guna melihat peperangan yang sedang terjadi.
"Oh, Ayah, hutan ini tak lagi ramah. Semuanya hancur karena perang senjata ini." Tak lama bergumam, sebuah guncangan hampir menjatuhkan Kenan dari atas pohon.
Boom!
Satu ranjau meledak entah siapa yang menginjaknya. Disusul ledakan yang lainnya, dan terus saja meledak, membuat pasukan Steve yang tersisa berlari terkencing- kencing. Sayang, salah injak saja ranjau itu akan kembali meledak. Asap membumbung tinggi ke langit.
Alex yang sudah dekat dengan lokasi hutan, seketika dilanda kepanikan.
"Cepat, Leo! Anakku di sana!" katanya pada Leo yang bertugas mengemudi. Laki-laki itu menginjak pedal gas lebih dalam lagi, mobil melesat dengan kecepatan tinggi di jalan sepi.
"Ayah?" Kenan bergumam mendengar deru mobil di kejauhan. Ia masih bertengger di atas pohon memperhatikan jalannya peperangan.
"Teddi? Lisa?" Kenan membelalak saat melihat dua orang itu berlari di bagian lain hutan. Bersama Steve dan Papah Lisa tentunya.
"Paman? Bibi? Kenapa mereka juga ikut?" Menyusul Paman dan Bibi Kenan yang berlari di belakang mereka.
"Tidak, jangan Shaka! Jangan bawa Shaka!" Ia terus meracau dengan mata tak berkedip. Melihat Shaka tak bersama mereka, Kenan gegas turun dari pohon, berlari masuk ke dalam hutan terus menuju bangunan di mana mereka berada sebelumnya.
Kenan mematung di depan kobaran api yang melahap bangunan tersebut.
Pemuda suku itu masih di sana, tanpa menggeliat, tubuhnya yang hitam berkilat karena keringat. Sebentar lagi ia akan menjadi Shaka panggang jika saja Kenan tak datang menyelamatkan.
"Kau ... datang, untuk aku?" tanya Shaka dengan suara terputus-putus. Kondisinya sangat lemah, Kenan melepaskan rantai yang membelenggu tangan dan kakinya sambil menghalau jilatan api yang sudah memenuhi ruangan tersebut.
"Sial!" Ia tidak memiliki kunci untuk melepaskan rantai tersebut. Kepalanya menoleh ke sana kemari, mencari-cari sesuatu yang dapat membantunya melepaskan rantai tersebut.
Kenan bergegas mengambil sebuah batu, mengangkatnya, dan memukul-mukulkan batu tersebut pada rantai yang membelenggu Shaka.
"Sudahlah, ini tak akan berhasil. Pergilah, sebelum kau ikut terbakar bersamaku," ucap Shaka putus asa melihat usaha Kenan tak membuahkan hasil.
"Tak akan kubiarkan kau terbakar di sini. Kita harus sama-sama keluar dari tempat ini," sahut Kenan sambil terus memukul rantai besi tersebut menggunakan batu.
Ia menjeda, berpikir apa yang harus ia lakukan. Kenan memejamkan mata, meneguk ludah membasahi tenggorokannya yang kering.
Ibu, jika aku benar Shaka adalah saudaraku, dia juga anak Ibu. Maka, bantulah aku menyelamatkannya. Ibu ... kau mendengarku, bukan?
Kenan kembali meneguk ludahnya, ia membuka mata. Pancaran keemasan dari maniknya yang coklat memperlihatkan Kenan yang berbeda. Ia berjalan mendekat, menarik rantai besi tersebut dengan sekuat tenaga.
"Kenan?" Shaka bergumam lirih. Menatap Kenan tak percaya dengan segala kegigihan yang ingin membebaskan dirinya. Padahal, dia bukan siapa-siapa. Shaka juga dari suku yang terkenal dengan kekejamannya, memakan daging manusia.
Melihat kegigihan Kenan ingin membebaskannya, Shaka terharu. Tanpa sadar bersumpah dalam hati tak akan lagi kembali ke suku tersebut.
Satu per satu rantai dilepas Kenan, ia juga menghancurkan besi-besi yang membelenggu leher Shaka. Tubuh pemuda itu ambruk ke lantai, ia lemah dan tak bertenaga. Kenan sigap menopangnya, membawa Shaka keluar dari bangunan tersebut melewati jilatan api yang telah membakar habis semuanya.
Kenan membawa Shaka ke dalam hutan, memberikannya udara segar sebelum memasuki mobil. Alex dan yang lainnya datang terlambat, ia tak mendapati Steve di sana. Ia juga tidak melihat Kenan, jadi dugaannya mereka menangkap Kenan juga.
__ADS_1
Padahal, Kenan dan Alex berpapasan saat di tengah hutan. Hanya saja di bagian berbeda dari hutan. Kenan membawa Shaka masuk ke dalam mobil, melesat meninggalkan hutan tersebut. Rumah sakit tujuannya.
"Di mana anakku?!" hardik Alex pada penjaga yang tersisa di depan bangunan yang telah terbakar habis.
Mereka menunduk, dengan luka di tubuh juga darah yang menggores kulit mereka.
"Maaf, Tuan. Kami sama sekali tidak melihat Tuan Muda di sini," ucap salah satu dari mereka dengan gugup.
"Tuan, mobil Tuan Muda tidak ada di mana pun. Aku tidak melihatnya , itu artinya Tuan Muda tidak memasuki hutan ini," lapor Mikael usai memeriksa keadaan sekitar hutan.
"Lalu, ke mana perginya Kenan? Bukankah dia melapor tadi?" bentak Alex dengan tingkat kecemasan tertinggi.
"Itulah yang sedang saya cari tahu, Tuan. Kemungkinan Tuan Muda pergi sebelum penyerangan atau tetap bersembunyi sampai keadaan tenang dan pergi dari sini," sahut Mikael.
"Kau tidak menduga dia diculik?"
"Jika Tuan Muda diculik, maka mobilnya akan tetap berada di hutan ini, Tuan. Ini hanya dugaan saya saja," sahut Mikael lagi, menduga-duga.
Alex kembali mengalihkan pandangan pada penjaga hutan yang dalam kondisi tak baik itu.
"Bagaimana dengan para tahanan?" tanyanya.
"Mereka berhasil membebaskan semua tahanan kecuali pemuda suku itu. Entahlah, mungkin saja dia sudah menjadi abu saat ini karena mereka membakarnya usai melepaskan tahanan."
Alex mendesah mendengar laporan penjaganya.
"Kita kembali! Aku ingin memastikan keadaan anakku. Kalian bawa mereka ke rumah sakit terdekat! Tinggalkan saja hutan ini, sudah tidak berguna lagi," titahnya seraya berbalik meninggalkan hutan dan bangunannya yang terbakar hangus.
Mereka kembali ke kota menuju rumah sakit yang sama yang dituju Kenan.
Pemuda itu membawa Shaka memasuki lobi rumah sakit, yang segera ditangani tim medis di ruang IGD. Kenan menunggu dengan cemas usai menyelesaikan biaya administrasi. Ia membawa kotak kayu bersamanya, berniat akan menunjukkan kotak tersebut kepada Shaka dan mengkonfirmasi dugaan yang ia buat.
Kenan membuka kotak tersebut, mengeluarkan satu buah amplop dari dalam sana yang berisi dua lembar foto. Foto satu orang bayi berkulit hitam, di belakangnya tertulis nama hari dan tanggal kelahiran.
"Jika Shaka lahir di hari ini, maka artinya dia dan aku kembar? Apakah Ibu melahirkan dua putra? Lalu, kenapa Shaka bisa menjadi suku kanibal itu. Satu-satunya yang menjadi tanda adalah, tanda lahir yang dimiliki Shaka," gumam Kenan dengan bingung.
Ia melihat kembali foto tersebut, ada foto yang lainnya di mana Ibu Kenan sedang menggendong dua orang bayi bersama Bibi. Semakin membingungkan.
"Akan aku tanyakan pada Ayah, apakah Ayah tahu jika Ibu melahirkan bayi kembar? Meski tidak identik," gumam Kenan lagi. Ia kembali menyimpan foto tersebut ke dalam amplop dan memasukannya ke dalam kotak.
Kepalanya melongo ke dalam pintu ruangan, menunggu dokter selesai memeriksa. Kenan gegas berdiri saat pintu ruangan terbuka, ia menghampiri dokter yang keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Kenan segera.
"Anda siapa pasien?" tanya dokter.
"Saya saudaranya, Dokter." Dokter tersebut menganggukkan kepala.
" Baiklah. Tidak ada masalah apapun, ia hanya sesak karena kekurangan oksigen. Selebihnya tidak ada apapun yang terjadi pada tubuhnya." Kenan bernapas lega mendengar penuturan dokter. Ia mengusap wajah mengucap syukur.
"Boleh saya menemuinya?"
"Kami akan memindahkannya ke ruangan, Anda bisa menemaninya di sana, tapi biarkan dia beristirahat dengan baik," ucap dokter yang diangguki Kenan dengan pasti.
Tak lama Shaka yang berada di atas brankar didorong suster. Kenan mengikuti mereka ke sebuah ruangan di mana Shaka akan menginap untuk beberapa hari lamanya.
Berselang, orang-orang Ayah Kenan masuk ke rumah sakit tersebut dan menggantikan Shaka di ruang IGD. Mereka tidak tahu jika Tuan Muda yang mereka cari berada di tempat yang sama.
__ADS_1
Kenan duduk di kursi samping ranjang pasien. Memandangi wajah Shaka yang jika diperhatikan memang ada kemiripan dengan dirinya. Bedanya, tubuh Shaka berkulit hitam tak seperti dirinya yang berkulit putih.
"Di mana aku?"