
Pertemuan yang tak terduga, kadang membawa suka, kadang membawa duka.
Kenan berjalan pelan menyusuri trotoar jalan raya yang sedikit lengang kendaraan. Terkadang ia akan menendang kerikil hanya untuk menghilangkan rasa bosan yang datang menemani.
Menunggu angkutan umum, tak satu pun yang melintas. Celingukan mencari ojek, tak jua kunjung tiba. Kenan duduk di sebuah tugu, menunggu sambil melepas lelah setelah beberapa menit berjalan.
Dia harus terburu-buru, mengambil sepeda dan menjemput Kiran ke sekolah.
"Hah ... di mana mereka? Kenapa tak satu pun ada yang lewat? Kiran ... maafkan Kakak karena terlambat menjemput," gumamnya pelan. Ia menutup wajah dengan kedua tangan sebelum kembali beranjak.
Teringat akan Kiran, Kenan mempercepat laju kakinya. Jika tak ada kendaraan umum lewat, maka ia hanya perlu berlari di jalanan. Begitu pikirnya. Namun ....
"Jambret! Tolong!" Suara teriakan seorang wanita menghentikan laju kaki Kenan. Ia terkesiap, termangu di tempat.
"Tolong! Tas saya, jambret!" Suara itu kembali terdengar meski jauh, tapi telinga Kenan dapat mendengarnya dengan jelas.
Ia berbalik, di kejauhan seorang laki-laki berlari dengan membawa tas di tangan. Di belakangnya, beberapa laki-laki juga sedang mengejar. Namun, dalam jarak yang terhitung jauh.
Kenan mengernyit, mendengar teriakan demi teriakan yang mendekat ke arahnya. Mungkin karena jalanan itu sepi, maka dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindak kejahatan.
Ia bersembunyi di balik sebuah pohon yang menutupi tubuhnya yang kurus itu. Menunggu dan menunggu derap langkah yang semakin mendekat. Ia mengeratkan pegangannya pada tali tas yang disampirkan di bahu kiri.
"Jambret!"
"Jambret!"
"Jambret!"
Teriakan demi teriakan terus menggema di sepanjang jalan tersebut.
Bugh!
Tangan Kenan tepat menghantam wajah si pelaku saat ia hendak melintasi pohon tempatnya bersembunyi. Kenan muncul dan membelalak saat melihat jambret itu tergelatak di jalan tak sadarkan diri dengan cairan merah yang merembes keluar dari lubang hidungnya.
Ia tatap tangannya yang tadi ia gunakan untuk memukul si pelaku. Panik. Kenan berlari saat warga yang mengejar pelaku jambret itu hampir tiba di lokasi. Kedua kakinya berputar cepat meninggalkan tempat tersebut. Ia terlalu takut.
Warga yang tiba di lokasi pun ikut tercengang saat mendapati jambret tersebut terkapar di tengah jalan dengan darah segar yang mengalir dari lubang hidungnya.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan ini, ya?" gumam mereka pelan.
"Mungkin remaja yang berlari tadi, aku sempat melihatnya meskipun tidak jelas." Yang lain ikut menimpali.
"Benarkah? Kenapa dia lari begitu cepat? Apa dia benar manusia?"
Mereka menatap takjub gumpalan debu yang ikut terbawa arus kaki Kenan. Ia berlari secepat angin.
Swush!
Lalu, hilang tak nampak lagi. Mereka menggelengkan kepala tak percaya. Kemudian beralih pada jambret yang masih tak sadarkan diri.
"Tas saya ... tas saya!" Wanita paruh baya datang terengah-engah. Ia membungkuk, mengatur napasnya yang tersengal. Tangannya sigap mengambil tas yang diulurkan seorang warga.
"Terima kasih!" katanya terputus-putus karena tarikan napasnya yang belum normal.
"Bukan kami menghentikan jambret ini, Nyonya, tapi seorang remaja berseragam sekolah yang mendapatkannya," ujar salah satu warga yang didukung yang lainnya.
"Benarkah? Lalu, di mana sekarang orangnya? Saya sangat ingin berterimakasih padanya." Kepala wanita itu melongo ke sana kemari mencari sosok Kenan, tapi ia tak ada di antara mereka.
"Anaknya sudah lari, Nyonya. Mungkin dia takut karena membuat jambret ini pingsan," beritahu satu warga menebak-nebak.
Awalnya mereka ingin menolak, tapi wanita itu mengepalkannya pada salah satu dari mereka sebelum ia berbalik dan berjalan pergi dengan pelan.
"Terima kasih, Nyonya!" seru mereka kompak. Wanita itu menoleh dan mengangguk pelan.
*****
Kenan terus membawa kedua kakinya berputar di jalanan, ia ingin segera sampai di rumah Yuki, mengambil sepeda, dan menjemput Kiran di sekolah.
Kenan yang lelah, mengistirahatkan kakinya sejenak. Dengan tubuh yang membungkuk, ia menoleh ke belakang memastikan orang-orang tak mengejarnya.
"Hah ... syukurlah!" Ia ambruk di trotoar dengan kaki dijulurkan ke depan. Mengambil napas pendek-pendek untuk mengurai sesak akibat berlari sekuat tenaga.
Ia menatap sekitar, tak menyangka sudah berada di komplek perumahan elit di mana Yuki tinggal. Gegas ia mendatangi rumah Yuki dan mengambil sepeda yang disembunyikan di depan rumah tersebut.
Kenan lekas mengayuh dengan cepat, tak ingin terlambat menjemput adiknya.
__ADS_1
"Kiran, tunggu Kakak!" gumamnya bergetar.
Ban sepeda berdecit saat Kenan tiba di depan sekolah Kiran. Sepi, pintu gerbang sekolah itu bahkan sudah terkunci. Panik, Kenan membanting sepedanya dan berlari ke depan gerbang.
"KIRAN!" teriaknya menggema hingga ke dalam sekolah. Ia menunggu, barangkali ada sahutan atau ada anak yang keluar dari dalam sana.
"KIRAN!" Ia kembali berteriak untuk yang kedua kalinya. Sama saja, tak ada sahutan. Panik, panik, panik.
Kaki Kenan terangkat sebelah, ia bertekad untuk memanjat gebang tinggi itu dan mencari adiknya di dalam. Namun, baru satu langkah kakinya naik, ia mendengar suara Kiran berteriak.
"Kakak! Lepaskan aku! Lepaskan aku! KAKAK!" Kenan terkesiap.
Cepat-cepat ia menurunkan kembali kakinya dan mengayuh sepeda ke arah datangnya suara Kiran. Keringat bercucuran dari rasa panik yang mulai menjalar ke hatinya.
Kiran, dikelilingi preman. Salah satu dari mereka menarik paksa tangan Kiran yang memberontak. Kenan marah, matanya memerah, kekuatan dalam tubuhnya meningkat dari emosi yang meluap-luap.
"ARGH!" Kenan menabrak kedua preman yang berjalan mengikuti dia yang menarik tangan Kiran. Keduanya terpental hingga menabrak dinding rumah warga.
Ia turun dari sepeda, dan menghampiri preman yang menarik tangan Kiran.
"Bugh!" Satu hantaman tangan ia arahkan tepat di wajahnya. Kenan mencengkeram kuat pergelangan tangan preman itu hingga cekalannya pada tangan Kiran terlepas.
Segera Kenan menarik Adiknya untuk menjauh.
"Argh!" Preman tersebut menjerit kesakitan saat bunyi tulang patah terdengar.
"Beraninya tangan kotormu menyentuh adikku!" geram Kenan. Semakin emosi dirinya semakin meningkat tajam kekuatan di dalam tubuh Kenan.
Ia mendorong sekuat tenaga tubuh preman tersebut hingga ia pun terseret jauh dan menabrak tumpukan sampah di pojokan.
"Kurang ajar!" Dua preman yang ditabrak sepeda tadi bangkit, "bocah ingusan sepertimu menggangu kami. Akan aku ***** habis tubuhmu yang kurus itu!" Ia menggeram melangkah cepat mendekati Kenan.
Remaja itu sigap, ia mendorong pelan tubuh Kiran agar adiknya sedikit menjauh dari arena yang ia pilih.
Keduanya menyerang sekaligus kanan dan kiri Kenan. Sayang, kepalan tangan mereka tertangkap Kenan. Ia meremas tangan tersebut hingga mereka menjerit dan memohon.
"Hentikan! sakit! ARGH!" jerit mereka membumbung tinggi ke udara. Kenan menghempaskan keduanya, untuk kedua kalinya tubuh mereka pun menabrak dinding.
__ADS_1
Cairan bening menyembur dari dalam mulut mereka. Kedua orang itu kepayahan, tangan mereka memegangi perut yang baru saja terkena tendangan kaki Kenan.
Ia tak peduli, dan gegas mengajak Kiran untuk pulang.