Takdir Kenan

Takdir Kenan
Berteman


__ADS_3

"Mohon maaf, bila kedatangan saya kemari mengganggu waktu tenang Kakak. Saya hanya ingin meminta maaf atas kejadian kemarin, saya benar-benar menyesal. Saya sudah mengambil pelajaran dari itu semua. Juga, terima kasih karena Kakak tidak menghukum Mei. Saya sangat berhutang budi kepada Kakak. Mohon maaf dan terima kasih banyak atas kemurahan hati Kakak."


Gadis itu menundukkan kepala dari atas kursi rodanya, diikuti Mei yang juga membungkukkan tubuh mengikuti majikannya. Kenan tertegun, tak menyangka gadis semuda itu sudah berani bertanggungjawab atas kesalahan yang dia perbuat.


Gelak tawa Kenan yang memecah keheningan, membuat semua orang bingung termasuk Yuki dan Kiran. Tak ada hal yang lucu dan patut ditertawakan, tapi kenapa laki-laki itu tertawa terbahak hingga wajahnya memerah.


"Kenan, kau bisa menyinggung perasaannya," tegur Yuki memukul pelan bahu Kenan yang berguncang karena tawa.


UPS!


Kenan menghentikan tawanya, ia menyusut air di sudut mata sebelum mengangkat wajah menatap Leo dan gadis itu.


"Maaf, maaf. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Kau ... kenapa menggemaskan sekali? Aku ingin mencubit kedua pipimu yang gembil itu," ujar Kenan kembali tertawa kecil usia mengatakannya.


Leo mengulum senyum, sedangkan Shopia memegangi kedua pipinya dengan bingung. Kepalanya mendongak menatap Leo yang terkekeh kecil. Ia cemberut.


"Kau tahu ... ekhem!" Kenan berdehem menetralkan suaranya selepas tertawa.


"Sangat jarang anak muda sepertimu mau mengakui kesalahannya, apalagi sampai meminta maaf secara langsung. Aku kagum padamu, selain karena usiamu masihlah muda kau juga bukan dari kalangan orang biasa. Orang-orang sepertimu biasanya akan bersikap arogan dan angkuh, tapi kau ... aku sudah memaafkanmu. Kau bisa bermain ke sini kapanpun yang kau inginkan," ucap Kenan sambil tersenyum bangga pada gadis belia di hadapannya.


Shopia tersenyum malu, begitu pula dengan Mei dalam hati bersyukur karena keluarga Alexander sangat bermurah hati.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak karena Anda begitu murah hati," ucap Mei kembali menundukkan kepala sopan.


"Sudahlah, tak perlu banyak berterimakasih. Kukira semua yang terjadi kemarin itu hanyalah kesalahpahaman saja. Kita bisa memperbaiki hubungan mulai hari ini. Kulihat, Leo begitu memperhatikanmu," sahut Kenan lagi melempar lirikan pada asisten sang Ayah yang seketika merona.


Shopia pun tersenyum tersipu, jelas sudah bahwa keduanya memiliki hubungan spesial.

__ADS_1


"Kalian ... oh, aku tidak percaya, tapi kudoakan semoga hubungan kalian berhasil." Yuki menimpali ikut menggoda Leo yang semakin memanas.


"Kau tahu resiko dari mencintai gadis muda, Leo? Harus banyak bersabar dan kau, jangan terkejut disaat Leo bahkan akan bersikap lebih kekanakan daripada anak-anak," sambar Kenan pula semakin membuat rasa panas di kulit wajah Leo.


Kiran ikut tertawa, ia berjalan mendekati Shopia. Senyum yang diukirnya nampak manis siapapun akan suka saat melihatnya.


"Hallo, Kakak cantik sekali. Mata Kakak juga sangat indah, aku suka. Aku Kiran Alexander, adik kakak Kenan. Nama Kakak siapa?" ucap Kiran sambil mengulurkan tangannya pada Shopia.


Gadis cantik bermata hazel itu mengedipkan mata terkagum-kagum, Shopia menarik tubuh Kiran ke dalam pelukan. Gadis kecil yang menggemaskan. Ia melepaskan kembali, menangkup wajah Kiran dengan kedua tangannya.


"Kau manis sekali, menggemaskan. Boleh aku mencubit kedua pipimu?" Tangan Shopia menggamit pipi gembil Kiran hingga membuat matanya terpejam.


"Ah, Maaf. Sakit, ya? Haha ...." Ia kembali memeluk Kiran kali ini lebih lembut daripada sebelumnya.


"Dari dulu aku ingin mempunyai adik, tapi Ibu sudah tidak bisa hamil lagi. Jadilah, aku anak tunggal di rumah dan sekarang benar-benar menjadi tunggal karena mereka semua telah pergi," ungkap Shopia mengeratkan pelukannya.


Tubuhnya bergetar dan Kiran dapat merasakannya. Gadis kecil itu balas memeluk, ia dapat merasakan kesedihan hatinya. Kiran melepas pelukan, sontak Shopia berpaling dan mengusap matanya yang berair. Kiran terenyuh.


"Be-benarkah?" Kiran mengangguk pasti, "terima kasih," ucap Shopia sambil memegangi kedua tangan Kiran. Dua perusahaan besar menjalin persaudaraan, Leo berjanji akan membantu Shopia mengembangkan perusahaan milik keluarganya meskipun ia juga tak akan pernah meninggalkan pekerjaannya sebagai asisten Alex.


Sore itu, di ruangan Yuki berisi celoteh dua gadis yang tak henti berbicara. Kiran dan Shopia tak jauh beda, ceria dan suka bercerita. Bertambah riang semua orang, termasuk Mei tak henti bersyukur melihat Shopia yang kembali ceria.


Teruslah tersenyum seperti itu, Nona. Mereka semua orang-orang baik, Anda akan bahagia berada dalam lingkungan mereka.


Ia mengukir senyum, lega rasa hatinya. Setelah berbulan-bulan lamanya ia hanya melihat senyum palsu di wajah Shopia, dan hari ini senyum yang tercetak begitu tulus tanpa paksaan. Jujur tak ada kepalsuan.


"Ekhem! Kau butuh air?"

__ADS_1


Suara berat dan serak seseorang mengejutkan dirinya yang sedang melamun sambil menatap ruangan Yuki yang terbuka lebar.


"Astaga! Kau mengejutkanku!" pekik Mei sambil mengusap-usap dada terkejut.


Sosok itu tertawa tanpa dosa, di tangannya menggenggam dua botol minum dan ia berikan salah satunya kepada Mei.


"Ini ambillah, kukira kau membutuhkan air. Sejak tadi aku perhatikan tenggorokanmu naik dan turun dengan lambat," ujarnya menggoyang botol minum di tangan tepat di depan wajahnya.


Mei menggaruk belakang kepala, tak gatal sebenarnya. Ia hanya gugup karena merasa diperhatikan.


"Baiklah, terima kasih," katanya seraya mengambil botol air tersebut dan membukanya.


"Namamu Mei?" Mei menganggukkan kepala untuk pertanyaan spontan yang dilontarkan sosok tersebut.


Matanya melirik malu-malu, entah apa yang terjadi pada hatinya, tapi ia merasa sedikit berbunga ketika menerima air tersebut. Hal sepele, tapi jika diberikan tepat waktu maka akan meninggalkan kesan mendalam di hati. Seperti yang dilakukan sosok itu pada Mei.


"Kau pengasuh? Bodyguard?" lanjutnya bertanya.


Mei menggelengkan kepala, ia menatap langit cerah sore itu. Menghela napas panjang mengurangi beban berat di pundaknya.


"Aku hanya pengasuh biasa, aku mengasuh nona Shopia dari sejak ia kecil hingga saat ini. Dia selalu menganggapku Kakaknya bukan pengasuhnya. Dia gadis yang baik, lugu dan polos. Banyak orang yang ingin memanfaatkannya sejak Tuan dan Nyonya pergi meninggalkan dunia. Aku harus bisa memilih siapa saja yang pantas menjadi teman Nona karena aku tidak ingin mereka semua menyakiti hatinya," papar Mei sejujurnya.


Ada kesedihan juga rasa sayang yang dalam di hatinya untuk gadis bernama Shopia itu.


"Kau begitu menyayanginya, padahal dia bukan siapa-siapa untukmu. Sama sepertimu, aku juga akan melakukan apa saja untuk membuat tuanku tetap tersenyum. Tidakkah kita ini sama?" ucapnya membuat bingung Mei.


Wanita itu menoleh dengan kerutan di dahi.

__ADS_1


"Mungkin. Namamu?"


"Mikael."


__ADS_2