
Kenan mencengkeram erat rahang Shaka, menatap nyalang manik kemerahan itu hingga membuat sang empu tak mampu berkutik.
"Katakan padaku, siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?" tekannya mempererat cengkeraman pada rahang anak laki-laki suku tersebut.
Sang kepala suku berteriak sambil mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Ada air rembes dari matanya, wajah tua itu sendu dan terlihat sedih.
"Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Ayahmu itu! Dan aku tidak peduli!" Kenan merampas kalung di leher Shaka, meremasnya hingga menjadi abu dan menaburnya di tanah.
Kedua mata Shaka membelalak, bibirnya yang dipenuhi warna merah itu gemetar seiring tubuhnya yang menyusut seperti sedia kala. Kenan mencibir, teriakan si kepala suku semakin menguat. Ia melonglong layaknya serigala yang memanggil kawanannya.
"Ternyata benar, kelemahanmu ada pada kalung ini. Kalian mengunakan sihir untuk menakuti lawan. Hebat!" cibirnya sembari memasang senyum meremehkan untuk Shaka yang mulai melemah.
Laki-laki tua itu pun ikut merasakan dampak dari hancurnya kalung milik Shaka. Ia terduduk, cairan merah menyembur dari mulutnya. Sang kepala suku itu terbatuk hebat bersama cairan yang kelamaan berubah jadi hitam. Ia melonglong sebelum akhirnya jatuh dengan tubuh kaku tak lagi bergerak.
"Apa yang dilakukan laki-laki tua tadi? Apa dia sedang memanggil bantuan?" tanya Kenan sambil mengusapkan tangan yang dipenuhi debu ke tubuh Shaka yang berkeringat.
"Sebanyak apapun bantuan yang kau dapatkan, aku tak akan mundur apalagi menyerah!" tegas Kenan lagi, seraya beranjak dan berjalan menghampiri Yuki yang masih saja menangis dengan kondisi terikat pada sebatang pohon.
Api di depannya masih menyala-nyala meskipun tak sebesar sebelumnya.
"Kau pastinya ingin tahu siapa yang menyuruh kami melakukan ini, bukan?" Suara Shaka berhasil membuat langkah Kenan terjeda. Ia berbalik dengan senyum mencibir, pemuda suku itu benar-benar sudah tidak berdaya.
"Kau pasti menginginkan imbalan, bukan? Baiklah, katakan ... dan imbalan apa yang kau inginkan?" sahut Kenan bergeming di tempatnya berdiri.
Susah payah Shaka beranjak untuk duduk, ia tersenyum lebih hangat dan akrab. Memandang manik Kenan yang menyala dengan mata tak semerah sebelumnya.
"Bawa aku dan jadikan apa saja sebagai pekerja. Suku-ku sudah kau musnahkan, setidaknya sebagai imbalan karena kau membuat hidupku sebatang kara," ucap Shaka dengan nada putus asa.
__ADS_1
Kenan menatap sekeliling, memang tak ada yang lagi yang tersisa kecuali mungkin para wanita yang entah di mana keberadaan mereka. Pandangannya kembali pada Shaka yang masih mengunci rapat mulutnya menunggu jawaban Kenan.
"Tunggu saja Ayahku, semoga dia mau mengajakmu bersamanya," jawab Kenan karena tak mungkin dia yang membawa Shaka ke rumahnya. Khawatir sifat kanibalisme yang sudah ada dalam dirinya, akan menimbulkan korban di kota.
"Baiklah, tak apa." Pasrah.
"Sekarang katakan, siapa dalang dibalik semua kejadian ini?" Kenan kembali menatap serius pada manik Shaka yang bergeming.
"Sekelompok anak muda sepertimu, melakukan perjanjian dengan Ayahku. Mereka menukar semua itu dengan gadis yang di sana dan aku boleh melakukan apa saja terhadapnya termasuk menjadikan dia istriku," sahut Shaka tanpa kebohongan sama sekali.
Kenan terdiam, mendengar cerita itu mengingatkan Kenan pada Teddi dan rekan-rekannya. Mungkin mereka masih menaruh dendam atas kekalahan beberapa waktu lalu.
"Mereka masih di sini, sedang melakukan ritual di tempat kami. Jika kau ingin memutus rantai keturunan kami, maka temui mereka dan gagalkan semua rencana busuk mereka. Aku tidak sudi orang yang tak memiliki darah suku kami menjadi penguasa di sini!" lanjut Shaka terlihat marah dan tidak terima dengan apa yang dilakukan para penculik Yuki.
Kenan tak menyahut, ia berbalik mendatangi Yuki. Melepas sumpal di mulutnya, dan ikatan yang melilit tubuh itu. Yuki gegas memeluk Kenan sambil menangis menumpahkan ketakutan dalam peluk menenangkan sang kekasih.
"Aku takut, Kenan. Aku takut. Mereka mengirimku ke sini dan menjadikan aku tumbal untuk semua ambisi mereka," adu Yuki sambil sesenggukan. Kedua tangannya mengerat memeluk kenan saat di mana ia yang hampir dinikahi Shaka melintas.
"Sssttt ... sudah jangan menangis lagi. Kau sudah bebas sekarang, dan kita akan pulang bersama-sama." Kenan mengecup ubun-ubun Yuki, sambil mengusap-usap punggungnya yang bergetar.
Gadis itu mengangguk patuh, ia sudah menemukan ketenangannya dalam pelukan Kenan.
"Terima kasih karena sudah datang tepat waktu. Terima kasih, Kenan," ucap Yuki seraya melepas pelukan tanpa menjauhkan tangannya dari pundak Kenan.
Pandang mereka beradu, mata basah di hadapannya membuat Kenan merasa bersalah karena baru saja Yuki mengalami hal buruk yang pasti akan membekas dalam hidupnya.
"Tuan Muda! Anda baik-baik saja?" Suara Mikael terdengar menyapa gendang telinga. Kenan memutuskan pandangan dan menoleh pada Mikael juga Leo yang sudah berdiri tak jauh dari mereka. Ia melirik Shaka, pemuda suku itu telah dalam keadaan terikat.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menolongku, Mikael. Bagaimana keadaanmu?" Ia merangkul pinggang Yuki saat gadis itu memeluk tubuhnya.
"Aku sudah lebih baik, Tuan Muda. Terima kasih sudah bertanya," sahut Mikael terharu.
Kenan melempar tatapan pada Leo yang bergeming di samping laki-laki bertubuh besar itu. Melirik jas yang dikenakannya, dan memintanya untuk Yuki.
Leo melepas jas, memberikannya pada Kenan yang gegas memakaikan benda itu untuk menutupi tubuh terbuka Yuki.
"Maaf, ini bukan milikku. Tak apa, bukan? Aku tidak membawa jas," katanya sedikit kecewa.
Yuki tersenyum, dengan cepat mengecup pipi Kenan dan menunduk malu.
"Tidak apa-apa, aku mengerti," katanya pelan. Kenan meraih tubuh itu dan memeluknya dengan erat. Ia bersyukur Yuki masih baik-baik saja.
"Kenan! Kalian tidak apa-apa?" Ayah Kenan datang tergesa dan langsung menghampiri putranya.
Pemuda yang tengah memeluk gadis itu mengurainya dan menatap sang Ayah yang sudah berdiri bersama dua bodyguard miliknya.
"Aku tak apa, Ayah. Terima kasih atas bantuan Ayah, tapi urusanku di sini belum selesai. Aku harus menyelesaikannya sebelum kembali ke rumah. Untuk itu ...." Kenan berbalik menatap Yuki yang nampak bingung dengan situasi yang ada.
"Aku menitipkan Yuki pada Ayah. Bawa dia pulang bersama Kiran, aku tak ingin ada lagi yang menjadi korban." Ia masih memandang Yuki.
"Kau tak apa kembali bersama mereka, bukan?" Kenan menyelipkan rambut Yuki ke belakang telinganya. Mengusap pipi basah gadis itu dengan lembut dan penuh cinta.
"Aku ingin tetap bersamamu, Kenan. Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Biarkan aku ikut," pinta Yuki yang sebenarnya dia takut pada orang-orang asing yang datang bersama Kenan.
"Tak perlu, Nak. Orang-orang Ayah sudah mengurusnya. Sekelompok anak muda yang sedang melakukan pemujaan di sebuah goa pun sudah diamankan mereka. Kau bisa langsung pulang dan jika ingin melihat anak-anak itu, maka datanglah!" sambar sang Ayah dengan pasti.
__ADS_1
Kenan berbalik, lantas mengangguk pasti karena jujur saja tubuhnya sudah sangat lelah. Mikael mendorong Shaka untuk berjalan di hadapan. Ia yang akan menjaga pemuda itu selama dalam kurungan.
Kenan dan Yuki mengikuti dari belakang, mereka menemui Regan dan Kiran yang menunggu di dalam mobil. Kembali ke rumah dengan perasaan lega.