Takdir Kenan

Takdir Kenan
Ayah


__ADS_3

"K-kau ...?" Kenan termangu, terpaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya gemetar, bibirnya bergetar, matanya membesar, lidah kelu tak mampu digerakkan melihat sosok yang berdiri di teras rumah. Sosok yang kedua maniknya memancarkan cinta dan kerinduan.


Sosok itu pun sama termangu seperti Kenan, seolah tak percaya pada apa yang ditangkap netranya. Ia membuka mulut, tapi tak sepatah kata pun terlontar lisannya.


"Ke-kenan? Kau kah itu?" Lisannya bergetar, ia melangkah tertatih mendekat kepada Kenan. Sementara pemuda itu, tetap berdiri di sana dengan menahan getar di kedua lutut.


Kelopak matanya berkedut menahan air yang merangsek ingin keluar.


"Ke-kenan ... astaga! Kau sudah besar sekali." Ia menepuk kedua bahu Kenan sebelum menarik tubuh kaku pemuda itu ke dalam pelukan.


Isak tangisnya terdengar lirih, getar tubuhnya terasa nyata membuat seluruh pembuluh darah Kenan berdesir hingga ke pucuk kepala. Air mata Kenan jatuh tanpa sadar meski ia tak membalas pelukannya. Terlalu syok dan lebih kepada tidak percaya dengan pertemuan yang tanpa rencana ini.


"Maaf ... maafkan Ayah, Kenan. Maaf karena tidak bisa menjaga kalian. Maaf karena tidak bisa melindungi Ibumu. Maaf karena tak sempat melihat dan menemani pertumbuhanmu. Maafkan Ayah, Kenan. Maaf," ungkap laki-laki paruh baya itu sambil terus terisak pilu.


Kenan bisa merasakan penyesalan yang sangat dalam di dirinya, penderitaan juga kekecewaan yang teramat. Ia selalu ingat pesan Ibu, 'jangan pernah membenci Ayahmu jika kau tak tahu apapun.' hingga saat ini pun pesan itu masih terngiang di telinga seolah-olah baru saja diucapkan oleh mendiang Ibunya.


Kenan masih termangu, pikirannya masih mencerna situasi yang sedang ia rasakan. Perasaan nyaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, tak ingin hilang begitu saja. Beginikah rasanya berpelukan dengan Ayah kandung?


"A-ayah ...." Isak tangis Kenan menyambut kalimatnya yang menggantung. Kedua tangannya membalas pelukan laki-laki itu, senang dan lega pada akhirnya dia tidak sendiri lagi.


"Iya, Nak. Iya, Kenan. Ini Ayah, Nak," katanya semakin kuat terdengar. Laki-laki itu melepas pelukan, ia memandang lekat sosok si sulung yang menunduk sambil mengusap kedua matanya.


"Di mana adikmu? Ayah meninggalkan Ibumu saat sedang hamil adikmu. Di mana dia?" cecarnya sambil melirik ke arah pintu rumah mencari sosok kecil.


Kenan menegang, seolah-olah diingatkan kembali bahwa ia sedang mencari Kiran.


"Kiran ... Kiran, dia diculik, Ayah. Aku menemukan kertas ini di atas meja, mereka menginginkan semua ini, Ayah. Lihat!" Kenan menunjukkan kertas yang ditemukannya tadi kepada Ayah.

__ADS_1


Laki-laki paruh baya itu menerima dan membaca dengan saksama tulisan tangan yang ditorehkan seseorang di atas kertas tersebut.


"Biadab! Rupanya mereka memanfaatkan kedua anakku untuk ambisi mereka itu! Kau tenang saja, Kenan. Ayah tidak akan membiarkan adikmu terluka walau segores saja," kecam ayah Kenan dengan rahang mengetat dan tangan yang meremas kertas tersebut.


"Leo! Hubungi Mikael, pinta dia membawa orang-orangnya untuk datang ke suatu tempat! Selamatkan putriku!" titahnya pada seseorang yang berdiri di samping badan mobil memperhatikan mereka berdua.


"Baik, Tuan!" Laki-laki yang tak jauh beda usianya dengan ayah Kenan itu gegas melaksanakan perintah tuannya. Ia melakukan panggilan telepon menghubungi orang yang dimaksud ayah Kenan tersebut.


"Kita pergi, Kenan! Ayah ingin memberikan pelajaran kepada mereka semua," ajaknya yang diangguki Kenan dengan cepat. Dia memang harus cepat jika tidak, maka Kiran dalam bahaya.


Keduanya berjalan mendekati mobil, Kenan masih belum tahu siapa sosok ayahnya itu. Apa pekerjaannya hingga ia mampu memerintahkan seseorang dengan satu kali perintah.


"Kau sudah melakukan perintahku?" tanya ayah Kenan pada laki-laki bernama Leo itu.


"Sudah, Tuan. Mikael dan kelompoknya sedang dalam perjalanan menuju lokasi yang dimaksud," katanya yakin.


Akan tetapi, belum jua kakinya melangkah, suara deru mobil menghentikan Kenan untuk masuk ke dalam mobil ayahnya.


"Regan?" Kenan bergumam lirih.


"Siapa?" Ayahnya bertanya sambil memandang pemuda yang turun tergesa dari mobil.


"Temanku." balas Kenan sambil memperhatikan wajah Regan yang terlihat tegang dan gelisah, melihat Kenan ia mempercepat langkah mendekati.


"Kenan! Yuki ... mereka menculik Yuki, Kenan!" pekiknya segera dengan napas tersengal-sengal. Keringat rembes membanjiri wajah juga lehernya, menciptakan jejak basah di kemeja yang ia kenakan.


"Yuki!" Kenan membelalak, "Apa kau yakin mereka menculik Yuki?" tanya Kenan memastikan. Sedikit bergemuruh rongga dada.

__ADS_1


"Aku tidak berbohong, Kenan. Aku mengejar mobil mereka, tapi terlambat. Maafkan aku, maafkan aku karena tidak bisa menjaga amanah darimu, Kenan. Maaf," ucap Regan bersungguh-sungguh.


Kenan menjambak rambutnya sendiri, menjerit pening.


"Kenapa bersamaan seperti ini? Apa mereka bekerjasama?" pekiknya menunduk, kedua tangan memegang erat kepala yang sudah tak mampu lagi berpikir. Dia bukan amuba yang bisa membelah diri, lalu pergi ke dua tempat berbeda.


"Bersamaan? Apa maksudmu?" Regan semakin mendekat, ia tidak peduli ada orang lain di sana. Belum sadar mungkin bahwa ayah Kenan sedang menatapnya tajam.


"Kiran diculik, Regan. Mereka meminta tebusan dan aku harus pergi ke sana. Lalu, sekarang apa yang harus aku lakukan? Tak akan mungkin aku membiarkan keduanya bersama para penculik itu, tapi untuk pergi ke dua tempat berbeda itu, aku tidak sanggup," keluh Kenan meraung sekeras mungkin meratapi ketidakberdayaannya dalam menghadapi masalah yang sedang menimpa saat ini.


Ayah menggelengkan kepala, ia tidak tahu sepenting apa gadis yang sedang dibicarakan putra dan temannya itu, tapi ia bisa menebak bahwa ia sangat berharga untuk hidup Kenan. Laki-laki paruh baya itu berjalan pelan, mendekat pada putranya. Tangan rentanya menepuk bahu Kenan membuat sang empu segera menoleh dan sadar bahwa ada orang lain di sana selain mereka.


"Ayah?"


Regan termangu mendengar penggilan Kenan untuk laki-laki yang baru ia lihat itu. Laki-laki bertubuh tinggi besar, memiliki garis wajah tegas dan terkesan dingin. Matanya menyorot tajam, sama persis seperti milik Kiran.


"Ayah?" beo Regan dengan kerutan di dahi. Yang ia tahu, Kenan adalah seorang yatim piatu sejak lama. Tinggal bersama Paman dan Bibi dengan kehidupan yang tak layak seperti anak remaja lainnya.


"Ya, Regan. Dia Ayahku, kami baru saja akan pergi menjemput Kiran. Namun, sekarang aku bingung ke mana aku harus pergi lebih dulu?" Kenan masih menampakkan kegelisahan, buntu. Semua ini tak pernah ia duga sebelumnya.


"Pergilah, selamatkan gadis itu. Ayah yang akan membawa adikmu kembali. Jangan cemas, Leo yang akan membantu kalian. Dia sangat bisa diandalkan," ucap Ayah Kenan dengan pasti.


Kenan mengangkat wajah, bertatapan dengan manik kelam di hadapan.


"Ayah yakin? Lalu, bagaimana Ayah akan pergi?" Kenan juga mencemaskan pria itu. Pasalnya mereka baru saja bertemu dan belum sempat bercengkerama.


Belum menjawab, deru mobil lainnya memasuki halaman. Semua orang menoleh dan menunggu penasaran.

__ADS_1


__ADS_2