
Serentak orang-orang di dalam itu, berhamburan keluar dan mengerumuni mobil Alex yang menabrak pohon. Mereka memeriksa, seketika terbelalak karena tak satu pun orang di dalam mobil itu.
"Mereka tidak ada!" seru salah seorang dari mereka yang menyentak semua orang termasuk kepala rombongan tersebut.
"Minggir!" katanya sembari menyibak orang-orang yang sedang berbaris di dekat mobil itu. Ia memeriksa, melihat-lihat ke dalam mobil memastikan bahwa memang tak satu pun tertinggal.
"Sial! Cepat cari ke seluruh hutan ini, aku yakin mereka tak jauh dari sini. Cepat, menyebar!" titahnya berang. Kedua tangan berkacak di pinggang, menatap nyalang pada mobil yang tak berdosa itu.
"Sialan kalian! Ke mana pun akan aku cari kalian," geramnya. Dinginnya air hujan yang membasahi seluruh tubuh, tak mendinginkan hatinya yang sedang bergejolak penuh emosi.
Ia kembali ke dekat mobilnya, menunggu sambil berjaga. Sementara yang lain, ada puluhan orang yang menyebar di hutan tersebut. Menutup akses jalan keluar untuk Alex dan orang-orang yang bersamanya.
"Cari ke segala arah, jangan biarkan mereka keluar dari hutan ini!" teriaknya lagi menggema di seluruh hutan.
Krasak-krusuk suara kaki mereka menginjak ranting dan dedaunan. Belum lagi sampah plastik yang dibuang secara sembarangan berpadu dengan derap yang banyak lagi cepat.
Sekelompok orang yang sedang bersembunyi dibalik semak, waspada dalam ketakutan. Terutama gadis kecil itu yang terus menangis tak dapat ditahannya.
"Sayang, kau percaya pada Ayah, bukan? Hentikan isak tangismu atau kita akan tertangkap?" pinta Alex dengan pelan sambil memeluk tubuhnya.
"Aku takut, Ayah. Kakak ke mana? Jika ada Kakak, mereka pasti akan dikalahkan dengan mudah," lirihnya terisak-isak dalam pelukan sang Ayah.
"Kau tenang saja, Adik. Kakak Shaka tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu," ucap Shaka memenangkan. Kiran menggeleng, ia hanya percaya pada Kenan karena selama bersamanya tak ada siapapun yang bisa menakuti apalagi menyakitinya.
"Ayah!" Shaka terlihat putus asa, Alex memejamkan mata mengerti.
"Sst ... ada yang datang!" Leo memberi isyarat untuk diam. Semua bungkam, diam tak bergerak bahkan Kiran meredakan isak tangisnya takut mereka akan mendengar.
Suara derap langkah mendekati tempat mereka bersembunyi, Shaka menggeram. Ia memejamkan matanya mencari kekuatan dalam diri yang terasa hilang.
"Niatkan untuk membela sukumu maka kekuatan itu akan datang dengan sendirinya tanpa ritual."
Suara Baba, si kepala suku mengiang di telinga Shaka, seolah-olah sosoknya ada di samping dekat dengannya.
__ADS_1
Aku ingin keluargaku selamat. Aku ingin menyelamatkan mereka. Hanya mereka yang aku punya sekarang dan mereka harus selamat. Aku harus menyelamatkan mereka.
Shaka terus menggumamkan kalimat itu, tapi sayang kekuatan yang dia harapkan tak kunjung datang.
Kenapa tidak berlaku? Apakah itu berguna hanya untuk suku saja? Baba ....
Shaka sedikit kecewa pada dirinya sendiri. Ia hampir saja mengumpat jika tak ingat sedang bersembunyi. Melawan? Tentu saja bisa, tapi itu hanya akan mengantarkan nyawa saja dan dia akan mati sia-sia.
"Semoga Kak Kenan dapat menemukanku. Aku yakin, firasat Kakak sangat kuat. Kakak pasti akan menemukanku dan menyelamatkan kita semua," racau Kiran dengan lirih.
Harapan besar di hatinya, semoga Kenan mendengarkan apa yang diucapkan Kiran.
"Mereka di sini!"
Alex dan yang lainya mendongak, tepat di atas kepala mereka belasan senjata bersiap dilepaskan.
"Seret mereka keluar! Haha ...." Tawa itu menggema pecah di dalam hutan. Air yang turun dari langit tak lagi deras, menyisakan rintik-rintik gerimis kecil.
"Keluar!" Senjata-senjata itu mendorong punggung mereka agar segera beranjak dari tempat persembunyian.
"Buang senjata kalian sekarang juga!" Moncong senjata yang dingin menyentuh pelipis, terpaksa Leo dan Alex melempar senjata yang mereka miliki.
"Turunkan anak itu!"
"Tidak! Biarkan dia dalam gendonganku!" Alex tak kalah tegas. Dia bisa saja melawan, menghabisi mereka semua bersama Leo. Namun, lagi-lagi Kiran yang dia pikirkan, kelicikan seringkali terjadi saat peperangan. Tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadikan Kiran sebagai sandera.
Keempatnya digiring ke hadapan seorang laki-laki yang memimpin penyergapan itu.
"Kau sudah kalah, Alex. Menyerahlah sekarang dan nikmati masa hukumanmu," ucap laki-laki itu dengan jumawa.
Alex tersenyum miring, ia menyerahkan Kiran pada Shaka dan memintanya untuk menjaga gadis kecil itu.
"Aku memang menyerah kali ini. Bawa saja aku dan biarkan mereka pergi, kau bisa melakukan apapun kepadaku, tapi biarkan mereka pergi dan jangan pernah mengganggu mereka lagi," sahut Alex dengan keberaniannya yang patut diacungi jempol.
__ADS_1
Beberapa senjata mengarah ke arah mereka, tapi Alex masih tetap tenang dan bersikap biasa saja.
"Kau hanya bisa bersembunyi dibalik semua orangmu, Steve. Kau tidak berani menghadapiku secara pribadi. Aku yakin, kau tidak memiliki kemampuan untuk melawanku, bukan?" ejek Alex secara terang-terangan menantang musuh bebuyutan yang tak lain adalah ayah Teddi itu.
"Kau masih saja bersikap sombong, padahal sudah terkepung seperti ini. Akui saja kekalahanmu, Alex, dan biarkan aku menjadikanmu budak."
Tawa Steve kembali menggema, memenuhi hutan belantara itu. Ia melangkah perlahan, mendekati Alex yang secara tiba-tiba dicekal oleh dua orang. Tak hanya Alex, semua yang ikut bersamanya pun ikut ditahan.
"Sialan! Maumu apa hingga kau berbuat jauh seperti ini?" geram Alex sembari meronta dari cekalan.
Steve tertawa kecil sebelum melayangkan tamparan pada kedua pipi Alex.
"KAKAK!"
Suara jeritan Kiran menggema di dalam hutan. Kelelawar yang hinggap bersembunyi di goa-goa berterbangan karena merasa terusik. Senja datang merayap, kegelapan perlahan muncul.
"KIRAN!" Kenan tersentak kaget. Ia membuka mata menatap sekeliling, hujan telah reda. Rasa gelisah menyeruak memenuhi hatinya.
"Berhenti, Regan! Turunkan aku di sini!" pinta Kenan. Suara dan garis wajahnya telah berubah, ia nampak menyeramkan. Firasat buruk tentang Kiran merubah Kenan sepenuhnya.
"Tapi, Kenan-"
"Kubilang hentikan mobilnya, aku akan turun di sini!" sela Kenan lagi dengan suara yang menggeram marah.
Regan memutar kemudi ke kiri, menepikan mobil di pinggiran hutan tempat Alex dan kedua adiknya diburu.
"Kenan, kau mau ke mana? Kau tidak bisa pergi sendirian," cegah Yuki sambil memegangi tangan Kenan dengan cemas.
Pemuda itu menoleh, Yuki terhenyak saat melihat bola mata Kenan telah berubah. Mata cokelat dengan lingkaran keemasan itu pernah dilihatnya saat ia menghajar Teddi di belakang sekolah.
"Ke-kenan, k-kau ...."
"Pulanglah, Yuki. Aku tidak ingin kau terlibat kali ini. Kau juga, Regan. Aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku tanpa menunjukkan kelemahanku pada mereka. Kalian berdua adalah kelemahanku. Aku pinta pulanglah! Tunggu saja kabar dariku!" pinta Kenan seraya keluar mobil dan menunggu sampai Regan menjalankan mobilnya menjauh.
__ADS_1
"Kiran, tunggu Kakak! Kau tak akan kenapa-napa, sayang." Kenan bergumam sebelum memasuki hutan mengikuti firasat dan nalurinya.