
"Ayah, di mana Kenan?" Shaka bertanya cemas. Mereka sedang berada di depan ruang ICU menunggu dokter yang sedang memberikan penanganan untuk Kenan yang kehilangan napas beberapa saat lalu.
"Dia di dalam, Shaka. Dokter sedang mengobatinya," jawab Alex terlihat bingung bagaimana menjelaskannya kepada Shaka.
"Apa kita tidak ikut membantu?" tanyanya lagi gelisah.
"Tidak, Shaka. Mereka ahlinya. Sudahlah, duduk saja yang tenang sebentar lagi dokter akan keluar dan memberitahu keadaan Kenan," sahut Alex lagi tak kalah cemas seperti putra yang baru ia ketahui itu.
Melihat wajah Alex yang merah padam Shaka terdiam, tapi dalam hati ingin sekali bertanya tentang banyak hal mengenai Kenan yang tak kunjung keluar ruangan.
Tak lama pintu ruangan terbuka, Alex berhambur mendekat.
"Dokter?" Alex kehilangan kata-kata melihat raut wajah di depannya itu. Ia melangkah pelan, rasa tak percaya memenuhi rongga dadanya.
"Kenan?" Pemuda itu tersenyum, ia nampak baik-baik saja secara fisik. Tak ada bekas luka, perban, jahitan, atau lecet-lecet di kulit. Semuanya dalam keadaan baik.
"Oh, anakku!" Alex memeluk putra sulungnya. Ada air yang jatuh tak tertahan dari mata tuanya. Seperti apa kebahagiaan yang ia rasakan, begitu meluap-luap tak terkira.
Kenan balas memeluk sang Ayah, ia mengedipkan mata menatap Shaka yang masih termangu di tempatnya. Mata Kenan melirik kursi tunggu, di sana ada bidadari kecilnya yang tertidur pulas.
Alex melepas pelukan, memandangi wajah Kenan yang segar dan sehat.
"Kau tak apa? Ada yang terluka? Ayah dengar dari Mikael kau jatuh dari ketinggian," cerocos Alex tak menutupi rasa cemasnya.
"Aku tidak apa-apa, Ayah. Aku baik-baik saja, Paman Mikael saja yang terlalu berlebihan. Buktinya, aku masih berdiri dengan baik saat ini," jawab Kenan sembari menunjukkan dirinya yang baik-baik saja.
Alex manggut-manggut senang, ia kembali memeluk Kenan sebelum membawanya pulang bersama kedua anaknya yang lain.
"Kakak, kau tak apa? Aku melihatmu jatuh melayang tadi. Apa ada yang sakit?" cecar Shaka yang tak kalah mencemaskan keadaan Kenan. Ia sempat syok hingga melupakan kehadiran Kiran di sisinya.
"Kau tahu, aku terlalu kaget tadi sampai-sampai lupa bahwa ada Adik yang mengikutiku. Dia hampir diculik, Kak," sambung Shaka lagi penuh penyesalan.
"Benarkah?" Kenan terkejut mendengarnya, "aku tidak tahu. Tiba-tiba saja pandanganku buram lalu menggelap dan tidak tahu apa-apa lagi, tapi apa kau tahu? Aku melihat Ibu tersenyum sebelum mataku benar-benar tertutup," ungkap Kenan membuat Shaka dan Alex sama-sama menghentikan langkah dan menatap aneh padanya.
__ADS_1
"Ibu?"
"Ibumu?"
"Yah. Karena sebelum menarik besi itu aku meminta Ibu untuk membantuku. Mungkin saja Ibu mendengar ucapanku. Ayah, apa sebaiknya kita mengunjungi Ibu? Kita belum memberitahu Ibu bawah anaknya yang hilang telah kembali," pinta Kenan kepada Alex yang masih termangu mendengar ceritanya.
"Ah, ya. Kita akan mengunjungi Ibumu sekarang juga," katanya. Mata itu tetap sama. Setiap kali kekasih hatinya disebut, setiap itu juga penderitaan dari rasa sesal menyeruak ke permukaan.
Mereka berjalan di koridor menuju parkiran. Mereka tidak tahu saja, para dokter dan perawat yang menangani Kenan tadi tengah kebingungan di dalam ruang ICU. Alat-alat yang mereka gunakan sama sekali tidak berguna.
"Kakak, bagaimana kau bisa cepat bangun seperti ini?" tanya Shaka mensejajarkan langkah bersama Kenan. Keduanya berada di belakang Alex yang menggendong Kiran dan dibuntuti Leo.
"Aku sendiri tidak tahu persisnya seperti apa," katanya.
Beberapa saat lalu.
Di dalam ruang ICU, berbagai macam alat medis telah terpasang di tubuh Kenan. Dokter sedang mencari masalah pada tubuh pemuda itu. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, tidak terdapat satu masalah pun pada tubuh Kenan.
Semuanya nampak normal dan bersih. Satu-satunya masalah yang ditemukan pada tubuh Kenan adalah hilangnya napas pemuda itu. Jadi kesimpulannya ....
"Catat waktu kematiannya dan kabari keluarga pasien."
Kondisi Kenan benar-benar membingungkan para tim medis. Bagaimana tidak? Alat pendeteksi jantung tidak berfungsi, tapi mereka tak dapat menemukan kapan tepatnya anak ini mati. Juga kondisi wajah yang tak pucat seperti mayat lainnya. Kenan masih tetap segar meskipun tidak mendapat asupan oksigen ke dalam paru-parunya.
Pada akhirnya tim medis menyerah, dan menyatakan Kenan meninggal. Seorang perawat menutupkan kain putih ke seluruh tubuh pemuda malang itu. Namun, tiba-tiba ....
Kenan terbangun dan menyibak kain yang menutupi wajahnya. Napasnya tersengal, peluh membanjiri tubuh.
"Dokter!" Perawat tadi terkesiap tak percaya. Para tim medis pun termangu melihat Kenan yang duduk dengan napas memburu.
Seorang dokter hendak memeriksa, tapi Kenan buru-buru bangkit dan memunguti pakaiannya yang teronggok di sebuah keranjang. Memakainya sebelum ia keluar dari ruangan. Mereka menggelengkan kepala tak percaya.
Shaka tertawa mendengar cerita Kenan. Keduanya membayangkan wajah-wajah bingung dari semua tim medis yang menangani Kenan.
__ADS_1
"Mereka pasti kebingungan. Aku sendiri pun tidak percaya, tapi suku kami sangat sering mengalami hal itu. Untuk itulah aku tidak terkejut lagi mendengar ceritamu," ucap Shaka teringat saat hidup di dalam hutan terlarang bersama suku kanibal yang terkenal kejam.
"Kenan!"
Yuki berlari memeluk kekasihnya. Ia menangis tersedu. Kenan mengecup pucuk kepalanya, ia sempat melihat Yuki yang menangis di bawah sesaat sebelum pandangannya menggelap. Regan datang menyusul, ia merasa lega setelah melihat dengan mata kepala sendiri keadaan Kenan yang baik-baik saja.
"Kupikir kau tidak akan bangun untuk waktu yang lama. Kupikir kau akan terbaring lemah di ranjang pesakitan itu?" cerocos Yuki di sela-sela isak tangisnya.
"Ssst ... jangan berbicara seperti itu? Aku tidak apa-apa, Yuki. Aku baik-baik saja. Kau bisa melihatnya, bukan?" ucap Kenan memeluk erat tubuh berguncang Yuki.
Gadis itu mengangguk-anggukkan kepala, tapi belum ingin melepaskan pelukannya.
"Kita pulang. Aku ikut kalian saja," katanya.
Yuki melepaskan pelukan, ditatapnya wajah Kenan yang tersenyum menenangkan. Satu kecupan mendarat di dahinya sebelum ia mengajak Yuki untuk meninggalkan rumah sakit bersama-sama.
"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Regan yang berjalan di sampingnya, "Yuki tidak berhenti menangisimu. Dia bahkan akan berbuat nekad jika sesuatu terjadi padamu, Kenan." Regan melirik Yuki.
Kenan ikut meliriknya, ada air yang masih menggenangi mata gadis itu. Kenan menyapunya sambil mengeratkan pelukan. Bersyukur ada seseorang yang amat mencintainya.
"Kenan, bukankah dia anak suku itu?" Yuki menyelidik tentang Shaka yang berada satu mobil dengan Alex dan Kiran.
Sedangkan Kenan ikut bersamanya di dalam mobil Regan.
"Yah, dan apa kau tahu? Dia adikku. Kami kembar, tapi tidak identik," ucap Kenan.
Terkejut memang, tapi Kenan tak akan mungkin berbohong.
"Kenan, kita akan ke mana? Kenapa mobil Ayahmu mengambil jalur yang salah?" Yuki mengerutkan dahi disaat Regan ikut berbelok mengikuti mobil Alex.
"Kita akan ke makam Ibu Kenan, Yuki."
Gadis itu menoleh kepada Kenan mendengar jawaban Regan, pemuda di sampingnya mengangguk membenarkan apa yang diucapkan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku ingin membawa Shaka ke makam Ibu sekalian saja mengenalkanmu kepada Ibu," katanya. Semburat rona merah menyembul di kedua pipi gadis itu.
Yang mereka tidak tahu, ada beberapa mobil yang ikut serta di kejauhan.