
Hallo semua, kakak-kakak yang setia mengikuti kisah Kenan dan Yuki.
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakaatuh.
Saya Aisy Hilyah mengucapkan banyak-banyak rasa terima kasih kepada semua pembaca setia kisah Kenan. Kalian yang selalu mendukung, meluangkan waktu untuk membaca, memberikan jempol serta berkomentar menjadi penyemangat untukku terus menulis hingga tamat.
Kisah Kenan berakhir di sini, takdir yang harus dia jalani sangatlah berat. Misinya adalah membebaskan sang adik dari dulu kanibal tanpa tahu bahwa mereka bersaudara. Maafkan Aisy juga jika tak dapat menyuguhkan kisah yang memuaskan hati kalian.
Jika berkenan baca juga karya yang masih on going.
Perjuangan Zena melawan para mafia.
Juga ada Cryo seorang anak yang terlahir lemah tanpa bakar sihir seperti anak-anak yang lainnya. Takdir besar menantinya di depan, Cryo yang lemah selalu diejek dan direndahkan bahkan ditindas oleh murid-murid berbakat di akademi. Hanya karena dia terlahir tanpa bakat sihir.
Ikuti kisah Cryo dalam novel HIDDEN DEMIGOD. Karya Aisy Hilyah. Ditunggu, ya.
Cuplikan bab 1
"Wahai, Dewa! Tolong jaga anak keturunan-Mu ini. Dia sendirian, tiada siapapun di sampingnya. Hanya pada-Mu ... hanya pada-Mu kupercayakan keselamatannya. Tolong jaga dia! Tolong jaga dia, Dewa!" mohonnya dengan wajah menunduk dan kedua tangan menangkup menutupinya di hadapan sebuah patung Dewa Angin.
Air matanya yang tak henti mengalir menetes di atas sayap sang Dewa. Cahaya terang muncul tiba-tiba menyinari gua tempatnya berada. Tangis bayi itu berubah menjadi tawa, tawa riang gembira. Seolah-olah ia telah menemukan pelukan hangat kedua orang tua.
__ADS_1
Ia-nya mengangkat wajah, tersenyum melihat cahaya sang dewa melingkari tubuh kecil itu.
"Terima kasih." Dia beranjak, mengambil pedang yang ia letakkan di samping tubuh dan menggenggamnya erat.
Tanpa segan, ia mengiris daging tangannya sendiri. Darah segar tumpah sebagai persembahan dari sumpah yang ia ucapkan.
"Dengan restu dari Dewa Angin, aku bersumpah akan kulumpuhkan hewan itu!" teriaknya dengan lantang. Gemuruh terdengar di kejauhan, bumi berguncang dan angin berhembus dengan kencang.
Ia memejamkan mata merasakan sebuah energi sihir yang kuat mengalir di seluruh pembuluh darahnya. Secara tiba-tiba kekuatannya meningkat dengan signifikan. Bola matanya berubah menjadi biru terang, ia melesat terbang ke langit dengan membawa kekuatan Dewa Angin.
Dengan sebilah pedang di tangan, ia berhenti tepat di hadapan naga hitam yang tak henti menyemburkan api. Sebagai orang terakhir yang hidup, ia mengayunkan pedangnya. Sayatan berupa angin berwarna biru melesat, menghantam si penunggang. Sayang, ia segera menyadari dan dengan cepat menghindari sabetan tersebut.
"Oh ... ternyata masih ada. Tunggu ... apa ini? Kekuatannya ...?" Hatinya seketika bergetar saat ia melihat sosok yang diselimuti cahaya kebiruan di udara.
"Mundur!" teriaknya pada seluruh pasukan yang ia bawa di darat.
"Kita tidak bisa menghadapi kekuatan Dewa!" Naga yang ia tumpangi memekik. Bergerak gelisah tak tentu arah. Seluruh pasukan yang bergerak mundur itu pun terhenti karena terhalang sebuah dinding. Tepatnya, empat arah mata angin tak mengizinkan mereka pergi.
"Kalian tak akan bisa pergi ke mana pun!" Sebuah suara menggema dari udara memenuhi seluruh desa yang tak lagi berupa. Ia mengayunkan kembali pedangnya, bilah-bilah cahaya berwarna biru seperti pedang-pedang kecil melesat cepat ke arah pasukan di darat.
Para raksasa memekik, hewan-hewan mereka meraung kesakitan terkena sabetan cahaya biru itu. Tak lama, mereka terkapar membuat sang naga dan penunggangnya kalang kabut. Ia berbalik hendak berlari, tapi semua arah tertutup sesuatu.
__ADS_1
Menyadari kekuatan yang dipinjamkan Dewa hanyalah sementara, ia buru-buru menuntaskan sumpahnya. Melumpuhkan naga tersebut. Bibirnya komat-kamit merapalkan sebuah mantra dengan mata tertutup rapat. Pedang di tangannya melayang, dan saat mata itu terbuka, sebuah kilatan cahaya memancar dengan terang. Menyilaukan mata sang penunggang naga.
Ia tak mampu menjaga keseimbangan hingga tak sadar terjatuh dari naga tersebut dan melayang di udara. Kekuatan gelap yang dimilikinya, tak dapat ia gunakan untuk menolong. Terus melayang dan jatuh menghantam bumi.
Sang naga terikat tali yang terbuat dari cahaya biru. Meraung dan memekik mencoba untuk melepaskan diri dari lilitan cahaya tersebut. Sayang, semakin hewan itu meronta, semakin dia terlilit. Mulutnya terbuka mencoba menyemburkan api, tapi tak ada apapun yang keluar dari dalam sana. Terakhir, dengan mengerahkan seluruh tenaganya, gadis itu mengurung sang naga dengan kekuatan sihir angin. Menyegel naga tersebut pada sebuah batu yang berada tak jauh dari goa tempat sang Dewa Angin berada.
Selesai sudah tugasnya, ia jatuh melayang tanpa tenaga yang tersisa. Menghantam daratan dengan lembut, darah segar menyembur dari mulutnya. Tubuh manusia yang ia miliki tak mampu mengimbangi kekuatan Dewa.
Gadis yang tak sengaja mendengar suara keramaian itu, membeliak saat melihat kepulan asap dan api memenuhi langit. Ia segera turun melesat mendekati desa angin. Sayang, semuanya telah berakhir. Bangunan yang terbuat dari bebatuan, juga dari kayu-kayu telah menjadi puing-puing tak bersisa.
"Astaga! Apa yang terjadi di sini?" Seketika ia mengerti saat menemukan bangkai-bangkai hewan dan raksasa.
"Aku harap masih ada yang tersisa dari keturunan desa angin." Ia bergumam sambil membawa dirinya melayang mengitari desa tersebut. Sebuah tangisan bayi menyita indera rungunya, gegas ia melayang ke tempat tersebut.
Ditemukannya sebuah kotak tepat berada dalam dekapan sang Dewa. Ia melakukan sembah sebelum mengambil kotak tersebut. Seorang bayi yang baru saja dilahirkan, tersimpan di sana. Ia membeliak ketika melihat sebuah tanda tak biasa terdapat pada kulit bayi tersebut. Bibirnya tersenyum dan melayang sambil membawanya.
"Tolong jaga dia!"
Terima kasih banyak. Love you all.
Entahlah, aku sayang kalian semua. Tulus dari hatiku.
__ADS_1
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.