Takdir Kenan

Takdir Kenan
Terkepung II


__ADS_3

Boom!


Suara ledakan yang sangat keras hingga membuat tanah berguncang, mengejutkan Kenan dan kedua temannya yang masih berteduh di gazebo pemakaman. Hujan masihlah deras, kabut pun bertambah tebal menutupi jalanan.


Kenapa perasaanku tidak enak. Ayah, apa yang terjadi pada mereka?


Kenan bergumam sambil melirik Yuki yang memejamkan mata di lengannya. Ingin ia berlari menerjang hujan, tapi bagaimana dengan Yuki? Tak akan ia membiarkan gadisnya itu terguyur hujan lebat.


Ayah, Kiran, Shaka, semoga mereka semua baik-baik saja.


Kenan menengadah menatap langit yang tak henti menurunkan airnya. Ia memejamkan mata, meminta perlindungan untuk mereka pada Yang Kuasa.


Merasakan getaran dari tubuh Kenan, Yuki membuka mata. Dahinya mengernyit melihat Kenan yang meneguk ludah dengan mata terpejam. Kegelisahan nampak jelas di garis wajah laki-laki itu.


"Kenan, ada apa?" Yuki mengusap dada kekasihnya dengan lembut. Sementara Regan, membaringkan tubuh dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Mendengar suara bisikan Yuki, Kenan membuka mata seraya menurunkan wajah memandang gadis itu. Pandang mereka beradu untuk beberapa saat, dinginnya hembusan angin membuat mereka hanyut dalam buai asmara yang bergejolak.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan mereka. Kau mendengar letusan tadi?" Yuki mengangguk kecil.


"Kupikir itu suara roda mobil yang meletus. Biasanya akan sekeras itu jika terjadi pada mobil besar, bukan?" ucap Yuki memang masuk akal.


"Kau benar, mungkin kejadian tadi membuatku terlalu paranoid." Kenan tersenyum, Yuki balas mengangguk dan kembali menempelkan wajahnya di lengan Kenan.


"Sudah hampir malam, tapi hujan masih sangat deras. Bagaimana? Apa kau tak apa tetap di sini? Atau kita perlu berlari ke mobil dan pulang?" tanya Kenan menempelkan tangannya pada pipi Yuki yang terasa dingin.


"Yah, sebaiknya memang begitu. Aku tidak mau bermalam di sini, Kenan. Sebaiknya kita berlari saja ke mobil," sahut Regan yang tiba-tiba terbangun karena memang tidak tidur.


"Bagaimana denganmu, Yuki? Tidak apa-apa kita berlari saja?" Kenan menegaskan.


Yuki beranjak menatap pasti manik coklat milik kekasihnya itu.


"Tidak apa-apa, kita berlari saja. Lagipula benar kata Regan, aku juga tidak mau bermalam di sini," jawabnya ngeri.


Tempat ini akan terlihat lebih gelap di malam hari meskipun ada lampu yang menerangi. Tetap saja, duduk di antara barisan batu nisan itu membuat nyalinya menciut.


"Ya sudah, ayo!" Ketiganya beranjak, Kenan mengangkat jasnya memayungi Yuki. Setidaknya gadis itu tidak langsung terkena air hujan.


Regan cepat-cepat membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Disusul Kenan dan Yuki yang datang lebih lambat karena tanah merah di jalan pemakaman itu sangat licin saat terkena guyuran hujan.

__ADS_1


"Pelan saja, Regan. Jalannya berkabut," ucap Kenan mengingatkan.


"Aku tahu." Regan mulai menghidupkan mesin mobil, melaju dengan pelan karena kabut tebal benar-benar menghalangi pandangan.


"Kau kedinginan?" Yuki mengangguk. Bibirnya yang pucat bergetar, tubuhnya juga menggigil kedinginan. Kenan memeluknya sekedar memberikan rasa hangat pada tubuh yang menggigil itu.


Tak ada kilatan petir atau halilintar, hanya air yang sangat deras saja turun tiada henti. Mobil-mobil membunyikan klakson khawatir terjadi kecelakaan di dalam kabut.


"Kabutnya benar-benar tebal, jika tidak hati-hati maka kecelakaan pasti terjadi." Kenan bergumam sambil mengamati situasi.


"Kau benar, mungkin ledakan tadi suara mobil bertabrakan karena tidak berhati-hati," sahut Regan menimpali.


"Benar juga, ledakannya cukup keras sampai-sampai tanah bergetar. Kira-kira di mana kecelakaan itu terjadi?" Keduanya saling menimpali satu sama lain menebak kemungkinan yang terjadi di tengah hujan deras itu.


"Kenan, Ayahmu tidak ada menghubungi?" tanya Yuki gemetar. Ia menelusup pada ketiak Kenan mencari tempat yang lebih hangat lagi.


"Tidak, ponselku hilang entah di mana saat terjatuh tadi."


"Benarkah?"


Kenan menganggukkan kepala.


Di sisi lain.


Leo yang merasa ada celah untuk melarikan diri, mencoba peruntungannya. Setelah memperkirakan segalanya, ia pun membanting setir ke kiri. Menerobos hutan belantara.


"Hati-hati kepala kalian!" katanya sambil terus mencari jalan agar dapat melarikan diri dari mobil-mobil yang mengejarnya.


Letusan senjata terus menggema, mengincar roda mobil mereka.


"Hentikan mobil kalian sekarang juga!"


Dor!


Suara teriakan bersambut letusan timah panas yang selalu meleset karena Leo pintar menghindar. Kabut menipis saat mereka memasuki hutan, jalanan terlihat sedikit lebih jelas.


Leo tidak berlama-lama, ia segera menancap gas menambah kecepatan. Melesat secepat kilat, menghindari pepohonan dengan gesit. Kiran terus memeluk Alex dengan erat, tubuhnya berguncang. Isak tangis mulai terdengar.


"Jangan menangis, sayang. Kita akan baik-baik saja-"

__ADS_1


"Merunduk!"


Leo menyambar dengan cepat, semua orang menundukkan kepala. Tepat setelah itu, sebuah peluru melesat dan memecahkan jendela bagian depan mobil.


"Sial!" umpat Leo semakin menambah kecepatan.


"Kau tak apa, Leo?"


"Tidak, Tuan! Sebaiknya Anda berpindah tempat duduk ke belakang. Saya akan pastikan mereka tak akan bisa mengincar kita," ucap Leo memerintah.


"Sayang, kau duduklah bersama Kak Shaka." Alex melepaskan pelukan Kiran dan meminta anak itu untuk duduk di belakang bersama Shaka.


"Tapi, Tuan-"


"Kita sudah sering melakukannya bersama, bukan? Tak akan mungkin aku membiarkan salah satu kakiku bekerja sementara yang lain berdiam diri," katanya dengan yakin.


Leo mengangguk tanpa menghilangkan fokus dari jalanan di depan.


"Kau siap?" Alex mengeluarkan senjata dari dalam sakunya.


Begitu pula dengan Leo yang telah bersiap dengan pistol yang selalu menemani perjalannya. Laki-laki itu mengangguk pasti. Leo mulai menembak sambil terus mengemudi.


Bersamaan dengan Alex yang sudah beraksi memblokir laju mobil mereka. Tembakan mereka tepat mengenai roda mobil yang hampir mendekat. Mobil itu terbang dan terbalik menimpah mobil yang melaju di belakangnya.


Boom!


Ledakan pun tak terelakan. Tiga mobil sekaligus hangus terbakar berikut penumpang di dalamnya. Mereka tidak bisa terlena karena mobil yang mengepung kembali bermunculan dan mengejar mereka.


"Mereka datang lebih banyak, Ayah!" seru Shaka yang dapat mendengar pergerakan dari jarak jauh.


Kiran memeluk tubuh besarnya ketakutan. Ujung hutan hampir terlihat, Leo semakin mempercepat laju mobilnya. Para pengejar itu semakin banyak dan mereka tersebar di segala arah.


"Kita terkepung!" Shaka kembali bersuara, "sebenarnya siapa orang-orang ini, Ayah? kenapa mereka mengincar kita?" lanjut Shaka bingung sendiri.


"Entalah. Di mana Mikael? Kenapa mereka lambat sekali?" Alex menggerutu karena sejak dihubungi, laki-laki itu belum muncul juga.


"Hati-hati, Paman. Di depan sana ...."


Boom!

__ADS_1


Mobil yang dikendarai Leo menabrak sebuah pohon besar. Secara serentak, mobil-mobil yang mengejar mereka mengelilingi.


__ADS_2