
Melihat Alex yang meringis karena menahan nyeri dari tamparan laki-laki di depannya itu, Shaka menggeram. Ia memejamkan mata, tak tega melihat laki-laki tua itu kesakitan. Ditambah tangisan Kiran yang kian histeris, membuat hati Shaka semakin menjerit.
"Kemarilah, sayang!" pinta Steve entah pada siapa.
Berikutnya, adalah dua orang yang turun dari mobil, mereka berjalan perlahan mendekati Alex dan Steve.
"Lihatlah, Alex siapa yang datang?" Steve mencengkeram dagu Alex, memalingkan wajah laki-laki tua itu ke depan agar ia melihat siapa yang datang.
Alex tersenyum sinis, ia tidak terkejut sama sekali. Satu hal yang membuatnya sedikit heran, ketiadaan salah satu dari mereka. Steve menghempaskan wajah Alex cukup kuat. Hal itu semakin membuat Shaka geram.
"Di mana pecundang itu?" tanya Alex dengan nada mencibir. Meski harus menahan nyeri akibat sudut bibir yang robek ia masih bersikap tenang.
"Siapa? Maksudmu laki-laki tidak berguna itu? Hah, adikmu memilih mendekam di dalam penjara daripada mengikutiku," ucap wanita yang tak lain adalah adik ipar Alex, Ria, istri adiknya sendiri.
Wanita itu datang bersama Roni, di tangannya sebuah berkas ia genggam.
"Benarkah? Syukurlah jika begitu. Aku senang mendengarnya," ucap Alex lagi sambil tertawa senang.
"Sial!"
Plak!
"Tuan!" Leo berdesis lirih.
Satu tamparan lagi ia dapatkan dari adik iparnya itu. Alex tidak meringis, ia tetap tertawa karena terlalu senang.
"Ayah! Jangan pukuli Ayahku, Bibi. Kumohon! Kenapa Bibi jahat sekali?" Kiran memohon dalam tangisnya yang histeris. Gadis kecil itu tak dapat melakukan apapun selain menangis.
Ria melirik, ia tersenyum sinis melihat Kiran yang berada dalam cekalan seorang laki-laki. Matanya berputar mencari keberadaan Kenan. Sadar salah satu dari mereka hilang, Ria berbalik menatap Steve.
"Di mana kakaknya?" tanyanya. Berkas yang dia bawa tak akan berfungsi jika Kenan tidak ada. Pemuda itulah yang harusnya menyerahkan seluruh harta peninggalan Ibu mereka.
"Bukankah pemuda yang di sana itu?" Steve menunjuk Shaka yang menunduk dengan wajahnya.
Ria geram sejadi-jadinya, ia meremas berkas di tangan hingga terlipat kuat.
__ADS_1
"Ada apa, Ria?" Steve merajut kedua alis bingung melihat Ria yang nampak tak senang.
"Dia bukan Kenan! Dia pemuda suku yang disandera Alex bersama kami!" jerit Ria kesal.
Steve berjengit, ia menatap Shaka yang terus diam tak bergerak. Kepalanya menunduk dalam seolah-olah dia hanyalah orang yang lemah.
Ria kembali berbalik, melangkah mendekati Kiran yang terus menangis.
"Di mana kakakmu?" bentaknya sambil memegangi dagu Kiran cukup keras.
"Sakit, Bibi."
"Ria! Jangan sakiti anakku!" bentak Alex dengan wajah yang menghitam penuh amarah.
"Oh, tenanglah, Alex. Dia tidak akan kenapa-kenapa," ejek Steve dengan senyum mencibir. Alex menahan geram, amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Rahangnya mengeras, geraham yang beradu menciptakan bunyi gemeratak gigi.
"Katakan, Kiran! Di mana kakakmu? Di mana Kenan?" Suara Ria yang menjerit kembali terdengar. Semakin memantik amarah dalam diri Alex.
Tangis Kiran bercampur desisan rasa sakit akibat cengkeraman tangan wanita itu kian menambah penderitaan hati mereka. Leo sama geramnya, ia terus memberontak dalam cekalan dua orang laki-laki.
Ria menghempaskan wajah Kiran geram. Ia beranjak, dan menampar pipi gadis kecil itu.
"RIA!" Suara Alex menggelegar. Jeritan Kiran menambah penderitaan Shaka.
Jangan apa-apakan mereka. Aku tidak bisa melihat mereka kesakitan, aku tidak bisa melihat Adik menangis. Aku ingin menyelamatkan mereka, aku ingin menyelamatkan mereka. Baba ... aku yakin kau ada di sini dan melihatku, mereka keluargaku, Baba. Aku ingin menyelamatkan mereka.
Shaka tak henti bergumam, ada air yang jatuh dari pelupuk menghantam bumi yang dipijaknya. Rasa hangat mengalir ke seluruh pembuluh darah, memberikannya energi berlebih. Shaka diam tak berkutik, dua orang yang mencekalnya mulai merasa aneh. Pasalnya pemuda itu berubah menjadi kaku bagai sebatang kayu.
Keringat dingin bermunculan dari pori-pori keduanya, gelenyar rasa panas terus menjalar di permukaan kulit mereka. Hawa panas tak dapat ditolak, perlahan membakar tubuh mereka.
"Argh!" jerit keduanya dengan kuat. Tangan mereka melepuh, lelehannya terus menjalar ke seluruh tubuh. Dua orang itu jatuh menggelepar, meregang nyawa dengan kondisi seluruh kulit yang terkelupas.
Steve, Ria, Roni, dan seluruh orangnya menahan napas melihat keanehan yang terjadi pada dua orang itu. Ia membelalak tak dapat berkata-kata, tanpa sadar berjalan mundur menjauh dari Alex yang juga merasa bingung melihat Shaka seolah-olah membeku.
"Ayo, Bu!" Roni menarik Ria menjauh.
__ADS_1
"Jangan sakiti mereka! Mereka keluargaku!" Suara Shaka menggema, terdengar banyak dan menyeramkan. Tak lama mata itu terbuka, maniknya yang coklat berubah menjadi merah darah. Menyala-nyala penuh dendam. Kedua tangan terkepal, menonjolkan urat-uratnya.
"Sha-shaka?" Lidah Alex kelu. Ia sendiri takut melihat Shaka yang berubah menyeramkan.
"Ini aku, Ayah. Shaka. Ayah tidak perlu takut," katanya masih dengan suara yang mengerikan. Alex meneguk ludah, gugup dan cemas jadi satu.
Orang-orang yang mencekal mereka secara spontan melepaskan tangannya, berlari dan bergabung bersama yang lainnya.
"Kenapa kalian diam? Gunakan senjata kalian untuk menembak laki-laki itu!" teriak Steve panik. Ia tak pernah melihat kejadian ini sebelumnya.
Alex yang sudah terlepas dari cengkeraman orang-orang itu segera menghampiri Kiran yang termangu membeku. Pipi gadis kecil itu memerah bekas tamparan Ria.
"Sial, awas kau, Ria!" ancam Alex.
"Tuan!" Leo datang menghampiri.
"Kiran?" Gadis kecil itu jatuh lunglai tak sadarkan diri. Alex membawanya ke dalam gendongan, ia berkumpul bersama Leo dan bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Leo tidak bisa meninggalkan keduanya.
Letusan demi letusan senjata api terus ditembakkan. Namun, tak satupun mengenai tubuh Shaka. Suku kanibal terkenal akan ilmu kekebalan tubuh, berbagai senjata tak dapat menggores kulit mereka. Suku itu juga terkenal mistis dan banyak menggunakan ilmu sihir untuk membalas perbuatan jahat manusia lain yang sudah berani mengusik ketenangan hidup mereka.
Kepala manusia yang ditumbalkan, membuat para arwah leluhur senang. Daging-daging manusia jahat yang mereka makan, menambah kekuatan dalam diri yang diberikan sebagai anugerah oleh para Nenek Moyang mereka.
"Shaka?" Alex bergumam, khawatir anaknya terluka.
Namun, Shaka terus melangkah mendekati musuh-musuh ayahnya. Mereka menyerang secara bersamaan, menggunakan senjata yang mereka miliki. Namun, tak satupun dari senjata itu yang dapat menggores kulit Shaka.
Tangan besar dan kekar Shaka, menyambar leher salah satu dari mereka. Mencekik dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi ke udara. Ia menjerit tanpa suara, meronta dan memberontak berharap akan terlepas. Akan tetapi, sampai tubuhnya mengejang dan terus diam Shaka tidak melepaskannya. Itu peringatan.
Ia terus menerima pukulan bertubi-tubi di seluruh tubuhnya. Shaka menjatuhkan pandangan pada sosok Steve yang berada di barisan paling belakang. Wajah laki-laki angkuh itu berubah pucat pasih dan nampak ketakutan. Shaka melempar tubuh kaku di tangannya, melayang dan jatuh tepat di bawah kaki Steve.
Mata Steve membelalak, ketakutan membuat tubuhnya gemetar hebat. Gugup matanya memindai Shaka yang menyeringai seram.
"Habisi dia!" teriaknya takut-takut. Belasan orang itu terus memukul-mukul tubuh Shaka dengan brutal, tapi Shaka tetap tenang dan membalas mereka satu per satu.
Steve melarikan diri dari tempat itu.
__ADS_1