
Kenan bergegas meninggalkan lokasi tersebut bersama Kiran. Menggunakan mobil milik Ayahnya, ia berkendara menuju lokasi di mana Yuki disandera.
"Kakak, apa benar tadi itu Ayah?" tanya Kiran sambil menoleh penasaran pada Kenan yang sedang mengemudi.
Pemuda itu tersenyum tanpa menurunkan kecepatan lajunya.
"Ya, Kiran. Kakak mengenalnya karena Kakak pernah hidup bersamanya saat kecil dulu, itu disaat kau sedang dikandung Ibu," jawab Kenan tetap fokus pada jalanan lengang di depan.
Kiran tak lagi bertanya, ia menghadap ke depan lantas melirik tangannya yang sempat digenggam Alex. Hangat dan ada rasa aneh yang ia rasakan menjalar ke seluruh tubuh.
Jika benar dia Ayahku, kenapa selama ini tak pernah muncul? Ke mana dia saat aku dilahirkan? Apakah dia tahu saat aku lahir?
Hati kecil Kiran bergelut dengan segala pertanyaan seputar laki-laki asing yang mengaku sebagai Ayahnya. Ia mendesah, menyandarkan punggung pada kursi menikmati jalanan gelap dan sepi.
Ia terpejam, kengerian sempat menggerogoti asa yang ia miliki disaat Paman dan Bibi menculiknya. Kiran semakin takut dan panik disaat mereka membawanya ke tempat gulita itu.
"Kau anak pembawa sial! Karena dirimu wanita yang aku cintai meninggal!" hardik Paman disaat Bibi meninggalkan mereka di bekas hotel tersebut jauh sebelum Kenan datang.
Keringat rembes membasahi wajahnya disaat lintasan kejadian tadi berputar kembali dalam ingatan. Ia menggeleng dengan mata terpejam, seolah-olah tak sadar bahwa saat ini sedang berada di dalam mobil.
"Kau memang anak tak tahu diuntung, sudah bagus ada Ibuku yang mau merawatmu sejak kecil malah menyusahkan!" hardik Roni saat itu membuat Kiran semakin ketakutan. Ia yang bertubuh kecil hanya meringkuk dalam gelap sambil memeluk lutut. Berharap Kenan segera datang dan menolongnya.
Gadis kecil itu menggeleng, Kenan mengernyitkan dahi saat meliriknya. Ia mengusap kepala Kiran yang basah oleh keringat. Kenan yang panik, menepikan mobilnya guna dapat melihat kondisi Kiran.
"Sayang!" Buru-buru ia memeriksa keadaan Kiran yang menangis dengan mata terpejam. Tubuhnya bergetar, bibirnya pun ikut gemetar. Lamat-lamat ia mendengar Kiran melirih menyebutkan namanya.
__ADS_1
"Kiran! Sadar, sayang. Di sini Kakak!" seru Kenan sambil menepuk-nepuk pelan kedua pipi Kiran. Tetap saja, gadis itu terpejam dan menangis. Ia trauma, kejadian penculikan tadi sangat membekas dalam ingatan meninggalkan trauma yang mendalam.
"Ti-dak! Ka-kak, to-long!" racau gadis kecil itu masih dengan mata yang tak terbuka sama sekali.
"Kiran! Sayang! Buka matamu, sayang. Kakak di sini! Semuanya sudah berlalu dan kau sudah selamat. Bangun, Kiran! Lawan, sayang. Lawan! Kau pasti bisa," ucap Kenan lagi dengan keringat dingin yang sudah membanjiri seluruh tubuhnya.
Kenan tidak menyerah, ia mengguncang tubuh kecil Kiran agar berhenti gemetar. Kiran semakin gelisah terlihat, lisannya terus meracau tak jelas, kepalanya menggeleng kuat-kuat. Dia sudah melewati hari yang berat, sungguh wanita kuat ia masih dapat bertahan dan percaya bahwa Kenan akan datang menolongnya.
"Tidak! Kakak, tolong Kiran!" Kali ini suara Kiran lolos dengan lantang dan jelas.
"Sayang! Bangun, Kiran! Kakak sudah di sini!" Kenan terus mengguncang tubuhnya, sesekali menepuk-nepuk pipi dan dan mengguncang lagi.
"Kakak!" Kiran tersentak dengan mata membelalak. Napasnya terputus-putus dan berat membuatnya mengalami sesak.
"Kakak! Kiran takut! Jangan tinggalkan Kiran sendirian. Mereka jahat, Kak. Mereka menyiksa Kiran. Mereka bilang Kiran anak sial, Kiran anak tidak tahu diuntung," adunya sambil menangis dan terus memeluk Kenan dengan erat.
Gadis kecil itu menumpahkan tangisannya dalam pelukan hangat sang Kakak yang selama ini selalu berhasil membuatnya tenang. Perlahan Kenan mengusap-usap lembut punggungnya untuk memenangkan.
"Sstt ... sudah, jangan diingat lagi. Kau sudah selamat sekarang dan kita sudah pergi jauh dari mereka.. Percayalah! Mereka tak akan pernah berani lagi menyentuhmu," ucap Kenan masih terus menenangkan Kiran yang histeris dalam pelukannya.
Cukup lama ia tidak menyerah, lama kelamaan Kiran pun mulai reda dan tenang. Kenan melepas pelukan, mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Kenan mengecup dahi sang adik, dan memeluknya.
"Tenang, sayang. Kau sudah aman bersama Kakak," ucap Kenan lagi seraya melepas pelukan. Kiran mengangguk, ia mengusap air matanya dan tak lagi mengingat kejadian tadi.
"Jika kau lelah, tidur saja, tapi jangan mengingat lagi kejadian tadi." Kiran mengangguk mendengar penuturan sang Kakak dan mulai menenangkan diri.
__ADS_1
Kenan kembali ke tempatnya semula mengemudi menuju hutan terlarang dengan berbagai macam mitos yang beredar di kalangan masyarakat.
Kiran sudah mulai tenang, Kenan dapat mengemudi dengan tenang pula. Menembus kegelapan malam demi sang pujaan hati.
Sementara di tempat Ayah Kenan, laki-laki itu berjalan penuh wibawa mendekati ketiga orang yang sudah gemetar ketakutan. Keringat bercampur air mata sudah membasahi pipi mereka.
"Hallo, Adik, Adik ipar! Bagaimana kabar kalian? Apa kalian bersenang-senang hari ini karena berhasil menculik putriku!" tanya Alex pada ketiganya.
"Ka-kak! Maafkan aku, Kak. Aku khilaf, semua itu benar-benar diluar kendaliku, Kak. Tolong ampuni Adikmu ini. Maafkan aku, Kak," mohon paman Kenan pada Kakaknya. Ia bahkan menjatuhkan diri di kaki laki-laki tersebut sambil terus memohon agar Alex mau memaafkannya.
Namun, bukan pengampunan yang ia dapatkan melainkan tendangan yang membuat pelukannya terlepas dan membuatnya terjengkang ke belakang.
"Kau pikir aku akan sudi memaafkanmu setelah kau memperlakukan kedua anakku dengan buruk? Maaf saja, Adik. Aku tak berniat memberi maaf dan penjara tentunya terlalu ringan untuk hukuman kalian," ucapnya tegas dan tak terbantahkan.
Bibi histeris mendengar keputusan yang dilontarkan oleh Alex. Senyum jahat tercetak di bibir laki-laki itu, tak ada ampunan untuk mereka. Ia berjalan mendekati Bibi, dan mencengkeram dagunya.
"Apa kau tahu Adik ipar, jika suamimu itu menginginkan istriku? Dia terus memprovokasi mertuaku dan ikut andil dalam membuat fitnah hanya untuk mendapatkan hati istriku. Sayang, cintanya padaku lebih besar dan kesetiaannya tiada tanding. Sampai akhir hayatnya dia tetap mencintaiku." Alex menghempaskannya dagu Bibi dengan kasar.
Wanita itu geram mendengar apa yang diceritakan oleh Kakak iparnya. Emosi dalam hatinya memuncak tak lagi peduli pada hukuman yang sedang menanti.
"Bawa mereka semua ke tempat kita memberikan hukuman pada orang-orang seperti mereka!" Ia berdiri tegak usai mengatakan keputusan. Berjalan tanpa peduli pada mereka yang menjerit histeris.
Sebuah mobil datang menjemput, gegas ia menaikinya dan menyusul ke mana Kenan pergi. Sementara orang-orang suruhannya membawa keluarga Paman ke tempat mereka biasa memberi hukuman.
"Bawa aku ke hutan terlarang menyusul kedua anakku!" titahnya pada supir yang sigap menjemput.
__ADS_1