
Di dalam sebuah ruangan, seorang gadis ditemani wanita dewasa membuka matanya perlahan. Sudah dua hari gadis itu tak sadarkan diri, terbaring tanpa membuka mata. Di sisinya wanita itu setia menunggu sampai ia membuka kelopak mata.
"Me-mei!" panggilnya terbata.
Wanita yang menaruh kepalanya di atas ranjang tertidur karena lelah berjaga, terhentak dan dengan cepat membuka mata.
"No-nona? Apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya dengan cepat.
"Aku haus, Mei. Aku mau minum." Suara yang lembut itu terdengar parau. Tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia membutuhkan air.
Mei sigap mengambilkannya minum, menmbantunya untuk menenggak air guna membasahi tenggorokan. Ia membuka matanya sempurna, tersenyum melihat keluarga satu-satunya yang baik-baik saja.
"Mei, kau baik-baik saja?" tanya gadis belia itu lirih. Wajahnya terlihat cemas, ia begitu mengkhawatirkan pengasuhnya itu.
"Nona, saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Anda sendiri?" tanya Mei. Air mata menggenang di pelupuk, ia tak kuasa menahan haru karena mendapat perhatian dari majikannya.
"Aku baik-baik saja, Mei. Jangan khawatirkan aku." Ia tersenyum meskipun bibirnya masih nampak pucat pasi.
"Mei, apa mereka menghukummu? Apa mereka akan mengirimmu ke dalam penjara? Jika iya, siapa yang akan menemaniku, Mei? Aku akan sendirian di sini, aku takut," cerocosnya bergetar.
Ia benar-benar ketakutan, Mei tak dapat melihatnya seperti itu.
"Anda tenang saja, Nona. Mereka tidak menghukum saya, tapi sebaliknya. Tuan Leo sering menjenguk Anda di sini, bertanya banyak hal mengenai Anda juga kehidupan Anda. Sepertinya, asisten tuan Alexander itu tertarik pada Anda," ungkap Mei antusias.
Tanpa sadar, bibir pucat itu tersenyum. Ada rona merah terbentuk di kedua pipinya, kulit wajahnya menghangat hingga terasa sampai telinga.
"Ah, apa Anda juga menyukainya?" pekik Mei menutup mulut tak percaya. Kedua matanya membelalak lebar, benar-benar tak menyangka nona majikannya itu akan berpaling hati dari pewaris Lois Grup.
"Mei, kau jangan berlebihan. Bagaimana jika ada yang mendengar, aku bisa malu," katanya memukul tangan Mei dengan pelan.
Berselang, senyum di wajah Mei raib. Menatap sang majikan penuh tanda tanya.
"Tapi, Nona, bukankah dia menjadikan Anda sebagai sandera? Bagaimana mungkin Anda menyukainya? Sedangkan dia sudah membohongi Anda," ucap Mei saat mengingat kejadian tempo hari.
__ADS_1
Sang majikan menghela napas, ia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan hampa nan kosong.
"Dia terpaksa karena kau dianggap membahayakan seseorang yang dia hormati. Wanita itu adalah calon menantu keluarga Lois, siapapun menghormatinya, dan kita salah memilih lawan. Aku sadar, Mei, tidak semua yang aku inginkan harus aku dapatkan karena semua itu hanya fatamorgana yang mengelabui pandangan. Maaf karena membuatmu terlibat dalam masalah besar," ungkapnya menyesali yang telah terjadi.
Ia masih terlalu muda, jalan pikirannya tidak stabil. Jiwa muda dengan tingkat keegoisan yang tinggi. Ambisius, apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya juga bersalah, seharunya saya bisa lebih menahan semua keinginan Anda. Bukan malah menuruti semua meskipun akan merugikan orang lain. Kita sama-sama belajar dari kejadian kemarin, dan semua itu harus kita jadikan pelajaran untuk masa depan yang lebih baik." Mei tersenyum pasti.
Gadis itu menatap penuh arti pada sang pengasuh, bersyukur masih ada seseorang di sisinya yang begitu setia menemani. Ia merentangkan tangan, Mei beranjak dan memeluknya. Keduanya akan belajar dari kejadian kemarin untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik.
Tok-tok-tok!
Suara ketukan pada pintu, menghentikan rasa haru keduanya. Mei melepas pelukan, ia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan. Gadis yang di dalam ruangan, memiringkan kepala demi dapat melihat siapa yang datang berkunjung.
"Tu-tuan? Anda ingin menjenguk Nona?" tanya Mei tergagap.
Leo mengangguk tersenyum, seperti biasa ia membawa seikat bunga dan akan menukarnya dengan bunga kemarin yang layu, dan hari itu ia juga membawa bekal.
"Silahkan, Tuan. Nona sudah membuka matanya," ucap Mei membuka pintu lebih lebar lagi.
Mendengar suaranya, jantung Leo berdebar kencang. Melompat-lompat hendak keluar menerjang gadis yang berada di ranjang tersebut. Wajahnya menghangat, tapi ia begitu pandai menyembunyikan semuanya.
Ia berdehem sebelum mengucapkan terima kasih pada Mei.
"Mei?" Gadis itu kembali memangilnya, tapi Mei diam tak menyahut. Ia menunggu dengan dahi yang mengernyit.
Tak berapa lama, kedua maniknya melebar tatkala sosok laki-laki yang baru saja diceritakan Mei muncul bagai seorang pangeran yang turun dari langit. Mengenakan kuda putih menjemputnya untuk pergi bersama ke pesta dansa.
Leo tersenyum, gadis belia itu menarik selimut menutupi wajahnya. Ia menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di kedua pipi. Malu. Hal itulah yang ia rasakan.
Namun, langkah Leo terus berderap kian mendekat. Laki-laki itu bahkan berani menarik selimut dari wajahnya.
"Bagaimana kabarmu, gadis nakal?" Leo sengaja mendekatkan wajah hingga hangat hembusan napasnya terasa di kulit putih gadis itu.
__ADS_1
"Ba-baik, Kak," jawabnya tertunduk malu. Leo tanpa segan menduduki kursi yang ditempati Mei sebelumnya.
Ia memiringkan wajah demi dapat melihat rona merah yang dimiliki kulit putih gadis itu. Leo mengulum senyum, ia suka melihat rona merah di pipinya yang sangat kontras. Gadis itu menggigit bibirnya, malu bercampur gugup.
"Berhenti menatapku seperti itu, Kak!" Tangannya menutupi mata Leo. Belum sempat menariknya kembali, Leo sudah menahannya.
Lembut kulit tangannya sehalus sutra saat bersentuhan langsung dengan kulit Leo. Ia menggenggam tangan itu, semakin tersipu sang empu. Sampai-sampai ia tak berani berbalik untuk menatap Leo.
"Kau sudah makan?" Leo bertanya seraya meletakkan tangan itu dengan hati-hati. Seolah-olah itu benda yang terbuat dari kaca yang sangat tipis.
Gadis nakal itu menggelengkan kepala tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.
"Hei, aku di sini. Coba lihat kemari, aku cemburu saat kau menatap yang lain tanpa berkedip seperti itu," ucap Leo.
Hal itu berhasil membuatnya memalingkan wajah. Leo terkekeh, lantas membuka kotak makan yang dibawanya sendiri dari rumah. Menyendok nasi dan lauknya seraya menyuapi gadis tersebut.
"A-aku bisa sendiri." Leo menggeleng. Ia mengangkat sendok semakin mendekati mulut kecilnya.
Pelan, gadis itu membuka mulut, pandangnya berpijak pada manik coklat milik Leo. Entah seperti apa perasaannya saat ini, tapi yang pasti dia merasa seperti banyak bunga di dalam hatinya.
Eh?
Gadis itu melihat nakas, ada bunga segar di sana menggantikan bunga yang layu kemarin.
"Ada apa? Apa makanannya tidak enak?" tanya Leo saat melihat ekspresi wajahnya yang terkejut.
Eh?
Gadis itu menoleh cepat pada Leo, menggelengkan kepala lucu.
"Tidak. Ini enak, Kakak membelinya di mana? Aku akan meminta Mei untuk membelinya lagi nanti," jawabnya malu-malu.
Leo terkekeh geli. "Aku membuatnya sendiri. Jika kau suka, aku akan memasaknya setiap hari untukmu."
__ADS_1
Eh?
Eh?