
Kenan duduk di kursi samping Shaka memejamkan mata usai meletakkan kantong plastik berisi makanan yang ia beli saat di jalan tadi. Ia perhatikan wajah pemuda berkulit hitam itu dengan saksama. Membandingkannya dengan foto seorang bayi yang berada dalam pangkuan sang Ibu.
"Apa Ayah tahu soal Ibu yang melahirkan bayi kembar? Aku lupa bertanya padanya," gumam Kenan sambil tersenyum memandangi dua bayi kembar dan Ibunya.
Lenguhan panjang dari Shaka menyita perhatian Kenan. Ia menyimpan foto tersebut di saku kemejanya, buru-buru melihat keadaan Shaka yang mulai menggeliat di atas ranjang pesakitan.
Pemuda suku itu berdesis sebelum membuka matanya, ia mengeluh saat netra bertabrakan dengan cahaya lampu yang menyilaukan. Dipejamkannya kembali mata itu dan perlahan dibukanya lagi.
"Di mana aku?" lirihnya setelah berhasil menerangkan penglihatan.
Kenan tersenyum masih belum bersuara. Ia memperhatikan Shaka yang kebingungan dengan tempat baru itu.
"Shaka?" Sontak laki-laki di atas ranjang itu menoleh sedikit terkejut karena ia kira sedang sendirian.
"K-kau ...?" Kenan mengangguk. Ia membawa kursi yang diduduki mendekat ke arah kepala Shaka.
"Sebentar, aku panggil dokter," katanya seraya menekan tombol panggilan yang berada di atas kepala ranjang Shaka.
"Kenapa kau ada di sini?" Shaka masih terlihat bingung.
"Apa kau lupa kejadian yang menimpa bangunan di hutan? Aku membawamu ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan." Kenan beranjak saat tim dokter datang untuk memeriksa. Ia menjauh memberi ruang pada mereka untuk memeriksa keadaan Shaka.
"Syukurlah, keadaan saudara Shaka sudah stabil. Anda harus banyak istirahat untuk segara pulih. Saya permisi, jangan lupa diminum obat yang sudah saya sediakan," ujarnya yang disambut anggukan kepala oleh Kenan.
"Baik, Dokter. Terima kasih," ucapnya seraya mengantar dokter tersebut keluar ruangan. Kenan kembali dan membuka bungkusan yang dibawanya.
"Kau harus makan, mau aku suapi?" tawar Kenan setelah membuka bungkus makanan tersebut.
__ADS_1
"Tidak perlu, tapi bisa kau bantu aku beranjak?" Shaka mengernyit, kepalanya terasa berdenyut saat ia bergerak sedikit saja.
Kenan meletakkan makanannya di atas meja, ia membantu Shaka untuk duduk dan membenarkan posisi ranjang supaya ia merasa nyaman. Shaka menerima makanan yang diberikan Kenan padanya, melihat-lihat menu yang dibawa Kenan, lantas tersenyum sebelum melahapnya.
"Kenapa? Apa kau mau daging?" tanya Kenan bingung. Shaka mendongak, menggelengkan kepalanya sambil terus mengunyah. Tak ada daging ataupun ikan, hanya sayuran dan nasi saja juga daging tanpa tulang yang terbuat dari kedelai. Tahu dan tempe.
"Kau tahu, meskipun aku termasuk suku itu, tapi Baba tidak pernah memberiku makan daging. Beliau tidak pernah mengizinkan aku untuk memakan daging yang sama seperti yang mereka santap," tutur Shaka yang jelas saja membuat Kenan terkejut.
Sedikit rasa tak percaya mendengarnya karena bagaimanapun Shaka sudah bersama suku itu semenjak ia dilahirkan.
"Bagaimana mungkin?" Tanpa sadar Kenan berucap. Shaka tersenyum sambil terus menghabiskan makanan di tangannya. Ia terlihat tidak berbohong, air mukanya tenang dan nada bicaranya pun terkesan tidak dibuat-buat.
"Tidak masalah jika kau tidak percaya. Aku juga tak akan pernah bisa membuat seseorang untuk percaya padaku, apalagi memaksanya," katanya seraya kembali menyendok nasi dan menyuapkannya ke mulut.
Pantas saja dia berbeda. Bau badannya tak seperti mereka, mungkin karena dia tidak memakan daging manusia?
"Kau ingin makan bersamaku?" Shaka menawarkan.
"Ah, tidak. Aku sudah makan, itu hanya untukmu. Habiskan sebelum kau meminum obat," sahutnya kembali tersenyum setelah tercenung memikirkan ucapan Shaka.
Pemuda berkulit hitam itu mengangguk seraya menghabiskan makanan di tangannya. Ia tidak seperti orang sakit yang tak akan merasa enak saat lidah menyentuh makanan.
"Kemari, biar aku yang membuangnya." Kenan meraih bungkusan yang telah kosong, memberikan gelas air sebelum beranjak mendekati tong sampah.
"Namamu Kenan?" Shaka bertanya sesaat setelah Kenan duduk di kursinya kembali. Ia memberikan obat yang disiapkan dokter untuk Shaka dan membantunya minum.
"Yah, panggil saja begitu. Itu memang namaku, kenapa?" Kenan meletakkan kembali gelas tersebut dan tersenyum pada Shaka. Pertanyaannya dijawab dengan gelengan kepala. Shaka hanya memastikan saja nama pemuda yang selalu menolongnya itu.
__ADS_1
"Mmm ... Shaka, apa kau tahu siapa Ibumu?" tanya Kenan memancing. Wajah itu beriak, terlihat sedih dan murung. Ia menunduk, menatap salah satu tangannya yang diinfus. Helaan napas panjang dan berat terdengar dari arahnya sebelum pemuda itu mengangkat wajah.
"Aku tidak tahu, tapi aku pernah diasuh oleh seorang wanita yang baik hati. Dia cantik dan perhatian. Meski kerjaannya hanyalah melahirkan anak keturunan dari suku itu, dia tak pernah lepas perhatian dariku yang saat itu berusia sekitar tujuh tahun. Dia mengajakku berlari dari suku tersebut, Kenan. Katanya, 'kau bukanlah keturunan suku ini, sebaiknya ikut denganku dan kita melarikan diri dari sini.'" Shaka menatap Kenan yang sedikit melebarkan mata mendengar kisah tersebut.
"Banyak yang beranggapan bahwa kami memakan Ibu-ibu kami setelah tak mampu menghasilkan anak lagi. Padahal, Ibu kami semua dikuburkan dengan layak di dekat goa suci. Jika mereka melahirkan anak perempuan, maka kami tak perlu lagi menculik wanita untuk menghasilkan anak keturunan. Anak itulah yang nanti akan melahirkan keturunan selanjutnya," jelas Shaka yang membuat Kenan semakin terbengong.
"Kami menghormati Ibu-ibu kami, Kenan. Tak akan mungkin kami memakannya, sayangnya mereka tak bisa berumur panjang seperti Baba." Shaka menutup kisahnya dengan penjelasan yang berbeda dari apa yang didengarnya.
Ia mengawang mencerna kisah yang baru saja didengarnya. Kenan mengeluarkan foto yang ia simpan dalam saku, memberikannya pada Shaka untuk dilihat pemuda itu.
"Apa ini?" tanya Shaka seraya menerima lembar tersebut dari Kenan.
"Aku mencari bayi yang ada dalam foto tersebut. Dia memiliki tanda lahir di bagian dada, apa kau melihatnya?" Kenan menunjukkan tanda tersebut yang nampak samar terlihat.
Shaka mengernyitkan dahi, matanya memicing agar dapat melihat dengan jelas sesuatu yang ditunjuk Kenan.
"Tanda lahir? Aku memilikinya," katanya, seraya meletakkan foto tersebut di pangkuan. Shaka membuka kancing baju pasien bagian atas, menunjukkan pada Kenan tanda yang ia miliki. Tanda itu tersamarkan karena hampir serupa dengan kulitnya yang berwarna hitam.
"Apa kau melihatnya? Di sini sama persis seperti yang ada pada bayi dalam gambar tersebut. Kukira ini bekas luka atau apapun, ternyata tanda lahir," ucap Shaka sambil menunjukkan tanda di bagian dada kirinya.
Kenan yang penasaran, mendekat dan melihat dengan saksama tanda yang ada pada tubuh Shaka. Ia terperangah, dugaannya selama ini benar bahwa Shaka adalah saudara kembarnya yang baru ia ketahui.
"Ada apa, Kenan? Kenapa kau terlihat terkejut?" Shaka bingung dengan reaksi Kenan yang tiba-tiba bungkam dengan wajah sendu.
"K-kau ...?" Tanpa kata ia memeluk tubuh Shaka dengan erat, menangis haru karena dapat bertemu dengan saudaranya sendiri.
"Adikku, kau adikku. Bayi dalam gambar itu adalah kita yang baru saja dilahirkan, dan wanita itu Ibu kita," ucap Kenan. Kali ini, Shaka yang membeku beberapa saat sebelum membalas pelukan Kenan. Malam panjang menciptakan kisah baru kehidupan anak manusia.
__ADS_1