
"KENAN!"
Brugh!
Tubuh Shaka jatuh menghantam tanah, samar ia masih dapat melihat perjuangan Kenan melawan maut sebelum gelap menyelimuti.
"Tuan Muda!" Mikael gegas datang menghampiri, memeriksa kondisi Shaka yang tak sadarkan diri.
"Cepat, bawa Tuan Muda Shaka ke rumah sakit!" perintahnya pada sisa orang yang ia bawa.
Tanpa menunggu lama, empat orang menggotong tubuh besar itu ke dalam mobil, membawanya dengan cepat meninggalkan hutan. Gelap mulai merayap perlahan, di bawah payung senja kedua orang itu masih bergulat.
Kenan sudah kehabisan tenaga untuk melawan.
"Kau harus mati! Itu yang diperintahkan kepadaku!" katanya menggeram di atas tubuh Kenan. Wajah pemuda itu babak belur, darah mengering di kedua sudut bibirnya. Belum lagi yang masih mengalir di bagian kepala akibat membentur batu.
"Ke-kenapa dia menginginkan aku mati?" ucap Kenan kepayahan sambil menahan tubuh besar itu agar tidak menjatuhkannya ke dalam jurang.
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu! Yang aku tahu kau harus mati!" Sekali lagi ia membenturkan kepala Kenan pada bebatuan.
Kenan meringis, darah merembes dari luka yang baru saja tercipta. Tenaga yang ia miliki terkuras habis. Pandangannya mengabur hingga ia tak dapat melihat dengan jelas. Laki-laki tadi mengangkat tubuh Kenan bersiap menjatuhkannya ke dalam jurang.
"Bersiaplah menjemput kematianmu!" katanya sambil tertawa puas.
"Tak akan aku biarkan!"
Sebuah suara terdengar, tiba-tiba datang seseorang yang entah dari mana munculnya menghentikan laju Mikael yang hendak menolong Kenan. Laki-laki itu menerjang lawan Kenan dan menjatuhkan diri ke dalam jurang. Mengorbankan nyawanya sendiri untuk menebus setiap kesalahan yang pernah ia lakukan.
"Paman!" Kenan bergumam lirih saat mengenali sosoknya.
"Maafkan Paman, Kenan!" Suara itu menggema bersama tubuhnya yang jatuh melayangkan.
"TIDAK!" Lawan Kenan menjerit tidak terima, tapi ia ikut melayang di udara. Ia tidak mau jatuh berdua tanpa Kenan.
Tangannya menyambar kaki Kenan dengan kuat, pemuda itu ikut melayang bersama mereka. Detik berikutnya, Kenan mengerahkan seluruh tenaga untuk menggapai satu batu yang menonjol. Memegangnya kuat-kuat, berharap ia tak akan ikut terjatuh.
"Tuan Muda!"
"Mikael!"
__ADS_1
Keberadaan Kenan terlalu jauh dari jangkauan, Mikael tak dapat menggapainya kecuali ia sendiri ikut turun.
"Mikael, sampaikan pada Ayah permintaan maafku, dan tolong kalian jaga adikku seperti kalian menjaga keluarga kalian sendiri. Katakan pada Ayah dan Kiran, aku sangat menyayangi mereka." Napas Kenan terputus-putus.
"Tidak, Tuan Muda! Anda harus bertahan. Saya akan mencari cara untuk membawa Anda kembali ke atas. Jangan menyerah, Tuan Muda. Anda harus pulang dengan selamat!" pinta Mikael panik.
"Tidak! Aku sudah tidak sanggup bertahan. Tolong, maafkan aku. Sampaikan salamku pada Yuki. Aku mencintainya! Untuk sahabatku Regan. Dia amat berharga untukku."
Perlahan jemari Kenan mulai terlepas satu demi satu, ia sudah tak mampu lagi bertahan. Mikael meraung di atas sana, menyaksikan keputusasaan di wajah Kenan meski bibirnya tersenyum.
"Tidak! Tidak! Tunggu!" Mikael beranjak, ia harus mencari sebuah tali, tapi sesaat ia melangkah tubuh Kenan jatuh melayang. Mata pemuda itu terpejam, seperti waktu malam itu. Malam di mana ia menjatuhkan diri dari atap gedung sekolah untuk mengakhiri hidupnya.
"TUAN MUDA!" Mikael menjerit kuat, air matanya menetes menyaksikan tubuh Kenan yang melayang kemudian jatuh menyusul dua tubuh lainnya.
"Argh!" Kenan masih merintih sebelum benar-benar tak sadarkan diri. Ia bahkan masih melihat jasad Paman dengan kepalanya yang hancur membentur bebatuan.
Kepulan debu terbang membumbung tinggi ke udara, membuat Mikael merasa sesak. Ia meraung sebelum memerintahkan sisa orang yang dia miliki untuk turun mengambil jasad Kenan.
"Cepat! Semoga masih ada harapan, kita harus cepat!" katanya sambil menyusuri bebatuan yang menjorok ke bawah.
Tiga jasad itu sudah terlihat, dua di antaranya sangat mengenaskan. Kepala Paman hancur hingga isinya berhamburan keluar, sedangkan lawan Kenan perutnya menancap di bebatuan runcing hingga menembus ke bagian belakang. Kenan sendiri, jatuh cukup jauh dari keduanya.
"Cepat, angkat tubuh Tuan Muda. Berhati-hatilah jangan sampai kalian menambah luka pada tubuhnya!" titah Mikael dengan hati yang teriris pilu.
Menyusul, dua buah mobil datang bersiap membawa jasad mereka.
"Bagaimana dengan dia?" tanya salah seorang kepada Mikael. Tangannya menunjuk pada jasad yang menancap di atas batu runcing dengan pandangan iba.
"Biarkan saja dia, biarkan dia menjadi santapan binatang buas di sini! Cepat, hari sudah gelap. Kita harus segera pergi dari sini!" ucap Mikael lagi tanpa perasaan.
Mobil meninggalkan jurang bersamaan dengan sebuah jasad yang masih menancap di batu. Yang mereka tidak tahu, laki-laki itu masih hidup. Ia merintih kesakitan, seluruh tubuhnya terasa sakit terutama di bagian perut.
"Tolong!" lirihnya berharap bantuan. Suaranya parau, matanya mengabur menatap langit malam yang suram.
Tak lama, bunyi gemerasak terdengar berharap manusia yang datang dan akan menyelamatkan hidupnya. Perlahan kepalanya menoleh untuk melihat siapa yang datang. Dalam suramnya pandangan, ia dapat melihat beberapa sosok berjalan mendekat.
"Tidak!" katanya menggeleng. Kabur? Rasanya tidak mungkin, untuk menyingkirkan tubuhnya dari batu itu saja ia tak sanggup melakukannya.
"Jangan makan aku! Tidak!" katanya lagi ketakutan.
__ADS_1
Sekelompok serigala malam itu berlari, menerjang tubuhnya dengan buas dan lapar.
"TIDAK!" Raungan yang ia lakukan bersambut lolongan serigala yang salak-menyalak di kegelapan jurang.
Hingga tak lagi terdengar suaranya, menyisakan decapan lidah serigala yang mengoyak daging di tubuhnya. Mata laki-laki itu melorot lebar, ia tidak terima mendapatkan akhir hidup yang mengenaskan. Menjadi santapan serigala buas.
Sementara itu, Mikael membawa Kenan ke rumah sakit menyusul Shaka. Jasad Paman dibawa ke rumah Kenan untuk disemayamkan. Di rumah itu, Kiran dan Alex menunggu dengan cemas. Yuki dan Regan bahkan enggan pulang sebelum memastikan Kenan dan Shaka kembali dengan selamat.
"Ayah, kenapa Kakak lama sekali? Ini sudah malam," tanya Kiran pada Alex yang duduk gelisah di teras rumah bersama semua orang.
"Entahlah, sayang. Ayah juga tidak tahu, kita tunggu kabar dari paman Mikael semoga mereka semua selamat," sahut Alex bergetar.
Berkali-kali Leo menghubungi nomor pengawal Alex itu, tapi tak dapat tersambung. Mereka putus asa dan duduk menunggu cerita.
"A-ayah!" Kiran tiba-tiba saja merasa sesak. Ia memegangi dadanya, mulutnya megap-megap mencari udara.
"Kiran!" Alex panik, segera membawa putrinya masuk ke dalam.
"Kiran, kenapa, Nak?" Yuki dan Regan juga Leo ikut menyusul. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi pada gadis kecil itu.
"Ka-kakak ... Ka-kakak!" Hanya itu yang terucap dari lisannya. Mata Kiran melotot, rongga dadanya terhimpit sesuatu menghambat pasokan udara ke dalam paru-parunya.
"Cepat, panggil dokter!" Leo menghubungi dokter pribadi Alex dengan cepat memintanya segera datang.
Tak butuh waktu lama, dokter itu pun datang. Kiran masih pada kondisi yang sama kesulitan bernapas. Dokter itu dengan cepat memasang selang oksigen memberikan pasokan udara walau seadanya.
Kiran tertidur setelah tenang.
"Apa yang terjadi pada anakku?" tanya Alex dengan cepat.
"Nona kecil mengalami sesak karena terlalu mencemaskan sesuatu. Beliau juga mengalami trauma berat, kemungkian akan koma selama beberapa ke depan, tapi semoga saja tidak akan lama," jelas dokter setelah melakukan serangkaian pemeriksaan pada kondisi Kiran.
"Astaga!" Alex mengusap wajahnya frustasi. Kenan saja belum kembali, kini ditambah Kiran yang tak sadarkan diri.
"Terima kasih, Dokter!" Leo berucap mengantikan Alex. Ia mengantar dokter tersebut ke luar.
"Leo, cari kabar tentang Mikael dan kedua anakku secepatnya. Aku tidak mau tahu, kau harus segera menemukan mereka!" perintah Alex begitu Leo kembali.
"Baik, Tuan!"
__ADS_1