
Steve meraung di sisa puing-puing rumah yang hangus terbakar, berikut seluruh manusia yang ada di dalamnya. Tak satupun dari mereka selamat termasuk Teddi dan Ibunya.
"Tenang, Tuan. Polisi sedang mencari penyebab terjadinya kebakaran. Anda harus kuat, bukankah Anda masih memiliki apartemen di tengah kota? Anda bisa pulang ke sana jika masa hukuman telah selesai," ucap salah satu sipir yang mengantar kepulangannya.
Sepemergian Mikael bersama Teddi tadi siang, Steve meminta izin kepada pihak kepolisian untuk pulang melihat sendiri anaknya di rumah bersama sang istri. Kenyatannya yang harus dia lihat adalah kebakaran hebat yang menimpa rumahnya. Aset-aset dan dokumen penting semuanya hangus terbakar.
Di tengah keputusasaan, seseorang datang menghampirinya. Steve masih saja menangis, mencakar lantai yang telah berubah warna hingga semua kuku jarinya ikut menghitam. Bau gosong menyeruak memenuhi indera pembau mereka. Satu per satu korban dikeluarkan dari dalam rumah.
"Tuan Steve, apartemen dan perusahaan Anda mengalami kebakaran ... astaga! Apa ini?" Ia termangu melihat rumah besar itu hanya tinggal tiang-tiang gosong yang berdiri.
"Ah, tapi Anda tenang saja, tim pemadam sedang berusaha untuk memadamkan apinya dan menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan," lapor seseorang yang ia tahu itu adalah petugas keamanan perusahaan miliknya setelah tersadar untuk apa dia datang.
"Apa kau bilang? Katakan jika semuanya tidak benar!" pinta Steve tidak terima.
"Semuanya benar, Tuan. Bukan hanya perusahaan Anda, tapi perusahaan lain yang bekerjasama dengan Anda juga ikut terbakar bahkan rumah milik kekasih tuan Teddi pun sama terbakar. Bedanya, istri beliau selamat dan kedua anaknya meninggal dalam keadaan mengenaskan," jawabnya tak menutupi apapun.
"Habislah sudah! Alex ... ini pasti perbuatan Alex. Aku harus menuntut balas. Aku tidak ingin menderita," katanya dengan geram seraya berjalan sempoyongan meninggalkan rumahnya yang hangus.
Para sipir penjara tidak membiarkannya pergi, mereka dengan cepat menangkapnya dan memasukkan kembali ke dalam mobil.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku akan menuntut balas kepada Alex. Dia harus mati!" teriaknya meronta-ronta dari cekalan dua sipir yang mencekalnya.
Steve kembali ke penjara bahkan ia tidak melihat pemakaman anak dan istrinya karena harus mendekam dibalik jeruji besi bersama yang lainnya.
Di jalanan, bibi Kenan dan Roni berjalan terlunta-lunta. Tak ada arah tujuan, Alex memang membebaskan mereka dari penjara, tapi setelah keluar untuk makan saja mereka kesulitan.
"Ibu, kenapa kita tidak ke rumah Tuan Steve saja? Mungkin dia bisa menerima kita," usul Roni dengan manik yang berbinar.
__ADS_1
Ria berpikir, "Benar juga. Kalau begitu kita harus pergi ke sana. Tinggal dan menetap di sana sebagai tamu Steve. Ayo! Kau memang jenius?" pujinya senang.
Keduanya melangkah menyusuri jalanan, terlihat lebih bersemangat daripada sebelumnya. Senyum tercetak di wajah mereka, membayangkan makanan enak tiba-tiba saja merasa lapar. Kasur empuk yang mereka tiduri setiap malam, ingin segera melompat ke atasnya. Menari sambil terus bernyanyi di sepanjang perjalanan menuju rumah Steve.
Mereka terperangah saat tiba di komplek perumahan elit dan modern, melihat kepulan asap yang membumbung tinggi beserta apinya. Ria dan Roni gegas berlari mendatangi lokasi kebakaran. Pupus sudah harapan saat yang mereka lihat adalah rumah Steve yang hangus terbakar.
"Ibu?" Roni menganga tak percaya.
"Tidak! Ini semua pasti bohong. Tidak mungkin terjadi! TIDAK!" Ria menjerit sejadi-jadinya. Tempat kembali satu-satunya pun kini telah menjadi puing-puing yang lapuk. Beruntung, api tidak melahap bangunan di sekitarnya.
Malam itu penderitaan mereka dimulai. Pembalasan Alex berlaku sepanjang hidup mereka. Laki-laki itu tersenyum puas setelah mendengar laporan dari orang-orangnya.
"Kini kau bisa tenang di alam sana, Nak. Semua orang yang sudah berbuat jahat padamu, telah mengikuti jejakmu. Jika kau bertemu dengan mereka di alam sana, balaslah mereka dengan yang setimpal atau lebih."
Alex bergumam sambil menatap langit kelam dari balik jendela kamarnya. Suara pintu berderit membuatnya teralihkan, ia berbalik dan menunggu siapa yang dengan lancang masuk ke kamar tanpa mengetuk.
"Sayang, kemarilah!" Alex melambaikan tangan meminta Kiran untuk mendekat. Ia tersenyum, tapi tidak dengan gadis kecil itu.
Langkah kecilnya berayun pelan, mendatangi tempat Alex berdiri menunggu.
"Apa yang Ayah lakukan?" tanyanya setelah berada di hadapkan laki-laki itu.
Alex berjongkok, ia mengusap kedua bahu ringkih Kiran sambil terus tersenyum menghiburnya.
"Tidak ada, sayang. Ayah hanya sedang melihat langit yang terus menangis tiada henti."
Alis Kiran bertaut satu sama lain, hilangnya senyum Kiran sungguh membuat hati Alex menjerit kesakitan. Ia ingin anaknya itu kembali, tersenyum dan ceria juga banyak bicara seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Ada apa? Kau ingin bercerita?" tanya Alex seraya mengangkat tubuh kiran dan mendudukkannya di atas meja rias. Tangannya mengurung Kiran, menunggu gadis kecil itu menjawab.
Tak ada sahutan untuk beberapa saat lamanya, Kiran menatap manik sang Ayah sebelum memeluk lehernya.
"Ayah, apakah langit ikut menangis karena Kakak pergi?" tanyanya dengan lirih.
Alex tertegun, ia menciumi pundak putrinya berulangkali. Tak ada aroma kebahagiaan apalagi keceriaan. Ia rindu sosoknya yang humoris.
"Benar, sayang, tapi langit juga akan tersenyum esok hari melihat Kakakmu tenang dan bahagia. Dia tidak akan terus menangis karena hal itu akan membuat Kakakmu bersedih. Jadi, langit harus tersenyum memberi kehangatan agar tetap membuatnya bahagia," ucap Alex berharap Kiran akan mengerti bahwa kepergiannya tak harus selalu ditangisi.
Kiran tidak menyahut, hanya pelukannya saja yang terasa bertambah erat. Tubuhnya bergetar, ketakutan, itulah yang ditangkap Alex.
"Ayah, Kiran takut. Kiran sering bermimpi buruk tentang kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Kiran tidak ingin tidur sendiri, apa Kiran boleh tidur di sini bersama Ayah?" ucap Kiran takut-takut tanpa mengangkat wajahnya dari pundak Alex.
Jatuh air mata laki-laki itu, satu-satunya agar Kiran kembali tersenyum adalah dia yang masih terbaring di ranjang rumah sakit segera bangun dan menghiburnya. Tanpa berucap Alex mengangkat tubuh Kiran dan menempatkannya di atas ranjang. Bersamanya ia dibaringkan, memeluk dan memberi keamanan.
"Tidurlah, ada Ayah di sini. Kau aman bersama Ayah, sayang," ucap Alex sambil mengusap-usap rambut putrinya yang panjang.
Kiran memejamkan mata, wajahnya terbenam di dada Alex dengan tangan yang melingkar di perutnya. Hangat dan nyaman, tapi tidak memberikan rasa aman seperti pelukan Kenan.
"Ayah, kapan kita ke rumah sakit menjenguk Kakak?" tanya Kiran dengan suara berat terdengar.
"Jika kau sudah pulih, sayang. Kita akan menjenguk Kakak, dia butuh kekuatan, kebahagiaan, dan keceriaanmu untuk dapat bangun dari tidurnya. Berikan dia senyuman, bawakan dia celoteh yang panjang, agar dia bosan menutup mata," ucap Alex terus berharap Kiran mengerti apa yang harus dia lakukan.
"Tidurlah, kau harus istirahat, sayang." Alex mendekap tubuh kecil itu.
Ia tak dapat memejamkan mata sama sekali, tapi harus berpura-pura tertidur agar Kiran dapat terlelap dalam pelukannya.
__ADS_1