
Tok-tok-tok!
"Ayah, apa Ayah sudah bangun?"
Suara pintu diketuk terus menerus dari luar mengusik tidur Alex yang nyenyak. Semalam, ia tak dapat tidur dan menjelang diri hari barulah matanya terpejam.
"Ayah! Ayo, bangun!" Suara Kiran kembali terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Tunggu? Bukankah dia tidur dalam pelukanku semalam?
Alex mengernyit, kelopak matanya masih terpejam. Ia meraba-raba bagian samping tubuhnya di mana semalam Kiran tertidur. Kosong.
"Ayah!"
Alex membuka lebar matanya, ia beranjak cepat, mengucek mata sebelum kembali mendengarkan suara nyaring di luar kamarnya.
"Ayah, oh ... Ayah! Sudah siang kenapa masih tidur?" teriak Kiran lagi.
Alex tersenyum, bergumam tak percaya.
"Kiran?" lirih lisannya menyebut nama sang anak.
Ia turun dari ranjang, secepat kilat berlari membuka pintu. Gadis kecil itu berdiri dengan kedua tangan terlipat di perut. Bibirnya mengerucut lucu, kesal karena laki-laki tua itu terlalu lama membukakan pintu untuknya.
"Kiran?"
"Kenapa Ay-"
"Eh?"
Suara Kiran terpotong karena Alex tiba-tiba memeluknya. Laki-laki itu terisak lirih, menangis haru melihat putrinya kembali seperti dulu.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Kau telah mengembalikan putriku. Terima kasih," ucapnya lirih dan bergetar.
Rasa bahagia terus menyelimuti hati, mengusir rasa cemas yang beberapa hari lamanya menetap dalam hati. Sungguh, rasanya tak dapat dituangkan dalam bentuk kata-kata. Terlalu bahagia, dan membuatnya ingin terbang menembus awan.
__ADS_1
Kiran tersenyum mendengar gumaman lirih sang Ayah. Ia balas memeluk Alex dengan lembut. Sadar bahwa sikapnya yang murung membuat Ayahnya itu menderita.
Alex melepas pelukan, mengusap-usap rambut Kiran yang masih berantakan dan sedikit basah. Senyum di wajahnya membentuk rasa bahagia yang tak terhingga, Alex menemukan kembali hidupnya.
"Kiran? Apa yang terjadi, Nak?" tanyanya menatap lekat manik yang sama dengan mendiang sang istri.
Semua ini aku lakukan demi Kakak. Aku ingin bertemu dengan Kakak, aku ingin membangunkan Kakak. Aku ingin bermain lagi bersama Kakak.
"Tidak ada, cepatlah, Ayah. Aku tidak bisa menyisir rambutku. Lihat, kusut dan berantakan," katanya sedih. Wajahnya murung dengan bibir yang cemberut, tangannya mengangkat sedikit rambut menunjukan pada Alex.
Laki-laki tua itu terkekeh, ia menyusut sudut matanya yang tergenang air.
"Baiklah, ayo, Ayah akan menyisir rambutmu dan mengikatnya," katanya seraya mengajak Kiran menuju ruang keluarga tempat mereka selalu berkumpul menghabiskan waktu bersama.
Alex mengambil sebuah alat pengering rambut, mengeringkan rambut Kiran yang masih basah. Ia mulai menyisir dengan pelan.
"Sayang, bukankah semalam kau tidur dengan Ayah?" tanya Alex mencari jawaban.
"Benar, tapi Kiran tidak dapat tidur karena sudah dengkuran Ayah yang cukup keras. Kiran memutuskan pindah ke kamar Kiran sendiri tanpa membangunkan Ayah. Kiran tidak ingin tidur Ayah terganggu," ucap gadis itu panjang lebar.
"Nah, sudah selesai." Alex mengikat ratu rambut Kiran. Rapi meskipun tidak sesempurna Kenan.
"Mmm ... lumayan, tapi lebih rapi jika Kakak yang melakukannya. Ayah, ayo kita ke rumah sakit melihat Kakak," ucapnya memohon.
Ada kesedihan mendalam meskipun bibirnya tersenyum, tapi setidaknya gadis itu tak lagi murung dan menutup diri.
"Iya, sebentar, Ayah mandi dulu." Alex beranjak ke kamarnya melakukan persiapan kecil sebelum pergi menjenguk satu putranya yang masih terbaring lemah.
"Ayo!"
Kiran antusias menyambut uluran tangan sang Ayah, di depan Regan sudah menunggu. Sahabat Kenan itu tak ingin tertinggal, ia dan Kiran merencanakan pergi pagi itu setelah semalam membuat kesepakatan.
"Regan, aku kira kau pulang," ucap Alex saat melihat remaja itu.
"Tidak, Tuan. Saya berencana ikut dengan Anda hari ini." Alex mengangguk dan tersenyum melihat semangat Regan untuk mengunjungi rumah sakit.
__ADS_1
Mereka berada di satu mobil yang sama dengan Leo sebagai supir. Alex terus tersenyum sepanjang perjalanan, ia mengusap-usap bahu Kiran yang duduk di sampingnya. Gadis itu mulai berceloteh, menceritakan mimpinya bertemu dengan sang Ibu juga kedua Kakaknya.
Sementara di rumah sakit, seseorang duduk di samping ranjang pesakitan. Di atas ranjang itu seorang pemuda terbaring lemah dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya. Ia tak beranjak sama sekali dari sisi ranjang pasien itu, berharap akan melihat keajaiban kelopak mata itu terbuka.
"Kapan kau akan membuka matamu? Tidakkah kau bosan tertidur?" gumamnya sambil menggenggam tangan pemuda tersebut dan sesekali akan menciuminya.
"Bangunlah, buka matamu. Janganlah kau berlama-lama dalam tidur, aku rindu." Air mata menetes membasahi kulit hangat pemuda itu.
Namun, seberapa keras pun ia berusaha membangunkannya, mata itu masih terus menutup. Tak ada tanda-tanda akan terbuka, dan kembali bertatapan dengannya. Setiap beberapa jam sekali, tim medis akan datang memeriksa. Mengecek keadaan jantung, juga memeriksa matanya.
Namun, kini ia sendirian setelah ditinggalkan pergi. Tak ada siapapun yang menunggu di sisinya. Seseorang membuka pintu, di tangannya menggenggam satu buket bunga mawar segar. Harumnya menyeruak di seluruh ruangan, ia menyimpan bunga itu pada sebuah pot menggantikan bunga yang telah layu.
Ia berbalik seraya mengulas senyum menatap pemuda yang masih setia dalam tidurnya.
"Hai, aku telah membuat susunan rencana untuk kita jalani saat kau pulih nanti." Ia berjalan mendekati ranjang pasien. Mengecup dahinya sebelum duduk di tempat biasa.
"Kenan, kumohon bangunlah! Sampai kapan kau akan berbaring di sini. Apa sebegitu beratnya luka yang ada di sekujur tubuhmu? Jika iya, berikan padaku separuh kita tanggung bersama-sama. Bangunlah, Kenan. Kumohon!"
Isak tangis Yuki terdengar lirih, ia menunduk meletakkan dahinya di tangan Kenan yang masih terkulai lemas. Entah, sampai kapan mata itu akan terus tertutup. Padahal sudah dua Minggu berlalu sejak kejadian itu, setiap hari dia tak bosan mengajaknya berbicara.
Setiap saat berceloteh bahkan Yuki memilih tidur di rumah sakit untuk menunggunya. Ia takut disaat memutuskan pergi, kelopak mata itu terbuka. Tetap saja, dia masih ingin tertidur dan dibuai alam mimpi.
Tak lama pintu diketuk, gadis itu mengernyit pasalnya ini bukanlah jam pemeriksaaan. Buru-buru Yuki menyusut air matanya begitu telinga menangkap suara derap langkah yang banyak.
"Kakak!" Teriakan di gadis kecil menggema, Yuki berbalik. Tersenyum sambil beranjak, menunggu kedatangan Kiran.
"Hallo, sayang. Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah lebih baik?" tanya Yuki sambil memeluk tubuh Kiran dan mencium pucuk kepalanya.
Kiran melepas pelukan, memandang Yuki dengan senyuman.
"Terima kasih karena Kakak sudah bersedia menjaga Kakakku. Kakak pasti bosan karena pemuda itu tak kunjung membuka matanya," goda Kiran sambil melirik pilu pada Kenan yang terbujur lemah tak berdaya.
"Tidak juga. Kita akan sama-sama membangunkannya, memaksanya untuk membuka mata dan mengajak kita bermain juga makan es krim. Ayo, kita bangunkan dia dengan paksa," ucap Yuki bersemangat.
Padahal hatinya pilu, melihat mata sembab Kiran meskipun bibirnya mengulas senyuman.
__ADS_1