
"KENAN!"
Yuki memekik kuat, seraya berlari melompati garis pembatas mencoba menangkap tubuh Kenan. Namun, seseorang mencekal tangannya dengan kuat.
Bugh!
"Kakak!"
"KENAN!" Ia kembali menjerit saat tubuh kekasihnya itu jatuh menghantam kain yang dibentangkan. Yuki melepaskan cekalan Regan dan berlari mendekati kain tersebut.
"Kenan!"
"Kakak!" Kiran dan Shaka datang untuk melihat. Tak tega melihat Kenan yang pucat dan tak sadarkan diri, Shaka menyingkirkan Yuki seraya mengangkat tubuh Kenan dan membawanya menuju parkiran.
"Tuan Muda!" Mikael baru saja mengamankan pelaku kejahatan sesaat ia melihat Shaka membawa tubuh Kenan. Yuki dan Regan ikut berbaur tak ingin tertinggal.
"Cepat! Masukan ke dalam mobil!" perintah Mikael setelah membukakan pintu untuk Shaka. Pemuda itu meletakkan Kenan di atas jok belakang sebelum menyusul masuk. Mikael bertindak sebagai supir menjalankan kuda besi itu dengan cepat.
Kedua temannya pun ikut menyusul mengekor di belakang. Shaka terlihat cemas, tapi tak banyak bicara. Ia terus memperhatikan Kenan sampai terlupa sesuatu.
"Adik, apa kau baik-baik saja?" Ia menoleh ke sisi lain tubuhnya untuk memastikan keadaan Kiran.
"Adik!" Mata Shaka membelalak karena tak dapat menemukan Kiran di sisinya, "Pak, berhenti! Adik tidak ada, aku harus kembali ke tempat ramai itu untuk mencarinya," lanjut Shaka memekik pada Mikael. Sontak mobil menepi mendadak.
"Bapak bawa saja Kakak ke rumah sakit, aku akan mencarinya sendiri," katanya, seraya turun dari mobil dan berlari kembali ke taman hiburan. Mikael tak ingin mengambil resiko, ia menghubungi Leo dan menjelaskan situasinya. Dia juga menghubungi orang-orangnya untuk segara datang ke taman hiburan membantu Shaka mencari Kiran. Setelahnya, laki-laki bertubuh besar itu melesat ke rumah sakit.
Taman ditutup lebih cepat karena insiden yang menimpa bianglala. Tak peduli pada semua orang, Shaka terus menerobos masuk membelah kerumunan orang-orang yang berjalan keluar.
"Adik!" teriaknya memanggil Kiran. Ia belum ingat betul nama gadis kecil itu.
"Adik! Di mana kau?"
__ADS_1
Suaranya tenggelam di antara lautan manusia, tapi ia tetap tidak menyerah. Shaka terus berlari ke segala arah, berharap akan bertemu dengan gadis kecil yang dicarinya.
"Ke mana Adik? Kenapa tidak ada di mana pun?" gumamnya dengan napas tersengal-sengal karena letih. Shaka tidak menyerah, dia mencari lagi sesekali akan bertanya kepada orang yang ia jumpai.
Sementara di tengah lautan manusia, seorang gadis kecil menangis tersedu. Kepala menoleh ke segala arah mencari sosok kedua Kakaknya. Tak satupun dari mereka yang dia kenal. Kiran diam tak bergerak, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dan mengangkat tubuhnya. Kiran meronta, menjerit dan mati-matian melawan dengan cara menggigit daging tangan tersebut.
Namun, semua percuma, tangan itu tak kunjung lepas dari mulutnya. Jeritan Kiran mengusik telinga Shaka yang masih mencarinya. Pemuda suku itu menoleh, dan seketika melotot lebar melihat Kiran dibawa seseorang.
Shaka berlari, memacu kedua kakinya dengan kecepatan di luar kemampuan orang biasa. Shaka melompat, menerjang punggung laki-laki yang membawa Kiran berlari. Ia jatuh tersungkur cukup keras, wajahnya menghantam tanah.
Kiran ikut terjatuh, buru-buru Shaka mengambilnya dan memeluk tubuh sang adik yang gemetar hebat. Ia menangis ketakutan.
"Kakak!" Kiran membenamkan wajah di perut Shaka, kedua tangannya melingkar erat, tapi hatinya merasa lega.
"Sebentar!" Shaka melepas tubuh Kiran dan mengejar laki-laki tadi. Ia tak akan membiarkannya lari begitu saja, ditariknya baju laki-laki itu dari belakang dengan kuat. Shaka menyeretnya tanpa bekas kasihan mendekati Kiran. Menjatuhkannya cukup kuat sebelum menghajar habis-habisan hingga tak berdaya.
"Beraninya kau mau menculik Adikku!" geram Shaka, sekali lagi kaki besarnya itu menginjak kepala si penjahat hingga membentur kerikil yang berserakan di tanah.
Tak peduli pada jeritan pengunjung yang melihatnya, Shaka menggendong Kiran yang masih menangis sesenggukan dan pergi meninggalkan tempat itu. Darah segar merembes di wajah penjahat tadi, ia tak hanya pingsan dan tak berdaya, tapi mati meregang nyawa.
"Kiran!" Mendengar suara Alex memanggil, Kiran mengangkat wajah dan menoleh.
"Ayah!"
Gadis kecil yang sudah mulai tenang tadi, kembali menangis saat melihat Alex yang berlari ke arah mereka. Kiran beralih gendongan ke pelukan sang Ayah, menumpahkan ketakutan yang menguasai hati kecilnya.
"Ayah, Kiran takut," katanya mengadu.
"Terima kasih," ucap Ayah kepada Shaka. Pemuda itu mengangguk tanpa ekspresi senyum di wajahnya. Leo mengiringi langkah mereka memasuki mobil, menyusul Kenan yang dibawa Mikael ke rumah sakit.
"Cari tahu siapa dalang dibalik semua kejadian ini, Leo! Aku tak akan tinggal diam. Beraninya mengusik keluargaku!" titah Alex menggeram marah.
__ADS_1
Ia memangku tubuh Kiran, menepuk-nepuk punggung anaknya yang masih berguncang karena tangisan. Menenangkan hatinya yang masih merasa takut karena mengalami dua kali penculikan.
"Shaka, kau tak apa?" tanya Alex pada pemuda yang terus bungkam sejak ia menghajar penjahat tadi.
"Aku tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya lapar," katanya sedikit pelan. Kiran mengangkat wajah, air mata di pipinya diseka Alex dengan lembut.
"Kakak Shaka menghajar penjahat itu sampai pingsan, Ayah, tapi kakak Kenan jatuh dari bianglala dan sekarang dibawa paman Mikael ke rumah sakit." Kiran kembali membenamkan wajah di pundak Alex.
Rasa hangat pelukan sang Ayah menenangkan hatinya yang masih dilanda rasa takut luar biasa.
"Iya, Ayah sudah mendengarnya. Kita akan pergi ke sana untuk melihat. Sudah, kau harus tenang, ya. Bukankah Kak Shaka sudah mengalahkan penjahatnya?" Kiran mengangguk dan mulai meredakan tangisnya.
Mobil terus bergerak membelah keramaian ibukota. Leo tak mengurangi kecepatannya, menyalip beberapa kendaraan dengan mudah agar cepat menyusul Kenan.
Di sisi lain, orang-orang Mikael berhasil menemukan dua orang yang bersembunyi. Mereka menyamar menjadi pedagang tanpa dicurigai. Membawa keduanya ke tempat di mana Mikael sendiri yang akan menangani.
"Tuan, rencana kita gagal!" lapor seseorang kepada Steve yang menjadi dalang di balik kejadian hari itu.
"Bodoh!"
Plak!
Satu tamparan mendarat keras di wajahnya hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi.
"Melakukan tugas seperti itu saja tidak becus! Aku tidak mau tahu, kedua anak Alex harus kalian culik!" geramnya tanpa jera.
"Ba-baik, Tuan!"
"Cepat pergi! Apa lagi yang kau tunggu?!" hardiknya dengan mata melotot hampir melompat keluar.
"I-iya, Tuan." Gegas dia berlari keluar ruangan, tak ingin lagi merasakan panasnya hantaman tangan sang majikan. Dia mengajak beberapa orang untuk melakukan pengintaian di rumah sakit.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu jika mereka berada di rumah sakit?" tanya rekan yang ia ajak untuk melakukan misi.
"Aku tak sengaja mendengarnya tadi. Sudahlah, yang penting kali ini kita tidak boleh gagal," katanya sambil terus berjalan menuju sebuah mobil dan memasukinya. Tak ada jera memang.