
"Tuan!" Leo datang terburu-buru, garis wajahnya nampak pucat dan panik bahkan, ada tetesan keringat di dahinya.
Alex yang mendengar lekas menoleh, mengernyit saat mendapati wajah pucat sang asisten.
"Ada apa? Kau sudah mendapat kabar dari mereka?" tanya Alex seraya beranjak dari tempat tidur Kiran di kamar tamu.
Yuki dan Regan yang duduk menunggu, ikut mendongak demi dapat mendengar dengan jelas kabar tentang Kenan dan Shaka.
"Mikael datang membawa jasad seseorang. Dia di depan, kondisi mayatnya sangat mengenaskan!" lapor Leo cemas.
Alex tak lagi bicara, ia melangkah cepat keluar ingin segera melihat siapa yang dibawa Mikael disusul Regan dan Yuki yang mengekor di belakang.
"Mikael! Di mana kedua anakku?!" tanya Alex dengan cepat begitu melihat pengawalnya itu.
"Tuan, tuan muda Shaka dan tuan muda Kenan berada di rumah sakit sedang mendapatkan penanganan dari dokter," ucap Mikael dengan hati yang meringis.
Padahal, ia sedang menyembunyikan fakta bahwa salah satu di antara mereka sedang sekarat.
"Lalu, siapa yang kau bawa?" tanya Alex melirik sebuah jasad yang ditutupi kain.
"Itu tuan Edwin, beliau datang menyelamatkan tuan muda Kenan dan mengorbankan dirinya sendiri," jawab Mikael.
Alex tercenung, rasanya tidak mungkin mengingat adiknya itu selama ini membenci dirinya juga kehidupan yang dia jalani. Rasa tak percaya merundung hatinya jika saja yang berbicara bukanlah Mikael, ia tak akan pernah mau menerima jasad itu di rumahnya.
Yuki dan Regan menunggu dengan cemas, hatinya bergolak saat mendengar kabar tentang Kenan. Ia ingin pergi melihat kekasihnya itu, dan bila perlu menungguinya di rumah sakit sampai pulih seperti sedia kala.
"Regan, aku ingin ke rumah sakit," ucapnya panik sambil mencengkeram lengan regan.
__ADS_1
"Tunggu, Yuki. Kita harus berpamitan dulu, tunggu sampai Tuan Alex menjadi tenang," ucap Regan memberi pengertian pada sahabatnya itu.
Keduanya menatap Alex yang berjalan pelan menghampiri sosok yang ditutupi kain di atas lantai itu. Ia duduk berjongkok di samping kepalanya, kemudian membuka kain yang menutupi wajah jasad itu dengan pelan.
Alex terperenyak, wajahnya menegang, kedua mata melotot lebar mendapati jasad sang adik dalam kondisi mengenaskan.
"Argh!" Yuki menutupi wajahnya dengan kedua tangan, merasa tak sanggup menatap jasad malang itu. Regan pun ikut memalingkan wajah, tak tega menyaksikan kemalangan yang menimpa paman Kenan itu.
"Astaga! Adikku!" Alex meraung keras sebelum memeluk tubuh kakunya.
Bagaimanapun sikap Edwin terhadapnya, ia tetap menyayangi adiknya itu. Adik yang terlalu mudah menangis saat teman sekolahnya mengganggu. Adik yang selalu iri dengan apa yang dimiliki Alex, selalu ingin memiliki apa yang dia punya.
Kilasan balik cerita dari masa ke masa menguar ke permukaan. Membangkitkan sebuah cerita yang telah usang dimakan waktu. Alex menangis tersedu, ia bahkan belum sempat meminta maaf untuk kenakalan yang pernah ia perbuat.
"Edwin! Kenapa kau melakukan ini semua? Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu sendiri untuk anakku?" ucapnya bergetar pilu.
Tidak ada yang berani mendekat, mereka semua segan dan takut akan membangkitkan sisi murka Alex.
Punggung Alex diusap-usapnya, menyalurkan ketenangan pada hatinya yang tengah rapuh saat ini. Alex menggelengkan kepala, tak akan ia membiarkan jasad adiknya sendiri di rumah. Alex menoleh pada Yuki dan Regan, menatap kedua teman Kenan dengan pandangan sendu penuh kesedihan.
"Biarkan mereka berdua yang pergi melihat mereka. Tak akan mungkin aku meninggalkan adikku apalagi Kiran yang sedang koma. Siapa yang akan dilihatnya saat mata itu terbuka dan tak ada siapapun di sampingnya." Alex berucap lirih.
"Baik, Tuan. Jika begitu biarkan kami yang melihat kondisi Kenan di rumah sakit. Anda tetap di sini menjaga Kiran," sahut Regan dengan yakin.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mereka yang sedang menunggu untuk meminta izin Alex ke rumah sakit, langsung saja meninggalkan rumah itu saat Alex yang memintanya.
Mikael sedikit merasa lega, ia hanya cemas bila tuannya ke rumah sakit sekarang juga akan bertambah sedih melihat salah satunya dalam keadaan sekarat. Ia berharap esok keadaan sudah lebih baik, dan keduanya selamat tak ada siapapun yang meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Tuan?"
Mikael bersuara, tapi tak dapat melanjutkannya. Melihat kesedihan Alex, hatinya ikut merasa pilu. Laki-laki itu beranjak, pandangannya terus menatap jasad sang adik yang terbujur kaku.
"Bersihkan mayatnya sekarang juga, panggil dokter tadi untuk turut mengurusnya. Kita akan memakamkannya malam ini juga," titah Alex seraya melengos pergi dan kembali ke tempat Kiran berada.
Leo dengan cepat melaksanakan perintah tuannya, ia memanggil dokter tadi meminta bantuannya membersihkan luka di tubuh paman Kenan sebelum dimakamkan. Dokter dan dua asistennya datang dengan cepat, mereka mengurus jenazah paman Kenan dengan baik.
Malam itu juga, jenazah paman Kenan dimakamkan. Di lahan kosong yang tak jauh dari rumahnya. Lahan itu berada di belakang dan terlindungi oleh pagar, tak ada yang dapat melihatnya karena selain tembok pagar yang tinggi juga keadaan yang gelap.
Di sisi lain, Regan dan Yuki berada di depan ruang ICU menunggu Kenan dan Shaka yang terbaring di dalam ruangan dengan berbagai alat medis menempel di tubuh mereka.
"Sudahlah, jangan menangis terus. Sebaiknya kita doakan mereka semoga keduanya selamat dan kembali berkumpul bersama kita lagi," ucap Regan menenangkan Yuki yang tak henti menangis.
Mata gadis itu sembab dan membengkak, wajahnya memerah akibat tangis yang tak juga mereda. Hatinya tersayat pilu melihat kekasih hati yang berada antara hidup dan mati.
Dokter keluar ruangan dengan wajah lesu dan lelah, terlihat jelas di maniknya yang sayu juga garis wajahnya yang sedikit memegang. Regan dan Yuki gegas mendatanginya, mencecar dokter tersebut dengan pertanyaan seputar kondisi kedua orang itu.
"Kita berdoa saja semoga keduanya dapat selamat. Tak satupun dari mereka berdua dalam kondisi baik-baik saja. Keduanya kritis dan diambang Kematian."
Dokter menjelaskan, kekhwatiran jelas nampak di wajahnya yang sedikit keriput dan basah oleh keringat. Matanya melirik Regan dan Yuki secara bergantian.
"Kenapa begitu, Dokter?" Regan kembali bertanya ingin tahu.
"Satu di antara mereka terluka dalam di bagian dadanya. Yang lain, hampir seluruh tulang dalam tubuhnya remuk akibat membentur benda keras. Kemungkinan ia jatuh melayang dari atas dengan sangat keras. Seperti itulah kondisi keduanya, kita hanya menunggu keajaiban semoga salah satu atau bahkan keduanya selamat," papar dokter seraya pergi meninggalkan Regan dan Yuki.
Gadis itu luruh di lantai, menangis pilu. Ia membenamkan wajahnya pada lutut, seluruh sendi dalam tubuhnya melemas. Sungguh tak dapat ia bayangkan jika harus kehilangan Kenan. Rencana bahagia yang telah mereka susun harus pupus bersama kepergiannya.
__ADS_1
"Tidak mungkin! Kau harus selamat, Kenan. Kau sudah berjanji padaku akan menikahi aku. Kau harus menepatinya!" lirih Yuki gemetar.
Regan ikut duduk di sampingnya, ia tak melakukan apapun karena hatinya sama seperti gadis yang terus menangis itu.