Takdir Kenan

Takdir Kenan
Kesialan


__ADS_3

"Sungguh sial! Benar-benar sial! Aku lupa meminta nomor telepon Kenan!" umpat Regan pada dirinya sendiri.


Ia menendang udara dengan kesal, meninju pula dengan geraham yang saling beradu.


"Aku harus bergegas menemui Kenan, dia harus tahu. Maafkan aku, kawan, aku tidak bisa menjaga amanahmu," gumamnya lagi sambil berjalan menuju mobil.


Regan bergegas masuk ke dalam mobil, dan menjalankannya dengan kecepatan penuh. Restoran tujuannya.


"Kuharap kau masih di sana, Kenan. Kumohon, tetaplah di sana." Ia melipat bibir gugup, gelisah tak tentu hatinya.


"Ah, sial!" Regan menekan klakson mobil kuat-kuat ketika ia baru saja terjun ke jalan, kemacetan yang luar biasa langsung menyambutnya.


Regan membalik tubuh berharap menemukan jalan untuk memutar arah, tapi sialnya sekejap saja mobil-mobil itu sudah mengular beberapa ratus meter.


Ia memukul-mukul kemudi penuh emosi, membanting tubuh dengan kasar. Napas Regan memburu, peluh bercucuran karena rasa cemas yang tak dapat ia tahan. Meninggalkan mobil, rasanya tidak mungkin. Jadilah ia menunggu sampai kemacetan itu terurai.


Sementara Kenan, sedang bergelut dengan pekerjaannya mengawasi para pramusaji yang bekerja. Sesekali akan masuk ke ruangannya memeriksa laporan masalah yang dilakukan oleh para pelayan restoran tersebut.


"Kiran? Astaga ... ada apa dengannya? Kenapa hatiku rasanya tidak tenang?" Kenan membanting berkas laporan yang sedang dibacanya. Pandanganya mengedar gelisah, bayangan Kiran bermain di rumah melintas dalam pelupuk.


Ia beranjak, pergi meninggalkan ruangan terus berlanjut ke ruangan sang manager. Kenan gegas mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Masuk!" Suara perintah dari dalam tak membuat Kenan menunggu, ia langsung membuka pintu dan tanpa basa-basi masuk menghadap atasannya itu.


"Kenan? Ada apa? Kau terlihat gelisah? Apa ada masalah!" tanyanya beruntun.


Kenan duduk di kursi berseberangan dengan sang manager. Rasa gelisah masih melekat di wajahnya, sama sekali tak dapat ia sembunyikan.


"Begini, Pak. Apa bisa saya tidak lembur malam ini? Adik saya sendiri di rumah, dan hati saya tiba-tiba gelisah. Saya takut terjadi sesuatu di rumah, Pak," ungkap Kenan langsung pada intinya.


Manager tersebut manggut-manggut mengerti. Ia faham dengan kondisi Kenan yang yatim piatu. Untuk itu, ia tak pernah memaksa Kenan untuk lembur.

__ADS_1


"Ya sudah, pulanglah! Kasihan adikmu sendirian di rumah," titahnya penuh pemakluman.


"Terima kasih, Pak. Terima kasih," ucap Kenan seraya beranjak dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Ia tak menunggu lagi, lekas memasuki mobilnya dan berlalu cepat. Hari terus beranjak, petang pun mulai menampakkan diri. Warna jingga menyembul di ujung barat, sang mentari terus berlanjut ke peraduan.


Entah apa yang terjadi, tapi jalanan sore itu sangatlah dipadati kendaraan. Truk-truk besar, bus antar kota, belum lagi roda empat dan roda dua, ikut bergabung dalam arak-arakan kemacetan jalan raya kota tersebut.


"Kenapa jalanan macet sekali? Memangnya sedang ada acara apa?" umpat Kenan mulai dihinggapi jengah yang kian menyelubungi hatinya.


Hingga langit berubah menjadi gelap, barulah Kenan tiba di rumahnya dibarengi oleh Regan yang juga tiba di restoran. Ia bergegas masuk ke restoran mencari Kenan di tempat seramai itu.


Regan mengedarkan pandangan mencari sosok Kenan di antara mereka semua yang mengenakan seragam pramusaji.


"Kenan!" Regan memanggil namanya lantang, sontak semua orang berbalik ke arahnya dengan tatapan yang sama. Regan termangu, melihat puluhan pasang mata sekaligus mengarah padanya. Ia meneguk ludah sebelum pergi menemui seorang pramusaji untuk sekedar bertanya kepadanya perihal Kenan.


"Permisi, Nona. Bisa saya bertemu dengan Kenan? Ada hal penting yang harus saya beritahukan kepadanya," ucap Regan masih dengan raut cemas menggantung di kulit wajahnya.


"Ah, sial!" gumam Regan pelan, " baiklah. Terima kasih." Ia berbalik dan gegas menuju parkiran. Menjalankan mobilnya membelah jalanan menuju rumah Kenan sambil mengingat-ingat di mana letak rumah sahabatnya itu.


"Bagaimana jika nanti aku diusir lagi oleh bibinya seperti dulu?" Ia bergumam teringat akan masa dulu di mana Kenan masih berkuliah, Regan pernah mengunjungi rumahnya, tapi Bibi mengusir bahkan sebelum kakinya melintasi pagar rumah.


"Terserah, yang penting bisa bertemu dengan Kenan. Bila perlu memaksa aku akan memaksa," tekadnya. Ia belum tahu jika Bibi dan Paman Kenan sudah pergi dari rumah itu karena Kenan mengusirnya.


Regan memacu mobilnya lebih cepat. Sementara Kenan, ia mengernyit saat melihat lampu rumah belum menyala. Apa Kiran lupa menyalakan lampu? Hatinya yang sejak tadi merasa cemas, semakin tak karuan.


Ia bergegas turun, ketakutan sigap mendekap hatinya. Membuat tubuhnya tiba-tiba gemetar.


"Kiran!" panggilnya dari teras rumah sambil terus membawa langkah semakin mendekati rumah.


Tak ada sahutan, jantung Kenan semakin berdebar dengan tempo tercepat. Napasnya sudah pun memburu, sedikit sesak karena hantaman benda di dalam dadanya itu.

__ADS_1


"Kiran!" panggilnya sekali lagi. Ia telah berdiri di teras, menggedor pintu rumah yang terkunci.


"Kiran!" Suara Kenan semakin meninggi. Ia merogoh saku mengambil kunci cadangan. Membuka pintu utama segara dan langsung menerobos masuk ke dalam rumah.


Kenan cepat-cepat menghidupkan saklar lampu, sepi. Ruang tengah dan ruang televisi kosong tak ada siapa pun.


"Kiran! Sayang! Di mana kau?" teriak Kenan memanggil sang adik. Ia menyalakan semua lampu rumah, tapi tak jua mendapatkan Kiran.


"Apa mungkin dia tertidur?" gumamnya seraya memacu langkah menuju lantai dua rumah. Dibukanya pintu kamar Kiran, ditekannya saklar lampu. Kosong. Di kamar itu pun tidak terlihat adiknya meringkuk di atas ranjang.


Kecemasan semakin melanda hatinya. Keringat sebesar biji jagung sudah bermunculan di dahi dan merembes hingga ke leher dan punggungnya.


"Sayang, jangan bercanda. Di mana kau?" Suara Kenan mulai bergetar. Ia masuk dan menyibak selimut. Membuka lemari pakaian Kiran menyibak setiap baju yang menggantung di dalamnya.


Kenan mendatangi kamar mandi memeriksa tempat itu juga. Masih sama dengan tempat lainnnya. Kiran tak ditemukan di kamar tersebut. Ia masih berpikir positif, keluar dan berlari menuju kamarnya sendiri.


"Sayang, apa kau tidur di kamar Kakak?" Kenan terus menebak kemungkinan. Membuka cepat pintu itu, kakinya berayun cepat memasuki kamar mencari sang adik di sana.


Tebakannya benar, sepertinya Kiran sempat bermain di kamarnya karena ada boneka di sana. Kenan mengambil boneka yang teronggok di lantai tersebut. Menatapnya sedih sebelum bergegas membuka kamar mandi.


Ketakutan merundung hatinya. Ia membuka jas, dan melemparnya. Mengendurkan dasi yang terasa mencekik leher sebelum keluar dari kamar tersebut. Kenan kembali menuruni anak tangga menuju lantai satu.


Gegas mendatangi dapur, jantungnya berdegup disaat melihat pintu belakang terbuka lebar. Air matanya rembes begitu saja, ia berjalan pelan mendekati pintu tersebut. Memeriksanya dengan saksama. Pintu itu dibuka secara paksa karena mengalami kerusakan.


"Brengsek! Siapa yang sudah berani memasuki rumahku!" umpatnya dengan kedua mata yang memerah. Ia berbalik, besar kemungkinan Kiran diculik. Tak sengaja ekor matanya melirik sesuatu di atas meja makan, secarik kertas pemberitahuan tentang Kiran yang diculik dan juga syarat untuk membebaskannya.


Kenan meremas kertas tersebut, gerahamnya saling beradu menimbulkan bunyi gemeratak yang kentara.


"Bajingan! Rupanya dia mau bermain-main denganku! Baiklah." Kenan bergegas menuju depan rumah disaat sebuah deru mobil terdengar di halaman rumahnya.


Ia mengernyit melihat seseorang berdiri di sana, mematung dengan raut sedih yang kentara.

__ADS_1


"K-kau ...?"


__ADS_2