Takdir Kenan

Takdir Kenan
Menghibur Yuki


__ADS_3

Tok-tok-tok!


Suara ketukan pintu terdengar di ruangan sebelah. Seorang gadis cantik yang murung penghuninya. Ia masih dalam keadaan lemah tak berdaya, berbaring di atas ranjang pesakitan dengan mata terpejam.


Wanita paruh baya yang menjaga mendekati pintu seraya membukanya. Ia membelalak saya melihat Kenan berada di depan ruangan dengan seikat bunga mawar merah sambil tersenyum.


"Tu-"


"Ssst!"


Kenan meletakkan jari telunjuknya di bibir meminta wanita paruh baya itu agar diam tak bersuara. Ia mengangguk mengerti seraya membawa dirinya keluar ruangan. Kenan masuk ke dalam ruangan dengan didorong Kiran.


Ia tersenyum getir melihat wanita yang dicintainya terbaring lemah tak berdaya. Mata gadis itu tertutup, bibirnya yang selalu nampak merah dan basah kini terlihat pucat dan kering. Kiran mendekatkan kursi roda Kenan pada ranjang Yuki. Pemuda itu mengusap rambut sang kekasih seraya mengecup dahinya.


Yuki melenguh pendek, tidurnya terusik. Ia nampak lelap dan tenang setelah melewati masa berat yang panjang.


"Bu, jangan menggangguku. Aku masih mau tidur," racau Yuki tak sadar bahwa yang mengganggu adalah Kenan.


"Oh, kau masih ingin tidur? Jika begitu, aku akan kembali saja ke ruanganku."


Yuki membelalak saat mendengar suara Kenan. Ia tersipu melihat senyum manis menyambut netranya. Kulit wajahnya menghangat hingga ke telinga, ia merona.


"Untukmu!" Kenan meletakkan bunga yang dibawanya di samping Yuki berbaring. Gadis itu mengambilnya, mencium aroma segar dan kembali tersenyum.


"Terima kasih."


Kiran melangkah mendekati Yuki, gadis kecil itu memeluknya. Yuki terenyuh. Benar, ada gadis kecil ini yang menyayanginya. Kiran melepas pelukan, menatap Yuki sedih.


"Kakak kenapa sampai sakit? Apa paman Mika memperlakukan Kakak kasar? Sampai-sampai Kakak sakit seperti ini," cerocos Kiran dengan sedih.


"Benar, aku terkejut saat Regan mengatakan kau di ruang IGD. Apa yang terjadi? Apa yang dikatakan Regan benar? Kau sakit karena tertekan?" tanya Kenan. Manik coklatnya memancar dendam, apa yang terjadi pada Yuki cukup menyulut emosinya.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku memiliki kalian di sini, aku tidak akan pernah merasa kesepian. Ada Kiran yang akan selalu menghiburku dan kau, Kenan," ucap Yuki mencoba untuk menerima nasibnya.


Ia tersenyum tabah, tak mudah untuknya menjalani kehidupan yang berat tanpa orang tua. Ada, tapi seolah-olah tak ada.


Kenan turut tersenyum mendengar keinginan Yuki. Tak apa, asal senyum gadis itu masih dapat dilihatnya ia akan merasa senang.


"Jangan pernah menangis, kau tahu apa yang bisa aku lakukan saat kau menangis? Jika kau butuh teman dan tempat untuk menumpahkan keluh kesah datanglah padaku. Aku siapkan kedua bahuku untuk tempatmu bersandar," ucap Kenan sambil mengusap rambut gadis itu.


Yuki terpejam, tak sengaja air matanya jatuh karena rasa haru yang menyeruak di hati. Kenan mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.


"Kenapa kau menangis lagi?" tanya Kenan lemah dan lirih.


Yuki menggelengkan kepala. Membuka mata dan menatap Kenan penuh arti. Yuki memeluk tubuh Kenan, menangis dalam pelukan kekasihnya itu. Laki-laki itu mengusap kepalanya dan sesekali menciumnya. Menyalurkan rasa cinta di hati untuk memberi kekuatan pada gadis rapuh itu.


"Terima kasih, karena kau selalu ada untukku saat aku membutuhkannya. Jangan tinggalkan aku, Kenan. Kau tidak memiliki siapapun untuk berbagi selain kalian. Jangan tinggalkan aku!" Yuki terisak-isak.


Kenan menjauhkan kepalanya, mengecup dahi Yuki dengan lembut. Betapa ia menyayangi gadis itu tak akan mungkin tega meninggalkannya begitu saja. Ia mengusap air mata gadis itu seraya tersenyum.


Kiran beranjak duduk di atas ranjang, ia berceloteh banyak hal. Tentang sekolah dan semua teman-temannya, juga apa saja yang ia lakukan. Hal itu, sedikit menghibur Yuki. Ia senang mendengarkan celotehan Kiran yang panjang.


Kenan menyuapi gadis itu makan, ia beranjak duduk. Wajah pucatnya kini sudah kembali tersenyum seperti sebelumnya.


Kedua orang tua yang mengintip di luar ruangan merasa bersyukur melihat keadaan Yuki yang tersenyum. Hanya bersama mereka gadis itu menjadi dirinya sendiri. Tersenyum dan menumpahkan apa yang ada dalam hatinya.


"Syukurlah, Nona dikelilingi orang-orang yang tulus menyayanginya. Ada tuan muda Kenan yang amat mencintainya. Nona pasti bahagia jika menikah dengan beliau," ucap wanita paruh baya itu penuh syukur.


"Kau benar, semoga Tuan dan Nyonya secepatnya sadar bahwa Nona begitu berharga untuk disia-siakan. Beruntungnya, Nona bertemu dengan laki-laki baik dan bertanggungjawab seperti tuan muda Kenan," sahut laki-laki paruh baya membenarkan.


Keduanya kembali duduk di kursi, menunggu giliran masuk untuk berjaga.


"Maaf, Paman, Bibi, apa Kenan di dalam?" Suara Regan yang datang tiba-tiba mengejutkan kedua orang tua yang sedang duduk di kursi depan ruangan Yuki.

__ADS_1


Keduanya mendongak dengan alis terangkat, sesaat termangu melihat Regan yang tersenyum manis.


"Eh, Tu-tuan Muda. Benar, tuan muda Kenan ada di dalam. Silahkan, Tuan," jawab wanita paruh baya yang pagi tadi terus menangis, tapi sekarang ia sudah tersenyum dan ada kelegaan yang dapat ditangkap Regan pada raut wajahnya.


"Kalian terlihat lebih baik dari sebelumnya. Teruslah seperti itu, Yuki membutuhkannya," ucap Regan sambil mengedipkan mata seraya berjalan masuk ke ruangan Yuki.


Mereka saling menatap satu sama lain, mencerna ucapan terakhir Regan yang sempat ditangkap telinga tua mereka.


"Benar sekali, Nona membutuhkan orang yang yang bisa menghiburnya bukan orang yang justru membuatnya tambah bersedih," ucap laki-laki yang tak lain adalah supir Yuki.


Keduanya merenung, jika bukan mereka yang menghibur nona majikannya siapa lagi? Kedua orangtuanya saja tak peduli, kepada siapa gadis itu mencari sandaran.


Sepakat membawa berkat. Semoga memberikan manfaat untuk hati yang sedang sekarat.


Regan mengulum senyum melihat dua sejoli itu sedang bertatapan saling pandang satu sama lain. Kenan penuh perhatian pada gadis itu meskipun dia sendiri berada di kursi roda.


"Ekhem!" Suara Regan yang tiba-tiba memutus pandangan mereka. Kenan mendengus, dia datang tak tepat waktu.


"Apa aku mengganggu?" tanyanya menggoda karena meskipun diusir, ia akan tetap di sana mengganggu.


"Pergilah, Regan, kau sangat mengganggu," sahut Kenan kesal. Wajahnya terlihat masam, sendok di tangan dibantingnya dengan cukup keras.


Yuki terkekeh, ia mencubit gemas kedua pipi Kenan menyudahi masam di mukanya.


"Dia datang untuk menjenguk, lihat di tangannya membawa buah. Aku sedang ingin memakannya," ucap Yuki menunjuk bawaan Regan.


Laki-laki itu mengangkat tangannya sambil mengulas senyum manis. Ia mendekat dan memberikan buah itu pada Kenan.


"Suapi atau aku yang akan menyuapinya," ucapnya mengancam.


Kenan mendelik, tapi sahabatnya justru tertawa senang.

__ADS_1


Sial!


__ADS_2