
"Kau tidak pulang ke rumah? Apa orang tuamu belum kembali dari bisnis?" tanya Kenan saat melihat Yuki masih duduk memangku kaki, di bangku samping rumahnya.
Teh di atas meja sudah tak lagi mengepulkan asapnya, dingin meski belum tersentuh sama sekali. Kenan meliriknya sebelum mendaratkan bokong di samping Yuki duduk.
"Teh-mu sudah dingin. Apa aku perlu menggantinya dengan yang baru?" tawar Kenan dengan ekor mata melirik Yuki yang saat ini memangku dagu di atas lututnya.
"Kenan!" Ia memanggil, seraya memalingkan wajah menghadap Kenan, "boleh aku tinggal di sini beberapa hari lagi? Aku tidak tahu kapan mereka akan kembali. Aku kesepian, di rumah hanya ada Ibu yang sibuk mengurusi pekerjaan rumah," lanjutnya dengan manik yang berembun memelas kepada pemuda di sampingnya.
Kenan terkekeh, ia menggamit gemas hidung bangir Yuki dengan dua jarinya.
"Kau boleh tinggal di sini sampai kapanpun, hanya saja aku khawatir karena kita belum menikah. Aku takut masyarakat yang tahu akan menilaimu buruk," ungkap Kenan yang dibenarkan hati Yuki.
Gadis itu kembali menunduk membenamkan wajah di atas lutut dengan sedih. Ia selalu merasa kesepian disaat kedua orang tuanya pergi melakukan bisnis di luar kota selama berhari-hari lamanya. Nasib anak tunggal.
"Bagaimana kalau kita menikah saja? Tak akan ada yang mencemoohku, bukan?" gumamnya tak jelas, tapi masih didengar telinga Kenan.
Pemuda di sampingnya mendesah, menatap arak-arakan awan yang sedikit berwarna gelap. Mungkin hari itu akan turun hujan, suasana pagi tak secerah biasanya. Mendung dan berawan meskipun sang mentari berusaha untuk menampakkan diri.
"Menikah tidak semudah mengucapkannya, Yuki. Aku perlu mengantungi izin kedua orang tuamu karena tidak mungkin aku menikahimu tanpa restu keduanya. Tunggulah sampai keduanya datang, aku berjanji akan mendatangi mereka dan melamarmu," ucap Kenan sambil mengalihkan pandangan menatap Yuki dengan senyum meyakinkan.
Gadis itu berbunga-bunga mendengarnya, rasa hangat kian menjalar di pipi hingga ke daun telinga. Ia bersemu, lantas mengangguk malu-malu tanpa berani bersitatap dengan pemuda yang melamarnya secara tidak langsung itu.
"Kakak! Aku lapar, apa Kakak sudah masak?" Kiran datang mencari, keadaan gadis kecil itu sudah lebih baik tak lagi pucat pasih seperti semalam.
Kenan dan Yuki sama-sama menoleh, tersenyum melihat Kiran dengan wajah bantalnya.
"Kemari, sayang. Duduk di sini bersama Kakak, biarkan koki kita memasak," panggil Yuki sambil melambai meminta Kiran untuk mendekat.
__ADS_1
Gadis kecil itu melangkah perlahan, mendekat dan duduk di pangkuan Yuki dengan tenang. Ia mengusap rambut Kiran yang berantakan, menggulungnya menjadi satu membuat sanggul agar terlihat lebih rapi.
"Baik!" Kenan beranjak berdiri sambil menarik napas panjang, "Kakak akan memasak, tapi kalian sebaiknya mandi dulu." Ia melengos sambil terkekeh melihat wajah malu kedua gadis berbeda usia itu.
"Siap!" Keduanya terkekeh, seraya beranjak dan pergi mandi bersama-sama. Sementara Kenan pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk mereka semua.
Sebuah ketukan pintu menjeda aktivitas Kenan yang sedang memasak. Ia mencuci tangan sebelum mendatangi pintu utama rumah.
"Ayah?" Ia berseru sedikit terkejut melihat sang Ayah berdiri di teras rumah, "mari, silahkan masuk!" Kenan membuka lebar-lebar pintu rumah membiarkan laki-laki paruh baya itu memasukinya.
"Terima kasih, Nak. Ayah ingin sarapan bersama anak-anak Ayah. Ini Ayah bawakan makanan, kita makan sama-sama," katanya sambil tersenyum dengan tangan mengangkat sekantong plastik berisikan makanan yang ia beli saat perjalanan menuju rumah Kenan.
"Wah, kebetulan aku juga baru selesai masak. Kita makan sama-sama," seru Kenan seraya mengambil alih kantong tersebut dari tangan Ayahnya.
"Kau bisa memasak?" Kenan mengangguk malu, ia mengusap tengkuknya salah tingkah mendapat tatapan penuh kekaguman dari Ayahnya.
"Di mana adikmu? Ayah sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan anak Ayah ini." Ia menelan air liurnya sendiri melihat masakan yang dibuat Kenan nampak menggugah selera.
"Kakak ...!" Kiran termangu saat ia melihat laki-laki tua itu duduk di meja makan mereka.
"Kemari, sayang. Kita makan sama-sama, Ayah membawakan kita makanan enak," panggil Kenan sambil menunjukkan makanan yang dibawa Alex padanya. Laki-laki jangkung dan berjenggot itu tersenyum pada putri bungsunya.
Hasrat ingin memeluk sang anak tak dapat ditahan, ia menatap tanpa berkedip pada wajah Kiran yang begitu mirip dengan mendiang istrinya.
"Boleh Ayah memelukmu?" pintanya dengan lirih dan bergetar.
Kiran melirik Kenan, seolah-olah meminta persetujuan dari Kakaknya itu. Anggukan kepala Kenan menjadi jawaban untuk pertanyaan tanpa kata dari Kiran.
__ADS_1
Gadis kecil itu melangkah perlahan mendekati sang Ayah yang telah berdiri menunggunya. Alex merengkuh tubuh kecil itu, memeluk dan menciumi kepalanya. Rasa rindu pada sang kekasih terobati saat ia merasakan hangatnya sentuhan kulit si gadis bungsu.
"Anakku! Maafkan Ayah. Maafkan Ayah," lirihnya sambil terus mengecup pucuk kepala Kiran penuh cinta dan kerinduan.
Tangan mungil Kiran terangkat, membalas pelukan sang Ayah. Ribuan tanya dalam benak, ingin ia ungkapkan. Merangsek menuntut jawaban perihal kepergian sang Ayah. Yuki terharu melihatnya, ia mendatangi Kenan dan mengusap pundak pemuda itu saat melihatnya bersedih.
Kenan mencium punggung tangan itu, menggesekkannya dengan kulit pipi. Betapa ia bahagia melihat salah satu orang tuanya hadir di antara mereka. Berharap semoga ia tak akan pergi meninggalkan mereka lagi.
"Sudahlah, Ayah, Kiran, sebaiknya kita segera makan." Kenan menarik tangan Yuki untuk duduk di kursi sampingnya.
Alex melepas pelukan, tersenyum menyapu lembut rambut sang putri sebelum mengangkatnya ke dalam gendongan. Ia bahkan memangku gadis kecil itu dan menyuapinya makan.
"Ayah juga makan, Kiran suapi." Rasa haru seketika mengerubungi hati Alex. Ia mengangguk cepat dan membuka mulutnya saat Kiran mendekatkan sendok. Kenan tak henti bersyukur dalam hati, matanya tak lepas dari pandangan haru di depan. Sungguh, ia benar-benar bahagia sekarang.
"Masakan Kakakmu ini enak sekali. Kau pasti selalu makan enak setiap hari," celetuk Alex melirik putra sulungnya yang tersenyum bangga.
"Tentu saja, Kakak bekerja di restoran. Sudah pasti masakan Kakak tak kalah enak dengan masakan-masakan di restoran," sahut Kiran dengan bangga.
"Oya?" Gadis kecil itu mengangguk cepat.
"Di restoran mana kau bekerja, Nak?" tanya Alex pada Kenan yang tak menyahut sedikit pun.
"Di restoran Delli, Ayah. Dulu, aku hanya karyawan paruh waktu sekarang aku memegang kepala pelayan di sana," jawab Kenan menyebutkan nama dan pekerjaan yang sedang ia lakoni. Bukan apa-apa, ia hanya takut laki-laki itu akan memintanya berhenti untuk bekerja.
Namun, Alex justru tertawa mendengarnya.
"Itu milikmu. Selama ini kau bekerja di restoran Ayahmu sendiri. Maafkan Ayah karena tak sekalipun Ayah mengunjungi restoran tersebut. Hanya asisten Ayah yang mengawasi setiap harinya hingga Ayah tidak tahu jika anak Ayah sendiri bekerja di sana," tutur Alex yang sukses membuat Kenan menahan napas saat mendengarnya.
__ADS_1