
Setelah kecemasan yang ia alami selama semalam penuh, pagi ini ia sudah bisa tersenyum menatapi para pegawai yang hilir mudik melayani pengunjung.
Aku tak menyangka jika restoran ini adalah milik Ayah. Rasanya ingin tertawa jika mengingat aku bekerja di restoran milik Ayahku sendiri.
Kenan terus tersenyum membuatnya nampak berbeda dari hari biasa. Terus memandang pada para pengunjung yang tak henti berdatangan.
"Pak Kenan? Kenapa senyum-senyum sendiri? Habis lamaran, ya?" goda salah satu pramusaji yang melintas di dekatnya.
Kenan berdehem menetralkan rasa malunya karena kedapatan senyum-senyum sendiri.
"Mau tahu saja," katanya sembari melengos pergi meninggalkan pramusaji yang melongo dengan sikapnya. Ia menggelengkan kepala lanjut menjalankan tugas mengantar pesanan pelanggan.
Kenan membanting diri di kursi kebanggaannya, bersandar santai menikmati waktu istirahat. Usai memeriksa laporan, ia berniat memejamkan mata sejenak setelah hampir satu malam tak mengistirahatkan matanya.
Beberapa saat terpejam, belum juga merasakan buaian alam mimpi, sebuah ketukan pada pintu ruangan terdengar mengusik tidurnya. Ia mendesah lelah, membuka mata dan membenarkan posisi duduknya.
"Masuk!" perintahnya dengan malas.
Seseorang membuka pintu, pramusaji laki-laki masuk dengan pelan setelah menutup pintu tanpa suara.
"Ada apa?"
"Bapak diminta ke ruangan Bos, ada rapat mendadak. Itu saja, Pak," beritahu pramusaji tersebut terbungkuk takzim di hadapan Kenan.
Kenan menarik napas, ia menatap laki-laki di depannya. Laki-laki yang dulu menjadi rekan sejawatnya, dan kini menjadi bawahan.
"Baiklah. Aku akan pergi." Ia mengangguk, lantas berbalik meninggalkan ruangan Kenan dan kembali menjalankan tugasnya.
__ADS_1
Sebenarnya Kenan malas, tapi ia harus pergi demi menghargai sang pemilik pengganti. Sudah dapat dipastikan rapat kali ini membahas tentang kedatangan sang pemilik sebenarnya dari restoran tersebut.
Kenan beranjak melangkah menuju ruangan sang pemilik yang telah menunggunya bersama sang manager restoran yang tak lain adalah asisten ayah Kenan.
"Selamat pagi, Pak! Maaf saya terlambat," ucap Kenan dengan sopan. Ia duduk dengan sopan setelah dipersilahkan. Wajah mereka terlihat tegang, nampak sekali kepanikan di raut kedua orang itu.
"Kita menunggu yang lainnya, setelah itu rapat akan kita mulai," kata sang pemilik harap-harap cemas.
Tak lama tiga orang lainnya masuk bergabung bersama mereka. Rapat dimulai dengan ketegangan. Entah apa yang menyebabkan mereka cemas seperti saat ini.
"Hari ini kita akan kedatangan seseorang yang penting. Sebelumnya saya ingin memberitahu kepada kalian bahwa saya bukanlah pemilik sebenarnya dari restoran ini. Saya hanya menerima amanat dari pemilik sebenarnya, dan hari ini beliau akan berkunjung ke sini melihat-lihat perkembangan restoran. Saya minta kerjasamanya, hari ini tak apa kita bekerja lebih keras demi menyenangkan hati pemilik."
Ia menjeda, menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Pak Kenan, tolong kumpulkan para pramusaji dan beritahu kepada mereka untuk bekerja dengan baik dan hati-hati." Ia memandang penuh harap pada kepala pelayan tersebut.
"Akan saya laksanakan, Pak. Saya pastikan mereka bekerja dengan baik hari ini," tegas Kenan tak ingin mengecewakan seseorang yang telah berbuat baik kepadanya.
"Baiklah, rapat kita akhiri. Silahkan kembali pada tugas masing-masing." Ia mempersilahkan. Semua orang beranjak meninggalkan ruangan sang pemilik restoran.
Kenan mengumpulkan semua pelayan memberi instruksi terkait akan kedatangan sang pemilik asli dari restoran tempat di mana mereka bekerja. Setiap orang berhati-hati dan harus bekerja lebih keras untuk tidak membuat kecewa sang pemilik. Padahal, Kenan tahu seperti apa kinerja mereka. Tak perlu diragukan lagi, mereka selalu bekerja dengan baik selama ini.
Menjelang siang, sebuah mobil mewah memasuki area parkir restoran yang dikhususkan untuk sang pemilik hari itu. Asisten Ayah Kenan sudah berdiri menyambutnya bersama sang manager. Keduanya lantas membawa Alex memasuki pintu lain yang mengarah ke lantai dua gedung tersebut.
Kenan melirik, tersenyum pada sang Ayah saat pandang mereka bertemu. Ia memilih tetap berada di bawah mengawasi para pelayan dan pengunjung. Dari lantai dua bangunan tersebut, mereka dapat melihat lantai bawah yang dipenuhi para pengunjung.
Ayah Kenan tersenyum menatap bangga pada putranya yang berdiri tegak mengawasi keadaan restoran.
Aku sendiri tidak menyangka jika anakku selama ini mencari makan di restoranku. Kerasnya hidupmu, Nak, hingga harus membanting tulang sendiri demi memenuhi semua kebutuhan.
__ADS_1
"Ah ... siapa yang berdiri di sana? Apa dia pengawas di sini?" tanyanya pada asisten dan manager tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Kenan.
"Dia Kenan, Tuan. Kepala pelayan yang baru kami angkat di sini. Dia sangat bertanggungjawab dengan tugasnya. Di bawah pengawasannya semua pelayan di sini dapat bekerja dengan baik dan teratur. Dia memang masih muda, tapi sangat berbakat," jawab sang asisten menambah rasa bangga di hati Alex.
Tentu saja, dia putraku. Kalian tidak tahu saja.
"Jika memang begitu, berikan dia penghargaan. Naikkan gajinya tanpa mengurangi gaji karyawan yang lainnya. Berikan saja dari keuntungan restoran kepadanya, dia terlihat spesial," titah Alex.
Asisten dan manager saling memandang satu sama lain tak mengerti, tapi mengiyakan keinginan sang pemilik tanpa banyak membantah.
"Baik, Tuan. Sesuai yang Tuan inginkan," katanya patuh. Obrolan demi obrolan tentang perkembangan restoran pun terus berlanjut hingga hari beranjak petang. Alex tak berencana menetap di restoran, ia akan pulang ke rumah Kenan berkumpul bersama kedua anak yang ditinggalkannya selama sepuluh tahun lebih.
Kenan ikut mengantar kepergian sang Ayah dari restoran. Ia terus tersenyum meski mobil yang membawa Alex telah menghilang.
"Kau patut merasa bangga, Kenan. Sang pemilik menyukaimu. Teruslah bekerja dengan baik demi kemajuan restoran ini," ucap sang asisten sambil menepuk bahu Kenan bangga.
"Terima kasih, Pak. Saya akan bekerja dengan keras untuk restoran ini," katanya dengan yakin dan tegas. Tentu saja karena restoran itu telah diwariskan Alex padanya. Dia pasti akan menjaganya dan memajukan restoran tersebut.
Meninggalkan Kenan dengan perasaan bangganya, di sebuah rumah megah menjulang tinggi ke langit. Seorang laki-laki paruh baya tengah dikuasai kecemasan, di sampingnya wanita yang hampir seusia dengan laki-laki itu menangis tiada henti.
"Sudah kalian temukan di mana Lisa? Coba tanyakan teman-teman Lisa, siapa tahu salah satu di antara mereka tahu di mana Lisa?" tanya laki-laki paruh baya itu dengan cemas.
"Kami sudah menghubungi semua temannya, Tuan, tapi ternyata mereka juga ikut menghilang bersama nona Lisa." Laporan dari orangnya semakin membuat mereka cemas. Wanita itu bahkan semakin histeris mendengar laporan tersebut.
"Pah, ke mana anak kita? Apa mereka diculik? Bagaimana ini, Pah?" rengeknya sambil terus sesenggukan dengan pilu.
"Papah juga tidak tahu, Mah. Siapa lagi yang dekat anak kita ... ah, Teddi! Coba kalian hubungi rumah Teddi, bukankah anak itu dekat dengan Lisa?" Sigap, orang yang diperintahnya itu gegas meninggalkan ruangan.
__ADS_1