Takdir Kenan

Takdir Kenan
Bertemu Kenan


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian di belakang gedung kampus, Teddi dan kelompoknya tak lagi menindas para siswa di kampus tersebut. Yuki dapat berkuliah dengan tenang tanpa gangguan lagi meskipun Kenan sudah tak terlihat di kampus.


"Yuki, sudah beberapa hari ini kami tidak melihat Kenan. Apa kau tahu ke mana?" tanya teman Yuki sesaat melihat gadis itu berjalan di lorong kampus.


"Dia sudah tidak kuliah lagi. Fokus bekerja di restoran untuk biaya adiknya. Apa kalian tahu sekarang dia menjadi kepala pelayan di restoran itu," jawab Yuki antusias. Senyumnya mengembang lebar tersirat kebahagiaan di wajah jelita itu.


"Benarkah? Kudengar Kenan sudah berubah? Apa karena dia dekat denganmu?" celetuk yang lain sambil menggoda Yuki.


Gadis itu bersemu, teringat kejadian di belakang kampus saat Kenan menautkan jemari. Ada aliran hangat yang ia rasakan. Rasanya berbeda, tumbuh bunga-bunga indah bermekaran yang mencipta rasa bahagia.


"Kalian benar, tapi aku tidak tahu apakah itu karena dia dekatku? Ataukah karena memang sebenarnya dia seperti itu?" sahut Yuki sambil mengangkat bahu.


Ia termenung mengingat tubuh Kenan yang berubah drastis saat emosi menguasainya. Tubuh kurus laki-laki itu kini nampak berisi dan gagah terlihat. Ia juga tak lagi mengenakan kacamata tebal seperti yang biasa ia kenakan.


Berpakaian rapi seperti laki-laki normal lainnya, berjalan dengan langkah yang tegap dan gagah. Satu yang paling membuat Yuki bahagia adalah, dia tak lagi gagap saat berhadapan dengannya.


"Hei, kenapa kau tersenyum sendiri? Kau gila?" Kedua temannya bergidik ngeri melihat Yuki yang tiba-tiba tersenyum sendirian.


Gadis itu menghendikan bahu tak acuh. Saling mengejek, saling senggol saling senggol dengan tawa bahagia.


Sepasang mata melirik tajam, rasa penasaran jelas terpancar di wajahnya yang cantik. Dahi sempitnya terlipat, jelas ia ingin tahu tentang apa yang baru saja mereka perbincangkan.


"Apa benar Kenan berubah? Aku penasaran. Lagipula Teddi tak lagi peduli padaku, dia terus mengejar Yuki walaupun ditolak berkali-kali. Sial!" gumam Lisa kesal.


Wajahnya cemberut, beberapa hari tak melihat Teddi muncul di kampus. Ia berdecak kesal terus beranjak meninggalkan lorong. Rasa penasarannya membuat Lisa berniat mendatangi tempat Kenan bekerja.


*****


"Kakak! Hari ini kak Yuki mengajakku makan di restoran, dia yang akan menjemput ke sekolah," ucap gadis kecil itu dengan senyum merekah di bibir.

__ADS_1


"Benarkah? Pantas saja tadi Kakak tidak boleh membawa mobilnya, ternyata kalian sudah ada janji," sahut Kenan sambil mengacak rambut Kiran dengan gemas.


Yah, semenjak kejadian itu Yuki dan Krian semakin dekat. Mereka bahkan kerap pergi bersama disaat Kenan bekerja. Gadis imut itu bertingkah menggemaskan.


"Ya sudah, masuk sana. Kakak tunggu di restoran," katanya. Kiran berbalik, berjalan terjingkrak-jingkrak riang. Hidupnya sudah lebih baik sekarang, tubuhnya yang dulu kecil dan kurus sekarang lebih berisi dan gembil.


Kenan berbalik, menaiki mobil sendiri. Mobil peninggalan orang tuanya yang selama ini dikuasai Paman dan Bibi. Kenan memarkir mobil di halaman restoran, ia tak lagi bekerja paruh waktu. Ruko yang selama ini dikelola Paman dan Bibi ternyata tak ada barang apapun di dalamnya. Jadilah Kenan menyewakan ruko tersebut kepada orang lain.


Tak sabar rasanya menunggu siang, bertemu dengan sang pujaan hati di restoran tersebut. Namun, yang tak dinyana adalah Lisa yang justru datang ke restoran itu, berpura-pura menjadi pelanggan.


Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok Kenan di antara lalu-lalang pengunjung dan pekerja, tapi tak terlihat batang hidungnya. Berkali-kali matanya melirik jam di dinding, waktu berlalu cepat, tapi Kenan masih tak terlihat.


"Nona, mau pesan apa?" Seorang pramusaji datang menghampiri. Sudah lama ia memperhatikan, wanita yang duduk di meja nomor delapan itu tak kunjung membuat pesanan.


Lisa mendongak, ia nampak bingung. Perutnya juga sudah terasa perih. Ia memilih menu dan menentukan pesanan. Menunggu sambil mengedarkan pandangan tetap mencari sosok Kenan.


"Mmm ... di mana kepala pelayan kalian? Bisa aku bertemu dengannya?" ucap Lisa. Manik hazelnya menyorot memohon pada pramusaji tersebut.


Lisa berpikir, apa yang akan membuat Kenan menemuinya.


"Katakan saja teman lama ingin bertemu," katanya lengkap dengan senyum manis tersemat di bibir.


"Baik. Akan saya sampaikan setelah mengantar pesanan Anda." Wanita itu mengangguk dan kembali menunggu dengan tak sabar ingin melihat seperti apa Kenan yang sekarang.


Pesanan datang, ia makan dengan tenang. Beberapa saat menunggu, Kenan muncul atas arahan dari pramusaji tadi ia melihat punggung Lisa.


"Ekhem. Maaf, Anda ingin bertemu dengan saya?" Suara Kenan bertanya menyentak tubuh Lisa. Ia mematung sejenak sebelum meletakkan sendok di atas piring.


Lisa berbalik, ia terperangah melihat penampilan Kenan saat ini. Seragam resmi, dasi melilit rapi di leher, sepatu hitam mengkilap. Juga wajah tampannya tak lagi ditutupi dengan kacamata besar. Kenan benar-benar berubah, dan Lisa menarik kembali ucapannya waktu itu.

__ADS_1


"Ke-kenan?" Ia termangu pada sosok rupawan yang masih berdiri tegak.


"Lisa? Kenapa kau ingin bertemu denganku?" tanya Kenan dengan lancar tanpa gagap.


Lisa mengerjap mendengar Kenan tak lagi gagap saat berbicara dengannya.


"Ka-kau berubah?" tanyanya tak percaya.


Kenan tersenyum, ia melangkah pelan dan duduk berhadapan dengan gadis itu. Mata Lisa berkedip-kedip menatap sosok tampan di depannya. Apakah dia sungguh Kenan?


"Ada apa? Kau terkejut? Aku sudah berubah, Lisa, dan tak lagi bodoh seperti dulu yang mudah dipermainkan dan direndahkan," ucap Kenan sarkas.


Cara duduk pemuda itu saja kini sudah lain. Ia nampak berkelas, tidak rendahan seperti dulu saat ia mengejar-ngejar dirinya.


"Ke-kenan, a-aku ... minta maaf atas kesalahan yang telah aku lakukan dulu. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku, Kenan," ucap Lisa terbata.


Ia menunduk dengan menggigit bibirnya kuat-kuat. Menahan rasa malu dan gengsi demi mendapatkan simpati Kenan. Pemuda di depannya melipat tangan, salah satu sudut bibirnya terangkat. Mencibir gadis di depannya.


"Syukurlah jika kau sudah menyesali perbuatanmu. Aku sudah memaafkanmu, Lisa. Ke depannya jadilah wanita baik-baik jangan mempermainkan laki-laki manapun. Karena kau tak pernah tahu akan seperti apa laki-laki yang dulu kau permainkan," nasihat Kenan dengan nada pelan dan menekan.


Lisa berdegup-degup. Tak menyangka begitu mudah mendapatkan maaf dari Kenan. Ia mengangkat wajah menatap Kenan yang tetap tenang di tempatnya duduk.


"Ke-kenan, apa kau masih menunggu jawabanku?" tanyanya.


Kenan berjengit, sebelah alisnya naik. Pikirannya masih mencerna apa maksud dari ucapan Lisa.


"Jawaban? Jawaban apa?" tanya Kenan menohok ulu hati gadis itu.


Ia kembali menunduk, malu karena Kenan tak sesuai prediksinya.

__ADS_1


"Bukankah kau dulu menginginkan aku? Kita bisa memulainya hari ini. Bagaimana? Aku akan belajar menerima dan mencintaimu." Lisa terlalu tinggi menilai dirinya sendiri. Kenan jengah.


Ia melirik tempat lain sebelum menyahut ....


__ADS_2