
"B-bos! Ini salah faham, semua ini hanya salah faham." Manager itu menatap dengan kelopak matanya yang melorot. Memelas, mengiba, bersikap seolah-olah dia adalah korban.
"Benarkah? Jika ini hanya sebuah kesalahpahaman maka jelaskan padaku kejadian yang sebenarnya," tuntut pemilik restoran dengan nada menekan.
Manager tersebut bergerak gelisah, ia melirik sang kepala koki. Laki-laki itu pun sama cemasnya seperti dia.
"Bagaimana?" Suara sang pemilik restoran kembali terdengar. Kedua orang itu menunduk dengan getaran tubuh yang tak dapat mereka sembunyikan.
"Kemasi barang kalian, mulai hari ini kalian aku bebaskan dari tugas. Sekarang cepat tinggalkan restoran ini karena tugas kalian akan segera digantikan!" Perintah dari pemilik restoran itu membuat keduanya kalang kabut.
Mereka beringsut mendekat, memohon di bawah kaki sang pemilik restoran tanpa tahu malu. Mata keduanya telah basah oleh tangis palsu yang mereka lakukan.
"Bos, kami mohon jangan pecat kami! Jangan usir kami dari pekerjaan ini, Bos. Tolong ampuni kami. Kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahat itu lagi, Bos. Tolong!" pinta mereka dengan wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin.
Kepala laki-laki tua itu menggeleng. "Sudah sangat sering aku mendengar tentang kalian yang menindas bawahan kalian. Mencuri uang mereka tanpa izin. Entah apa yang terjadi pada kalian?" Ia menarik napas panjang.
"Gaji kalian yang paling besar di antara yang lain, tapi kenapa masih saja menyalib uang mereka yang bekerja paruh waktu seperti Kenan yang tak seberapa? Itu sudah keterlaluan. Aku tidak bisa mentolerir sikap kalian yang sudah melewati batas," tegasnya seraya menjauh dan berbalik.
Ia memberi perintah kepada salah satu orang yang selalu bersamanya. Keduanya hanya bisa pasrah, lantas pergi meninggalkan restoran tanpa uang pesangon. Hanya uang separoh gaji itu pun telah dipotong sebagian untuk diberikan kepada mereka yang uangnya disalib.
"Kenan, maafkan atas sikap pekerja saya yang itu. Kau tak akan pergi ke mana pun. Tetaplah bekerja di sini karena kau orang yang jujur," ucap laki-laki tua itu sambil memasang senyum ramah saat berhadapan dengan Kenan.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak. Saya sangat berterimakasih kepada Bapak karena masih berkenan mempekerjakan saya di restoran ini," sahut Kenan dengan wajah berbinar penuh rasa syukur.
Laki-laki tua mengangguk sebelum membalik tubuhnya menghadap kepada seluruh karyawan yang ada.
"Kebetulan kalian semua berkumpul di sini. Besok, kepala koki dan manager yang baru akan datang ke restoran ini. Dan mulai hari ini, saya mengangkat Kenan sebagai kepala pelayan di restoran ini. Jadi, hormati dia sebagai atasan kalian dan jangan membangkang!" titahnya disambut kedua pupil Kenan yang membesar.
Ia terkejut karena sebelumnya tak ada pemberitahuan apapun tentang kenaikan jabatan yang baru saja ia terima.
"Baik, Pak!" sahut mereka kompak. Sebuah isyarat darinya membuat mereka semua membubarkan diri dengan tertib. Menyisakan Kenan dan sang pemilik restoran yang masih berdiri di dapur.
"P-pak ... a-pa tidak apa-apa jabatan ini saya terima? Rasanya saya tidak pantas menyandang jabatan setinggi itu, Pak?" ucap Kenan tak enak hati. Ia menunduk dengan gurat gelisah yang tak dapat disembunyikan.
"Sudah lama saya memperhatikanmu, Kenan. Saya suka kinerjamu, semangatmu, keuletanmu dalam bekerja. Saya menimbang ... memang sudah lama saya ingin mengumumkan ini, tapi belum ada kesempatan untuk melakukannya. Dan hari ini, selamat! Kau sebagai kepala pelayan di restoran. Tugasmu memperhatikan para pramusaji, melakukan interview terhadap calon pramusaji dan lain sebagainya yang berkaitan dengan pelayanan restoran. Kau mengerti?" ucapnya semakin membuat hati Kenan bergetar.
Kepala pemuda itu masih tertunduk, ia memainkan jemarinya gugup. Meragukan diri sendiri apakah mampu melakukan tugas berat itu? Sedangkan ia hanya bekerja paruh waktu di sana. Sepercaya itukah pemilik restoran kepadanya?
"Kau bisa mulai belajar dari sekarang. Kepala pelayan yang lama sudah sepuh dan dia sudah mengundurkan diri sejak lama, tapi saya menahannya. Kau bisa bertanya padanya," ucapnya lagi sebelum meninggalkan Kenan sendiri di dapur.
Baru beberapa langkah, laki-laki tua itu kembali berbalik seolah ada yang terlupa.
"Ah ... untuk hari ini pulanglah dulu. Kasihan adikmu yang basah kuyup. Saya khawatir dia masuk angin nanti karena tak segera mengganti pakaian," pungkasnya yang segera melanjutkan langkah meninggalkan dapur restoran.
__ADS_1
Mendengar Kiran disebut, Kenan terhenyak. Gegas ia membawa dirinya mendatangi pos jaga di mana ia menyuruh gadis kecil itu untuk menunggu. Terenyuh hati Kenan saat melihat Kiran yang sedang duduk di bawah terik matahari guna menghangatkan tubuhnya.
"Kurang ajar dua orang itu! Jika aku bertemu lagi dengan mereka, aku berjanji akan mematahkan satu tulang tangan mereka," janjinya pada diri sendiri sembari melangkah mendekati sang adik.
"Kau tak apa?" Ia mengangkat wajah pucat sang adik. Bibirnya menggigil kedinginan. Kenan menempelkan punggung tangannya di dahi Kiran, suhu tubuhnya meningkat. Kiran sudah dipastikan demam. Air mata menggenang, Kenan mengangkat tubuh sang adik ke dalam gendongan dan membawanya pulang.
"Kita pulang. Kau demam," katanya. Kiran menjatuhkan kepala di bahu Kenan. Kedua tangannya melingkar di leher pemuda itu. Ia terpejam merasakan hantaman nyeri pada kepalanya. Kenan meletakkan tubuh Kiran di depan sepeda, membiarkan gadis kecil itu memeluk tubuhnya sepanjang perjalanan.
Sebelum sampai di rumah, Kenan berhenti di sebuah warung makan. Ia bahkan lupa bahwa Kiran juga dirinya belum mengisi perut sejak pulang sekolah karena Bibi tak memberinya jatah makan.
Kenan membeli satu bungkus nasi, tak lupa ia pun mampir di sebuah warung membeli obat penurun demam untuk Kiran. Ia memilih jalan belakang karena dekat dengan kamarnya juga untuk menghindari Bibi yang pasti sedang asik menonton TV.
"Sayang, makan dulu. Setelah itu, minum obat dan tidur. Kakak suapi," katanya setelah berada di kamar Kenan dan mengganti pakaian sang adik. Ia tak membiarkan Kiran tidur sendiri kali ini.
Gadis kecil itu mengangguk, rasa lapar yang ditahannya kini akan terbayar. Akan tetapi, lidahnya terasa pahit dan tenggorokannya seolah menyempit. Juga kepalanya yang berdenyut membuat Kiran tak mampu duduk berlama-lama.
Satu suapan, dua suapan, tiga suapan, Kiran sudah tak dapat menahan diri. Ia menggeleng lekas berbaring menarik selimut tipis milik Kenan. Pemuda itu membantunya minum obat. Lalu, duduk menjaga sang adik.
Ia menyandarkan tubuh pada dinding, tangannya mengusap kepala Kiran yang berbaring di atas kakinya. Gadis kecil itu menggigil kedinginan. Kenan menambah selimut membungkus tubuhnya. Ia membungkuk memeluk tubuh kecil itu berharap memberinya sedikit kehangatan.
Aku memang tak berguna!
__ADS_1