
"Yuki, kau bisa menungguku sebentar, bukan? Aku masih ada kelas," tanya Regan sesaat ia bertemu dengan Yuki di lorong kampus.
"Hhmm ... baiklah, tapi sepertinya tidak apa-apa, Regan. Aku akan pergi sendiri ke rumah sakit, lagipula selama ini tidak ada sesuatu yang terjadi," sahut Yuki sambil tersenyum. Berharap kali ini Regan akan membiarkannya pergi seorang sendiri.
"Tidak, Yuki. Kenan sudah menitipkan tanggung jawab atasmu padaku. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi seorang diri karena kita tidak tahu bahaya seperti apa yang sedang mengintai," sergah Regan dengan tegas.
Ia tak akan berani menghadap Kenan saat sesuatu terjadi pada kekasih sahabatnya itu.
"Kau terlalu mencemaskan aku, Regan. Padahal, aku bisa menjaga diriku sendiri. Mungkin itu hanya halusinasi Kenan karena trauma dengan kejadian waktu itu," ucap Yuki menolak percaya pada firasat Kenan.
"Tapi, Yuki, jika sesuatu terjadi padamu bagaimana caraku bertanggungjawab kepada Kenan? Lagipula, selama ini firasat Kenan selalu benar. Saat orang-orang yang dia anggap berharga untuk hidupnya berada dalam bahaya, maka ia akan dapat merasakannya sebelum semua itu terjadi dan selama ini selalu menjadi kenyataan. Percaya padaku, jika dia mengatakan kau dalam bahaya maka ada hal buruk yang sedang menunggumu," papar Regan dengan serius.
Yuki bungkam, dalam hati menolak dan hanya menganggap mitos belaka. Itu hanya kebetulan semata yang tak disengaja.
"Baiklah, aku akan menunggumu di taman," putus Yuki pada akhirnya. Ia berbalik dan berlalu tanpa menunggu jawaban Regan.
Sahabat Kenan itu menghela napas, meminta maaf dalam hati karena tak bisa membiarkan gadis itu bepergian secara bebas. Itu semua ia lakukan demi kebaikannya. Regan melanjutkan langkah lagi menuju kelas sambil berharap Yuki akan mendengar pada perkataannya.
Namun, sayangnya gadis itu tidak mendengar, hanya menganggap ucapan Regan sebagai bualan semata. Ia tidaklah pergi ke taman, melainkan ke depan kampus berniat untuk pergi seorang diri.
"Pak, tolong jemput aku di kampus!" Yuki menghubungi supirnya. Ia berdiri seorang diri menunggu jemputan datang.
"Mereka hanya terlalu mencemaskanku saja, akan aku buktikan bahwa tidak bahaya apapun yang akan menimpaku. Selama beberapa hari ini pun semua nampak baik-baik saja dan tidak ada masalah," gumamnya seraya terkekeh kecil membayangkan wajah-wajah mereka yang mencemaskan dirinya.
Berkali-kali ia menoleh ke jalan, berharap mobil jemputan segera muncul. Yuki menghela napas, sudah lima belas menit berlalu supirnya belum datang menjemput. Ia duduk di sebuah kursi tunggu dengan malas. Teringat kenan, senyumnya mengembang samar.
"Kenan pasti akan terkejut aku datang seorang diri." Kekehan kecil terdengar darinya, membayangkan wajah Kenan yang panik mencipta semburat merah di pipi.
"Jangan lengah!" perintah Mikael pada orang-orang yang diajaknya untuk mengawasi Yuki.
Secara tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti di hadapan gadis itu.
__ADS_1
"Mereka telah beraksi, bersiaplah!" Suara Mikael lagi memerintah.
"Baik, Bos!"
Jeritan Yuki menjadi penanda bahwa sesuatu yang tidak baik sedang terjadi padanya.
"Lepaskan aku! Siapa kalian? Lepaskan aku! Regan! Regan, tolong aku!" teriak Yuki membahana, tapi tak ada yang mendengar karena kampus sudah sepi dan kelas Regan begitu jauh dari gerbang.
Dua orang laki-laki menarik tangan Yuki, memaksanya untuk masuk ke dalam mobil. Tubuh gadis itu dilempar ke dalam, diapit dua orang tadi agar tak dapat melarikan diri.
"Siapa kalian ini? Kenapa kalian menculikku?" Yuki terisak ketakutan. Ia mendekap tubuhnya sendiri menolak disentuh.
Tak ada sahutan sampai suara seorang wanita terdengar dari kursi bagian depan.
"Anda adalah penghalang untuk tujuan Nona Muda kami. Maka kami harus menyingkirkan Anda atau Anda bersedia untuk bekerjasama dengan kami," ucap wanita itu sambil menoleh kepada Yuki.
Ia mengenakan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Yuki tidak mengerti, menatap wanita tadi dengan kerutan di dahi.
"Hanya ada dua penawaran, jauhi Tuan Muda Kenan atau pergi dengan tenang tanpa siapapun yang tahu," tawar wanita itu tak memberi pilihan yang menguntungkan Yuki.
"Kau gila! Kalian semua gila! Kenan adalah calon suamiku, tak akan mungkin aku meninggalkannya walau kalian berniat membunuhku. Aku tak akan pernah melepaskan Kenan untuk orang lain!" tegas Yuki dengan berani.
Ia menjambak rambut wanita itu dengan kuat, membuatnya meringis kesakitan. Namun, kedua laki-laki yang mengapitnya, tak membiarkan Yuki berbuat lebih jauh. Mereka segera menarik tangan Yuki, dan tanpa perintah mengikat kedua tangannya.
"Lepaskan aku! Kalian salah berurusan denganku, mereka tak akan membiarkan kalian hidup! Lihat saja, orang-orang itu akan datang sebentar lagi!" Yuki berteriak sambil meronta.
Rambutnya berantakan, bahkan lengan bajunya terkoyak akibat tarikan salah satu laki-laki tadi.
"Teruslah mengoceh sesuka hatimu, sampai kau menemui ajal orang-orang yang kau maksud tak akan pernah datang," ucap wanita itu lagi sedikit mencibirkan bibir dengan kesal.
Yuki menatap nyalang ke arahnya, napasnya memburu, ia tak lagi menangis ketakutan. Dalam hati harus melawan dan dapat melarikan diri dari orang-orang asing itu tanpa harus mengandalkan bantuan. Yuki mulai berpikir, mencari cara untuk melepaskan diri dari cekalan mereka.
__ADS_1
Disaat putus asa datang memenuhi hatinya, sebuah mobil tiba-tiba menghadang laju mobil yang membawa dirinya. Berselang, dua mobil di kanan dan kiri muncul mengapit mobil mereka. Wanita tadi membalik tubuhnya, satu mobil lagi mengikuti dari belakang.
"Siapa mereka?" pekiknya seraya membanting tubuh di kursinya kembali.
"Tidak tahu, Nyonya." Pengemudi di mobil tersebut panik, ia tidak mengerti apakah harus menambah kecepatan ataukah berhenti.
"Itu adalah mereka yang aku maksud. Kalian terkepung dan aku pastikan tak akan ada celah untuk kalian melarikan diri," ucap Yuki sangat yakin.
Bibirnya tersenyum, mengejek wajah panik mereka.
Lega rasanya, semoga mereka ada di pihakku. Semoga saja mereka datang untuk menyelamatkan aku. Oh, Regan. Maafkan aku karena tidak menurut. Aku menyesal.
Dalam hati ia menangis, menyesali tindakannya yang ceroboh dan tak mau mendengarkan Regan.
"Sial! Kita terkepung!" umpat wanita itu panik.
Mobil di hadapan mereka tiba-tiba memutar dan melintang di jalan. Menutup jalur yang ada, memaksa mobil mereka untuk berhenti.
"Mau apa mereka?" tanyanya lagi. Tak hanya bingung, tapi juga cemas.
Mikael keluar dari mobil tersebut, berdiri menantang kedatangan mobil yang membawa Yuki.
"Paman Mika!" Yuki berbinar saat melihat sosok laki-laki bertubuh besar itu.
"Kalian tahu siapa laki-laki itu? Dia pengawal pribadi Tuan Alexander. Bersiaplah dengan nasib kalian karena telah berani menculik calon menantu Tuannya!" Yuki memanasi.
Hatinya benar-benar merasa lega. Mobil berhenti beberapa meter dari tempat Mikael berdiri. Laki-laki itu tidak melakukan apapun, selain berdiri dengan gagahnya. Satu per satu orang-orang yang menculik Yuki keluar dari mobil.
Yuki dan wanita itu menjadi orang terakhir yang keluar. Di tangan wanita itu moncong pistol mengarah pada pelipis Yuki. Sedetik saja, gadis itu kembali menangis ketakutan.
"Berikan kami jalan jika tak ingin gadis ini celaka!"
__ADS_1