Takdir Kenan

Takdir Kenan
Aksi Cepat Leo


__ADS_3

Beberapa jam sebelum penculikan Yuki ....


Perbincangan Alex dengan Mikael yang membahas soal para penguntit Yuki, membuat Leo bergerak cepat mencari informasi tentang perusahaan Gamma Grup.


Ia duduk di bangku taman rumah sakit menunggu seseorang yang membawa informasi untuknya. Tanpa sengaja, laki-laki itu melihat seorang gadis belia berdiri di dekat jendela. Wajah cantiknya terlihat murung tak bergairah.


Telapak tangannya menempel pada kaca jendela seolah-olah ia ingin keluar dari kurungan. Melihat itu, Leo menjadi iba. Gadis itu masih sangat muda, cantik dan berkulit putih. Matanya sipit, bibirnya tipis dan semerah cerry.


Leo tersenyum, ia melambaikan tangan saat pandang mereka bertemu. Gadis itu pun balas tersenyum, dan melambaikan tangan untuk laki-laki dewasa berkacamata di bangku taman. Sepertinya dia gadis yang baik dan ramah. Sayangnya, Leo tidak tahu bahwa dia gadis yang ambisius.


Seseorang yang ditunggu Leo datang, mereka duduk berdamping. Sebuah informasi penting yang diinginkannya.


"Bagaimana, apa benar kabar yang aku dengar?" tanya Leo.


"Benar, Tuan. Perusahaan Gamma Grup memiliki pewaris tunggal seorang gadis belia. Dia tidak tinggal di sini, tinggal dan bersekolah di Luar Negeri bersama Paman dan Bibinya. Namun, baru-baru ini ia kembali karena sebuah kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya. Gadis itu mengalami trauma berat hingga seringkali mengalami sesak. Dia dirawat di rumah yang sama dengan Tuan Muda."


Keterangan yang diberikan orang suruhannya membuat Leo tertegun. Ia menunduk menatap tangannya sendiri yang saling bertaut. Tak lama kepalanya terangkat, berhadapan dengan gadis belia di dalam sangkar kaca itu. Hanya sejenak saja sebelum ia kembali bertanya pada orang di sampingnya.


"Kau memiliki gambar gadis itu?" tanyanya sedikit menaruh curiga pada gadis di balik jendela.


Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menggulir layar benda pipih tersebut mencari sebuah foto.


"Ini, Tuan. Ini gadis itu," katanya.


Alex menilik, membandingkannya dengan gadis dalam jendela kaca tersebut. Semuanya sama kecuali rambut mereka yang tak sama panjang. Leo menganggukkan kepala, mengirimkan foto tersebut ke dalam ponselnya sendiri. Ia mengembalikan ponsel itu dan berterimakasih padanya.


Mereka berpisah, Leo masih duduk di sana memperhatikan gadis tersebut. Gadis cantik dan lugu, tapi tak disangka hatinya penuh dengan ambisi.

__ADS_1


Senyum di bibir gadis itu raib disaat Leo pergi dari bangku taman. Ia memundurkan tubuhnya, menjauhi kendala kaca. Duduk di kursi roda, murung kembali menyerang hatinya.


Leo menjeda langkah disaat getar ponsel miliknya terasa. Panggilan dari Mikael. Tak akan laki-laki bertubuh besar itu menghubunginya kecuali ada sesuatu yang darurat, dan kabar tentang penculikan Yuki pun membuatnya geram.


Leo berbalik, melangkah menuju ruangan gadis tersebut berniat mengelabuinya. Tangannya menyambar setangkai bunga mawar, ia akan memberikannya sebagai hadiah.


Leo membuka pintu ruangan tanpa mengetuk. Berjalan perlahan, mengendap tanpa suara mendekat. Ia melihat gadis lemah itu duduk tertunduk di dekat ranjangnya. Memandangi sebuah figura di pangkuan. Foto kedua orang tua dan satu anak kecil yang manis.


Gadis itu terhenyak saat setangkai bunga tiba-tiba menyapa wajahnya. Ia mendongak, dan mendapati Leo tersenyum ke arahnya.


"Untukmu," katanya dengan nada lembut. Pandai sekali laki-laki itu berakting. Sikapnya menciptakan semu merah di kedua pipi si gadis. Ia terhanyut dalam buai romantis dari seorang Leo.


"Terima kasih," ucapnya tersipu malu.


"Kau mau jalan-jalan keluar?" tawar Leo sambil berharap dia akan setuju.


Wajahnya mendongak bingung, ada rasa takut mendengar tawaran dari Leo. Pasalnya, ia tidak diperbolehkan keluar dari ruangan selama beberapa hari ke depan.


"Mei? Siapa dia? Kulihat kau sendirian sedari tadi." Dahi Leo mengernyit, pasalnya tak ada siapapun di ruangan itu selain dirinya seorang.


Gadis itu melengos menatap jendela, ia mengendus aroma bunga mawar itu sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan Leo.


"Dia pengasuhku, tapi sudah menjadi Kakak untukku, dan sekarang dia adalah orangtuaku. Aku tidak ingin membuatnya kecewa," ucapnya lirih.


Leo tersenyum mengerti. "Jika begitu, aku yang akan bertanggungjawab pada Kakakmu itu. Kau butuh udara segar, biar aku yang menemani. Aku berjanji tak akan terjadi sesuatu padamu."


******

__ADS_1


"Seperti itulah saya merayunya, tapi dia hanya sebatang kara di dunia ini. Mungkin karena membutuhkan seseorang yang akan selalu menemaninya setiap saat, dan saat melihat Tuan Muda dia tertarik. Lalu, berambisi untuk mendapatkan Anda, Tuan," pungkas Leo mengakhiri ceritanya.


Kenan dan Yuki tertegun, begitu juga Alex.


"Dia persis seperti diriku sebelum Ayah datang."


"Dan seperti aku yang setiap hari hanya bersama asisten di rumah."


Kenan dan Yuki sama-sama teringat pada kehidupan mereka. Yuki, yang notabene masih memiliki orang tua, tapi seolah-oleh tidak memilikinya. Bahkan, saat ia diculik mereka tidak menanyakannya. Tidak pula kembali pulang, hanya mengurusi bisnis mereka saja. Sungguh miris.


"Aku melihat kasih sayang yang besar di antara mereka. Wanita yang bernama Mei itu, ingin melihatnya selalu tersenyum bahagia sehingga ia rela melakukan apa saja untuk mewujudkan apa yang dia inginkan. Mereka bukan orang jahat, Ayah. Keadaan yang membuat mereka salah mengambil jalan," ucap Kenan bijaksana seperti biasanya.


"Benar, mereka juga tidak menyakitiku. Bajuku robek karena laki-laki itu yang menariknya saat aku menjambak rambut wanita itu. Jika dia berniat menyakitiku, maka dia tak akan segan menarik pelatuk itu." Yuki menambahkan.


Alex menghela napas, melihat keadaan yang masih baik-baik saja. Ia mengerti. Teringat akan Kiran yang tumbuh tanpa kedua orang tua. Juga Kenan yang menjaga dan merawat adiknya seorang diri dari sejak ia dilahirkan.


Gadis itu hanya butuh teman, atau bahkan keluarga. Dia kesepian karena kedua orangtuanya meninggal secara bersamaan.


"Baiklah, kita tak akan memberinya hukuman. Jika dia memang tidak berniat jahat, maka kita semua bisa menjadi temannya. Menghibur hatinya yang kesepian itu," ujar Alex menerbitkan senyum di bibir semua orang.


Sementara di mobil yang lain, Mikael membelah jalanan ibukota dengan kecepatan penuh.


"Tuan, cepatlah! Aku takut Nona tidak bisa bertahan," pinta Mei panik.


Gadis belia itu semakin pucat, keringat dingin mengucur di dahinya. Ia semakin takut. Menangis tiada henti membuat hati Mikael terenyuh. Ia seperti melihat dirinya disaat Alex terluka oleh sebuah timah panas yang menembus dagingnya.


Mikael menepi di halaman rumah sakit, tanpa membuang waktu membuka pintu belakang mobil dan mengangkat tubuh gadis kecil itu. Membawanya masuk ke rumah sakit, berteriak memanggil petugas medis agar segera menanganinya.

__ADS_1


Mei duduk gelisah, berulangkali mengusap wajah. Berdesis lirih. Memohon pada Tuhan sambil menangkupkan kedua tangan di wajah.


Mikael tak melepaskan pandangan darinya. Ada rasa iba melihat wanita itu terus menangis untuk sang majikan.


__ADS_2