
"Shaka!" Kenan berteriak histeris saat moncong senjata itu mulai mengepulkan asap. Namun, sesuatu yang tak terduga, membekukan tubuh Kenan.
Shaka mengayunkan tombak kayu di tangannya menghantam senjata-senjata itu dengan sekuat tenaga. Satu per satu terlempar ke udara, Shaka melakukan gerakan kayang menghindari hantaman mesiu yang ditembakkan ke arahnya sambil terus mengayunkan tombak di tangan menghantam senjata-senjata di tangan mereka.
Shaka mengulas senyum puas, mereka termundur beberapa langkah. Kini, harus bersiap melawan Shaka tanpa senjata. Tombak kembali diayunkan, menghujam satu per satu dari penjahat yang mengepungnya. Ia tak berniat mengampuni satu orang pun.
Kenan berbalik saat sekelompok orang dengan senjata tajam di tangan menyerbu tempatnya berada. Ia menggenggam ranting dengan kuat bersiap melawan mereka semua.
Pertempuran pun tak terelakan, dua orang melawan musuh yang berjumlah puluhan. Kenan mengayunkan ranting dengan lincah, menghantam tubuh mereka laksana pedang yang tajam.
Memberikan pukulan keras yang meniggalkan jejak perih serta nyeri yang teramat. Kenan menendang satu orang yang merangsek hendak menebas tangannya. Memukulkan ranting tersebut pada tangan yang memegang senjata golok itu.
Benda tajam di tangannya terjatuh, dengan gesit Kenan memungutnya. Tak peduli sebanyak apapun musuh yang mengepung, Kenan dan Shaka terus menyerang tanpa tahu sudah belasan orang yang mereka tumbangkan.
Berselang, bunyi senjata api ikut berbaur. Kenan pikir itu musuh mereka, tapi saat melihat lawannya yang tumbang satu per satu, dia tahu itu adalah Mikael dan kelompoknya. Sekarang, lawan menjadi imbang.
Kenan dan Shaka bersatu, saling melindungi satu sama lain. Sementara Mikael dan kelompoknya menyerang penjahat di bagian lain.
Papah Lisa kelabakan menghadapi serangan balik yang datang dari Mikael. Perang senjata yang terelakan lagi. Mikael mengejar papah Lisa yang mengepalai penyerangan itu. Ia tak berniat membiarkannya melarikan diri.
Di sisi lain, dua orang bertubuh kekar datang melawan Kenan dan Shaka. Lawan yang seimbang, tapi tidak untuk Kenan. Tubuhnya masih lebih kecil jika dibandingkan mereka bertiga.
"Kau yakin mampu melawannya?" tanya Shaka pada Kenan yang termangu setelah kedatangan dua laki-laki itu.
"Yah, aku yakin aku mampu," sahut Kenan meski keraguan memenuhi hatinya. Terutama saat membayangkan Kiran, ia harus yakin pada kemampuannya sendiri.
Shaka berhadapan dengan lawannya yang seimbang. Secara fisik mereka sama, tapi dari segi kekuatan Shaka lebih unggul karena kekuatan magis merasuki tubuhnya. Berbeda dengan Kenan, lawannya memiliki tubuh yang lebih besar darinya. Namun demikian, itu tak membuatnya menyerah. Ia pernah menghadapi Shaka versi raksasa, dan dapat mengalahkannya dengan mudah.
Shaka mulai menyerang, menghantamkan tinjunya tepat di wajah musuh. Laki-laki itu termundur, ia harus menggeleng-gelengkan kepala demi mendapatkan kembali penglihatannya yang kabur.
__ADS_1
"Sial!" umpatnya sembari mengusap cairan merah yang rembes dari lubang hidungnya.
Shaka tak tinggal diam, terus merangsek maju dan menyerang. Kali ini, serangannya dapat dipatahkan meski tidak mudah. Sebuah tinju melayang menghantam ulu hati lawan Shaka. Ia kembali termundur, cairan bening menyembur dari mulutnya.
Rasa sakit diaduk-aduk, membuatnya menjerit. Shaka menggunakan serangan magis untuk menyerangnya dari dalam tubuh. Ia berguling di tanah sambil memegangi perutnya yang terasa terbakar. Menjerit kesakitan, sesekali matanya akan melotot lebar hampir melompat keluar.
Shaka mendekat, menendang kuat tubuh itu hingga menabrak dinding tebing yang tinggi.
Dor!
Sebuah timah panas menggores kulitnya. Darah mengalir, tapi luka itu dengan cepat menutup. Shaka mulai kelelahan, tenaganya perlahan mulai terkuras, napasnya memburu, tapi ia tidak boleh menyerah. Mantra terkutuk, Shaka tahu resiko dari menggunakannya, tapi dia sudah bersiap dengan segala kemungkian yang akan terjadi padanya kelak.
Shaka kembali berdiri tegak setelah energi dalam tubuhnya kembali pulih. Langkahnya cepat dan lebar, menyambar laki-laki yang baru saja menembaknya. Adik kembar Kenan menghantam tangan itu hingga pistol terjatuh, dengan mudah Shaka menarik rambutnya.
Membenturkan kepala itu pada lututnya dengan sangat kuat. Mulut dan hidungnya mengeluarkan darah, dibantingnya tubuh itu ke tanah. Menginjaknya tanpa perasaan hingga diam tak berkutik.
"Argh! Panas! Kenapa perutku panas sekali! Argh!" jerit lawan Shaka menggema ke seluruh hutan.
"Sial kau, Steve. Kau membohongiku? Di mana aku saat ini?" umpatnya geram. Ia terus menyembunyikan dirinya di dalam mobil, sedikitpun tak beranjak khawatir akan menjadi korban manusia raksasa itu.
"Sebaiknya aku pergi dari sini!" Ia berbalik ke depan, baru saja tangannya hendak menghidupkan mesin mobil, seseorang berdiri menodongkan pistol ke arahnya.
"Turun!" perintah Mikael dengan tajam.
Papah Lisa tak bergerak, ia tetap berada di dalam mobil berharap Mikael tak akan berbuat jauh. Mesin mobil dinyalakan.
Dor!
Mikael menembak kaca depan mobilnya hingga menjadi serpihan kecil. Hancur lebur menimpa dirinya. Seandainya ia tidak menunduk, timah panas itu akan memecahkan kepalanya juga.
__ADS_1
"Turun, sebelum aku pecahkan tengkorakmu menggunakan senjata ini!" ancam Mikael tidak main-main.
Papah Lisa keluar dengan pelan. Hal yang tak terduga adalah ia menembak ke arah Mikael, tapi kalah cepat oleh laki-laki itu. Tembakannya meleset, mengarah ke udara.
"Argh!" Ia menjerit sambil memegangi tangannya yang terkenal sasaran tembak peluru Mikael.
Pengawal Alex itu mendatanginya, mengikat kedua tangannya sebelum memasukannya ke dalam mobil. Yang lain, biarlah dihabisi orang-orangnya. Kedua anak kembar itu masih bahu-membahu saling membantu.
Napas Shaka sudah sedikit sesak, tapi ia menyembunyikannya dari Kenan. Tak ingin membuat kakaknya itu merasa cemas. Shaka mengambil napas sejenak, bersandar pada tebing tinggi guna mengistirahatkan tubuhnya yang hampir kehilangan tenaga. Lawannya telah mati dengan mata melotot lebar.
Ia menatap sekitar, mayat-mayat musuh bergelimpangan di tanah dalam kondisi yang mengenaskan. Shaka mengedarkan pandangan, dilihatnya Kenan yang cukup imbang dengan lawannya. Meskipun bertubuh kecil, kekuatan besar tersembunyi di dalam tubuhnya.
"Kau hebat, Kenan. Aku bangga jadi adikmu, Kak." Shaka bergumam sambil menyematkan senyum di bibir. Senyum yang mengandung kesyukuran.
Ia memutar pandangan, menatap hutan yang kini menjadi medan pertempuran. Sebuah jurang menganga dalam di bagian lain, jurang yang berisi bebatuan kapur.
Tak jauh dari jurang itu, Kenan sedang berjuang mengalahkan lawannya. Namun, sesuai penglihatan yang dimilki Shaka, kemungkian besar kakaknya itu tidak akan dapat mengalahkannya.
"Kakak!" Shaka bergumam lirik. Ia mencoba untuk bangkit, tapi tubuhnya masih terasa lemas. Itulah salah satu akibat menggunakan mantra terkutuk. Nyawa si pengguna perlahan akan hilang diambilnya sebagai pengganti jasa.
"Tidak! Aku tidak bisa berdiam diri!" Shaka mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk dapat berdiri. Menggunakan mantra itu lagi, kondisi tubuhnya tak lagi mampu mengimbangi.
"Tidak!" Shaka berlari sekuat tenaga saat melihat Kenan tersudut. Kakaknya itu hampir jatuh ke dalam jurang, tapi masih bertahan dengan memegangi lawannya.
Pergulatan sengit di ujung tanduk, mengerikan memang. Siapapun yang kalah sudah pasti akan terlempar ke dalam jurang. Kenan tak ingin mati sendirian, jikapun ia harus terlempar, maka lawan harus ikut dengannya.
"KENAN!"
"Tuan Muda!"
__ADS_1
Brugh!