Takdir Kenan

Takdir Kenan
Rindu


__ADS_3

Hari beranjak, malam pun datang menyapa. Kenan memutuskan kembali ke rumah, melihat keadaan Kiran yang ia tinggal sendirian. Lampu rumah itu telah menyala, gegas Kenan turun dari mobil dan masuk ke rumah.


"Kiran, Kakak pulang!" serunya sembari membuka pintu yang tak dikunci. Kenan tahu, di sekitar rumahnya orang-orang Alex berjaga dengan siaga. Ia tidak terlalu risau meninggalkan Kiran sendiri di rumah.


"Kakak!" Gadis kecil itu datang dari arah dapur dan memeluk Kenan dengan wajahnya yang riang. Pemuda itu mengernyit, melongo pada pintu dapur yang terbuka. Di dalam sana ada seseorang yang sedang bermain dengan alat-alat masak.


"Kau di dapur? Dengan siapa?" tanya Kenan menatap sang adik yang masih memeluk kakinya. Disapunya rambut Kiran yang selalu terlihat rapi sekarang ini.


"Ayo, Kakak akan tahu siapa yang sedang memasak untuk kita," ajaknya tanpa beban.


Kenan tersenyum, pipinya bersemu menduga bahwa Yuki yang sedang berada di dalam dapur. Memasak makan malam untuknya dan Kiran, dia teramat senang saat membayangkan gadis itu meletakkan makanan dan melayaninya dengan baik.


"Kenan, kau sudah pulang?" Seseorang di hadapan kompor menoleh sambil tersenyum. Di tangannya memegang spatula, dia benar-benar sedang memasak.


"Eh?" Kenan terhenyak oleh pemikirannya sendiri. Ia tertawa kecil, lebih tepatnya menertawakan dirinya yang bersikap konyol. Tangannya mengusap tengkuk salah tingkah, Kiran menariknya untuk duduk di meja makan. Menunggu sang koki menyajikan makanan.


"Ayah, sejak kapan Ayah di rumah?" tanya Kenan setelah duduk di kursi menunggu Alex menyajikan makanan.


"Sudah sejak sore tadi, ke mana saja kau? Ayah hubungi ponselmu, tapi tidak bisa dihubungi," sahut Alex sambil menghidangkan makanan di atas meja.


"Eh? Ayah menghubungiku?" Kenan mengeluarkan ponsel dari saku celana, memeriksa benda tersebut. Akan tetapi, karena terlupa mengisi daya, ponsel tersebut mati.


"Maaf, Yah. Ponselku mati, lupa untuk mengisi daya," katanya tak enak sambil menunjukkan ponsel itu pada Alex.


Laki-laki tua itu tersenyum sambil menggeleng. Mereka terlihat lebih bahagia setelah kehadiran Alex dalam rumah mereka.


"Ya sudah, tak apa. Sekarang makan karena masakan sudah jadi. Ini spesial Ayah buatkan untuk kedua anak Ayah. Makanlah!" ucapnya seraya membalik piring di hadapan.

__ADS_1


Dari harum masakan itu, sudah menggugah selera ditambah aroma yang lezat semakin membuat perut keduanya keroncongan.


"Pantas saja restoran itu makanannya lezat-lezat, ternyata Ayah yang memiliki resepnya." Ia tersenyum bangga sambil melirik Kiran yang sudah mengisi piringnya dengan nasi dan lauk yang dihidangkan Alex.


"Yah ... sebenarnya resep ini adalah milik Ibumu, dan restoran itu juga adalah keinginannya. Sayangnya, Ayah tidak bisa mewujudkan sampai ia meninggal. Sekarang, kalian harus menikmati resep masakan Ibu kalian ini. Ayah sangat menyukainya," papar Alex sedikit bergetar saat membicarakan mending istrinya.


Kenan dan Kiran saling menoleh, mereka tahu apa yang sedang dirasakan Alex karena mereka pun merasakan hal yang sama. Rindu sosok Ibu yang telah meninggalkan mereka sepuluh tahun lalu.


Kedua Kakak beradik itu makan dengan lahap, anggap saja tangan Ibu yang telah memasaknya. Mereka hampir menghabiskan semua makanan karena tak ingin meninggalkan sisa yang pada akhirnya tidak bisa dimakan.


"Kalian sama persis seperti Ayah sewaktu pertama kali mencicipi masakan Ibu kalian. Begitu lahap dan rasanya tak ingin menyisakan masakan itu." Ia tersenyum, tapi kesedihan jelas terpancar di maniknya yang berwarna coklat. Manik yang sama seperti milik Kenan.


Kenan dan Kiran sama-sama mengangkat wajah, tanpa terasa masakan itu telah dihabiskan oleh mereka tanpa sisa.


"Minumlah, sayang. Besok Ayah akan masakan untuk kalian makanan yang lainnya," ucapnya seraya menyodorkan dua gelas air putih ke depan mereka.


"Maaf, Ayah." Kenan menunduk usai menenggak minumnya.


"Ayah, bisakah kita tidur bertiga malam ini? Aku tidak ingin tidur sendirian," pinta Kiran.


Alex tersenyum lantas mengangguk. Teringat saat Kenan kecil dulu, mereka sering menghabiskan waktu malam bersama dengan menonton televisi hingga tertidur. Ia mengangguk dengan pasti, lalu beranjak untuk membereskan semuanya dibantu Kenan dan Kiran.


Sulungnya dengan sigap menggelar sebuah kasur lipat yang ia ambil dari lemari. Tiga buah bantal dan dua buah guling diletakannya di atas kasur tersebut. Ia menyalakan televisi setelah Kiran dan Alex datang sambil membawakan kudapan.


"Kau masih mengingatnya?" tanya Alex saat duduk di atas kasur tersebut.


"Tentu saja, Ayah. Aku tidak akan pernah melupakan itu," sahutnya seraya menjatuhkan diri bersandar pada sofa.

__ADS_1


"Mmm ... Ayah, boleh aku bertanya?" Kenan menatap ragu pada sosok laki-laki di sampingnya, tangannya mengusap-usap rambut Kiran yang sudah berbaring di sisi lain.


"Tanyakan saja tak perlu ragu seperti itu," sahut Alex dengan pasti.


"Maaf jika Ayah akan merasa tak tersinggung, tapi aku benar-benar lupa. Apakah nama Ayah Alexander Lois? Temanku bertanya dan aku tidak tahu," ucapnya tak enak.


Kiran ikut mendongak memperhatikan wajah sang Ayah yang justru tersenyum setelah mendengar pertanyaan Kenan.


"Benar, itu memang Ayah. Ah, Ayah ingat. Pasti teman laki-lakimu yang kemarin itu, ya?" seru Alex saat mengingat Regan yang ikut andil dalam misi penyelamatan Kiran dan Yuki.


"Ayah benar, memang dialah orangnya. Ayah mengenalnya?" Penasaran karena selama ini Kenan tidak pernah mendengar mana Alex.


"Yah, Ayah sering mengadakan pertemuan dengan para pengusaha salah satunya adalah Ayah temanmu itu. Anak itu juga sering ikut muncul dalam pertemuan mewakili perusahaan Ayahnya," jelas Alex.


Kenan mengangguk mengerti, pantas saja Regan mengenalnya ternyata mereka sering bertemu. Alex memperhatikan putra sulungnya itu, memindai wajah yang begitu serupa dengan mendiang sang istri.


"Kau belum mengatakan dari mana sampai pulang malam begini?" Pertanyaan belum sempat dijawab Kenan.


"Rumah sakit, Ayah. Aku berhasil menyelamatkan Shaka dan membawanya ke rumah sakit. Dia kritis dan perlu perawatan. Oya, aku akan kembali ke sana karena tak ada siapapun yang menjaga."


Alex tertegun, sekali lagi menelisik kondisi tubuh Kenan. Putranya itu baik-baik saja.


"Lalu, kau tidak apa-apa, bukan?" Kenan menggelengkan kepala, tersenyum menepis rasa cemas di hati sang Ayah.


Obrolan berlanjut dengan riang, keadaan seperti inilah yang dirindukan Kenan. Bercengkerama bersama menghabiskan waktu malam bersama.


"Ayah, esok ada pertemuan orang tua siswa di sekolah. Apa Ayah bisa hadir di sana?" Suara Kiran memecah keheningan.

__ADS_1


Ia hampir tertidur, matanya sudah berat untuk berkedip, tapi ia menunggu Alex menjawab.


"Baik, Ayah pastikan akan datang ke sekolah besok. Sekarang, tidurlah!" Alex mengusap rambutnya. Kehangatan yang mengalir dari sentuhan kulit sang Ayah begitu menenangkan hatinya. Tak lama Kiran pun terlelap dan Kenan berpamitan pada Alex untuk kembali ke rumah sakit.


__ADS_2