
Di sebuah sekolah dasar, gadis kecil itu sedang berdiri cemas. Menunggu kedatangan seseorang di depan kelas. Berkali-kali kepalanya memutar berharap sosok yang ia tunggu segera menunjukkan batang hidungnya.
Hari ini, pentas seni digelar. Kiran akan menampilkan sebuah tarian, gadis berkepang dua itu juga terpilih sebagai paduan suara. Nilai akademinya akhir-akhir ini meningkat drastis, ia ingin menunjukan hasil belajarnya pada sang Ayah.
"Ayah, kenapa belum juga datang? Sebentar lagi acara akan dimulai," gumamnya gelisah sambil memainkan jemari yang terus lembab karena keringat.
"Kiran! Kau sedang apa, sayang?" tegur seorang guru yang sengaja mendatangi dirinya.
"Aku sedang menunggu Ayah, Bu." Ia mendongak menatap lesu pada guru wanita itu. Dahi sang guru mengernyit, setahu mereka Kiran sudah tidak memiliki orang tua.
"Tapi acaranya akan segera dimulai." Tangan itu menyentuh lembut kepala Kiran.
"Sebentar lagi, Bu. Lima menit lagi, setelah itu jika Ayah tidak juga datang aku akan masuk ke dalam," pintanya masih terpancar harapan di manik kecil itu.
Ia tersenyum sebelum menyahut, "Baiklah, jika sudah terlewat kau harus segera masuk. Ok?" Kiran mengangguk meski berat. Guru tersebut kembali meninggalkannya sendiri, berdiri menunggu kedatangan Alex yang tak tahu di mana sekarang.
Matanya melirik jam di dinding, berulangkali. Menghitung detik dan menit sambil berharap sosok yang dia tunggu muncul memberikan senyuman.
"Kudengar ada yang sedang menunggu Ayah? Di mana, ya?" Suara mengejek datang dari teman sekelas Kiran bersama komplotannya.
Gadis-gadis kecil dengan dandanan yang luar biasa menunjukkan kasta sosialnya yang tinggi. Tertawa mengejek Kiran yang masih berdiri menunggu Alex. Ia diam tanpa berniat menyahut cibiran si anak nakal itu.
"Sadar diri saja, Kiran. Bukankah kau yatim piatu, kenapa masih saja berhayal soal Ayah? Di mana Kakakmu yang culun itu? Sudah miskin, tidak punya orang tua, punya Kakak culun pula. Lengkap sudah garis hidupmu, Kiran. Menyedihkan," ejeknya lagi disambut tawa menggelikan dari kedua temannya.
Namun, Kiran tetap bungkam. Ia tak peduli pada kehadiran mereka yang selalu datang untuk mengejeknya, yang ia harapkan sekarang adalah kedatangan Alex untuk membungkam mulut-mulut pedas gadis kecil yang selalu mengganggunya itu.
"Hei, kau dengar tidak!" Kiran termundur beberapa langkah saat sebuah tangan mendorongnya sedikit kuat.
Gadis kecil itu meringis, mengusap bagian dada kanannya yang berdenyut nyeri.
__ADS_1
"Kenapa kau mendorongku? Bukankah aku diam saja walaupun kau ejek?" sungut Kiran tidak terima, tapi ia masih tetap menahan diri untuk tidak melewati batas.
"Kau berani melotot padaku? Akan kucungkil bola matamu yang sudah berani melotot padaku itu!" katanya mengancam. Kiran masih diam tak menyahut.
"Pegangi dia!" perintahnya pada dua orang teman yang ikut merundung Kiran bersama-sama.
"Berani kalian menyentuh anakku, aku tak akan segan mematahkan tangan kalian meskipun kalian itu hanyalah anak-anak kecil yang nakal!" Sebuah suara mengancam dengan keras, menghentikan tangan-tangan nakal itu di udara.
Kiran tersenyum lebar, tapi berikutnya ia mengernyit melihat sosok yang tak sama seperti laki-laki di rumahnya.
"Pergi! Jangan ganggu anakku!" usirnya dengan mata melotot lebar dan tajam menusuk. Gadis-gadis kecil yang nakal itu berlarian masuk ke dalam ruangan, ada yang menangis karena takut pada sosok Alex yang galak.
"Sayang, kau tak apa?" Laki-laki berkacamata hitam itu, membawa langkahnya mendekat. Ia berjongkok di hadapan Kiran, memegangi kedua tangan anaknya itu. Gadis kecilnya nampak kebingungan.
"Siapa Anda?" tanyanya pelan. Alex terkekeh gemas, sampai-sampai matanya terpejam. Ia membuka kacamata menunjukkan siapa dirinya.
"Ayah!" Ia berseru senang sambil mengalungkan kedua tangan di leher Alex, "terima kasih, Ayah sudah menepati janji," katanya lagi dengan senang.
"Tentu saja, untuk putri Ayah tercinta apapun akan Ayah lakukan. Mmm ... apa Ayah datang terlambat?" Alex menoleh ke sekitar, lorong sekolah itu nampak sepi.
"Tidak, acaranya bahkan belumlah dimulai," ucap Kiran seraya melepas pelukan dan menautkan jemarinya pada jemari Alex.
"Baiklah, kita masuk." Kiran berjalan dengan riang, berceloteh apa yang akan dia tampilkan hari itu. Alex menanggapi dengan antusias. Terbersit sesal di hati karena melewati masa-masa emas kedua anaknya.
"Hei, anak nakal!" Suara seorang wanita yang terdengar judes menghentikan langkah Kiran dan Alex. Keduanya mendongak dengan cepat, reaksi Kiran tak terduga. Ia merapatkan tubuh pada Alex, gemetar ketakutan.
Di depan mereka berdiri tiga orang wanita berpenampilan glamor dengan wajah mereka yang garang. Alex melirik Kiran yang mengeratkan genggaman. Seketika saja dia mengerti apa yang terjadi. Bersama mereka tiga anak nakal tadi menangis mengadu.
"Maaf, Ibu-ibu sekalian ada apa?" tanya Alex dengan tenang.
__ADS_1
Seorang wanita paruh baya dengan dress selutut berwarna pink menatap nyalang pada Alex.
"Ada apa kau bilang? Kau sudah membuat anak-anak kami menangis karena takut padamu. Kau membentak mereka, kau memarahi mereka bahkan mengancam akan mematahkan tangan mereka. Mereka hanya anak kecil, dan kau sudah tua, tapi tidak punya hati!" Amarahnya meledak-ledak tanpa tahu malu.
Seketika saja suara riuh bagai ribuan lebah mendengung mengitari mereka. Kiran semakin membenamkan wajah pada tubuh Alex. Hal ini, perundungan terhadap anaknya, Alex tidak bisa menerima.
"Anak-anak kalian yang mengganggu anakku. Katakan pada mereka, melakukan perundungan di sekolah tidaklah baik. Itu merusak mental anak dan membuatnya menjauh dari dunia. Kali ini saya akan memaafkan kalian, tapi lain kali jangan harap kalian semua akan tetap berada di kota ini," ungkap Alex tidak main-main.
Mata-mata wanita itu melotot, tak lama tawa mereka pecah. Menertawakan ancaman Alex yang terdengar seperti bualan semata.
"Kalian dengar? Kalian dengar itu? Dia mengancam kita." Tawa itu kembali terdengar membuat emosi Alex memuncak, tapi genggaman tangan Kiran mampu meredamnya.
"Memangnya siapa kau? Dan apa jabatanmu di kota ini? Beraninya mengancamku yang seorang istri direktur di perusahaan Lois," cibirnya yang segera mendapat pembelaan dari rekan-rekan sejawatnya.
Mendengar perusahaan Lois disebut, Alex menahan tawa. Direktur katanya? Senyum di bibirnya tercetak miring, ekor matanya memindai sekitar. Ada banyak pasang mata yang menonton keributan itu, tapi ke mana para guru?
Tak lama, tiga orang laki-laki datang bergabung dengan mereka. Alex mengernyit, ia mengenali ketiga orang itu yang merupakan karyawannya di perusahaan. Keputusan sudah dibuatnya.
"Bagaimana? Apa kalian menemukan laki-laki tua yang dimaksud anak-anak kita?" tanya salah satu dari laki-laki itu.
"Itu, lihat saja di sana! Dia bahkan membual akan mengusir kita dari kota ini. Lucu, bukan?" tunjuk mereka pada Alex yang masih mematung dengan tenang.
Sontak ketiganya menatap geram laki-laki yang dimaksud, tapi saat mengenali mata tajam Alex tubuh mereka membeku. Jakun mereka naik dan turun dengan gugup. Keringat dingin mengucur deras dari wajah turun ke leher.
"Tu-tuan Alex?"
*****
"Matilah!"
__ADS_1