Takdir Kenan

Takdir Kenan
Bohong


__ADS_3

"Nak Yuki, sebaiknya Nak Yuki pulang saja. Istirahat di rumah, tidur yang nyenyak karena hampir dua Minggu lamanya menunggu Kenan di rumah sakit. Sekarang, Kenan sudah bangun besok bisa kembali ke sini lagi," pinta Alex yang merasa iba pada keadaan gadis itu.


Mata Yuki sembab, ada lingkaran hitam di sekitarnya. Pipinya terlihat lebih tirus, dan tubuhnya lebih ramping. Gadis itu benar-benar kurus tak akan mungkin Kenan melepaskannya setelah pengorbanan yang ia lakukan.


"Tapi, Tuan-"


"Ini perintah. Seorang Alexander tak menerima bantahan!" tegas Alex kembali pada mode penguasa.


Yuki meneguk ludah, ia melempar pandangan pada Kenan yang tak dapat melakukan apapun selain menolehkan kepala. Mata laki-laki itu berkedip setuju dengan permintaan ayahnya.


Yuki menghela napas, ia menunduk sebentar sebelum mengangguk.


"Baiklah, kabari aku jika terjadi sesuatu." Ia berjalan mendekati ranjang Kenan, mengecup dahi laki-laki itu dengan penuh cinta.


"Cepatlah pulih, kau harus membayar waktuku yang terbuang untuk menunggumu. Aku pulang, besok aku akan datang kembali dan kau harus sudah lebih baik," ucapnya sebelum berbalik dan melangkah keluar ruangan Kenan.


Perasaanya kini sudah lebih baik, meski Kenan belum bisa berbicara secara normal seperti sebelumnya, tapi sudah cukup membuat Yuki merasa lega. Setidaknya, kekasihnya itu sudah melewati masa kritis.


Ia berjalan di koridor rumah sakit, tak sengaja melirik pada cermin. Hampir menjerit melihat dirinya sendiri. Wajahnya kuyu tak terawat, tubuhnya kurus kurang makan, ada lingkaran hitam menyeramkan pada bagian matanya.


"Astaga, Kenan pasti ketakutan melihatku yang seperti ini. Tidak bisa, aku tidak bisa seperti ini. Dia sudah bangun, aku harus memperhatikan diriku sendiri jangan sampai membuatnya malu karena tampilan diriku yang sekarang ini," gumam Yuki dengan tekad yang kuat.


Ia takut Kenan akan berpaling karena wajahnya yang menyeramkan, takut Kenan akan merasa malu dengan keadaannya yang tak terurus. Ia tidak mau semua itu sampai terjadi. Jadi, pertama-tama yang akan ia kunjungi adalah tempat perawatan kecantikan.


Ia memeriksakan wajah, serangakaian perawatan dijalaninya hampir satu hari penuh. Berharap wajah dan tubuhnya akan kembali seperti sedia kala. Yuki mematut diri di depan cermin besar, membandingkan dengan dirinya sebelum melakukan perawatan.


Puas rasanya meskipun tidak mengembalikan keadaan secara langsung, tapi setidaknya, wajah kusam itu telah hilang dan lingkaran hitam sedikit memudar.

__ADS_1


Di rumah sakit, Alex duduk di samping ranjang Kenan. Ia memandangi putranya itu dengan lekat sambil tersenyum lega. Bibir Kenan tertarik ke atas meski gemetar, senang akhirnya bisa kembali melihat adik dan ayahnya, tapi juga sedih karena berpisah dengan saudara kembar yang baru saja ia temukan.


"Terima kasih karena kau sudah kembali. Kau tahu, adikmu sempat tidak mau makan. Selama hampir dua Minggu ini, ia terus murung dan tak pernah tersenyum. Cepat pulih, agar kita bisa kembali berkumpul bersama-sama," ungkap Alex dengan segala perasaan yang berkecamuk dalam jiwa.


Kenan berkedip, pandangannya sendu mendengar cerita tentang Kiran. Ia melirik sosok kecil yang tertidur di sofa, nyenyak terlihat. Mungkin benar, beberapa hari lalu ia tak dapat tidur dengan nyenyak karena semua kejadian yang menimpanya.


Alex mengalihkan pandangan pada sahabat Kenan yang duduk di dekat Kiran berbaring. Matanya sayu, lelah terlihat. Tak tega melihatnya begitu, ia pun menyuruh Regan untuk pulang dan beristirahat.


"Regan, kau juga pulanglah. Sepertinya kau butuh istirahat, biarkan kami yang menjaga Kenan di sini."


Regan mendongak, matanya yang sayu membelalak. Ia menggeleng menolak untuk pulang.


"Saya akan tetap di sini, Tuan. Sebaiknya Anda saja yang pulang karena tak akan mungkin Kiran tidur di sini juga keadaan masih sangat berbahaya jika ia ditinggal sendiri di rumah. Jadi, Tuan, saya yang akan menjaga Kenan di sini," ucap Regan tegas.


Alex menggelengkan kepala, tapi melihat tekad kuat Regan ia akhirnya mengangguk. Lagipula kebutuhan Kiran adalah yang terpenting.


Lelap sekali gadis kecil itu, mungkin hatinya sudah merasa lega karena Kenan telah membuka mata. Ditambah ia tak beristirahat dengan baik semenjak kejadian dua Minggu yang lalu.


Regan beranjak, duduk di kursi dekat ranjang Kenan berbaring. Ingin ia mengatakan soal Shaka, tapi takut akan membuat Kenan syok dan kembali kritis.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Regan sambil menatap sayu sosok yang berbaring tanpa daya itu.


Kenan menganggukkan kepala menjawab, lidahnya masih terasa sulit untuk digerakkan. Ia belum bisa berbicara secara normal untuk saat ini. Jadilah, komunikasi mereka terbatas.


"Sha-sha-shaka ...." Kenan mengucapkan nama Shaka. Air mata jatuh dengan sendirinya, terlalu sakit bila mengingat tentang adik kembarnya itu.


Regan termangu, ia yang menahan diri untuk tidak mengatakan apapun soal shaka justru Kenan sendiri yang membahas soal itu.

__ADS_1


"Shaka? Umh ... dia berada di ruangan lain sedang diperiksa dokter," sahut Regan berbohong.


Kenan menggelengkan kepala, air yang jatuh semakin banyak dan deras. Regan tak tahu apa yang harus dia lakukan?


"Ada apa? Kau ingin bertemu dengannya? Tenang saja, aku akan mengajakmu untuk melihatnya setelah keadaanmu cukup baik," lanjut Regan lagi sambil tersenyum getir.


Kenan lagi-lagi menggeleng, ia terpejam hingga air mata terus berjatuhan membasahi bantal.


Kenapa kau berbohong, Regan? Apa kau takut aku akan syok mendengarnya? Aku sudah tahu semuanya, kalian seharusnya tidak membohongiku.


Kenan hanya dapat mengucapkannya dalam hati. Regan mengusap air mata sahabatnya itu dengan hati-hati seolah-olah ia adalah pajangan keramik yang mudah pecah.


"Tidurlah, Kenan, kau butuh istirahat yang cukup untuk dapat memulihkan keadaanmu," perintah Regan seraya menyelimuti tubuh Kenan.


"Aku akan berjaga, jika kau butuh sesuatu maka gerakan saja tali ini saat aku tertidur," ucap Regan sambil menunjukkan sebuah tali yang sengaja ia ikatkan pada jari Kenan.


Kenan menurut, perlahan terpejam dan kembali menyambangi dunia mimpi. Berharap ia akan dapat bertemu kembali dengan Shaka dan Ibunya. Nyatanya, ia memang harus tertidur karena reaksi obat yang ia minum.


Malam datang menyapa, menyelimuti dunia dengan kegelapan. Regan terbangun, sesuatu mendesak di bawah sana. Ia membuka tali yang mengikat jemari mereka sebelum berlari ke kamar mandi.


Sementara Kiran menggeliat, ia membuka kelopak mata dan terkejut saat mendapati dirinya berada di dalam kamar sendiri.


"Ayah?" Kiran memanggil Alex. Ia beranjak turun saat laki-laki tua itu tak kunjung menyahut. Keluar kamar mencari sosok sang Ayah yang berada di ruang kerjanya.


"Ayah, kenapa kita pulang? Siapa yang menjaga Kakak?" tanya Kiran dengan cemas. Ia khawatir Kenan sendirian di rumah sakit.


"Tenang, sayang. Regan menemani Kakakmu, besok kita akan kembali ke sana. Sekarang apa kau lapar?" Kiran mengangguk.

__ADS_1


Rasa cemasnya perlahan menguap setelah mendengar siapa saja yang menjaga Kenan di rumah sakit.


__ADS_2