Takdir Kenan

Takdir Kenan
Menghajar Preman


__ADS_3

Lenguhan seorang gadis kecil tak mengusik tidur pemuda itu. Tangannya masih memeluk tubuh sang adik, sedangkan kepala bersandar di tembok. Semilir angin berhembus hingga ke balik selimut yang membungkus tubuh kecil itu. Wajahnya mengernyit, tak lama kelopak mata terbuka dan kegelapan yang ia temukan.


Gadis kecil itu beranjak, menatap wajah pulas milik Kenan.


"Kakak! Bangun, hari sudah gelap," ucapnya membangunkan Kenan dari tidur yang pulas.


"Kakak!" Ia kembali mengguncang tangan yang mendekap tubuhnya. Kenan mengernyit, ia menggerakkan kepala sebelum membuka mata. Gelap.


"Sudah malam?" gumamnya seraya menurunkan pandangan pada Kiran yang masih berada di pangkuan.


"Bagaimana keadaanmu, sayang? Masih pusing?" tanyanya sambil mengusap rambut sang adik dengan lembut.


Gadis kecil itu mengangguk dan beranjak duduk. Kenan turut berdiri menutup jendela kamar yang terbuka. Menyalakan lampu menerangi kamarnya meski tetap suram.


"Apa kau lapar?" Kiran menganggukkan kepala.


"Tapi Bibi melarang kita untuk makan. Pasti tidak ada makanan di meja makan," sahut Kiran dengan lesu.


Tahu betul, jika sudah ada larangan untuk makan sudah pasti tak akan ada makanan di meja makan meskipun hanya beberapa butir nasi. Kenan mengusap rambutnya yang lembab berkeringat. Demam yang menyerangnya tadi sore sudah turun, dan wajah Kiran tak lagi memucat seperti sebelum ia tidur tadi.


"Kau tunggu Kakak di sini, Kakak akan membeli makanan untuk kita," ucap Kenan. Ia membuka pembungkus lemari dan mengambil uang yang disimpannya di sana.


Uang yang ia selipkan setiap kali mendapatkan gaji dari restoran. Lumayan cukup untuk membeli makanan disaat Bibi tak memberinya makan.


"Ingat, jangan keluar kamar. Tetap di sini sampai Kakak kembali," titah Kenan yang diangguki dengan patuh oleh adiknya itu.


Gegas ia keluar kamar, mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju sebuah warung makan yang tak jauh. Keadaan sudah mulai sepi karena malam hampir menuju puncaknya. Ia yang lelah, tertidur pulas sampai tak tahu hari telah berganti.


"Ah, sial! Sudah tutup," umpatnya berdecak kesal. Terpaksa ia pergi ke tempat yang lebih jauh meskipun hatinya mencemaskan Kiran yang ditinggal sendiri.


Beruntung, warung tersebut masih buka. Ia menepikan sepeda, masuk ke dalam warung makan tersebut untuk memesan. Seketika bulu romanya meremang mendapat tatapan tajam dari para pembeli makanan di sana.

__ADS_1


Kesemuanya adalah laki-laki bertubuh besar dan kekar. Mereka berempat dengan tatto di tangan. Kenan melirik piring mereka, setumpuk makanan memenuhinya.


"Maaf, aku hanya ingin membeli nasi di sini," katanya seraya mendatangi si penjual yang nampak ketakutan. Raut wajahnya tegang, bulir keringat bercucuran di wajah. Mungkinkah dia terintimidasi. Kenan melirik keempat orang yang sudah kembali melahap makanan mereka.


"Terima kasih," ucap Kenan setelah menerima pesanan. Ia mengernyit saat si penjual menyelipkan secarik kertas di tangan, tanpa kata, hanya isyarat dari anggukkan lemah kepalanya yang tampak memohon.


Kenan tersenyum, lantas keluar mendatangi sepedanya. Warung itu tidaklah sepi, di kanan dan kirinya berjejer ruko lain yang sebagian sudah tutup.


Di seberangnya pula sebuah terminal angkutan umum yang selalu ramai manusia. Mungkin keempat orang itu adalah preman dan sering membuat gaduh di sana. Kenan mengayuh sepeda, tak jauh dari warung tadi ia berhenti untuk membaca isi dari kertas yang diselipkan pemilik warung tadi. Ia hanya seorang laki-laki paruh baya yang lemah dan tak berdaya.


"Tolong saya, Nak. Orang-orang yang makan itu adalah preman. Mereka memeras saya dan makan tak pernah membayar. Tolong!"


Begitu isi tulisan dalam kertas tersebut. Kenan meremasnya dengan kuat dan melemparnya ke dalam perapian yang dibuat warga di pinggir jalan. Ia geram, demi kemanusiaan Kenan menunggu para preman itu di jalanan sepi tak jauh dari warung nasi tadi.


Suara pecahan piring dan gebrakan meja terdengar telinga Kenan. Ia semakin geram, sudah pun makan gratis meminta uang pula. Lalu, menghancurkan properti. Orang-orang semacam itu harus diberi pelajaran. Meskipun tubuh mereka lebih besar darinya, tapi Kenan sama sekali tidak takut.


Darahnya berdesir, bergolak panas. Hal itu memicu kekuatan dalam tubuhnya untuk bangkit dan bereaksi. Kenan berdiri di jalan disaat keempat orang itu keluar dari warung tadi.


Pemilik warung mengintip, ia was-was melihat tubuh Kenan yang kecil dan kurus harus melawan para preman bertubuh besar. Ia menyesal meminta tolong pada pemuda itu. Maksud hati agar Kenan meminta bantuan pada siapa saja, bukan melakukannya seorang diri.


"Heh! Bocah ingusan! Kencing saja masih di celana, tahu apa kau?" bentak salah satu dari mereka. Memandang remeh tubuh kurus kering Kenan yang menghadang jalan mereka.


"Tapi tunggu kenapa kau bisa tahu pekerjaan kami? Memeras di daerah sini ... oh, aku tahu. Pasti pemilik warung tadi yang memberitahumu, ya," lanjutnya memberikan seringai aneh pada Kenan.


Pemilik warung tadi gegas masuk ke dalam dan mengunci pintu juga gorden dengan cepat sebelum salah satu dari preman mendatanginya.


"Dari mana pun, perbuatan kalian tidak bisa dibenarkan. Sebaiknya kalian mencari pekerjaan yang baik dan berhenti memeras para pedagang di sini!" Kenan memberi saran.


Semakin geram keempat orang itu mendengarnya.


"Banyak omong! Habisi bocah itu! Jangan beri dia ampun meskipun memohon dan meratap!" titah laki-laki bertubuh paling besar.

__ADS_1


Mereka maju bergantian, untuk menghajar Kenan. Satu kepalan tangan diterima Kenan tepat di wajahnya. Namun, sebelum mendarat tangan besar itu ditahan Kenan dengan kuat.


Ia meremasnya, menjerit laki-laki itu memejamkan telinga.


Bugh!


Kenan memberi pukulan tepat di ulu hati. Makanan yang baru saja memasuki lambungnya itu, termuntahkan semua. Berikut cairan bening yang ikut menyembur keluar.


"Kurang ajar!" Kedua orang lainnya mencekal tangan kanan dan kiri Kenan. Kuat sekali hingga Kenan tak berkutik dibuatnya. Melihat salah satu rekan mereka meringis sambil memegangi perut, ketua mereka semakin murka.


"Kau bisa apa sekarang? Boleh juga kemampuanmu," katanya sambil mencibirkan bibir mengejek Kenan.


Pemuda kurus itu memberontak, menggeliat mencoba melepaskan diri dari cekalan keduanya. Kenan mengangkat tubuh, menendang laki-laki yang hendak memberikan pukulan padanya hingga terjungkal ke belakang sekaligus memutar tubuh melepas kedua tangannya yang dipenjara.


Duak!


Ia menendang keduanya hingga jatuh tersungkur menimpa laki-laki yang ditendang Kenan sebelumnya. Ia mendekat, menginjak tangan salah satu dari mereka hingga keluar suara jeritan yang memekakkan telinga.


"Mulai hari ini, di mana pun kalian membuat keributan, di sana aku akan datang untuk menghentikan!" Kenan mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Menurunkannya dengan sekali hentakan yang cukup kuat.


"ARGH!" Suara jeritan kembali terdengar lebih keras dari sebelumnya.


"Ampun! Tolong ampuni kami. Sakit!" jerit mereka meratap.


"Seperti yang kau katakan, tak ada ampun meski meratap ... tapi baiklah. Aku ampuni kalian hanya untuk kali ini saja." Kenan melepaskan kakinya.


Ia berbalik dan pergi meninggalkan jalanan sepi itu menggunakan sepeda. Mengayuh dengan cepat, Kiran sudah menunggunya sangat lama. Dia khawatir terjadi sesuatu pada adiknya itu.


"Ampun!"


"Kiran!"

__ADS_1


__ADS_2