
Di pemakaman, di hadapan gundukan tanah yang dipenuhi rumput hijau, tapi meski begitu makam itu sangat terawat. Taburan bunga segar memenuhi pusaranya, seikat bunga ikut mempercantik rumah peristirahatan terakhir dari wanita yang amat mereka cintai.
"Apakah dia Ibu?" Suara Shaka bertanya dengan lirih dan bergetar.
"Benar, dia Ibu kita, Shaka. Di sinilah beliau terbaring di rumahnya yang damai," sahut Kenan tak kalah gemetar.
"Ibu, Kiran datang membawa sebatang cokelat untuk Ibu. Semoga Ibu menyukainya," ucap Kiran seraya berjongkok dan meletakan sebuah cokelat di atas pusara sang Ibu.
Alex mengernyit, tapi berikutnya ia mengerti. Mendiang Ibu mereka adalah pecinta cokelat. Hampir semua jenis cokelat pernah dicicipinya. Alex mengusap kepala putri bungsunya setelah ia kembali beranjak.
"Kau sangat perhatian, Ibumu pasti sangat menyukainya." Kiran mendongak. Bibir mungilnya mengembangkan senyum meski kesedihan nampak jelas di maniknya yang berembun.
"Kenapa Adik memberi Ibu makanan? Dan makanan apa itu?" Shaka yang tak tahu apapun nampak bingung karena di sukunya, bila ia pergi ke makam para Ibu akan membawa segenggam dedaunan hijau.
"Karena Ibu sangat menyukai cokelat? Itu kudapan, makanan ringan yang sangat disukai Ibu sewaktu beliau masih hidup," jawab Kenan sembari membayangkan sosok sang Ibu setiap kali mereka membeli aneka cokelat di toko langganan.
Rasa rindu kembali datang menyeruak, mengusik kenangan yang telah tertidur beberapa waktu lamanya. Air mata yang menyembul ditahannya dengan kuat, ia tak boleh menangis di hadapan wanita tangguh itu.
"Jangan pernah menangisi sesuatu yang telah pergi, sayang. Semua itu sudah suratan takdir yang tak dapat kita tolak. Jadilah kuat untuk bidadari kecil kita ini."
Kalimat yang diucapkan Ibu mengiang di telinga ketika Kiran dilahirkan dan Ibu dalam kondisi lemah karena pendarahan hebat. Kenan buru-buru menyeka air yang tiba-tiba jatuh, tak ingin terlihat lemah di hadapan semua orang.
Namun, gadis di sampingnya mengerti. Ia memeluk tubuh Kenan, memberinya ketenangan batin bahwa ia tak sendiri lagi. Begitu pula Regan, sahabatnya itu pun dapat merasakan apa yang melanda hati pemuda itu. Ia menepuk bahu Kenan, menguatkan hatinya yang lemah.
Kenan melirik keduanya, bibirnya tersenyum. Benar, dia tidak sendiri lagi. Ada Kiran, ada Ayah, juga Shaka yang baru berkumpul bersamanya.
"Kita kembali?"
"Aku masih mau di sini," sahut Kenan menimpali ucapan Alex yang mengajak mereka untuk kembali.
"Ya sudah, kalau begitu Ayah akan pulang lebih dulu. Jika kau sudah selesai segeralah untuk pulang," katanya yang diangguki Kenan dengan cepat.
"Bagaimana dengan kalian? Mau ikut pulang bersama kami?" Alex bertanya pada dua teman Kenan.
"Kami akan menemani Kenan di sini, Tuan. Kami tidak ingin dia sendirian," sahut Regan dengan pasti.
"Baiklah, jaga diri kalian baik-baik," ucap Alex. Mereka pun pergi meninggalkan pemakaman, menyisakan Kenan dan kedua temannya.
"Tidak apa-apa. Menangislah jika kau ingin menangis. Tak ada yang salah dari seorang laki-laki yang menangis," ucap Yuki sambil mengusap-usap lembut bahu Kenan.
__ADS_1
Pemuda yang sedang berpura-pura tegar itu menoleh, ia meraih tangan Yuki dan mengecupnya.
"Terima kasih." Yuki tersipu malu, tak sadar bahwa di sisi mereka ada seekor nyamuk jantan yang menatap iri.
"Hei, kalian berdua. Ingatlah aku! Ada aku di sini!" gumam Regan. Ia menendang kerikil kecil hingga menghantam sebuah pohon Kamboja meruntuhkan bunga-bunganya yang sedang bermekaran.
Kenan dan Yuki tertawa cekikikan. Mereka kembali menatap pusara, Kenan telah menetapkan pilihannya.
"Ibu, ini Yuki. Saat ini dia adalah kekasihku, aku sudah memilihnya untuk menjadi pendamping hidup. Dia sama sepertimu, Ibu. Selalu tersenyum, manis dan selalu bisa membuat hatiku tenang. Kumohon restumu, Ibu," ungkap Kenan menambah semu merah di pipi gadis yang tak lepas menggandeng tangannya itu.
"Dan saya Regan, Nyonya. Maaf karena anak Anda lupa memperkenalkan saya kepada Anda, padahal saya sering menemaninya mengunjungi Anda di sini," sambar Regan dengan nada geram menahan rasa iri.
Yuki terkekeh kecil. Suara guruh pertanda hujan akan turun, membuat mereka waspada. Mereka semua pergi meninggalkan pemakaman usai berpamitan kepada Wanita yang terbaring di dalam gundukan tanah itu.
Rintik hujan mulai jatuh, semakin lama semakin bertambah deras. Sementara mobil yang terparkir berada jauh di luar pemakaman.
"Kita meneduh, hujannya semakin deras," ucap Kenan sembari menunjuk sebuah gazebo yang biasa digunakan para pekerja pemakaman untuk beristirahat.
"Kenapa tiba-tiba hujan? Padahal, hari sedang cerah," keluh Yuki sesaat setelah mereka duduk di gazebo tersebut.
Hujan berkabut menambah seram keadaan. Suasana pekuburan yang sepi, hanya nisan-nisan yang berjajar rapi seolah-olah sedang memelototi mereka.
"Kenan, aku takut," lirih Yuki sembari membenamkan wajah pada lengan Kenan.
Gadis itu benar-benar menurut, ia memejamkan mata takut membayangkan nisan-nisan itu terbongkar. Lalu, muncul monster mayat hidup menyeramkan yang memakan manusia seperti mereka.
Ini bukan cerita horor, Yuki.
Regan mengumpat.
Jadilah mereka tetap berada di sana, menunggu hujan mereda agar mereka bisa kembali.
Di sisi lain, mobil Alex terpaksa melambat karena jalanan tertutup kabut dan menghalangi jarak pandang Leo sebagai supir.
"Ayah, bagaimana dengan Kakak?" tanya Kiran yang bersembunyi dibalik jas Alex.
Laki-laki tua itu mengusap rambut Kiran dengan lembut.
"Tidak apa-apa, sayang. Kakakmu akan baik-baik saja." Alex menenangkan.
__ADS_1
"Ayah, ada yang datang!" Tiba-tiba keadaan berubah tegang disaat Shaka berseru lirih. Wajah pemuda itu nampak tegang. Matanya melirik kian kemari dengan waspada.
"Ada apa, Nak?" Alex ikut menegang.
"Ada yang mengikuti kita, Ayah. Di belakang ... tidak, tapi di kanan dan kiri juga. Mereka banyak, Ayah," seru Shaka semakin terlihat tegang. Matanya awas menatap ke segala arah.
"Kau yakin?"
"Aku yakin, Ayah. Kita terkepung!"
Leo menambah kecepatan meski kabut menghalangi jalan.
"Pelankan mobilnya, di depan sana ada dua mobil yang menghadang. Kita bisa menabrak," ucap Shaka panik.
"Pelankan, Leo, dan cari jalan lain!" perintah Alex tak kalah panik.
"Ayah!" Kiran memeluk erat tubuh Alex.
"Tenang, sayang. Tak akan terjadi apa-apa pada kita. Percayalah pada Ayah," ucapnya menenangkan Kiran yang mulai bergetar ketakutan.
Alex merogoh saku, mengubungi Mikael dengan cepat.
"Mikael, kami terkepung di daerah dekat pemakaman. Cepatlah! Kami butuh bantuan. Kerahkan seluruh orang yang kau punya!" titah Alex panik.
Tak lama, suara letusan senjata api menggema. Leo membanting setir ke kanan menghindar. Namun, tepat di bagian kanan mereka, sebuah mobil tiba-tiba muncul. Mereka membuka kaca jendela, menodongkan senjata ke arah mobil mereka.
"Tuan!"
"Pelankan mobil kalian! Dan ikuti mobil yang di depan! Menurutlah, kalian sudah terkepung!" teriak salah seorang dari salah satu mobil yang mengepung mereka.
"Tuan!"
"Tetap tenang, Leo. Tetap fokus seperti biasanya. Ini seringkali terjadi kepada kita, bukan?" seru Alex tetap tenang.
"Ya, Tuan!" Leo menghirup udara pelan dan membuangnya lagi, menenangkan hatinya yang tiba-tiba panik.
"Cari jalan, Leo! Cari celah untuk pergi dari mereka," gumam Leo melirik ke segala arah mencari celah.
"Ini dia! Aku tidak boleh meleset!" Leo tetap melaju dengan tenang. Benar saja, di depan mobil mereka dua mobil menghadang jalan.
__ADS_1
"Ayolah!"
Boom!