Takdir Kenan

Takdir Kenan
Keputusan


__ADS_3

Kenan berdiri di depan sebuah ruangan, di tangannya menggenggam secarik kertas. Surat keputusan berhenti sekolah yang ia buat. Semalam penuh Kenan memikirkan, pada pagi hari ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya.


Kenan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Ia menormalkan detak jantung sebelum tangan mengetuk pintu ruangan.


"Masuk!" Satu kata perintah terdengar dari orang yang berada dibalik pintu tersebut. Kenan membuka pintu pelan, melangkah tanpa suara segan pada pria berkacamata yang duduk di balik meja ruangan.


"Kenan? Ada apa?" tanya pria tua itu sambil membenarkan letak kacamatanya yang turun.


Kenan terus melangkah semakin mendekat ke mejanya, ia meletakkan surat itu di atas meja seraya menundukkan kepala.


"Apa ini?" Mata tua itu melirik kertas sekilas, kemudian berputar kembali kepada Kenan sambil meraih dan membukanya.


"Saya memutuskan berhenti kuliah, Pak. Saya ingin fokus menjaga adik saya yang sendiri di rumah, juga fokus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. Maafkan saya, Pak," ucap Kenan sambil menunduk dalam-dalam.


Laki-laki tua itu membenarkan kacamata sebelum membaca setiap huruf yang ditulis tangan Kenan sendiri. Ia mendesah, meletakkan kertas di atas meja dan membuka kacamatanya.


"Kenapa kau lakukan ini, Kenan? Sayang jika kau memutuskan untuk berhenti kuliah dan melepaskan mimpimu begitu saja. Kami akan sangat kehilangan murid berbakat sepertimu," tutur laki-laki itu dengan sendu. Ia sungguh menyayangkan keputusan Kenan yang memilih berhenti mengejar mimpi. Padahal, dia murid berbakat di akademi dan andalan universitas tersebut.


"Maafkan saya, Pak. Satu-satunya impian saya saat ini adalah mencukupi kebutuhan adik saya. Saya ingin dia bisa terus sekolah sampai jenjang pendidikan tinggi. Untuk mencapai itu semua, saya harus bekerja keras, sedangkan kerja paruh waktu tidak bisa mengantar saya mencapai itu semua," sahut Kenan lagi dengan tegas dan penuh keyakinan.


Pria itu mengusap mata sebelum mengenakan mata keduanya. Memberikan tatapan kecewa pada satu-satunya murid berbakat yang ia pertahankan di universitas tersebut. Namun, apa yang bisa dia lakukan, ketika Kenan bertekad melakukan hal lain demi kebaikan hidupnya.


Ia kembali mendesah, semakin dalam tatapan matanya pada manik coklat keemasan milik Kenan.


"Apa kau sudah memikirkan ini baik-baik? Maksudku kau tidak akan menyesal kemudian hari?" tanyanya memastikan keputusan akhir Kenan untuk meninggalkan kampus.


Pemuda itu mengangguk pasti, tak ada keraguan yang tampak di maniknya. Hanya ada tekad yang kuat untuk dapat melihat Kiran sukses di masa depan.


"Saya yakin, Pak. Untuk ke depannya, jikapun saya menyesal itu sudah menjadi resiko saya. Saya tidak akan menyalahkan siapapun atas semua itu," jawabnya dengan yakin pula.


Lagi-lagi hembusan napas berat dilakukan laki-laki berkacamata itu. Sudah berapa kalian dalam beberapa menit ia membuang napas berat.

__ADS_1


"Baiklah. Jika itu sudah menjadi keputusanmu, maka kami bisa apa. Berjuanglah, jangan sia-siakan waktu dan kesempatan yang kau korbankan untuk adikmu," katanya memberi semangat.


"Baik, Pak. Terima kasih!" Kenan membungkuk memberi salam penghormatan untuk yang terakhir pada guru tersebut. Ia pun pergi membawa kebebasannya, meninggalkan sejuta kenangan di kampus itu.


Langkahnya berlanjut dengan gontai, kepala menunduk menatap kedua kaki yang berayun secara bergantian. Meyakinkan hatinya bahwa itu adalah keputusan terbaik yang bisa diambilnya. Dalam hati bertekad akan bekerja lebih keras demi mewujudkan impian Kiran menjadi seperti yang dia inginkan.


Bruk!


"Argh!"


Seorang gadis memekik saat Kenan tak sengaja menabraknya.


"Ah, M-maaf!" Kenan membantunya berdiri dan merapikan buku-buku yang berserakan di tanah.


"Kenan?! Ke mana saja kau? Aku menunggumu di rumah, tapi kenapa tidak datang?" sungut Yuki berdiri sambil melipat kedua tangan di perut. Wajahnya kesal dan cemberut. Matanya berkilat marah.


Kenan terperangah. Ia lupa hutangnya pada gadis itu, tapi mulai hari ini ia pasti akan bisa melunasi hutang tersebut kepada Yuki.


Ah, ayolah, lidah! Bisa tidak kau bekerjasama denganku? Tidak gagap seperti biasanya.


Yuki mendengus, bukan karena marah Kenan tak datang ke rumah, tapi karena jengah Kenan yang selalu tergagap saat berbicara dengannya.


"Kenan, bisakah kau tidak berpura-pura gagap di depanku? Aku kesal harus menunggu lama jawaban ucapanmu," sungutnya tak senang.


Kenan menunduk, ia menggigit bibir kuat-kuat sambil menahan gejolak di dada.


Jika bisa, aku pun tak ingin tergagap, Yuki.


Batinnya mengumpat, ia pun tak ingin menjadi gagap. Namun, bagaimana lagi, semua itu terjadi dengan sendirinya bukan atas keinginannya sendiri.


"Ma-maafkan a-aku, Yu-yuki. Sungguh, a-aku pun t-tidak tahu," katanya tak selesai.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari sepasang mata geram melihat keakraban keduanya. Teddi mengeraskan rahang dengan kedua tangan terkepal erat. Ia meninju tembok dengan kuat, marah pada kedua orang di taman kampus itu.


"Sial! Seret Kenan ke belakang kampus! Aku ingin memberinya pelajaran agar dia tidak lagi bermain-main denganku!" titahnya dengan nada menggeram marah. Ia berbalik badan dan pergi ke tempat yang dimaksud.


Ketiga orang temannya gegas mendatangi Kenan di taman. Langkah mereka lebar dan cepat tak ingin membuang waktu.


Kedua tangan Kenan dicekal, ditarik tubuh kurus itu tanpa ampun.


"Hei!" Kenan berseru.


"Kenan! Hei, apa yang kalian lakukan! Berhenti!" teriak Yuki mencoba menghentikan mereka yang menarik Kenan dengan paksa.


"Mau apa lagi kalian? Kenapa tidak ada puas-puasnya mencari masalah denganku?" hardik Kenan tanpa dapat menggeliat dari cekalan kedua orang itu.


"Kalian ... jika kalian tidak berhenti aku akan melaporkan tindakan kalian pada pihak kampus! Lepaskan Kenan!" Yuki kembali berteriak dengan ancaman. Kakinya mengayuh cepat, berlari menyusul kedua orang yang menyeret pemuda itu.


"Argh!" Ia menjerit saat sebuah tangan mencekalnya.


"Kau juga harus ikut! Teddi menginginkanmu." Seringai yang dibentuknya menimbulkan rasa takut di hati Yuki.


Gadis itu menggeleng kuat-kuat menolak ikut dengannya, tapi apalah daya. Kekuatannya tak sebanding dengan laki-laki yang menyeretnya.


"Lepaskan aku! Aku tidak mau ikut denganmu. Lepaskan aku! Kenan!" jerit Yuki menggema di lorong belakang kampus. Entah kenapa nama Kenan yang ia sebut untuk dimintai pertolongan. Sepi, tak sesiapa yang bisa menolongnya.


Mereka membawa keduanya ke belakang bangunan. Di sana Teddi sudah berdiri menunggu kedatangannya. Wajahnya hitam dan jelek, ia menyeringai dikala Yuki menggeliat dalam cekalan salah seorang temannya.


"Bagus! Kalian juga membawanya," katanya mencetak senyum puas di bibir.


"Yu-ki! Kenapa kau ada di sini?" tanya Kenan yang tiba-tiba berucap lancar dan licin tanpa hambatan.


"Aku tidak tahu Kenan, tolong aku!" ratap Yuki dengan air mata berderai deras. Kenan menggeram tertahan, melihat Yuki menangis teringat akan Kiran yang meringkuk di pojokan dalam keadaan basah kuyup.

__ADS_1


"Teddi, bukankah hanya aku yang kau inginkan. Lepaskan saja Yuki, dan kau boleh melakukan apapun padaku!" pinta Kenan bernegosiasi. Lagi-lagi Teddi menampakkan seringai yang kejam. Entah apakah penawaran Kenan akan ia terima.


__ADS_2