
"APA?!"
Suara teriakan yang serempak dilakukan Alex dan Regan membuat Kiran terlonjak kaget. Sementara Kenan dan Yuki menahan tawa melihat adegan itu.
"Kenapa kalian berteriak bersamaan?" hardik Kiran pada Regan dan ayahnya. Gadis kecil itu mengerucutkan bibir, meletakkan tangannya di perut, kesal.
"Wajah kalian yang seperti itu terlihat jelek," ejeknya seraya mendengus. Matanya mendelik berputar ke lain arah.
Alex termangu dengan wajah yang menghitam. Hidungnya kembang-kempis, kedua tangan mengepal kuat. Matanya yang melotot menatap nyalang sahabat Kenan itu.
Regan bergidik untuk ke sekian kalinya, ia mengusap tengkuk. Atmosfer di sekitarnya berubah, suhu tiba-tiba anjlok. Dingin menusuk. Lambat-lambat Regan menoleh, bibirnya berkedut-kedut ingin menangis. Hidungnya memerah, matanya memanas.
Sekonyong-konyong ia mengangkat dua jarinya pertanda sumpah.
"Bukan aku! Aku tidak tahu apapun soal itu. Aku berani bersumpah, aku tidak tahu apapun! Tuan, percayalah padaku!" ucap Regan panik.
Matanya melotot takut, kepala bergerak-gerak menolak. Alex mengeluarkan asap dari dua lubang hidungnya. Bagai seekor banteng yang siap menyeruduk musuh.
Kiran terperangah sedih, mata kecilnya berembun, bibirnya gemetar, hidung dan kedua pipinya memerah hendak menangis.
"Kak Regan jahat! Apa Kak Regan tidak mau menjadi suami Kiran? Apa ada wanita lain di hati Kakak? Kiran sedih," ucap gadis kecil itu sambil menitikkan air mata.
Ia menjatuhkan diri pada sofa, membenamkan wajahnya di sana. Menangis seperti anak remaja yang sedang patah hati. Memukul-mukul sofa dengan kesal sambil terus meracau soal Regan yang tak mau menjadi suaminya.
Alex melongo tak percaya, emosi yang telah mencapai ubun-ubun, turun secara drastis. Lalu, hilang berganti kebingungan, kebimbangan, juga rasa gamang yang tak berkesudahan.
Tidak! Ada apa dengan gadis kecilku? Kenapa dia bertingkah seperti anak remaja?
__ADS_1
Kenan mengernyitkan wajah saat Regan menoleh meminta bantuan. Wajah sahabatnya itu memelas, matanya merah ingin menangis. Situasi seperti apa ini? Salah tingkah dan tak tahu harus apa hanya karena tingkah seorang bocah kecil.
"Kak Regan jahat! Kiran mau Kak Regan jadi suami Kiran! Jangan jadi suami orang lain!" racau Kiran tak karuan.
Entah. Apakah itu tangisan sesungguhnya? Ataukah hanya bualan untuk menempatkan Regan di posisi tak nyaman dan gamang. Laki-laki itu meringis, ngeri sekaligus geli melihat tingkah adik sahabatnya itu.
"Ki-kiran?" Alex memanggil. Ia juga bingung harus apa. Menatap Kenan dan Yuki bergantian, tapi keduanya menggeleng tak tahu. Beralih pada Regan, tak ada harapan. Dia seperti orang bodoh yang kehilangan akal.
"Ayah, kenapa Ayah melihat Kak Regan seperti itu? Kenapa Ayah melotot pada Kak Regan? Apa Ayah tidak menyetujuinya?" Kiran mengangkat wajah sedikit, menatap Alex dengan matanya yang basah dan merah.
Alex dibuat mati kutu oleh anaknya sendiri. Kelabakan mencari cara untuk meredam tangis Kiran. Ia menghela napas, melangkah ke arah sofa, duduk di dekat kaki putrinya.
"Hei, Nak!" Kiran langsung duduk sambil mengusap air mata.
"Ya, Ayah," katanya tak lagi tersedu.
Sementara Yuki dan Kenan, menahan tawa hingga wajah mereka memerah. Regan mengepalkan tangan marah saat melirik Kenan. Ia yakin dalam hati Kenan dan Yuki sedang mengerjainya.
"Kenapa kau ingin Regan menjadi suamimu?" tanya Alex mencoba mengikuti alur cerita yang dibuat putri kecilnya.
Malu-malu Kiran menatap Regan, tersipu ia saat laki-laki itu juga menatap ke arahnya.
"Kak Regan laki-laki paling baik yang Kiran kenal seumur hidup Kiran setelah Kakak. Dia baik, sering menjaga Kiran menggantikan Kakak. Mengajak Kiran jalan-jalan, membelikan es krim juga makanan kesukaan Kiran."
Regan melayang di awang-awang. Benarkah dia seperti itu? Bertanya-tanya dalam hati tentang semua yang dikatakan Kiran dan membandingkannya dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini. Tak sadar, hatinya menghangat, senyumnya tersemat. Gadis kecil yang polos dan jujur. Apa adanya.
Alex terenyuh, dalam hati berterimakasih pada sahabat anaknya itu.
__ADS_1
"Kak Regan juga tak jarang membantu Kakak merawat Kiran saat sakit. Dia sering menginap di rumah saat Kakak harus lembur di tempat kerjanya. Selain itu ...." Kiran menunduk malu.
Regan mengernyit, senyum di bibirnya raib. Penasaran dengan kelanjutan kalimat yang akan diucapkan bibir manisnya itu.
"Kak Regan tampan, tak kalah tampan dengan Ayah dan Kakak. Kiran suka lesung pipi kecil di wajahnya saat tersenyum. Kak Regan juga pintar, sering mengajari Kiran belajar. Terutama matematika." Kiran mengukir senyum yang manis.
Maniknya tertuju pada Regan yang termangu dengan semua yang dikatakan lisan gadis kecil itu. Semua itu jujur dari dalam hatinya. Regan sama berharganya seperti Kenan. Mereka laki-laki yang hebat dan tak pernah mengeluh dengan semua kenakalan yang dilakukan Kiran saat kecil.
Alex menoleh pada pemuda itu, pandang mereka bertemu untuk beberapa saat. Merasa kalah jauh oleh sosoknya. Regan meneguk ludah gugup, ia sendiri tidak menyadari bahwa dirinya amat berarti untuk hidup seorang Kiran.
"Terima kasih, karena selama ini Kak Regan selalu baik pada Kiran. Kelak, saat Kiran dewasa, Kiran ingin memiliki suami yang baik seperti Kak Regan. Yang bisa menjaga Kiran, yang tak pernah marah saat Kiran bersikap menyebalkan. Terima kasih, Kakak. Tetaplah menjadi Kakak untuk Kiran jika tidak mau menjadi suami," tuturnya tetap tersenyum manis.
Regan setengah sadar menggelengkan kepalanya.
Jangan Kakak, aku jadi suamimu saja, Kiran. Aku tunggu kau dewasa, jangan berpaling dariku kau, gadis kecil yang nakal.
Hanya mampu berucap dalam hati karena ia tak berani menuangkannya melalui lisan. Ia lantas mengangguk setelah menggeleng, bingung harus seperti apa menanggapi celotehan adik Kenan itu.
"Jadi, seperti itu?" Kiran mengangguk saat Alex kembali bersuara.
Laki-laki tua itu memalingkan pandangan menatap Regan yang masih kebingungan harus melakukan apa dengan senyum di bibir.
"Aku sebagai Ayah dari gadis kecil ini mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepadamu, Regan. Aku tidak tahu akan seperti apa hidup anakku jika tidak ada kau yang menemani Kenan. Terima kasih banyak aku haturkan untukmu. Kelak, jika kau memilih menjadi suami Kiran, aku tak akan menolak. Hanya pastikan saja kau akan selalu membuatnya tersenyum bahagia," ucap Alex bersungguh-sungguh.
Regan menunduk salah tingkah, malu, dan gugup berbaur dalam dirinya. Ia sedang menyusun kata menjadi kalimat yang pantas untuk diucapkan.
"Bukan apa-apa, Tuan. Saya hanya membantu Kenan saja waktu itu karena dia sendirian mengurus Kiran. Saya tidak tahu jika semua itu akan membekas seperti sekarang ini. Saya benar-benar terharu mendengarnya," ucap Regan tak berani mengangkat wajah menatap Alex maupun Kiran.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan malu-malu. Jika kau ingin menjadi adik iparku, aku akan langsung menyetujuinya," sahut Kenan mengakhiri drama Kiran sore itu.