Takdir Kenan

Takdir Kenan
Sakit


__ADS_3

"Nona!"


Wanita paruh baya itu berhambur ke kamar mandi, ia mematikan shower dan memeluk tubuh menggigil Yuki. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar hebat.


"Bu ...." lirih suaranya memanggil.


"Iya, Nona. Saya di sini," katanya tidak melepaskan tubuh itu.


"Awas! Kita harus membawanya ke rumah sakit!"


Penjaga kebun datang membawa selimut. Ia menggelung tubuh Yuki dan mengangkatnya. Keduanya tergesa turun ke lantai satu menemui supir pribadi nona mereka.


"Pak, kita harus ke rumah sakit. Nona Yuki sakit!" pekik asisten rumah tangga seraya masuk ke dalam mobil dan memeluk tubuh Yuki.


Sigap supir itu membuang rokok di tangannya dan bergegas melajukan mobil. Menembus jalanan kota yang padat meski hari masihlah pagi.


"Cepat, Pak. Nona Yuki pucat sekali," pinta sang asisten dengan panik.


"Kau sudah menghubungi Tuan dan Nyonya?" tanya sang supir sembari mencari celah jalan agar cepat sampai di rumah sakit.


"Tidak sempat. Aku terlalu panik, lagipula Tuan dan Nyonya baru saja berangkat mereka tak akan mungkin kembali hanya karena mendengar kabar Nona sakit," cerocos wanita paruh baya itu bertambah panik.


Air mata Yuki menetes, tangannya mendekap selimut dengan erat. Dingin dan panas menjadi satu bergejolak di tubuhnya.


"Mereka memang keterlaluan. Lebih mementingkan pekerjaan daripada anak sendiri," umpat sang supir kesal.


Jika tidak ada mereka di rumah itu, mungkin Yuki tak akan terurus. Geram dengan sikap majikan mereka, kadang terbersit dalam hati ingin mengundurkan diri dari pekerjaan, tapi mengingat Yuki yang sendirian mereka selalu berpikir ulang. Siapa yang akan menemani anak malang itu.


"Tidak usah menghubungi mereka kecuali aku mati!" lirih Yuki bergetar.


Kelopak mata yang tertutup tak henti menjatuhkan airnya. Asisten yang mendengarnya histeris. Entah mengapa ia merasa sakit saat mendengar Yuki mengatakan itu.

__ADS_1


"Tidak, Nona. Jangan seperti itu. Masih ada kami di sini, kami akan selalu menemani Anda. Masih ada tuan muda Regan, juga tuan muda Kenan. Bukankah Anda akan menikah dengannya? Setelah kalian menikah, Ibu yakin Nona tak akan kesepian lagi," tutur wanita paruh baya itu sambil terisak-isak.


"Dia benar, Nona. Anda tidak sendirian, bukankah Anda senang bermain dengan Nona kecil itu? Saya lihat dia sangat menyayangi Anda," timpal sang supir ikut menyemangati Yuki yang putus asa.


Mendengar nama mereka disebut, Yuki terisak. Ia menjatuhkan kepala di dada sang asisten menumpahkan segala lara yang selama ini ditahannya.


"Kalian benar, ada mereka yang selalu membuatku tersenyum. Aku tidak akan menyerah, aku tidak mau mati dengan cara seperti ini. Setidaknya aku akan mati setelah merasakan kebahagiaanku sendiri." Yuki sedikit tersenyum.


Ia berdesis saat rasa sakit menyerang kepalanya. Rasanya berdenyut-denyut tak tertahan. Mobil menepi di halaman rumah sakit, supir Yuki membuka pintu dan mengangkat tubuh Nona majikannya.


Yuki dibawa ke IGD, ia langsung mendapatkan perawatan dari tim medis. Dua pekerjanya menunggu di luar ruangan dengan cemas. Mereka berharap semoga nona majikannya itu baik-baik saja.


Menyusul Regan yang baru saja tiba di sana, di tangannya menenteng sebuah tas berisi makanan yang ia bawa dari rumah. Dia tak datang sendiri, tapi bersama kedua orangtuanya.


Dahi pemuda itu mengernyit saat mengenali dua orang yang duduk di depan ruang IGD. Ia menoleh pada kedua orangtuanya dan memberikan bungkusan pada mereka.


"Ibu dan Ayah tahu di mana ruangannya, bukan? Pergilah lebih dulu, aku harus bertemu temanku dulu," ucap Regan berpamitan.


"Iya, Bu. Aku akan menyusul setelah berbicara dengannya. Sekarang aku harus pergi." Regan bergegas meninggalkan kedua orangtuanya.


Ia berjalan menuju ruang IGD menemui kedua pekerja Yuki. Dua orang paruh baya itu duduk sambil menundukkan wajah. Asistennya masih menangis, mengkhawatirkan keadaan Yuki. Regan mengernyit, terus mendekat ke tempat mereka berada.


"Maaf, Paman, Bibi, bukankah kalian dari rumah Yuki? Siapa yang sakit?" tanya Regan setelah berhadapan dengan mereka berdua.


Kedua orang tua itu mengangkat wajah, menatap sendu Regan yang nampak bingung. Laki-laki paruh baya itu menoleh pada asisten Yuki yang tersedu-sedu.


"Nona Yuki, Tuan Muda. Beliau tiba-tiba terserang demam. Tubuhnya panas dan menggigil. Beliau sedang ditangani dokter di dalam," jawab sang supir mewakili asisten rumah tangganya yang tak mampu berucap.


"Yuki, sakit? Bukankah semalam dia baik-baik saja? Kenapa pagi ini malah sakit?" pekik Regan tak percaya.


Tak akan mungkin terjadi sesuatu padanya semalam saat ia sendiri pulang bersama Mikael orang kepercayaannya Alex.

__ADS_1


"Semua terjadi begitu saja, saat Tuan dan Nyonya yang semalam pulang kembali pergi pagi-pagi sekali. Padahal, Nona ingin menghabiskan waktu bersama mereka karena ini akhir pekan. Nona putus asa, Tuan. Entah apa yang dia lakukan, kami menemukannya di kamar mandi dalam keadaan menggigil."


Wanita itu menceritakan semuanya sambil tersedu-sedan. Air matanya semakin deras mengalir mengingat keadaan Yuki yang lemah tak berdaya.


"Orang tua yang egois. Mereka tidak memikirkan perasaan anak mereka dan hanya mementingkan pekerjaan saja. Kasihan Yuki, dia pasti kesepian dan sangat sedih," ucap Regan geram sendiri dengan sikap kedua orang tau sahabatnya itu.


Keduanya hanya diam tak berucap, mereka pun sama geramnya dan ingin mengumpati kedua majikannya itu.


Regan berhambur tatkala pintu ruangan IGD terbuka. Dokter keluar dengan senyum di wajahnya.


"Dokter, bagaimana keadaan Yuki?" tanya Regan segera.


"Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nona Yuki baik-baik saja, dia hanya tertekan dan butuh teman untuk menghiburnya. Mungkin perlu dirawat untuk menurunkan demamnya. Silahkan, saya permisi," ucap dokter tersebut seraya meninggalkan ruangan.


Regan yang mendengar tak lantas memasuki ruangan menemui Yuki. Tak seperti dua orang pekerja gadis itu yang langsung berhambur masuk menemaninya. Regan mengejar dokter dan memapak langkahnya.


"Dokter!"


"Ya, Tuan Muda!"


"Mmm ... jika yang Anda katakan adalah benar Yuki membutuhkan teman untuk menghiburnya, maka bisakah ruangannya bersebalahan dengan ruangan calon suaminya? Kenan Alexander," tanya Regan berharap akan dikabulkan dokter tersebut.


"Baiklah, akan kami usahakan," katanya segera pergi meninggalkan lorong tersebut. Diikuti Regan yang juga pergi menuju ruangan Kenan di mana kedua orangtuanya menunggu.


"Regan? Kenapa tidak bersama-sama orangtuamu, Nak?" tanya Alex dengan ramah saat Regan memasuki ruangan Kenan.


Sahabat Kenan itu tersenyum sebelum menyahut, "Aku tak sengaja bertemu teman tadi. Jadi, menyapanya sebentar sebelum menyusul ke sini."


Canggung. Ia ingin mengatakannya pada Kenan, tapi terlalu banyak orang. Jadilah, ia menunggu sampai semua orang satu per satu pergi dari ruangan Kenan.


Menjelang siang, kedua orang tua Regan berpamitan dan memberikan doa untuk sahabat anaknya itu. Menyusul Alex setelah kedatangan Leo untuk melakukan meeting. Jadilah, hanya ada Kenan dan Kiran di dalam ruangan.

__ADS_1


"Kenan, Yuki ...!"


__ADS_2