Takdir Kenan

Takdir Kenan
Kerikil Kecil


__ADS_3

Beberapa hari berlalu tanpa masalah sedikit pun, Kenan mengikuti terapi dengan giat ditemani Yuki terkadang Alex dan Kiran. Gadis itu kembali ke kampus setelah berapa hari mengambil cuti, mengejar ketertinggalan, dan berkumpul kembali bersama ketiga temannya.


"Yuki, kenapa akhir-akhir ini Regan selalu mengikutimu ke mana pun kau pergi? Kalian tidak ...."


"Huss! Jangan sembarangan! Semua itu Kenan yang memintanya, dia memiliki firasat bahwa ada seseorang yang ingin mencelakai ku. Dikarenakan kondisi Kenan masih belum pulih, dan dia belum diizinkan keluar rumah sakit, maka Kenan meminta Regan untuk mengawasiku," jawab Yuki sambil menyuapkan mie ke dalam mulutnya.


Di bangku lain, Regan ikut duduk menyantap jajanan yang ia pesan. Sahabat Kenan itu memang memiliki hati yang tulus, setia kawan, dan tak pernah mengeluh.


"Senangnya memiliki kekasih seperti Kenan. Dia sangat bertanggungjawab dan tidak membiarkan kekasihnya disakiti orang lain. Aku iri padamu, Yuki. Aku juga ingin laki-laki seperti Kenan. Apakah masih ada stok untukku?"


Gelak tawa mereka pecah, hanyut dalam obrolan sambil melepas rasa rindu setelah beberapa hari tak bertemu.


"Yuki, kudengar Kenan lumpuh? Apa Benar?" tanya salah seorang teman Yuki dengan perasaan takut dan ragu.


Gadis itu menghela napas panjang, mengingat keadaan Kenan yang masih duduk di kursi roda kesulitan menggerakkan kedua kakinya. Terbayang saat pemuda itu meringis setiap kali terapi. Bergerak sedikit saja, rasanya ngilu sekujur tubuh.


"Tidak bisa dibilang lumpuh, hanya saja kakinya itu masih cedera sehingga tak dapat digerakkan secara tiba-tiba dan sering, tapi hari ke hari keadaannya semakin baik. Semoga saja ia cepat pulih," ucapnya.


Tak terasa celoteh tentang Kenan mengantarkan mereka pada bel masuk kembali. Semua siswa beranjak meninggalkan kantin, pergi ke kelas masing-masing.


"Kalian harus menyelesaikan tugas kalian dengan sebaik mungkin!" Sebuah perintah dari seseorang pada dua orang lainnya di depan kampus Yuki.


Di tempat lain, Mikael yang ditugaskan Alex untuk mengawasi Yuki di kejauhan melihat ketiganya. Ia menunggu, apa yang akan dilakukan oleh mereka di depan kampus kekasih tuan mudanya itu.


"Tuan, sepertinya mereka dari perusahaan Gamma Grup. Saya mengenali salah satunya, tapi saya tidak tahu apa yang mereka inginkan?" lapor Mikael lewat sambungan telepon kepada Alex yang menunggu.

__ADS_1


Di tempat Alex, di ruangan Kenan, Leo baru saja menyampaikan sebuah informasi yang dia dapatkan.


"Kau benar, Leo. Mereka dari perusahaan Gamma Grup dan sekarang berada di depan kampus Yuki." Alex bergumam setelah menerima panggilan dari pengawalnya.


"Ayah!"


"Tenang saja, Kenan. Mikael di sana, dia akan melindungi Yuki juga Regan," ucap Alex saat Kenan mulai cemas.


Ia merututki dirinya sendiri yang masih duduk di kursi roda. Kakinya masih belum bisa bergerak dengan normal karena terdapat retakan tulang yang tak kecil.


Alex melihat putranya yang murung, mendatangi Kenan guna menenangkan hati pemuda itu. Ia mengusap bahunya, menepuk-nepuknya dengan pelan.


"Jangan terlalu menyalahkan dirimu, Ayah kira mereka hanya ingin Yuki menjauh darimu. Entah apa tujuannya, Ayah sendiri tidak tahu," ucap Alex sambil mendaratkan bokong di kursi samping ranjang Kenan.


Anak laki-lakinya itu mendongak, ada garis kecewa dan sesal tercetak di wajahnya. Ketidakberdayaan yang saat ini menimpanya, membuat pemuda itu tak dapat melakukan banyak hal.


Kenan ikut memalingkan wajah kepada asisten ayahnya itu, menuntut penjelasan dari sesuatu yang tak dapat dijelaskan oleh Leo sendiri.


"Tapi aku tidak pernah bertemu dengan pihak mereka. Sekali pun, aku tidak pernah!" tolak Kenan sambil menggelengkan kepala.


Tegas dan lantang Kenan mengucapkannya, bahkan gestur tubuhnya sangat meyakinkan bahwa Kenan memang belum pernah berhadapan dengan mereka.


"Mungkin tidak dengan Tuan Muda, tapi kita tidak tahu jika mereka sudah mengetahui perihal Anda. Mungkin saja mereka ingin melakukan pernikahan bisnis mengingat Tuan Alexander amat dikenal di kalangan para pengusaha besar," ujar Leo yang dibenarkan Alex sendiri.


Sebab tak sedikit para pengusaha bahkan ingin menjodohkan Alex dengan kerabat mereka saat tahu laki-laki pengusaha itu adalah seorang duda. Berita Alex yang memiliki seorang anak laki-laki tentunya menjadi angin segar bagi para pesaingnya untuk melakukan kerjasama lewat pernikahan putra-putri mereka. Salah satunya adalah Gamma Grup.

__ADS_1


"Tapi aku sudah memiliki calon istri. Tak akan mungkin aku melakukan pernikahan itu sekalipun Ayah yang memintanya," tegas Kenan menolak secara langsung adanya pernikahan bisnis itu.


"Itulah, satu-satunya cara agar Anda terbebas dengan menyingkirkan nona Yuki dari kehidupan Anda," jelas Leo terdengar masuk akal.


"Masuk akal. Itu sebabnya mereka mengincar Yuki dan bukan Kenan. Menyingkirkan kerikil yang bisa menghalangi mereka dari mendapatkan tujuan. Yah, Leo benar. Yang mereka incar adalah Yuki. Jika seperti itu, maka calon menantuku itu dalam bahaya. Bukan hanya perusahaan Gamma Grup saja, aku khawatir perusahaan lain pun akan melakukan hal yang sama." Alex berspekulasi.


Tidak menutup kemungkinan perusahaan lain pun akan melakukan hal yang sama demi bisa mendapatkan kesempatan memenangkan hati Alex.


"Ini tidak boleh terjadi, Ayah. Aku tidak bisa membiarkan Yuki dalam bahaya. Ayah, pintalah Mikael untuk menjadi pengawal sementara Yuki selama aku belum pulih. Aku hanya percaya padanya karena Regan tak akan mampu melindungi Yuki seorang diri," ucap Kenan panik.


Mendengar penuturan Leo dan Alex rasa gelisah dalam hati Kenan memancar jelas di wajah kurusnya. Yuki sudah berkali-kali terlibat dalam bahaya, dan ia tak ingin gadis itu kembali menjadi incaran penjahat.


"Kau tenang saja, Nak. Ayah sudah meminta Mikael untuk selalu mengawal Yuki ke mana pun meski dari kejauhan. Dia tidak akan membiarkan calon istrimu itu terluka. Tenanglah, fokus saja pada kesembuhanmu," ucap Alex yang tak dapat mengusir rasa cemas di hati Kenan.


Terbesit sebuah keinginan dalam hati Kenan, ia menatap Alex penuh pengharapan.


"Ayah, bisakah aku menikahi Yuki dalam waktu dekat ini? Agar masalah itu tidak terjadi lagi di kemudian hari," pinta Kenan dengan sangat.


Alex tersenyum, dunia bisnis itu kejam. Jika mereka menginginkan sesuatu, maka berbagai macam cara akan mereka lakukan untuk dapat mencapai semua keinginan mereka.


"Baiklah, tapi kau harus pulih sebelum kita pergi melamar gadis itu," ucap Alex sebagai syarat jika Kenan ingin menikahi Yuki.


"Baik, Ayah. Aku akan berusaha sekeras mungkin agar dapat pulih dengan cepat."


"Jangan terlalu memaksakan dirimu, itu tidaklah baik," sela Alex untuk ucapan asal Kenan tadi.

__ADS_1


Ia tak ingin anaknya itu terlalu memaksakan kondisi tubuhnya.


Namun, tekad Kenan dalam dirinya, telah membulat sempurna.


__ADS_2