Takdir Kenan

Takdir Kenan
Menjenguk Kenan


__ADS_3

Sikap Leo yang mengayomi membuat hati gadis belia itu menghangat. Berlama-lama bersama hubungan mereka pun membaik dan mulai terbuka satu sama lain.


"Jadi namamu Shopia? Saat ini usiamu baru sembilan belas tahun, dan seharunya sedang berkuliah di universitas di Luar Negeri sana. Kau kembali karena kedua orangtuamu mengalami kecelakaan dan ... dan ... seperti itu?" Leo mengulang kisah yang diceritakan gadis itu padanya.


Gadis bernama Shopia mengangguk lemah, wajahnya sendu dan muram kala harus mengingat tentang kedua orangtuanya. Ia menunduk, terisak lirih hingga bahunya terguncang.


Leo tak kuasa melihat pemandangan di depannya, ia beranjak dan mendekap tubuhnya. Shopia melingkarkan kedua tangan di tubuh Leo, menumpahkan segala kesedihan yang selama ini ia pendam sendiri dan hanya Mei yang mengetahui semuanya.


Leo seperti berkaca pada masa lalu, disaat ia belum bertemu dengan Alex. Hidup terlunta-lunta seorang diri di jalanan, mengemis hanya untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Ia dipertemukan dengan Alex oleh takdir saat sedang mengemis di sebuah restoran dan diusir oleh pemilik restoran.


"Menangislah! Jika kau butuh seseorang untuk meluapkan emosi, aku siap menjadi orang itu. Jangan segan untuk menceritakan semua masalah padaku. Anggap saja aku Kakakmu sama seperti wanita yang bernama Mei itu," ucap Leo sembari mengusap-usap rambut sebahu milik Shopia.


Gadis itu melepas pelukan, mengusap matanya yang berair dan dengan berani menatap Leo.


"Aku tidak ingin kau jadi Kakakku karena aku sudah memiliki Mei. Aku ingin lebih, Kak. Bisakah kau jadi suamiku saja? Agar aku punya tempat bersandar kapanpun aku butuhkan," ucapnya yang tanpa sadar telah melamar Leo.


Ia menunggu jawaban cemas. Menekan bibirnya sendiri menahan gugup. Leo terkekeh, sadar dirinya telah dilamar seorang wanita. Kepalanya menggeleng, pandangannya terpatri pada netra hazel milik Shopia. Ia nampak cantik dan menghanyutkan.


"Kau ... melamarku?" Leo terkekeh melihat raut gugup di wajah Shopia. Gadis itu tertunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya.


"A-aku ...."


"Tak apa, aku menerimanya. Angkat kepalamu dan jangan pernah menundukkannya di hadapan siapapun. Kau berharga, Shopia," ucap Leo lembut.

__ADS_1


Shopia semakin tersipu dibuatnya. Entah sudah berapa kali wajahnya menghangat karena rayuan gombal seorang Leo. Mei yang sedari tadi mencuri dengar perbincangan mereka, ikut tersenyum merasakan kebahagiaan dari gadis kecil yang dirawatnya.


"Kakak, bolehkah aku bertemu dengan Tuan Muda?" tanya Shopia setelah menekan rasa malu di hatinya.


Leo merajut alis mendengar permintaan gadis itu. Maniknya menelisik kedua bola mata hazel di hadapan, mencari jawaban atas pertanyaan yang tak terlontar dari mulutnya.


"Kau yakin ingin bertemu dengannya? Apakah hatimu siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi?" Leo memastikan tak ada keraguan juga kekhawatiran pada hati Shopia yang ingin bertemu dengan Kenan.


"Aku tidak tahu, tapi aku ingin berterimakasih kepada mereka karena tidak menghukum Mei. Aku ingin mereka tahu bahwa aku bukanlah tipe orang yang tidak tahu balas budi," jawabnya terdengar pasti dan penuh keyakinan.


Shopia merasa perlu melakukannya, dengan Mei tetap di sana menemani dirinya ia tak perlu mencemaskan apapun. Leo terenyuh, kedua wanita itu saling melindungi dan saling menjaga satu sama lain. Ia mengangguk, seraya beranjak.


Mengambil kursi roda dan membantu Shopia untuk mendudukinya.


"Aku antar," katanya seraya mendorong kursi roda Shopia keluar ruangan.


"Kalian akan pergi ke mana?" Mei waspada.


"Aku ingin mengunjungi ruangan tuan muda Kenan, Mei. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah membebaskanmu dari hukuman dan tidak membiarkan aku sendirian," jawabnya sambil mengulas senyum di bibir untuk wanita baik hati yang dengan rela menghabiskan waktunya untuk menjaga Shopia.


Mei terenyuh, pelan-pelan ia menyingkir dari jalan dan membiarkan keduanya pergi ke bagian lain rumah sakit. Mei membuntuti merasa perlu mengikuti untuk sama-sama meminta maaf kepada Kenan dan calon istrinya.


"Umh ... apa mereka mau memaafkan aku? Secara aku hampir membuat celaka wanita itu tapi aku tahu Mei tidak berniat untuk membunuhnya. Mei hanya mengancam karena ketakutan, dia bukan orang jahat, Kak." Shopia mendongak bertatapan dengan Leo yang mendorong kursi rodanya.

__ADS_1


Leo tersenyum, dia jatuh cinta pada gadis belia yang usianya jauh di bawah. Sepuluh tahun lebih jarak usia mereka, tapi cinta memang tak memandang usia. Dia datang tepat waktu dan pada hati yang tepat pula. Shopia sadar keinginan mendapatkan Kenan hanyalah sebatas ambisi bukan rasa suka sesungguhnya.


"Mereka orang-orang baik, Shopia. Terlebih tuan muda Kenan yang seolah-olah memiliki telepati. Ia dapat merasakan sesuatu hanya dari melihat ataupun perasaan yang tiba-tiba datang mengganggu," sahut Leo berbicara sesuai fakta.


Shopia terdiam, ragu itu masih ada di hatinya, tapi bagaimanapun dia bertekad ingin meminta maaf pada mereka juga berterimakasih karena tidak menghukum wanita itu. Shopia menarik napas dalam saat berhadapan dengan pintu ruangan Kenan.


Leo mengetuk pintu tersebut dan terdiam mendengarkan. Tak ada sahutan, ia mencoba membuka pintu kosong tak ada siapapun di sana. Ia menutup kembali pintu itu dan tercenung, berpikir di mana Kenan saat ini berada. Berselang, terdengar suara canda dan tawa dari ruangan di sebelah kanan.


Mereka bergerak ke tempat tersebut, meninggalkan ruangan Kenan, dan bediri di depan ruangan lainnya. Leo memastikan, ia fokus mendengarkan suara-suara dari dalam ruangan tersebut.


"Kakak, sebaiknya kita kembali saja. Mungkin Tuan Muda sedang tidak ada di tempat. Besok atau lusa kita kembali lagi ke sini," ucap Shopia tak enak jika harus sampai mengganggu ketenangan pasien lain.


"Tidak, Tuan Muda di dalam sini. Sebentar!" Leo berjalan ke depan, mengetuk pintu dan mendengarkan.


"Tuan Muda, Anda di dalam?" Suara Leo bertanya membuat hening ruangan tersebut. Tak lama pintu terbuka, Kiran tersenyum saat melihat Leo bediri di ambang pintu.


"Siapa, sayang?" Kenan bertanya.


"Paman Leo, Kak." Kiran menyahut sebelum melihat Leo lagi.


"Silahkan, Paman. Apa Paman ingin bertemu dengan Kakak?" tanya Kiran seraya melebarkan daun pintu dan membiarkan Leo serta dua wanita yang bersamanya untuk memasuki ruangan Yuki. Di sana Kenan duduk di kursi roda, di samping ranjang Yuki.


Hati Shopia dan Mei seketika dihinggapi rasa bersalah saat melihat Yuki di atas ranjang rumah sakit. Mereka pikir Yuki sakit karena kejadian kemarin. Sesal jelas terpancar dari manik keduanya. Leo mendorong kursi roda Shopia mendekati Kenan dan yang lainnya.

__ADS_1


"Leo, ada apa? Mereka ...." Tangan Kenan berhenti di udara menggantung sambil menunjuk Shopia yang berada di atas kursi roda sama seperti dirinya.


"Mereka datang untuk meminta maaf, Tuan Muda," ucap Leo sambil membungkuk.


__ADS_2